✨ Pusat Solusi Digital UMKM

Bangun Bisnis Digital
Lebih Mudah Bersama Kang Dadi

Produk digital, website instan, ebook AI, dan berbagai solusi praktis untuk membantu bisnis Anda berkembang pesat di era digital tanpa ribet coding.

Mudah Digunakan

Sangat cocok untuk pemula.

Siap Pakai

Langsung action tanpa coding.

Support Indo

Bantuan cepat via WA.

Aman & Terpercaya

Transaksi otomatis & aman.

Marketplace

Produk Digital Unggulan

Pilih produk dan template siap pakai untuk mempercepat pertumbuhan bisnis dan produktivitas Anda.

Debo
course

Debo

Belajar Lebih Seru Bersama Debo! ?? Kini belajar tidak lagi membosankan. Bersama Debo the Edukid Explorer, anak-anak akan diajak menjelajahi dunia ilmu pengetahuan melalui permainan interaktif, video animasi, dan aktivitas kreatif yang menyenangkan.

Rp 299.000
Rp 99.000
Detail
Kursus Online Skillpedia
link

Kursus Online Skillpedia

? PAKET LIFETIME ACCESS SKILLPEDIA Belajar semua skill digital cukup sekali bayar — akses selamanya! ? Apa yang kamu dapatkan? Akses ke SEMUA kelas premium tanpa batas: ? Microsoft Office (Word, Excel, PowerPoint) ? Desain Grafis (CorelDraw, Photoshop, dll) ? Digital Marketing (Ads, SEO, Branding) ? Video Editing (CapCut, Premiere, dll) ? Bahasa Inggris & TOEFL ? Programming (Web & lainnya) ? Data Science & Analisis Data ? + Banyak kelas baru terus ditambahkan ? Kenapa harus Skillpedia? ? Akses semua kelas (tidak per kelas) ? Lifetime Access (sekali beli selamanya) ? Free Update Kelas Baru ? Materi lengkap dari basic sampai advanced ? Sertifikat setiap kelas ? Cocok untuk: Pelajar & Mahasiswa Freelancer & Content Creator Pebisnis & UMKM Siapa saja yang ingin upgrade skill digital ? Daripada beli kelas satu-satu… Lebih hemat langsung akses semuanya!

Rp 799.000
Rp 35.000
Detail
Custom Jersey
physical

Custom Jersey

Custom Jersey

Rp 159.000
Detail
Membuat Server Sendiri
course

Membuat Server Sendiri

Membuat Server

Rp 499.000
Rp 149.000
Detail
Ebook Belajar AI Pemula
file

Ebook Belajar AI Pemula

Panduan komprehensif bagi pemula untuk memahami AI dan memaksimalkan ChatGPT.

Rp 199.000
Rp 49.000
Detail
Mastering Prompt ChatGPT
file

Mastering Prompt ChatGPT

Ratusan koleksi prompt rahasia siap pakai untuk kebutuhan marketing dan konten.

Rp 299.000
Rp 97.000
Detail

Karya & Proyek

Portofolio Kang Dadi

Beberapa hasil karya pembuatan website dan proyek digital dari klien yang telah mempercayakan bisnisnya kepada kami.

MyMasjid – Platform Manajemen Masjid Digital
Sistem / Aplikasi Web

MyMasjid – Platform Manajemen Masjid Digital

Klien: Cikaler Data Media

MyMasjid adalah platform digital modern yang dirancang untuk membantu pengurus masjid dalam mengelola seluruh aktivitas masjid secara lebih profesional, transparan, dan efisien dalam satu sistem terintegrasi. Dengan tampilan yang sederhana namun powerful, MyMasjid menghadirkan solusi digitalisasi masjid yang mendukung pengelolaan administrasi, keuangan, jamaah, jadwal kegiatan, hingga publikasi informasi secara real-time. Fitur Utama ? Manajemen Data Jamaah Database jamaah terpusat Pendataan keluarga dan anggota jamaah Riwayat kehadiran dan partisipasi kegiatan ? Manajemen Keuangan Masjid Pencatatan pemasukan dan pengeluaran Laporan keuangan otomatis Transparansi dana infak, zakat, dan wakaf Dashboard keuangan real-time ? Jadwal Sholat Otomatis Jadwal sholat sesuai lokasi masjid Countdown waktu sholat Sinkronisasi kalender Islam ? Manajemen Kegiatan Agenda kajian dan acara masjid Pendaftaran peserta kegiatan Pengingat kegiatan otomatis ? Pengumuman Digital Informasi kegiatan dan berita masjid Notifikasi kepada jamaah Display informasi untuk TV masjid ? Dashboard Analitik Statistik jamaah Grafik pemasukan dan pengeluaran Laporan aktivitas masjid Keunggulan Platform ? Mudah digunakan oleh pengurus masjid ? Berbasis cloud dan dapat diakses dari mana saja ? Transparansi keuangan yang lebih baik ? Mendukung digitalisasi masjid modern ? Tampilan profesional dan responsif ? Aman dan terintegrasi dalam satu platform Target Pengguna: Masjid Jami' Masjid Perumahan Masjid Kampus Masjid Sekolah Mushola Komunitas Islam Yayasan dan Lembaga Dakwah Tagline "Digitalisasi Masjid untuk Umat yang Lebih Makmur" MyMasjid hadir sebagai solusi transformasi digital untuk membantu masjid menjadi lebih modern, transparan, profesional, dan mampu memberikan pelayanan terbaik bagi jamaah serta masyarakat sekitar.

KangDadi AI – Asisten AI Pintar untuk Semua Kebutuhan Digital
Sistem / Aplikasi Web

KangDadi AI – Asisten AI Pintar untuk Semua Kebutuhan Digital

Klien: Kang Dadi

KangDadi AI hadir sebagai solusi AI lengkap untuk membantu pembuatan konten, desain grafis, coding, website, copywriting, hingga berbagai kebutuhan bisnis digital dalam satu platform yang cepat, mudah, dan profesional. Banner ini dirancang untuk memberikan kesan pertama yang kuat sekaligus meningkatkan kepercayaan calon pelanggan terhadap layanan yang ditawarkan.

Kang Dadi Ai Content Genereator
Sistem / Aplikasi Web

Kang Dadi Ai Content Genereator

Klien: Kang Dadi

Berhenti buang waktu 3 jam cuma buat nulis satu script konten! ? Body: Bikin konten tiap hari emang capek. Mulai dari mikirin ide, nyusun hook yang nendang, nulis script, sampai mikirin visualnya... keburu habis waktu! Gimana kalau kamu punya "Asisten Copywriter Pribadi" yang standby 24/7? Kenalin: Navigold AI Content Generator ? Solusi bikin script video viral dan konsep gambar/carousel premium cuma dalam hitungan detik. ? Kenapa kamu wajib pakai ini? ? Bikin Hook, Body, sampai CTA otomatis. ? Ada rekomendasi B-roll & arahan visual. ? Otomatis buatin Caption & Hashtag yang relevan. ? Pilihan gaya bahasa lengkap: dari "Viral" sampai "Premium Elegan". Nggak ada lagi alasan writer's block atau kehabisan ide. Tingkatkan produktivitas kontenmu sekarang! Klik link di bio untuk coba Generate Script pertamamu secara GRATIS! ?

AyoNikah.my.id – Jasa Undangan Pernikahan Digital
Toko Online

AyoNikah.my.id – Jasa Undangan Pernikahan Digital

Klien: Undangan Digital

AyoNikah.my.id adalah layanan pembuatan undangan pernikahan digital yang modern, praktis, dan elegan untuk membantu pasangan mengabadikan momen istimewa mereka dengan cara yang lebih mudah dan berkesan. Kami menghadirkan berbagai pilihan tema undangan yang dapat disesuaikan dengan konsep pernikahan Anda, mulai dari desain minimalis, modern, islami, hingga premium eksklusif. Setiap undangan dilengkapi dengan fitur-fitur canggih yang memudahkan calon pengantin dalam mengelola acara dan berinteraksi dengan tamu undangan. Fitur Unggulan Desain undangan elegan dan responsif Tema dapat disesuaikan sesuai keinginan RSVP & Buku Tamu Online Galeri foto dan video prewedding Countdown menuju hari pernikahan Integrasi peta lokasi acara Musik latar pilihan Mudah dibagikan melalui WhatsApp, Instagram, Facebook, dan media sosial lainnya Mengapa Memilih AyoNikah.my.id? ? Praktis tanpa perlu mencetak undangan fisik ? Hemat biaya dan ramah lingkungan ? Proses pembuatan cepat dan mudah ? Tampilan profesional di semua perangkat ? Dukungan pelanggan yang responsif Dengan AyoNikah.my.id, Anda dapat membagikan kabar bahagia kepada keluarga, sahabat, dan kerabat dengan cara yang lebih modern, efisien, dan berkesan. Jadikan momen pernikahan Anda semakin istimewa bersama undangan digital yang cantik, elegan, dan penuh makna. AyoNikah.my.id – Undangan Pernikahan Digital Modern untuk Momen Sekali Seumur Hidup.

BMT DKM Al-Muttaqin
Sistem / Aplikasi Web

BMT DKM Al-Muttaqin

Klien: DKM Al-Muttaqin Awirarangan

BMT DKM Al-Muttaqin adalah website koperasi syariah berbasis masjid yang dirancang untuk mendukung penguatan ekonomi umat melalui layanan keuangan berbasis prinsip syariah, amanah, dan keberkahan. Website ini hadir sebagai media digital untuk memudahkan jamaah dan masyarakat dalam mengakses layanan simpanan, pembiayaan usaha, informasi produk, hingga program pemberdayaan ekonomi umat. Dengan tampilan modern, profesional, dan responsif, website ini menyediakan berbagai fitur seperti pendaftaran anggota, pengajuan pembiayaan, informasi produk & layanan, edukasi keuangan syariah, berita, serta dukungan UMKM jamaah. Sistem dirancang untuk meningkatkan transparansi, kemudahan akses layanan, dan memperkuat keterhubungan antara BMT dengan anggota secara digital.

Web DKM Al-Muttaqin
Website Profile

Web DKM Al-Muttaqin

Klien: DKM Al-Muttaqin Awirarangan

DKM Al-Muttaqin adalah website organisasi keagamaan yang dirancang untuk mendukung kegiatan dakwah, pendidikan Islam, sosial kemasyarakatan, dan pengelolaan informasi masjid secara digital. Website ini hadir dengan tampilan yang modern, responsif, dan mudah diakses untuk memudahkan jamaah mendapatkan informasi kegiatan, program keislaman, laporan, hingga artikel edukatif.

Hiburan & Bacaan

Kumpulan Cerita Fiksi

Cover Premium
Fiksi

DENDAM ORANG-ORANG SAKTI

LUKA besar di bekas kutungan tangan kanannya itu membuat tenaganya semakin lama semakin mengendur. Kalau tadi dengan segala tenaga yang ada macam manusia dikejar setan dia melarikan diri dari pekuburan Djatiwalu itu, maka kini jangankan lari, berjalan melangkahpun dia sudah tidak sanggup. Tubuhnya terhuyung-huyung. Nafasnya megapmegap seperti mau sekarat! Saat itu dia berada di tepi sebuah jurang. Dalam larinya tadi dia tak memperhatikan lagi ke mana tujuannya sehingga di mana dia berada saat itu adalah satu tempat yang jarang didatangi manuisia. Sunyi senyap mencengkam menegakkan bulu roma. Matanya yang berkunang-kunang, pemandangannya yang semakin mengelam dan daya tenaga yang sudah habis sampai ke batasnya membuat tubuhnya tak ampun lagi jatuh terperosok ke dalam jurang ketika salah satu kakinya terserandung di bebatuan yang menonjol di tepi jurang. Masih untun jurang itu bukanlah jurang batu, tapi jurang yang penuh ditumbuhi semak belukar. Tubuhnya menggelinding ke bawah membentur semak belukar mengait ranting- ranting pepohonan rendah. Sakit tubuhnya bukan main, apalagi bekas luka kutungan di tangan kanannya. Ketika dia terhampar di dasar jurang, dia tiada sadarkan diri lagi! Bila dia sadarkan diri maka saat itu matahari sudah hamper tenggelam. Keadaan di dasar jurang sunyi itu gelap dan dingin karena pantulan sinar matahari yang terakhir tidak sampai menyaputi dasar jurang di mana dia berada. Dia berpikir-pikir di mana dia terbujur saat itu. Kemudian denyutan rasa sakit yang amat sangat pada bahu kanannya yang bunting dan masih melelehkan darah itu, membuat dia ingat segala sesuatunya apa yang telah terjadi. Dia – Kalingundil – beberapa jam yang lalu telah bertempur melawan seorang pemuda sakti bernama Wiro Sableng. Dalam pertempuran itu bukan saja dia terpaksa melarikan diri tapi juga terpaksa kehilangan tangan kanannya karena telah dibetot puntung oleh lawannya! Dan mengingat ini, diantara rasa sakit yang tiada terkirakan, memerih pula rasa dendam kesumat yang amat sangat. Walau bagaimanapun dia musti dapat meneruskan hidupnya, meski cuma bertangan sebelah. Meski bagaimanapun dia harus dapat membalaskan dendam kesumat akibat perbuatan pemuda Wiro Sableng yang telah membuat dia cacat seumur hidup itu. Ketika kedua matanya melihat bintang- bintang yang bermunculan di langit di atasnya barulah disadarinya bahwa hari sudah menjadi malam. Kalingundil tahu bahwa semalammalaman itu dia tak akan bisa terus terbujur di situ. Dipalingkannya kepalanya ke kanan. Hanya semak belukar dan pohon-pohon berdaun lebar yang dilihatnya dalam kegelapan. Kemudian dipalingkannya pula kepalanya ke samping kiri. Mula-mula juga hanya kegelapan yang dilihat lelaki itu. Namun samar-samar kemudian diantara semak belukar dalam kegelapan itu matanya masih dapat melihat satu legukan batu di dasar jurang. Jaraknya dengan tempat dia terbujur saat itu kira-kira sepuluh tombak. Dari pada terbujur di tempat terbuka begitu, Kalingundil berpikir lebih baik pindah tempat ke cegukan batu itu. Tapi dengan keadaan dan kekuatan badan seperti itu tidak mudah bagi Kalingundil untuk berpindah tempat. Jangankan untuk berdiri, merangkakpun tidak bisa. Jangankan utnuk beringsut, bergerak sedikitpun sekujur tubuhnya terasa sakit bukan main, tulang- tulang anggotanya serasa bertanggalan! Namun dengan keyakinan penuh untuk bisa menyelamatkan diri, dengan mengumpulkan segala sisa tenaga yang masih ada, seingsut demi seingsut akhirnya berhasil juga Kalingundil mencapai legukan batu itu. Ternyata legukan ini adalah mulut sebuah goa. Dan pada saat itu dia berhasil mencapai mulut goa itu, untuk kedua kalinya Kalingundil jatuh pingsan kembali. Kalingundil sadarkan diri pada keesokan paginya. Beberapa jam sesudah matahari terbit. Anehnya tubuhnya terasa lebih mendingan dibandingkan dengan keadaan hari kemarin. Kalingundil tak habis pikir, kenapa hal ini bisa terjadi. Bahkan ketika dia coba menggerakkan badan dirasakannya kekuatannya yang malam tadi sudah habis sampai ke batas terakhir kini mulai berangsur kembali. Dia duduk bersandar ke dinding goa. Pada saat itulah dirasakannya bahwa dari dalam goa keluar semacam hawa yang lembab ngilu-ngilu kuku. Hawa inilah agaknya yang telah mempengaruhi keadaan diri Kalingundil yang telah memberikan kepulihan kekuatan kepadanya. Kemudian sewaktu dia memandang meneliti ke dinding goa di sekelilingnya, samarsamar, tertutup oleh debu yang menebal, tergugus oleh ketuaan zaman, Kalingundil melihat banyak sekali tulisan-tulisan. Tulisan-tulisan ini kacau balau tak teratur, tapi bila dibaca dan disambung satu persatu, akan merupakan rentetan kalimat yang memberi pengertian pelajaran ilmu silat! Semakin lebar Kalingundil membuka kedua matanya. Apa yang dibaca olehnya itu memang sulit dimengerti mula-mula, ini lain tidak karena tulisan itu menerangkan tentang pelajaran silat yang memang mempunyai dasar-dasar aneh serta tak diketahui dari cabang aliran mana. Semakin naik matahari, semakin baikan terasa oleh Kalingundil keadaan badannya. Dengan mebungkuk-bungkuk dan tertatih- tatih, setelah habis dibacanya sekalian apa yang tertulis dibagian goa sebelah luar itu maka Kalingundil memasuki goa lebih jauh. Semakin ke dalam semakin terasa hawa lembab yang hangat-hangat ngilu-ngilu kuku tadi. Menghirup udara itu Kalingundil merasakan tubuhnya segar, dadanya lega. Dan semakin ke dalam semakin banyak banyak dilihat Kalingundil tulisan-tulisan. Apa yang tertulis kini adalah mengenai pelajaran ilmu pedang yang aneh dan tak pernah didengar oleh Kalingundil sebelumnya. Tapi sayang sebagian besar tulisan-tulisan yang bersifat pelajaran itu sudah tidak kelihatan atau kabur tak dapat dibaca lagi. Hawa hangat ngilu-ngilu kuku semakin santar terasa. Kalingundil terus juga masuk ke dalam goa itu sampai akhirnya langkahnya terhenti pada satu pemandangan yang hampir tak dapat dipercayainya. Goa itu berakhir pada sebuah telaga kecil. Telaga ini lebih tepat disebut kolam karena tepinya dikelilingi oleh batu-batu. Air telaga berwarna biru gelap dan mengepulkan asap kebiruan. Asap inilah yang berhawa hangat ngilu-ngilu kuku dam mempunyai kekuatan ajaib yang menyegarkan tubuh Kalingundil! Di tengah kolam itu terdapat sebuah batu licin yang juga berwarna biru dan diatas batu ini terletak sebuah pedang yang telah buntung, yang panjangnya cuma dua jengkal. Seperti air kolam dan batu licin, senjata ini juga berwarna dan memancarkan sinar biru. Mengapa pedang itu tinggal buntung sedemikian rupa, kemana bagian yang lancip lainnya? Dan mengapa sampai benda itu berada di situ? Berdiri beberapa lama di tepi kolam itu Kalingundil merasakan badannya semakin segar. Sedang ketika diteliti luka di bahu kanannya yang buntung itu, luka itupun kelihatannya lebih sembuhan dari saat-saat sebelumnya. "Air kolam ini mengandung khasiat yang hebat..," pikir Kalingundil. Dia membungkuk untuk menyiduknya dan sekaligus untuk melihat lebih dekat pedang buntung yang di atas batu. Namun setengah membungkuk, gerakannya terhenti. Di dinding goa di sebelah belakang kolam, di balik kepulan asap samar- samar terlihat barisan huruf-huruf yang sudah agak sukar untuk dibaca tapi masih dapat dikira-kirakan oleh Kalingundil. Di situ tertulis: GOA INI "GOA SILUMAN BIRU" KOLAM INI "KOLAM SILUMAN BIRU," PEDANG DI ATAS BATU "PEDANG SILUMAN BIRU," CUMA SAYANG KINI HANYA TINGGAL HULU DAN BUNTUNG, SIAPA BISA MENDAPATKAN UJUNG PEDANG YANG HILANG DAN MENYAMBUNGNYA, SIAPA YANG MEMPELAJARI ILMU PEDANG DALAM GOA INI, AKAN MENJADI "RAJA PEDANG" SEUMUR HIDUPNYA. Membaca rangkaian kalimat itu, Kalingundil kemudian memandang berkeliling. Apaapa yang telah dibacanya tadi sejak dari mulut goa sampai ke tepi kolam yaitu tulisan-tulisan di dinding goa semuanya memang merupakan suatu ilmu silat dan ilmu pedang yang aneh. Segala sesuatu yang ditemuinya di dalam goa itu memberikan kenyataan kepada Kalingundil bahwa dulunya goa itu adalah tempat kediaman seorang sakti yang bersenjatakan pedang bernama "Pedang Siluman Biru" itu. Tapi kenapa pedang itu kini hanya tinggal begitu rupa, dan ke mana buntungnya yang lain? Untuk keda kalinya Kalingundil membungkuk. Dengan tangan kirinya dijangkaunya pedang Siluman Biru. Pada detik jari-jari tangannya memegang hulu senjata itu maka aneh sekali mengalirlah suatu aliran yang membuat kekuatan Kalingundil dan keadaan tubuhnya benar-benar pulih seperti sediakala! Bahkan bukan itu saja, kini tubuhnya juga terasa lebih enteng. Dan ketika dicobanya menyiduk air kolam, lebih banyak kekuatan-kekuatan dan keanehan-keanehan baru yang dialaminya! Kalingundil gembira sekali. Tanpa menunggu lebih lama dia berlutut di tepi kolam dan berkata: "Pemilik Goa Siluman Biru, dimanapun kau berada, siapapun kau adanya, aku Kalingundil mengucapkan terima kasih karena apa yang ada dalam goamu ini telah menyembuhkan aku dari sakit dan luka yang aku alami. Hari ini aku – Kalingundil – mengharapkan segala kerelaanmu untuk sudi mengangkat kau sebagai guru. Apa-apa yang tertulis di goamu ini akan kupelajari dengan tekun…" Demikianlah mulai hari itu dengan seorang diri dia menekuni setiap apa yang tertulis di dinding goa. Ilmu silat dan ilmu pedang yang coba dipelajarinya seorang diri itu yang hilang dan tak terbaca sehingga dari keseluruhan Ilmu Pedang Siluman yang dipelajari Kalingundil, hanya sepertiganya saja yang berhasil didapat dan difahami oleh Kalingundil. Namun demikian itupun sudah luar biasa sekali. Sehingga empat bulan kemudian ketika dia keluar dari Goa Siluman itu, maka Kalingundil yang kini sudah berobah seratus delapan puluh derajat dalam ilmu persilatan! Dan ini menambah keyakinan Kalingundil bahwa dia akan berhasil menuntutkan sakit hatinya terhadap pendekar 212, Wiro Sableng! –== 0O0 == — MENCARI seorang musuh di daratan pulau Jawa yang luas bukan suatu pekerjaan mudah. Ratusan kilometer harus dijalani, puluhan bukit harus didaki dan dituruni, belasan sungai musti diarungi, diseberangi belasan rimba belantara harus dimasuki dan diantara semua itu puluhan halangan harus dihadapi. Halangan atau bahaya yang ditimbulkan alam sendiri serta yang ditimbulkan oleh manusia-manusia yang hidup dalam itu, terutama sekali dalam rimba dunia persilatan! Mungkin berbulan-bulan, mungkin pula bertahun-tahun baru musuh besar itu berhasil dicari. Tapi sebaliknya mungkin pula itu tak pernah berhasil, mungkin si pencari musuh besar itu akan tertimpa bahaya lebih dahulu dalam perjalanan dan meregang nyawa sebelum dendam kesumat terbalaskan. Kalingundil tahu semua itu. Tapi dia tidak khawatir. Dengan ilmu baru yang kini dimilikinya, meski tidak sempurna, dia yakin akan sanggup untuk menghadapi segala sesuatu dalam perjalanannya mencari Wiro Sableng pendekar 212, musuh besar yang telah membuat tangannya buntung, yang telah membuat dia cacat seumur hidup! Disamping itu Kalingundil memang sudah punya rencana tersendiri untuk menjelaskan persoalan dendamnya dengan pendekar 212. Dia yakin akan dapat menemui pemuda sakti itu dan dia yakin pula bahwa rencana besarnya untuk menuntut balas akan berhasil! Pertama sekali ditemuinya Mahesa Birawa atau Suranyali di Pajajaran karena terakhir sekali diketahuinya bekas pemimpin dan guru silatnya itu tengah berada di kerajaan itu. Namun sampai di sana Kalingundil kecewa besar. Bahkan juga dendam yang ada di dalam hatinya jadi tiada terkirakan bahwa Mahesa Birawa telah menemui ajalnya, mati ditangan Wiro Sableng, sewaktu terjadi pemberontakan besar-besaran tempo hari. Dengan segala dendam kesumat yang semakin dalam berurat berakarnya itu Kalingundil meninggalkan Pajajaran. Diseberanginya sungai Kendang, diteruskannya perjalanan ke bukit Siharuharu yang terletak tak berapa jauh dari kaki gunung. Pada masa itu di puncak bukit Siharuharu terdapat sebuah perguruan silat yang bernama Perguruan Teratai Putih. Perguruan ini baru tiga tahun berdiri tapi sudah mendapat nama tenar di di sapanjang daerah perbatasan Jawa barat dan Jawa Timur. Bukan saja karena Perguruan Teratai Putih ini didirikan untuk menolong kaum yang lemah dan menghancurkan golongan hitam penimbul segala kebejatan dan malapetaka serta kemaksiatan tapi juga adalah karena perguruan silat ini dipimpin oleh seorang tokoh yang sejak sepuluh tahun belakangan ini mendapat nama tenar dalam dunia persilatan. Tokoh ini ialah Wirasokananta, seorang tokoh silat yang berumur lebih dari setengah abad. Pada saat itu Wirasokananta berada di puncak Gunung Galunggung tengah bertapa memperdalam ilmu bathin dan dan mempersuci diri dari segala kekhilafan- kekhilafan dan dosa-dosa yang pernah dibuatnya selama hidupnya. Pimpinan perguruan diserahkannya pada murid tertua, terpandai dan yang paling dipercayainya yaitu Gagak Kumara. Perguruan Teratai Putih saat itu kelihatan diselimuti suasana ketenangan. Di dalam rumah besar murid-murid perguruan yang berjumlah delapan orang, enam laki-laki dan dua perempuan duduk bersila dengan khidmat mendengarkan apa uyang tengah dibacakan oleh Gagak Kumara yaitu sebuah kitab yang ditulis oleh guru mereka, mengenai sastra hidup, kerohanian, kebathinan dan keduniaan. Suara Gagak Kumara terang dan jelas, sedap didengarnya sehinga setiap nasihat dan pelajaran yang dibacakannya dapat segera dimengerti oleh saudara-saudara seperguruannya yang tujuh orang itu. "Dalam hidup ini…," membaca Gagak Kumara, "setiap manusia akan dan musti melalui tiga tahap kehidupan. Pertama saat atau dimana dia dilahirkan dari rahim ibunya ke atas dunia ini. Kedua tahap selama umur kehidupannya di dunia dan ketiga tahap dia meninggalkan dunia ini, kembali pada asalnya atau mati….". Samapi di situ pembacaan Gagak Kumara maka di luar rumah besar terdengar suara tertawa bergelak yang disusul dengan ucapan: "Tepat… tepat… sekali! Lahir, hidup dan mati! Dibrojotkan ke duni malang melintang di dunia ini, dan akhirnya mampus! Ha… ha… ha….". Tentu saja suara yang lantang mengumandang berisi tenaga dalam yang tinggi dan yang bernada menghina ini mengejutkan semua anak murid Perguruan Teratai Putih, termasuk Gagak Kumara sendiri! Semuanya sama memalingkan kepala ke pintu pada saat mana seorang laki-laki berpakaian lusuh, kotor, bermuka angker dan tangna kanannya buntung berdiri diambang pintu. "Sasudara, kau siapa…?" Tanya Gagak Kumara sesudah meneliti sebentar diri tamu tak dikenal itu. Dia tetap duduk tenang di tempatnya dengan kitab masih terus di atas pangkuannya. "Tak perlu tanya dulu!," menyahuti laki-laki diambang pintu seraya menyeringai buruk. "Bicaraku belum habis…!" Beberapa orang diantara murid-murid Perguruan Teratai Putih kelihatan menjadi penasaran dan menggeser duduk mereka. Namun dengan membrei isyarat diam-diam Gagak Kumara memberi kisikan agar jangan bertindak dulu. Dan orang yang diambang pintu meneruskan ucapannya. Terlebih dahulu dengan jari telunjuk tangan kirinya ditunjukkannya kitab yang ada dipangkuan Gagak Kumara. "Apa yang tertulis di sana, apa yang kau baca tadi betul sekali! Lahir, hidup, mati! Tapi apa kalian di sini tahu bahwa segala apa yang tertulis dan apa yang dibaca tadi itu hari ini akan kalian alami sendiri…?" "Apa maksudmu saudara?," tanya Gagak Kumara. Masih tetap dengan tenang dan tidak beringasan. Si tangan buntung tertawa mengekeh. "Percuma saja kalau kalian memiliki kitab itu, percuma saja kalian memilikinya kalau kalian tidak tahu apa mkasud kata-kataku! Kalian sudah dilahirkan, kalian sudah pernah hidup malang melintang di dunia ini, tapi kalian masih belum pernah merasakan kematian, belum pernah mencoba mampus! Nah… hari ini, untuk membuktikan kebenaran isi kitab butut itu, aku –Kalingundil – akan bersedia menolong kalian untuk mengetahui bagaimana rasanya mampus itu! Ha… ha… ha…!" Maka kini berdirilah Gagak Kumara dari duduknya. Kitab yang dipangkuannya dilipat dan diserahkan pada salah seorang saudara seperguruannya. "Saudara," kata Gagak Kumara pula. "Di dunia ini memang banyak orang-orang yang berotak miring. Aku khawatir kau adalah salah seorang dari mereka dan kesasar datang ke sini!" Kekehan Kalingundil terhenti. Mukanya membesi. Rahang-rahangnya bergemeletuk. Tangan kirinya bergerak ke pinggang dan sekejapan mata kemudian tangan itu telah memegang sebilah pedang buntung yang memancarkan sinar biru. Pedang Siluman Biru! Sekali lihat saja, meski senjata itu buntung, namun murid-murid Perguruan Teratai Putih sama memaklumi bahwa pedang yang ditangan manusia tak dikenal dan mengaku bernama Kalingundil itu adalah sejenis senjata sakti, sekalipun puntung tapi tetap berbahaya! Tiba-tiba Kalingundil berteriak nyaring. Tubuhnya melompat ke muka, pedang buntung bergerak, sinar biru membabat ke samping dan kini tidak sungkan-sungkan lagi melepaskan pukulan tangan kosong yang mengandung tenaga dalam yang tinggi. Namun betapa terkejutnya Gagak Kumara ketika sambaran pedang buntung di tangan lawannya membuat angin pukulan tenaga dalamnya terpental ke samping! "Saudara-saudara!," seru salah seorang anak murid Perguruan Teratai Putih. "Manusia kesasar macam begini tak perlu dihadapi satu demi satu. Mari kita tumpas beramai-ramai!" "Semuanya tetap ditempat!," teriak Gagak Kumara. "Walau bagaimanapun kita harus jaga naman Perguruan dan jangan mencemarkan nama guru! Pegang teguh sifat ksatria dunia per…". Kata-kata Gagak Kumara tak dapat diteruskan karena saat itu Kalingundil kembali datang menyerang dalam satu jurus yang aneh. Bagaimanapun Gagak Kumara yang sudah berilmu tinggi ini mengelak namun tetap saja ujung yang buntung dari pedang biru di tangan lawan berhasil membabat pakaiannya dan menggores kulit dadanya! Pada detik goresan itu maka Gagak Kumara merasakan badannya menjadi panas. Kalingundil terkekeh. "Pedang buntung ini Pedang Siluman Biru… mengandung racun yang jahat. Dalam tiga jam nyawamu akan melayang! Ha… ha… ha…!". Terkejutlah Gagak Kumara. Demikian juga saudara-saudara seperguruannya yang lain. Gagak Kumara cabut sebilah keris dari pingganngnya. Saudara-saudara seperguruannya yang lainpun segera cabut keris pula dan kali ini Gagak Kumara tidak berkata apa-apa lagi. Maka delapan anak murid Perguruan Teratai Putih dengan sebilah keris di tangan masingmasing mengurung Kalingundil yang bersenjatakan sebilah pedang buntung sakti itu! Kalingundil hanya tertawa buruk melihat hal ini. "Sebaiknya kalian bunuh diri saja dari pada mampus di ujung patahan Pedang Siluman-ku ini!" "Pedang Siluman…," desis anak-anak murid Perguruan Teratai Putih dalam hati. Mereka pernah mendengar tentang kehebatan pedang ini dari guru mereka. Tapi dikabarkan sejak beberapa tahun yang silam pedang itu lenyap dan kini muncul dalam keadaan buntung, tapi benar-benar tidak mempengaruhi kehebatannya! Namun apapun senjata yang di tangan lawan saat itu anak-anak murid Wirasokananta tidak mempunyai rasa gentar atau kecut sedikitpun! Kedelapannya menyerbu ke muka. Delapan keris berkiblat kearah delapan bagian dari tubuh Kalingundil! Yang diserang menyeringai lalu membentak keras. Tubuhnya berkelebat, sinar biru dari pedangnya menderu seputar badan! Tiga jeritan terdengar hampir bersamaan dan tiga saudara seperguruan Gagak Kumara roboh mandi darah, nyawanya putus di situ juga! Gagak Kumara kertakkan geraham. Darahnya mendidih oleh amarah. Namun goresan luka telah membuat tubuhnya menjadi kehilangan tenaga. Dikerahkannya seluruh tenaga dalam yang ada di tubuhnya. Dan mengamuklah gagak Kumara dengan segala kehebatannya. Namun permainan pedang lawan benar-benar hebat, sulit dan sukar diduga jurus-jurusnya. Satu jurus dimuka, dua orang saudara seperguruannya lagi roboh tanpa nyawa. Melihat ini Gagak Kumara segera berseru pada dua orang saudara seperguruannya yang perempuan. "Wurnimulan, Nyiratih… kalian segeralah tinggalkan tempat ini! Cepat lari selamatkan diri…!" Tapi kedua gadis itu meski betina adalah betina yang berhati jantan! Wurnimulan menyahuti: "Hidup mati kita bersama kakak Gagak Kumara!." Gadis ini itu berkelebat cepat dan kirimkan satu tusukan cepat ke leher lawan. Kalingundil tertawa. Dielakkannya tusukan keris itu dengan miringkan badan dan di saat itu pula kaki kirinya bergerak. "Bluk!" Saudara seperguruan Gagak Kumara laki-laki yang terakhir terpelanting ke dinding. Tulang dadanya melesak ke dalam dihantam tendangan Kalingundil. Jantung dan paru­ parunya pecah! Nyawanya lepas! Gagak Kumara sendiri saat itu sudah kehabisan tenaga. Luka di dadanya dan racun pedang siluman sangat mempengaruhi keadaan tubuhnya ke segenap pembuluh darah! Dia tahu sebentar lagi dia pasti akan menyusul saudara-saudara seperguruannya yang lain. Karena itu sekali lagi dia berseru memberi ingat: "Wurnimulan! Nyiratih! Larilah sebelum terlambat!" "Gadis-gadis caritik ini tak akan bisa pergi jauh! Nasib kematian kalian sudah ada di ujung Pedang Siluman-ku! Tapi sebelum mati keduanya akan kuhadiahkan dunia terlebih dahulu!" Kalingundil tertawa mengekeh! Gagak Kumara yang tahu maksud dan arti kata-kata lawannya itu untuk kesekian kalinya berteriak memberi ingat namun kedua gadis itu tak mau ambil perduli malahan menyerang dengan hebat! Kalingundil mengelak gesit beberapa kali. Kemudian dengan kecepatan yang luar biasa, dengan mempergunakan hulu belakang senjata di tangan kirinya laki-laki itu menotok Wurnimulan dan Nyiratih! Keduanya kini kaku tak bergerak. Tahu malapetaka apa yang bakal menimpa kedua saudara seperguruannya itu, dengan sisa tenaga yang ada, dengan segala kehebatan yang masih dimilikinya Gagak Kumara menyerbu Kalingundil dari samping. Yang diserang sambil putar badan berkata: "Ajalmu sudah di depan mata, maut sudah di depan hidung! Baiknya bunuh diri saja…!" "Terima kerisku lebih dulu, manusia durjana! Kami tidak ada permusuhan dengan kau. Kenapa kekejamanmu lewat takaran macam begini…?!" "Akh… sudahlah! Biar mulutmu kututup saja saat ini!," kata Kalingundil pula. Pedang Siluman Biru membabat ke perut Gagak Kumara, dialakkan dengan melompat oleh murid Wirasokananta itu namun begitu melompat, senjata lawan kembali memburu lebih cepat, kini menderu ke muka Gagak Kumara, tak sanggup lagi dikelit oleh laki-laki ini! –== 0O0 == — USAHA terakhir yang dilakukan Gagak Kumara untuk menyelamatkan dirinya ialah melintangkan keris dimukanya. Pedang Siluman Biru buntung terus membabat, senjata masing-masing beradu keras, bunga api memercik dan keris Gagak Kumara patah dua sedang senjata lawan terus membabat mukanya! Murid tertua dari Perguruan Teratai Putih itu terhuyung ke belakang. Mukanya banjir oleh darah dan mengerikan sekali. Perlahan-lahan lututnya tertekuk dan pinggangnya meliuk. Gagak Kumara terduduk di lantai, sebelum tergelimpang dan menghembuskan nafas penghabisan, buntungan keris yang masih tergenggam di tangannya dengan segala tenaga yang ada dilemparkannya ke arah Kalingundil. Tapi serangan yang hampir tiada artinya ini dengan mudah dielakkan oleh Kalingundil. Kalingundil tertawa mengekeh. Noda darah yang membasahai Pedang Siluman Biru yang buntung itu disekakannya kembali ke balik pinggang. Kemudian laki-laki ini memutar tubuh. Sepasang matanya kini berkilat-kilat memandangi tubuh dan paras Wurnimulan serta Nyiratih yang saat itu berdiri kaku tak berdaya karena ditotok tadi. "He… he… he… kalian berdua tak perlu mati buru-buru….," kata Kalingundil. Ujung lidahnya dijulurkannya untuk membasahi bibirnya. Dia melangkah mendekati Wurnimulan. Tangan kirinya bergerak dan "bret!" Robeklah baju perguruan yang dipakai oleh gadis itu. Dadanya terbuka lebar, putih dan mulus padat. Kalingundil menjadi terbakar tubuhnya oleh nafsu yang menggelegak. Tangan kirinya bergerak lagi…. bergerak lagi… bergerak lagi…. SEMENTARA itu di puncak Gunung Galunggung… Dalam tapanya yang sudah berjalan sembilan belas hari itu tiba-tiba saja Wirasokananta tak dapat meneruskan memusatkan segenap jalan pikirannya. Satu demi satu panca inderanya mulai terganggu. Walau bagaimanapun usahanya untuk memusatkan pikiran dan tenaga bathin serta menutup segenap pancainderanya namun sia-sia saja. Semuanya membuyar kembali. Semakin dipaksanya semakin sulit. Mau tak mau akhirnya tokoh silat yang sudah setengah abad ini umurnya terpaksa buka kedua matanya yang sejak sembilan belas hari telah dipejamkannya. Kedua matanya itu memandang jauh ke muka, memandang ke luar pintu goa dimana dia bertapa. Segala apa yang dilihatnya saat itu, rimba belantara, bukit sunga, matahari, langit dan awan… semuanya masih seperti sebelumnya dia datang ke situ, tak ada perubahan. Namun hatinya tidak enak, nalurinya membawanya ke satu hrasat yang mendebarkan dada dan menggelisahkan dirinya. Dan meski ujud kenyataan dari benda- benda dihadapannya yang dapat dilihatnmya dari puncak Gunung Galunggung itu tiada perubahan, namun orang tua yang sudah banyak pengalaman dan mengecap ragam kehidupan itu tahu, bahwa dibalik semua itu pasti telah terjadi apa-apa di dunia luar sana. Diusapnya wajahnya dengan kedua tangannya. Dia merenung, sejurus kemudian perlahan-lahan turun dari batu hitam di mana dia sebelumnya duduk bertapa. Batu hitam yang diduduki orang tua ini kelihatan berbekas leguk. Ini cukup memberi pertanda bagaimana kehebatan tenaga dalan dan luar Wirasokananta. Diusapnya lagi mukanya. "Mungkin ada apa- apa terjadi di Perguruan…," kata Wirasokananta dalam hatinya. Dengan mempergunakan ilmu lari "seribu angin" maka sekali berkelebat lenyaplah sosok tubuh orang tua itu dari mulut goa dan kemudian kelihatanlah dia berlari menuruni puncak Gunung Galunggung cepat sekali laksana angin! Karena sangat terkejutnya, di ambang pintu rumah besar itu sampai-sampai Wirasokananta berdiri mematung untuk beberapa lamanya! Kemudian tubuh yang mematung ini sekujurnya jadi bergetar. "Demi Tuhan… siapakah yang punya pekerjaan ini?," desisnya."Dosa besa apakah yang telah kami perbuat sampai menerima malapetaka begini rupa…?" Murid-muridnya bergeletakan di mana-mana. Semuanya tanpa nyawa dan bergelimang darah. Namun apa yang sangat menusuk mata Ketua Perguruan Teratai Putih itu ialah akan keadaan diri dua orang murid perempuannya, Wurnimulan dan Nyiratih. Keduanya menggeletak di lantai rumah besar tanpa tertutup selembar benangpun. Keris milik masingmasing menancap ditenggorokan dan darah mengelimangi hampir sekujur tubuh kedua gadis itu, dari leher sampai ke dada terus ke selangkangan…. Wirasokananta pejamkan kedua matanya, tak tahan memandangi lebih lama apa yang membentang dihadapannya itu. Bagaimana juga.dikuatkannya hatinya, namun air mata meleleh juga dari. sela-sela kelopak mata yang dipejamkannya itu. Tenggorokannya turun naik menahan keluarnya suara isakan. Beberapa tahun dia telah mendidik kedelapan muridnya itu, beberapa tahun mereka telah berjuang bersama-sama untuk menegakkan kebenaran dan menghancurkan kebathilan beberapa tahun mereka bersama-sama telah berjuang untuk menghancurkan kemaksiatan dan memusnahkan kebejatan serta kejahatan. Namun hari ini mereka semua menemui nasib semacam itu. Menemui kematian dengan cara yang mengenaskan di luar dugaan Wirasokananta. Dalam masih pejamkm kedua matanya itu. Ketua Perguruan Teratai Putih ini coba berpikir dan menduga-duga siapakah kiranya manusia yang telah menjatuhkan malapetaka yang begini kejam terhadap anak-anak muridnya, tak bisa diduganya, tak bisa dipikirkannya karena seingatnya dia tak pernah mempunyai seorang musuhpun dalam dunia persilatan. Wirasokananta membuka kedua matanya kembali. Pada saat inilah, di balik pandangan matanya yang masih digenangi air mata itu pandangannya membentur buku besar buah tulisannya sendiri yang dipantek dengan sebilah keris milik salah seorang muridnya! Serentetan kalimat — yang ditulis dengan darah –tertera dikulit buku itu. Kepada Ketua: " Perguruan Teratai Putih " Kalau ingin menuntut balas kematian murid- muridmu datanglah ke puncak Gunung Tangkuban perahu pada hari 13 bulan 12. Pendekar Kapak Maut Naga Geni ______212______ WIRO SABLENG Mata yang digenangi air mata dari Wirasokananta menyipit, membuat air mata yang tadi mengambang menjadi turun meleleh membasahi pipinya. Ingatannya kembali pada masa puluhan tahun yang silam: Dulu, dunia persilatan memang pemah dibikin geger oleh seorang tokoh utama yang digjaya tiada tandingan. Tokoh yang telah merajai dunia persilatan selama bertahun-tahun ini adalah Eyang Sinto Gendeng, seorang pendekar perempuan yang bersenjatakan sebuah kapak sakti bernama Kapak Maut Naga Geni 212. Namanya harum dikalangen tokoh-tokoh silat golongan putih karena Pendekar 212 adalah pembasmi kejahatan dan penolong kaum lemah. Sedang bagi golongan hitam, tokoh ini sudah barang tentu menjadi momok besar yang sangat ditakuti!. Pada masa kehidupan Pendekar 212 itu, di mana saat itu Wirasokananta masih belum mendirikan Perguruan Teratai Putih, karena sama-sama dari golongan putih yang sehaluan dalam perjuangan maka dengan sendirinya tiada permusuhan atau silang sengketa antara dia dengan Pendekar 212. Tapi hari ini terjadi peristiwa berdarah itu, peristiwa maut yang diakhiri dengan meninggalkan pucuk surat tantangan, dan surat ini justru ditandatangani dengan nama "Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212"…! Tentu saja ini satu hal yang tidak dimengerti Wirasokananta. Kemudian apa pula arti dan hubungannya nama. "Wiro Sableng" itu ?! Ketua Perguruan Teratai Putih itu coba merenung. Renungannya ini menyangkut pada masa puluhan tahun yang silam itu. Di masa dunia persilatan geger oleh kehebatannya Pendekar 212, tiba-tiba entah kemana perginya Pendekar 212 lenyap! Tentang kelenyapannya ini banyak tokoh-tokoh persilatan memberikan tanggapan, Mungkin Pendekar 212 sendiri yang sengaja lenyap mengundurkan diri dari dunia persilatan, mungkin juga tokoh itu telah menemui kematiannya dengan cara yang tak bisa diduga, meski tanggapan yang kemudian ini agak diselimuti rasa keraguraguan. Tapi kini dengan adanya kejadian maut di Perguruan Teratai Putih itu, Wirasokananta merasa yakin bahwa sesuatu memang telah terjadi dengan diri Eyang Sinto Gendeng atas Pendekar 212. Dia berkesimpulan bahwa Pendekar 212 dalam satu pertempuran hebat dan tak diketahui oleh dunia luar telah dikalahkan oleh seorang pendatang baru bernama Wiro Sableng. Kemungkinan sekali Pendekar 212 menemui ajalnya di tangan Wiro Sableng itu, merampas Kapak Maut Naga Geni 212 yang kemudiannya malang melintang di dunia persilatan dengan memakai gelar Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212! Dan kelanjutan renungan Ketua Perguruan Teratai Putih itu ialah siapa manusia Wiro Sableng ini sebenarnya. Nama itu satu nama baru baginya. Namun meski nama baru satu hal diyakini oleh Wirasokananta bahwa dengan itu manusia baik dia maupun Perguruan Teratai Putih, tak pernah mempunyai permusuhan dan menanam dendam kesumat! Apa yang menjadi latar belakang pembunuhan besar-besaran atas murid-muridnya benar-benar sangat gelap bagi Wirasokananta. Dan bila matanya membentur lagi tulisan berdarah yang menyatakan tantangan itu, benar-benar Ketua Perguruan Teratai Putih ini merasa dibakar hatinya! Bulan 12 masih sembilan bulan lagi! Apakah dia akan menunggu sampai sekian lama untuk kemudian baru bertemu muka dan membuat perhitungan dengan Wiro Sableng? Ataukah detik itu juga ia meninggalkan Perguruan dan mencari musuh durjana itu ? Namun, Wirasokananta tahu, bahwa apa yang musti dilakukannya saat itu ialah menguburkan jenazah-jenazah ke delapan orang muridnya di halaman Perguruan. –== 0O0 == — ANTARA sungai Cidangkelok di sebelah timur dan sungai Cimanuk di sebelah barat, terbentanglah satu daerah yang sangat subur. Ladang-ladang menghijau oleh hasil yang menakjubkan. Sawah-sawah menguning laksana hamparan permadani emas. Lumbung-lumbung padi petani penuh, tak akan habis dimakan selama satu dua tahun. Penduduknya sendiri hidup dalam tingkat kehidupan yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan penduduk daerah sekitar lainnya. Mereka sehat-sehat, ramah dan rajin bekerja. Desa Bojongnipah adalah desa yang paling utama pada daerah yang membentang antara sungai Cidangke!ok dan sungai Cimanuk itu. Hasil ladang, hasil sawah dan hasil tebattebat pemeliharaan ikan penduduk tumpah ruah tiada terkirakan dan desa ini dikepalai oleh seorang Lurah yang bijaksana dan cakap bernama Ki Lurah Kundrawana. Begitu bijaksana dan pandainya Ki Lurah Kundrawana mengatur desa dan penduduknya sehingga banyak Lurah-lurah dari desa lain yang datang untuk meminta bantuan Kundrawana dalam hal yang ada hubungannya dengan kehidupan penduduk , dan pengaturan hidup agar bisa makmur serta tenteram. Di satu malam yang mendung gelap dan berangin kencarig dingin, Ki Lurah Kundrawana masih kelihatan duduk-duduk di langkan rumahnya yang sederhana, bercakap­ cakap dengan isterinya Warih Sinten. Di sela bibir Ki Lurah Kundrawana yang sudah berumur empat puluh lima tahun itu terselip sebuah pipa yang api tembakaunya hampir mati. "Dingin di luar ini, kakang…," kata Warih Sinten sambil, merapatkan kainnya yang agak menyingkapkan betisnya yang putih bagus. "Ya. Tampaknya mau hujan. Kita masuk saja…," sahut Ki Lurah Kundrawana seraya berdiri. Namun belum lagi kedua suami isteri itu melangkah ke pintu mendadak sekali tiga sosok bayangan hitam berkelebat. Tubuh mereka rata-rata tinggi kekar dan tampang- tampang mereka buruk serta angker ! Melihat ini, Ki Lurah Kundrawana yang tahu gelagat segera ulurkan tangan kanan ke pinggang di mana kerisnya tersisip. Namun dengan kecepatan yang luar biasa salah seorang dari manusia-manusia berpakaian hitam itu tahu-tahu sudah melintangkan sebatang golok di batang leher. Ki Lurah Kundrawana! Warih Sinten yang hendak berteriak ditekap mulutnya oleh laki-laki yang laini Ki Lurah Kundrawana maklum bahwa ketiga orang itu tentulah dari satu komplotan rampok terkutuk. Tapi ini adalah untuk pertama kalinya desanya didatangi rampok- rampok macam begini pada hal sejak selama dalam pegangannya desa senantiasa aman tenteram. Namun demikian Ki Lurah Kundrawana dengan mempertenang diri coba bicara. "Kalian siapa, ada maksud apa datang ke sini…?!" Orang yang melintang golok di leher Lurah Bojongnipah itu menyeringai menggidikan. Giginya yang tersungging kelihatan hitam, sehitam pakaian yang dikenakannya. "Aha… bagus kau tanya begitu. Tapi sebelum aku berikan jawaban kau musti ingat satu hal. Jika kau banyak tingkah dan membantah segala apa yang kami perintahkan, jangan menyesal bila melihat anak laki-lakimu yang tidur di dalam sana ku pantek di tiang rumah!" Terkejutlah Ki Lurah Kundrawana. Warih Sinten sendiri menggigil. Laki-laki berpakaian hitam menyeringai lagi. "Sekarang tentang siapa kami. Kau pernah dengar nama Komplotan Tiga Hitam dari Kali Comel?" Paras Ki Lurah Kundrawana memucat. "Saat ini kau berhadapan dengan mereka, Kundrawana. Aku Tapak Luwing adalah pemimpin mereka !" Ki Lurah Kundrawana tahu betul dan sering mendengar tentang Komplotan Tiga Hitam dari Kali Comel itu. Mereka adalah tiga rampok jahat dan ganas yang malang melintang disepanjang Kali Comel bahkan sampai ke perbatasan. Kali Comel jauh sekali dari desa Bojongnipah, kenapa tiga manusia bejat ini bisa sampai ke sini, demikian pikir Kundrawana. 'Tapak Luwing! Kalau kau mau merampok, lakukanlah! Bawa apa yang kalian bisa ambil dan berlalu dari sini dengan cepat !" Kepala Komplotan Tiga Hitam itu tertawa. "Kami selama ini memang dikenal sebagai perampok. Tapi dengan Ki Lurah Kundrawana, hari ini kami datang bukan untuk melakukan perampokan!" Tentu saja ucapan ini mengherankan Ki Lurah Kundrawana. "Jadi apa mau kalian ?!" tanyanya. "Kami datang untuk bikin perjanjian dengan kau !" "Perjanjian apa…?" "Mulai hari ini, kau musti tunduk kepada segala apa yang kami atur dan perintahkan, mengerti!" Ki Lurah Kundrawana menelan ludahnya. "Aturan dan perintah macam mana maksudmu?" tanyanya. Sementara itu diam- diam tangan kanannya kembali bergerak dan menyusup ke pinggangnya: Kepala desa Bojongnipah ini sudah bertekat bulat untuk melakukan perlawanan meski saat itu golok Tapak Luwing masih menempel di batang lehernya sedang isterinya sendiri masih disekap oleh salah seorang anak buah Tapak Luwing". Ki Lurah Kundrawana berhasil memegang hulu kerisnya. Secepat kilat senjata itu ditusukkannya ke perut Tapak Luwing. Namun Kepala Komplotan Tiga Hitam ini tidaklah sebodoh dan selengah yang diperkirakan oleh Ki Lurah Kundrawana. Sekali tangan kanannya bergerak turun menyapu ke bawah maka terdengarlah suara beradunya senjata dan percikan bunga api. Disusul oleh jeritan tertahan dari Warih Sinten, yang mulutnya disekap. Golok Tapak Luwing membuat mental keris di tangan Ki Lurah Kundrawana sedang ibu jari laki-laki ikut terbabat putus ujungnya sampai ke kuku. Ki Lurah Kundrawana merintih kesakitan. Darah mengucur dari ibu jarinya yang putus. Sementara itu golok Tapak Luwing telah menempel kembali pada batang lehernya ! "Agaknya kau minta batang lehermu cepat- cepat ditebas huh?," bentak Tapak Luwing. "Tebaslah, aku tidak takut! Kalian manusia, manusia lak…." Tamparan tangan kiri Kepala Komplotan Tiga Hitam itu menghajar pipi Kundrawana. Pandangannya berkunang, pipinya merah sekali dan sudut bibirnya pecah berdarah! "Masih mau buka mulut?!" tanya Tapak Luwing. Ki Lurah Kundrawana menggeram dalam hatinya. Tapi tak berkata apa-apa. "Kau mau dengar dan turut perintahku atau pilih mati?!" "Aku tidak takut mati! Isteriku juga tidak takut mati" jawab Ki Lurah pula. Tapak Luwing menyeringai. "Kalian memang tak takut mati. Tapi apa kalian sanggup menyaksikan anakmu yang di dalam sana kubikin menggelinding kepalanya di lantai ini?!" Ki Lurah Kundrawana terdiam. Tapak Luwing kemudian mendorong, laki-laki itu ke dalam dan memerintahkan duduk di kursi. "Demi nyawamu dan nyawa keluargamu, ada bagusnya kita bicara baik­ baik Ki Lurah! Dengar, mulai hari ini ke atas kau harus tunduk kepadaku. Aku tanya kapan pemungutan pajak penduduk kau lakukan setiap bulan…?" Ki Lurah Kundrawana tak mengerti maksud pertanyaan ini tapi dia menjawab juga: "Hari Senin minggu pertama". "Bila pajak-pajak itu sudah terkumpul, ke mana kau serahkan?," tanya Tapak Luwing lagi. "Pada Adipati di Linggajati dan Adipati itu kemudian meneruskannya ke Kotaraja". "Hem… begitu … Itu satu aturan yang bagus. Tapi mulai penarikan pajak bulan yang akan datang jumlah pajak yang harus dipungut adalah sepuluh kali lebih besar dari yang sudah-sudah…!" Ki Lurah Kundrawana terkejut. Dia tambah terkejut lagi ketika Tapak Luwing menyambung kalimatnya tadi: "Pajak itu harus kau pungut tiga kali dalam satu bulan! Mengerti…?!" "Aturan macam mana ini ?!" "Tak usah tanya aturan macam mana, yang penting lakukan perintahku!," sahut Tapak Luwing, "Kau tak bisa berbuat seenaknya, Tapak Luwing! Salah-salah kau bisa berurusan dengan Adipati Linggajati, bisa berurusan dengan Kerajaan!" "Urusan dengan Adipati, itu urusanmu, juga urusan dengan Kerajaan. Tapi jika kau berani mengadukan hal ini kepada siapa saja, kulabrak seluruh keluargamu! Mengerti?!" "Kalian bisa melabrak keluargaku. Tapak Luwing, tapi kalian tak bisa melabrak Adipati dan Kerajaan!" "Aku sudah bilang urusan dengan Adipati adalah urusanmu, juga dengan Kerajaan! Aku hanya tahu bahwa tiga kali dalam satu bulan aku harus terima sejumlah uang yang besarnya sepuluh kali besar pajak yang kau pungut selama ini dari penduduk desa!" "Keterlaluan! Keterlaluan kau Tapak Luwing! Tak satu pendudukpun yang sanggup membayar pajak sekian besarnya itu !" "Penduduk di sini kaya-kaya! Punya sawah, punya ladang, punya kerbau, sapi, kambing dan ayam serta itik!!" "Tapi sepuluh kali, mana mereka…" Tapak Luwing memotong dengan cepat: "Apa aku musti paksa kau memungut lima belas kali lebih banyak, atau dua puluh kali?!" "Aku tak akan lakukan perintahmu ini Tapak Luwing! Aku tak sanggup memeras rakyat!" "Perduli amat! Kalau tak saggup memeras rakyat apa kau sanggup menyaksikan kematian anak laki-laki mu?" Kalau Kepala Komplotan Tiga Hitam itu sudah mengancam demikian rupa, mau tak mau Ki Lurah Kundrawana terdiam bungkam. Tapak Luwing menggoyangkan kepalanya pada anak buahnya yang berdiri dekat pintu. Melihat isyarat ini laki-laki itu segera masuk ke dalam kamar tidur Ki Lurah Kundrawana. Kundrawana berdiri dari kursinya. "Kau mau buat apa…!," bentaknya. Tapak Luwing mendorong laki-laki itu hingga Kundrawana terduduk kembali ke kursi. Tak lama kemudian anak buah Tapak Luwing yang masuk kamar muncul di ruangan itu kembali dengan mendukung anak laki-laki Ki Lurah Kundrawana. Anak laki-laki ini baru berumur empat tahun. Dalam di dukung itu dia masih tertidur nyenyak, tak tahu apa yang terjadi atas dirinya. Kecemasan segera terbayang diparas Warih Sinten dan Kundrawana. "Kalian mau bikin apa dengan anakku?!" tanya Kundrawana. "Selama kau mengikuti perintahku, anakmu akan selamat tak kurang suatu apa. Dia kubawa untuk sementara sebagai jaminan bahwa kau tidak akan mengadukan persoalan ini pada siapa pun! Kau dengar Ki Lurah Kundrawana!" Laki-laki itu tak menjawab. "Dengar?!" ulang Tapak Luwing membentak. Ki Lurah Kundrawana mau tak mau terpaksa mengangguk pelahan. "Hasil-hasil pungutan pajak itu selambat- lambatnya harus kau serahkan kepadaku satu hari sesudah terkumpulnya. Antarkan ke satu pondok tua di persimpangan jalan yang menuju ke Linggajati. Aku sendiri yang akan menunggu kau di sana pada tengah hari tepat!" "Aku tak akan mengantarkannya!" kata Ki Lurah Kundrawana. "Silahkan datang sendiri kesini!" Tapak Luwing tertawa dingin. "Jangan lupa keselamatan anakmu, Ki Lurah," katanya. Kemudian Kepala Komplotan Tiga Hitam dari. Kali Comel ini berikan isyarat dan bersama kedua anak buahnya segera meninggalkan rumah Ki Lurah. Kundrawana. –== 0O0 == — SEMALAM-MALAMAN itu Warih Sinten tiada hentinya menangis. Matanya sudah merah dan bengkak. Ki Lurah. Kundrawana sendiri yang juga tak bisa tidur, melangkah mundar mandir tak berketentuan. Hatinya gelisah dan cemas, memikirkan diri anaknya yang telah dibawa oleh komplotan Tapak Luwing. Tapi hatinya juga gemas dan geram tiada terperikan! Baginya keselamatan diri dan isterinya tidak begitu penting jika dia ingat nasib anak laki­ lakinya itu, anak satu-satunya yang mereka miliki. Dan soal pajak itu, benar-benar membuat Ki Lurah Kundrawana seperti mau gila memikirkannya. Dia tak akan bisa mengadukan persoalan ini pada Adipati di Linggajati atau kepada Raja demi keselamatan anaknya. Satu-satunya jalan hanyalah mengikuti aturan dan perintah gila Tapak Luwing. Tapi bagaimana nanti sikap rakyat terhadapnya? Bukan saja pajak itu sangat berat bagi mereka, tapi penduduk .pasti akan mencapnya sebagai tukang peras dan mungkin akan timbul kemarahan di kalangan penduduk! Kalau dia musti memungut sepuluh kali jumlah pajak yang harus diserahkan pada Tapak Luwing, maka ditambah dengan yang harus diserahkan pada Adipati di Linggajati akan menjadi sebelas kali dari yang sudah- sudah! Kalau tidak ingat-ingat kepada Tuhan maulah Lurah Bojongnipah itu ambil kerisnya dan menusuk diri dengan senjata itu! Namun dia tahu ini bukanlah penyelesaian yang baik. Keesokan paginya terpaksa juga dia melalui seorang pembantunya mengirimkan kabar berkeliling penduduk desa bahwa mulai bulan depan pemungutan pajak besarnya sebelas kali dari yang sudah-sudah. Ini adalah sesuai dengan garis kebijaksanaan Raja demi untuk, pembangunan dan memelihara balatentara yang kuat, demikian alasan yang dibuat-buat oleh Ki Lurah Kundrawana untuk menutupi apa yang sebenarnya. Bila berita itu sudah sampai ke seluruh pelosok maka dalam sikap penduduk Bojongnipah mulai kelihatan pertentangan- pertentangan. Rata-rata mereka mengatakan bahwa ini adalah satu penindasan. satu pemerasan terang-terangan. Demi pembangunan dan demi balatentara yang kuat apakah rakyat harus dkekik lehernya dengan pajak yang besar tiada terkirakan lihat gandanya itu?! Beberapa orang tua-tua desa menemui Ki Lurah Kundrawana tapi Ki Lurah tak bersedia berhadapan dengan mereka. Orang tua-tua desa tentu saja heran kali melihat sikap Lurah mereka yang dulunya itu begitu baik bijaksana dan ramah tapi kini, jangankan untuk bicara tentang persoalan kenaikan pajak itu, bahkan untuk bertemu sajapun dia tidak mau! Disamping itu ketika mereka berada di rumah Ki Lurah, telinga mereka mendengar terus-terusan suara tangis Warih Sinten, isteri Lurah. Ada apa pula dengan diri perempuan itu? Betul-betul banyak hal yang tidak mengerti orang tua-tua desa saat itu! Dan ketika tiba saat pemungutan pajak yang pertama, banyak di antara.penduduk yang tak mau membayar. Dengan menekan pertentangan yang senantiasa melekat dihatinya Ki Lurah terpaksa mengancam orang-orang itu. Siapa-siapa penduduk yang tak mau membayar pajak dalam jumlah yang telah ditentukan, akan ditangkap dan dibawa ke Kotaraja! Akhirnya terpaksa juga penduduk membayar. Dalam pemungutan pajak-yang kedua terjadi kekacauan namun masih sanggup diatasi oleh Ki Lurah Kundrawana. Menjelang pemungutan pajak yang ketiga Ki Lurah Kundrawana mendengar kabar bahwa penduduk akan mengadakan pemberontakan! Lakilaki ini tak bisa menyalahkan penduduk. Suatu malam dengan diam-diam pergilah Ki Lurah Kundrawana ke Linggajati untuk menemui Adipati Boga Seta. Kepada Adipati ini dilaporkannya segala apa yang terjadi. Boga Seta kelihatan terkejut sekali. Ketika Ki Lurah Kundrawana minta diri, Boga Seta berjanji akan mengirimkan serombongan pasukan Kadipaten selekas mungkin. Namun menjelang semakin dekatnya hari pemungutan pajak yang ketiga itu tak satu prajurit Kadipatenpun yang muncul! Ki Lurah Kundrawana kehabisan akal, betul- betul bingung. Sementara itu tandatancia bakal terjadinya pemberontakan semakin jelas dan santar. Dalam kebingungannya di waktu yang sempit itu Ki Lurah Kundrawana akhimya berhasil menemui Tapak Luwing di luar desa. "Ada keperluan apa, kau menemui aku, Ki Lurah ?" bertanya Tapak Luwing sambil menggerogoti daging panggang yang barusan dipanggang oleh anak-anak buahnya. Saat itu Tiga Hitam dari kali Comel berada di pinggiran hutan. "Ada kesulitan katamu ? Hem… Apa kau tahu bahwa besok adalah hari pemungutan uang pajak itu dan lusanya menyerahkan pada kami di persimpangan jalan yang menuju ke Linggajati?" "Aku tahu Tapak Luwing. Justru kesulitan ini ada sangkut pautnya dengan pemerasanmu!" jawab Ki Lurah Kundrawana pula. Tapak Luwing tertawa dan melemparkan tulang daging yang dimakannya ke dekat kaki kepala desa Bojongnipah itu. "Tentang kesulitan ini, apakah kau sudah pergi kepada Adipati Boga Seta di Linggajati?," Tanya Tapak Luwing seraya tertawa dan berdiri dari duduknya di batang kayu tumbang. Ki Lurah Kundrawana terkejut dan berubah parasnya. Dalam hati dia bertanya-tanya apakah kepala perampok ini mengetahui kepergiannya ke Linggajati menemui Adipati Boga Seta itu? Suara tertawa Tapak Luwing semakin keras. Tampangnya kelihatan tambah angker dan tiba-tiba, tak terduga oleh Ki Lurah Kundrawana, tamparan tangan kanan kepala rampok itu mendarat di pipinya. "Tapak Luwing kau…" "Plak!" Untuk kedua kalinya tamparan Tapak Luwing menghajar muka Kundrawana. "Berbacot lagi," bentaknya, "Kurobek mulutmu!". "Tapi Tapak Luwing…" "Aku sudah bilang agar jangan mengadukan persoalan ini kepada siapapun! Dan kau telah pergi kepada Adipati Boga Seta! Apa kau lupa hukuman yang bakal diterima anakmu?!" Maka pucatlah muka Ki Lurah Kundrawana! "Kau… kau apakan anakku, Tapak Luwing…? "Sekarang kau ketakutan sendiri ya? Sialan! Adipati Boga Seta telah rnengirimkan lima orang prajuritnya ke Bojongnipah, tapi aku telah mencegatnya ditengah jalan dan kelimanya telah menemui ajal akibat kebodohanmu!" "Anakku… anakku bagaimana…?" tanya Ki Lurah Kundrawana setengah menangis setengah merengek! "Aku masih berbaik hati untuk kasih ampun kesalahanmu kali ini! Di lain hari, jangan harap aku bakal mau memaafkan kau…" Legalah dada Ki Lurah Kundrawana. Tapi jika dia mau berpikir panjang sedikit dan tidak keliwat gelisah maka dia akan melihat adanya keganjilan dengan ucapan Tapak Luwing hari ini dengan tiga minggu yang lalu. Dulu Tapak Luwing mengancam akan membunuh anaknya bila dia mengadu kepada Adipati atau Raja. Dan dia telah mengadukan hal itu kepada Adipati Boga Seta dan anehnya Tapak Luwing mau memberikan ampun kepadanya, padahal dengan demikian persoalan kejahatannya bukan saja telah sampai ke tangan Adipati tapi pasti akan diteruskan ke Kotaraja, apalagi sesudah pembunuhan atas lima prajurit Kadipaten itu ! "Sekarang terangkan mengenai kesulitan yang kau katakan itu, Ki Lurah!," kata Tapak Luwing pula. "Penduduk desa akan melakukan pemberontakan besok kalau aku masih juga memungut pajak gila itu!," kata Ki Lurah Kundrawana pula. "Begitu? Dulu kau bilang tidak takut mampus! Kini ada bahaya yang mengancam jiwamu kenapa terbirit mencari aku…?!" Ki Lurah Kundrawana mengatupkan rahangnya rapat-rapat. "Kembalilah ke Bojongnipah. Ki Lurah, Besok kami akan datang ke sana…" berkata Tapak Luwing. "Kuharap jangan sampai terjadi kekerasan". "Soal itu urusan kami. Kau tak perlu ikut campurl," kata Tapak Luwing pula. "Bisa aku ketemu anakku, Tapak Luwing ?" tanya Ki Lurah Kundrawana. "Kali ini tidak dulu," jawab kepala rampok itu. Kepala desa Bojongnipah itu termenung sejurus. Kemudian dengan langkah gontai dia berjalan ke kudanya dan naik ke atas punggung binatang itu Sebelum berlalu Ki Lurah Kundrawana bertanya, 'Tapak Luwing, sampai kapan kebejatanmu ini kau timpakan padaku…?" Tapak Luwing tertawa. "Tak usah banyak tanya ! Lebih baik pikirkan.nasibmu besok hari. Mungkin penduduk desa sudah mencincang tubuhmu sebelum kami datang…!" *** DI pelosok-pelosok desa terdengar kokokan-kokokan ayam bersahut-sahutan. Puncak dinginnya malam telah lewat dan kesegaran pagi yang ditandai oleh terangnya langit di ufuk timur menyatakan bahwa malam sudah sampai ke ujungnya untuk digantikan kini oleh kehadiran pagi. Ki Lurah Kundrawana menyalakan tembakau pipanya. Mukanya sudah cekung dan matanya kelihatan kuyu sedang parasnya pucat. Namun dibalik keredupan wajahnya itu tersembunyi sesuatu yang seperti menyala. Sesuatu itu ialah amarah dan rasa geram yang tiada terperikan! Di sedotnya pipa itu. Mulutnya terasa tak enak. Dia meludah ke tanah lewat langkan. Sejak dulu apalagi sejak beberapa hari terakhir ini lidahnya memang terasa tidak enak, pahit. Makannya boleh dikatakan dapat dihitung suapnya. Semakin terang hari semakin gelisah dia, semakin kuatir Lurah Bojongnipah ini. Yang dikhawatirkannya ialah kalau-kalau penduduk akan datang lebih dahulu dari pada Tiga Hitam dari Kali Comel! Sebentar-sebentar matanya memandang ke luar halaman. Namun segala sesuatunya dipagi itu masih diliputi oleh kesunyian. Dan kesunyian ini pula justru tidak menyenangkan hati Ki Lurah Kundrawana ! Ditempelkannya lagi ujung pipa ke bibirnya. Disedotnya dalam-dalam kemudian dihembuskannya asap pipa itu. Sekali lagi dia meludah ke tanah lalu mengusap-usap bibimya. Dia terkejut dan memutar kepalanya mendengar langkah-langkah kaki di belakangnya. Yang datang temyata isterinya sendiri. Badan perempuan ini sudah jauh susut, lebih kurus dari dahulu. Seperti suaminya, parasnya juga pucat. Warih Sinten seorang perempuan berwajah ayu, namun keayuan itu kini tiada kelihatan lagi karena tertutup mendung kegelisahan. Gelisah memikirkan nasib anaknya, gelisah memikirkan nasib suaminya jika sebentar lagi pen.duduk benar-benar datang. Hari itu adalah hari pemungutan pajak yang ketiga. Semestinya pembantu Lurah Bojongnipah yang biasa berkeliling di seluruh desa memungut pajak itu sudah datang. Tapi kali ini tak kelihatan mata hidungnya. Bagaimana dia akan berani memunculkan diri jika sudah tahu kalau hari ini penduduk akan berontak!. "Mudah-mudahan saja penduduk tidak datang…" Ki Lurah Kundrawana menggigit bibirnya. Dia tahu bicara isterinya itu hanya sekedar bicara saja. Memang apa yang diharapkan isterinya itu juga menjadi harapannya. Namun dia tahu betul bahwa harapan itu adalah satu hal yang mustahil! Rakyat akan datang. Penduduk akan datang! Dia tahu, dia pasti! Warih Sinten memandang lagi ke luar halaman. Lalu berkata lagi: "Kalaupun mereka datang, kurasa kita tak bisa lagi menyembunyikan kebejatan ketiga manusia terkutuk itu, Kakang! Kita musti katakan terus terang pada penduduk sebelum penduduk membunuh kita beramai-ramai!" "Nyawaku tak ada harganya, Warih…," ujar Ki Lurah Kundrawana. "Demi segala-galanya aku rela mati! Tapi percuma saja arti kematian jtu, kalau keselamatan jiwa anak tunggal kita sendiri akan tersia-sia pula…." Kesepian berjalan beberpa lamanya. Tiba-tiba. "Kakang…". Warih Sinten memegang lehernya dengan kedua tangan. "Mereka… mereka datang…" Ki Lurah Kundrawana mengangkat kepalanya dan memandang ke luar halaman. Apa yang dikatakan isterinya memang betul. Serombongan laki-laki penduduk, desa kelihatan rnuncul di tikungan jalan dibalik pohon-pohon bambu. Rombongan yang muncul ini merupakan kepala saja dari barisan penduduk yang jumlahnya tak kurang dari seratus orang. Dari jauh tak kelihatan mereka membawa senjata. Tapi Ki Lurah Kundrawana tahu bahwa di antara mereka pasti, ada yang membawa dan menyembunyikan senjata! Sesaat kemudian halaman luas itupun penuhlah oleh penduduk desa. Suasana menjadi bising kini. Ki Lurah Kundrawana dan isteranya berdiri mematung di atas fangkan. Hanya kedua bola mata mereka yang berputar memandangi penduduk Bojongnipah itu. Seorang di antara penduduk kemudian menyeruak ke muka dan naik ke langkan, berdiri beberapa langkah dihadapan Kundrawana. Kundrawana kenal baik dengan laki-laki ini. Dia adalah seorang petani yang diam di desa sebelah timur. Namanya Kratomlinggo. Sewaktu laki-laki ini bertindak naik ke langkan, maka suasana di tempat itu sehening di pekuburan. "Ki Lurah…, Kratomlinggo buka mulut merobek keheningan itu. "Kau tentu sudah tahu maksud kedatangan kami bukan…?" Kundrawana tak menjawab. Pada wajah Kratomlinggo dilihatnya senyum mengejek. "Ketahuilah bahwa aku berdiri dihadapanmu saat ini adalah, sebagai wakil dari sekian banyak penduduk Bojongnipah…," Kratomlinggo menunding ke belakang lalu meneruskan: "penduduk Bojongnipah yang sejak satu bulan belakangan ini telah menjadi korban pemerasan, korban penindasan, korban pengisapan, dkekik oleh pajak sebelas kali lipat! Penduduk Bojongnipah…" "Saudara Kratomlinggo," memotong Ki Lurah Kundrawana. "Ringkaskan saja bicaramu. Katakanlah apa yang kalian mau". Dan lagi-lagi Kundrawana melihat senyum mengejek tersungging di mulut Kratomlinggo. "Apa mau kami…? Itu semua sudah kami katakan pada saat pertama kali kau memungut pajak gila itu!" "Aku pribadi memang tak ingin berbuat begitu. Tapi ini adalah perintah atasan. Perintah Raja, untuk pembangunan dan pemeliharaan pasukan…" "Perintah atasan tinggal perintah atasan! Apakah kalau atasan menyuruh kau cebur ke sumur lantas kau akan berbuat begitu? Nyemplung ke sumur?! Setiap perintah harus berdasarkan pertimbangan otak Ki Lurah!" Merah muka Kundrawana. Sementara itu Warih Sinten mulai menangis terisak-isak. "Saudara Krato, mungkin pemungutan pajak itu hanya bersifat sementara saja…" "Ya sementara! Sementara! Baru dihentikan bila semua penduduk Bojongnipah ini mati dkekik pajak ?1". "Aku tahu pajak sebesar itu memang berat…" "Kalau berat mengapa dilaksanakan?!" tukas Kratomlinggo. Ki Lurah Kundrawana lagi-lagi menggigit bibirnya. lngin saja saat itu dia mengatakan apa sesungguhnya yang menjadi latar belakang dari pemungutan pajak itu. Ingin saja saat itu dia menerangkan siapa sebenarnya yang menjadi dalang pemungutan pajak gila itu! Tapi bila diingatnya anak tunggalnya yang ada di tangan Tiga Hitam dari Kali Comel itu… "Kami penduduk desa Bojongnipah ingin agar peraturan pajak gila itu dkabut kembali!" berkata Kratomlinggo. "Aku tak punya wewenang untuk melakukan hal itu, saudara Krato". "Kau bisa menyampaikan kepada Adipati di Linggajati. Adipati meneruskannya ke Kotaraja. Dan kalau kau tidak mau melakukan hal itu, kami tidak ragu-ragu untuk bertindak berdasarkan apa yang kami rasa benar…!" "Apakah ini suatu ancaman?" "Kau boleh bilang begitu., Ki Lurah!" "Saudara Krato…," terdengar suarar Warih Sinten. "Kau… kau dan semua penduduk Bojongnipah tidak tahu… tidak tahu…" "Kami lebih dari tahu!" geretus Kratomlinggo. "Meskipun apa yang kini kami ketahui itu adalah hal yang tak pernah kami duga! Kami tahu bahwa suamimu, Ki Lu.rah Kundrawana tak lebih dari seorang tukang peras! Yang menjilat ke atas dan menggilas ke bawah! Yang cari nama ke atas dan menjerat leher penduduk di bawah! Kami lebih dari ta…." "Kuharap bicara sepantasnyalah Kratomlinggol" memotong Ki Lurah Kundrawana karena panas hati dan telinganya mendengar dkap sebagai penjilat dan pemeras demikian rupa. Kratomlinggo berpaling ke arah orang banyak. Kemudian dia tertawa bergelak. Sementara itu salah seorang pendduk berteriak: "Buat apa bicara sepanjang lebar dengan biang lintah darat itu?! Sumpal saja mulutnya dengan golok !" Kratomlinggo berpaling pada Kundrawana kembali. "Kau dengar teriakan itu Ki Lurah?" tanyanya. Mulut Kundrawana komat kamit. "Kalau kalian ingin pajak itu dkabut, silahkan. pergi sendiri menghadap Raja di Kotaraja…" "Lantas, apa perlunya kau jadi Lurah di sini'?!" teriak seorang penduduk pula. "Apa hanya untuk ongkang-ongkang ?!" teriak penduduk yang lain. "Ongkang-ongkang dan memeras?!" teriak yang lain lagi. "Kemudian penduduk lainnya berteriak pula: "Kami tidak percaya ini aturan dari Raja! Bukan mustahil pajak itu adalah aturan gila yang, kau buat sendiri !" . Masih banyak lagi teriakan-teriakan yang membuat muka Kundrawana menjadi merah dan tebal rasanya: Telinganya berdesing. "Kratomlinggo, kuharap kau bawalah orang- orang itu meninggalkan tempat ini," kata Kundrawana. "Begitu …?," ujar Kratomlinggo dengan lontarkan senyum sinis. "Kami semua baru akan pergi sesudah kau menyatakan blak-b! akan bahwa mulai saat ini aturan pajak gila itu dkabut!" "Tak satupun yang bisa mencabut segala keputusan Raja!," jawab Kundrawana. Suaranya saja yang keras namun ucapannya itu sama sekali tiada dengan kesungguhan hati. "Kalau begitu agaknya kami terpaksa menggunakan kekerasan…" "Kau menentang Kerajaan, Kratomlinggo?" tanya Ki Lurah Kundrawana. Pertanyaan yang setengah menggertak ini dimaksudkannya untuk dapat ke luar dari keadaan yang terdesak saat itu. Namun jawaban Kratomlinggo adalah lontaran seringai mengejek. "Jangan takuti penduduk Bojongnipah dengan kata-kata Kerajaan, Ki Lurah! Kami semua yakin bahwa pajak gila itu adalah kau punya bisa! Kerajaan selama ini selalu bertindak adil dan bijaksana…!" Kratomlinggo melangkah kehadapan Ki Lurah Kundrawana dengan kedua tinju terkepal. Beberapa penduduk Bojongnipah melangkah pula naik ke atas langkan. Ki Lurah Kundrawana mundur beberapa langkah ke belakang. Warih Sinten menjerit. "Kratomlinggo, kau… kalian mau bikin apa…?" "Kami coba minta keadilan dengan cara wajar, tapi kau maukan kekerasan…!" jawab Kratomlinggo. Tangan kanannya bergerak. Tiba-tiba terdengar ringkikan kuda dan suara hiruk pikuk. Penduduk di halaman muka berhamburan.cerai berai. "Atas nama Kerajaan, yang tidak mau mati, minggirlah !" Terdengar jeritan beberapa orang yang terserampang kuda ! *** TIGA penunggang kuda melompat dari punggung kuda masing- masing. Gerakan mereka enteng sekali dan sekejapan mata saja ketiganya sudah berada antara Kratomlinggo dan Ki Lurah Kundrawana. Ketiganya berpakaian seragam prajurit dan tampang-tampang mereka angker buruk. Baik Ki Lurah Kundrawana maupun Kratomlinggo dan penduduk Bojongnipah, semuanya sama terkejut. Dalam keterkejutannya itu Ki Lurah Kundrawana merasa lega juga karena dia segera mengenali ketiga orang itu tak lain adalah Tapak Luwinng dan dua orang anak buahnya! Namun apa yang tidak dimengerti oleh Lurah Bojongnipah itu ialah mengapa ketiga orang komplotan rampok itu mengenakan pakaian keprajuritan. Sementara itu Tapak Luwing yang berdiri tepat dihadapan Kratomlinggo dengan bertolak pinggang dan membentak maju ke muka: "Kami prajurit-prajurit Kadipaten Linggajati! Kamu jadi biang keribuan di sini ya?!" Terkejutlah Kratomlinggo dan penduduk Bojongnipah sedang Ki Lurah Kundrawana dan isterinya merutuk dalam hati melihat betapa lihaynya Kompolotan Tiga Hitam itu menjalankan peran sebagai prajurit-prajurit Kadipaten palsu untuk mengelabui mata penduduk dan juga menyembunyikan rahasia besar latar belakang pemerasan mereka! Kratomlinggo menindih rasa terkejutnya. Dia merasa tak perlu takut terhadap ketiga prajurit Kadipaten itu bahwa bukankah ini kesempatan di mana dia bisa sekaligus menerangkan pemerasan pajak yang dilakukan oleh Kundrawana itu? "Saudara," kata Kratomlinggo, "jika kalian adalah prajurit-prajurit Kadipaten, kebetulan sekali kalau begitu…! "Kebetulan apa maksudmu?!" bentak Tapak Luwing. Kratomlinggo kemudian menerangkan sejelas- jelasnya mengenai soal pajak itu kepada Tapak Luwing. Namun dia begitu kaget ketika mendengar jawaban Tapak Luwing. "Jadi kau sengala pimpin penduduk Bojongnipah untuk mengikuti maumu sendiri?! Untuk menepuh jalan kekerasan! Ini namanya, satu pemberontakan! Ini namanya satu penantangan terhadap Kerajaan, satu pembangkangan terhadap peraturan- perraturan Raja karena soal pajak itu memang datang dari Raja disampaikan melalui Adipati di Linggajati!" "Tapi mengapa hanya penduduk Bojongnipah saja yang dipajaki segila ini!," kata salah seorang penduduk yang berdiri di samping Kratomlinggo: "Ya, desa-desa lain tidak!" seru yang lain dari luar halaman. "Kamu semua tahu apa!" semprot Tapak Luwing. "Ini adalah keputusan Raja! Bojongnipah yang subur tak bisa disamakan dengan desa-desa lain. Karenanya sudah pantas kalau dibebani pajak yang agak besaran…" "Agak besaran…," gerendeng seorang penduduk mengejek. Kratomlinggo kemudian mengetengahi suasana panas itu. "Kami merasa sama sekali tidak menentang Raja, sama sekali tidak membangkang apalagi memberontak. Kami hanya inginkan agar pajak dikembalikan sebesar yang lama…" "Tapak Luwing meludah ke lantai langkan. "Kau memang biang racun pemberontak yang pintar omong! Terhadap Lurah kalian, kalian boleh bicara kasar dan seenaknya, tapi terhadap kami prajurit-prajurit Kadipaten jangan coba-coba! Pimpin seluruh penduduk untuk angkat kaki dari sini ! Cepat!" Maka berkatalah Kratomlinggo: "Kami penduduk Bojongnipah datang ke sini untuk menegakkan keadilan. Kalau kami harus angkat kaki dari sini maka keadilan itu musti sudah berhasil ditegakkan!" "Hem… begitu…?". Tapak Luwing menyeringai. Gigi-giginya yang hitam kecoklatan serta besar-besar ketihatan menjijikkan. "Sebelum kau dan yang lain-lainnya menegakkan keadilan itu, coba terima tangan kananku ini !" Sesudah berkata demikian Tapak Luwing hantamkan tangan kanannya ke dada Kratomlinggo. Yang dipukul dengan cepat melompat ke samping. Namun ! "Buukk !" Tangan kiri Tapak Luwing bersarang di perut Kratomlinggo. Nyatanya pukulan tangan kanan Tapak Luwing tadi hanyalah satu tipuan belaka! Kratomtinggo melintir dan terjajar ke belakang. Perutnya sakit- sekali, mual seperti mau muntah, nafasnya menyesak. Laki-laki ini rupanya bukanlah hanya sekedar seorang petani saja, namun juga seorang yang pernah mempelajari ilmu silat. Dengan cepat dia atur nafas dan jalan darah. Lalu dengan sebat rnenyerang ke muka. Enam orang penduduk ikut menyertai serangannya inir Maka dengan demikian pertempuranpun pecahlah. Empat penduduk terjerongkang ke lantai langkan. Dua pingsan, dua lagi patah tulang iganya serta terlepas sambungan sikunya. Sedang Kratomlinggo terhempas ke tiang langkan. Dadanya kena dipukul oleh Tapak Luwing. Dia berusaha berdiri mengimbangi badan kembali dan siap melancarkan serangan balasan. Tapi apa lacur, belum lagi kakinya menindak pemandangannya sudah gelap dan dari mulutnya bermuntahan darah kental berbuku-buku! Sesaat kemudian tubuh laki-laki ini tergelimpang ke lantai! Melihat ini sebagian penduduk menjadi kalap. Mereka menyerbu berserabutan ke atas langkan dengan berbagai macam senjata. "Siapa yang mau mampus, majulah!" teriak Tapak Luwing seraya melintangkan golok. Mereka yang menyerbu menjadi ragu-ragu kini namun beberapa orang diantaranya yang tetap kalap menyerang dengan membabi buta. Maka terjadilah hal yang mengerikan. Orang- orang ini bergelimpangan bermandikan darah, dibabat dan dipapas oleh senjata Tapak Luwing dan anak-anak buahnya! Yang lain- lainnya kini tak berani lagi bertindak lebih jauh meskipun jumlah mereka jauh lebih banyak! Warih Sinten sudah sejak lama lari ke dalam rumah sambil menjerit-jerit ketakutan sedang Kundrawana menggigit bibir dan pejamkan mata melihal kengerian itu. Kalau saja tidak ingat akan keselamatan anaknya, sudah sejak tadi dia mencabut keris dan turut menyerbu! "Siapa lagi yang mau berkenalan dengan golokku, silahkan maju!," kata Tapak Luwing tolakkan tangan kirinya ke pinggang kiri. Tapak Luwing tertawa. "Nah, kalau kalian masih belum punya nyali untuk masuk ke liang kubur, gotong kunyuk-kunyuk yang malang melintang di langkan rumah ini kemudian angkat kaki dari sini cepat !" Kemarahan penduduk meluap-luap. Namun apa yang terjadi di depan mata mereka membuat nyali mereka menjadi ciut dan bulu kuduk meremang. Ki Lurah Kundrawana sendiri berdiri mematung. Rahangnya terkatup rapat-rapat. Kegeramannya tiada terlukiskan. Kebenciannya terhadap Tiga Hitam dari Kali Comel tiada terkirakan lagi! Namun seperti penduduk Bojongnipah, dia juga tak dapat berbuat suatu apa! Penduduk menggotong Kratomlinggo dan korban-koban lainnya. Sebelum mereka berlalu berserulah Tapak Luwing. "Aku tak ingin melihat keonaran macam begini untuk kedua kalinya, kecuali kalau kalian sendiri yang sengaja minta dibereskan macam kawan-kawan kalian itu! Siapa yang mau berontak boleh saja! Golakku memang sudah sejak lama haus darah!" Tak ada yang menyahuti ucapan Tapak Luwing itu. Dan Tapak Luwing yang menyamar sebagai prajurit Kadipaten itu berseru lagi: "Jangan lupa, paling lambat tengah hari besok, kalian semua sudah harus melunasi pajak itu! Jika ada yang membantah untuk membayarnya, kalian cukup tahu apa akibatnya!" ketika seturuh penduduk Bojongnipah sudah meninggalkan tempat itu maka Tapak Luwing menyarungkan goloknya kembali dan berpaling pada Ki Lurah Kundrawana. "Kau harus berterima kasih padaku yang telah selamatkan kau punya batang leher, Ki Lurah…!" Ki Lurah Kundrawana berkemik. Rahang-rahangnya bertonjolan. Tapak Luwing tertawa mengekeh. "Selambat-lambatnya senja besok uang pungutan pajak harus sudah kau antarkan ke pondok tua dipersimpangan jalan yang menuju ke Linggajati!" Kundrawana masih diam. "Eh, apa kau sudah tuli!" tanya Tapak Luwing. Dan Lurah Bojongnipah itu masih juga diam. Maka membentaklah Tapak Luwing. "Kamu tuli hah?!" "Aku tidak tuli, Tapak Luwing…" "Lalu mengapa ditanya diam saja? Mungkin gagu?!" Dua orang anak buah Tapak Luwing cengar cengir. "Sesenja-senjanya hari uang itu sudah harus ku terima. Kau dengar…?!" . "Bagaimana kalau penduduk tak mau membayamya ?" "Aku tak perlu pertanyaan itu! Bayar atau tidak bayar, pokoknya besok aku cuma tahu terima uang!" Tapak Luwing memberi isyarat pada kedua anak buahnya. Ketiganya menuruni langkan rumah dan melangkah menuju ke kuda masing-masing. Malam itu, dengan segala daya dan sedikit ilmu pengetahuan yang dimilikinya, Kratomlinggo berhasil menyembuhkan luka di dalam yang dideritanya akibat pukulan Tapak Luwing. Pada dasarnya bukan daya dan pengetahuan silat Kratomlinggolah yang menolong melainkan adalah karena pukulan Tapak Luwing pagi tadi tidak mempergunakan keseluruhan tenaga dalamnya. Dendam terhadap Tapak Luwing dan kawan- kawannya, kebencian yang tak terkendalikan terhadap Ki Lurah Kundrawana serta pajak yang tetap harus dibayar esok hari, semuanya itu bertumpuk menjadi satu sehingga malam itu, rneskipun baru saja sembuh dari luka namun tekat Kratomlinggo sudah bulat untuk berangkat ke Kotaraja! Niatnya ini diberitahukannya pada beberapa kawannya. Dan malam itu bersama empat orang lainnya, dengan menunggangi kuda maka berangkatlah Kratomlinggo ke Kotaraja. Malam gelap. Sinar bintang dan cahaya bulan sabit tak dapat mengalahkan kegelapan itu. Kratomlinggo dan empat orang kawannya memacu kuda masing-masing, melewati sebuah tikungan dan sampai di sebuah jembatan yang menghubungkan kedua tepi sebuah anak sungai. Pada saat itu pulalah Kratomlinggo dan kawan-kawannya melihat serombangan penunggang kuda di seberang jembatan. Mereka berjumlah tiga orang dan ketiganya menghentikan kuda di seberang jembatan itu. Melihat gelagat yang tidak baik ini. Kratomlinggo segera hentikan kudanya.di tengah-tengah jembatan dan memberi isyarat pada keempat kawannya. Malam memang gelap namun mata Kratomlinggo masih sanggup, mengenali penunggang kuda yang paling depan dihadapannya. Manusia itu ternyata adalah prajurit Kadipaten yang siang tadi menanganinya!. "Celaka," bisik Kratomlinggo. "Bagaimana bangsat-bangsat Kadipaten ini bisa tahu keberangkatanku ke Kotaraja?!" Sampai saat itu baik dia mau pun kawan-kawannya sama sekali masih tidak mengetahui siapa ketiga manusia yang menghadang di ujung jembatan itu! Penunggang kuda sebelah muka yang tiada lain dari Tapak Luwing adanya tertawa mengekeh. "Rupanya pelajaran dan peringatanku siang tadi masih belum cukup huh!," sentak Tapak Luwing. Kratomlinggo - tak menjawab. Namun dia diam tangan kanannya menyelinap ke balik pinggang meraba hulu golok. Hal yang sama dilakukan juga oleh keempat kawannya. Dan di seberang jembatan kembali terdengar kekehan Tapak Luwing. Begitu kekehannya berhenti maka terdengar bentakannya. "Kalian kunyuk-kunyuk mau ke mana?!" "Kami tak ada permusuhan dengan kalian. Karena itu minggirlah, beri jalan…" kata Kratomlinggo pula. "Minta jalan? Boleh… lewatlah!," kata Tapak Luwing pula sambil pinggirkan kudanya. Dipersilahkan begitu rupa malah membuat Kratomlinggo dan kawan-kawannya menjadi terpatung, tak bergerak di punggung kuda masing-masing. "Ayo, kenapa tidak mau lewat?!," tanya Tapak Luwing. Kratomlinggo bimbang. Dan Tapak Luwing buka suara lagi: "Kalau begttu roh busuk kalian yang akan lewat jembatan ini !" "Sret !" TapakLuwing cabut goloknya. Terdengar lagi dua kali suara "sret" yaitu dari golok-golok yang dkabut oleh anak buah Tapak Luwing. Melihat ini Kratomlinggo dan kawan- kawannya segera pula menghunus golok masing-masing ! "Aku tahu kalian hendak ke Kotaraja…," berkata Tapak Luwing seraya larik tali kudanya, "Tapi ketahuilah hanya roh-roh busuk kalian yang akan menghadap Raja di istana!" Dalam jarak dua tombak, dengan satu sentakan keras maka kuda Tapak Luwing melompat ke muka. Dua anak buahnya menyusul. Tiga golok berkelebat di bawah cahaya redup bulan sabit. Lima golok menyambutinya ! "Trang ….. trang ….. trang….!" Bunga api memercik. Suara beradunya golok- golok itu disusul oleh seruan kesakitan. Dua kawan Kratomlinggo rebah dari atas punggung kuda. Yang satu terbabat perutnya, yang lain puntung lengan kanannya! Dalam gebrakan kedua, Tiga Hitam dari Kali Comel yang saat itu masih mengenai pakaian, prajurit-prajurit Kadipaten, kembali mengirimkan serangan hebat tanpa memberikan kesempatan pada lawan! Dua orang lagi menjerit dan roboh, tubuh salah satu dari padanya kemudian kecebur ke dalam sungai. Kratomlinggo sendiri dibikin terjerongkang dari atas punggung kuda, goloknya lepas. Masih untung sarripai saat itu dia belum cidera apa-apa. Dan memaklumi bahwa untuk melawan terus adalah satu kesia-siaan maka laki-laki ini segara putar tubuh ambil langkah seribu! Tapak Luwing tertawa bergelak. "Dasar manusia kintel! Kamu mau lari ke mana?!" Dari balik sabuknya kepala Komplotan Tiga Hitam dari Kali Comel ini keluarkan sebilah pisau belati. Senjata ini melesat dengan mengeluarkan suara berdesing! Kratomlinggo yang tak tahu dirinya tengah dikejar maut, terus juga lari. Hanya satu jengkal saja lagi belati yang mengandung racun itu akan menancap di punggungnya maka pada saat itu pulalah dari jurusan semak belukar gelap di tepi sungai melesat sebuah benda berbentuk bintang berwarna putih perak ! "Tring !" Bunga api memercik. Bukan saja benda berbentuk bintang ini berhasil membuat pisau beracun Tapak Luwing mental, tapi juga membuat pisau itu patah dua ! Terkejutlah Tapak Luwing. Lupa dia pada niatnya hendak membunuh Kratomlinggo. Dengan serta merta diputarnya tubuhnya. Matanya yang tajam telah melihat dari arah mana datangnya sambaran benda putih perak berbentuk bintang itu. Dan memakilah kepala Komplotan Tiga Hitam dari Kali Comel itu. "Setan alas yang ikut campur urusan orang ke luar dari persembunyianmu dan terima pisau­ pisau ku ini !" Habis bilang demikian Tapak Luwing lemparkan sekaligus tiga bilah pisau beracunnya ke arah semak belukar di kegelapan. Terdengar suara siulan yang disusul oleh suara tertawa bergelak. "Aku di sini bung! Kenapa serang tempat kosong?!," kata, manusia yang muncukan diri itu dengan nada mengejek. "Bangsat betul!," maki Tapak Luwing. Di lemparkannya lagi dengan tangan kiri sepasang pisau belati ke arah laki-laki yang berdiri sekira enam tombak di tepi sungai. – == 0O0 == — ORANG yang berdiri di tepi sungai sambuti serangan itu dengan melambaikan tangan kirinya. Sekali lambai saja maka kedua pisau beracun itupun mentallah. Kaget Tapak Luwing membuat-laki-laki ini keluarkan seruan tertahan. "Manusia yang sengaja cari penyakit, siapa kau!" tanyanya membentak dan diam-diam memberikan isyarat pada kedua anak buahnya untuk bersiap-siap dan mengambil posisi mengurung. Yang ditanya. "Ada ribut-ribut apa di sini?!". "Ee kunyuk gondrong!," maki salah seorang, anak buah Tapak Luwing. "Kau berani. bicara edan sama prajurit-prajurit Kadipaten?!" "Oh…. jadi kalian prajurit-prajurit Kadipaten…". Laki-laki di tepi sungai, keluarkan suara mendengus. "Setahuku prajurit-prajurit Kadipaten tidak suka urusan kekerasan, apalagi membunuh manusia begini rupa…!". Sementara itu. Kratomlinggo yang tadi hendak larikan diri, mendengar ada keributan baru di belakangnya perlahan-lahan palingkan kepala lalu putar tubuh dan berhenti di belakang sebuah pohon. Apa yang disaksikannya kemudian sungguh tidak diduganya. "Kita tak perlu sembunyikan siapa kita terhadap monyet bermuka manusia ini!", kata Tapak Luwing. "Nah, terus terang lebih bagus!" menimpali laki-laki di tepi sungai. "Katakan saja siapa kalian!". "Sebelum tahu siapa kami sebaiknya lekas- lekaslah berlutut minta ampun!" kata Tapak Luwing pongah. "Eh, kenapa begitu?". Karena menyangka bahwa Kratomlinggo sudah larikan diri dan tak ada lagi di tempat itu, maka berkatalah Tapak Luwing;"Ketahuitah. Tiga Hitam dari Kali Comel tidak pernah membiarkanterusbernafasnya seorangbiangrunyamyang ikut campururusan!" "Ooo… jadi kalian Tiga Hitam dari Kali Comel, rampok-rampok ganas tiada kernanusiaan itu? Pantas… pantas tampang-tampang kalian hitam macam arang…" "Haram jadah! Terima golokku!," teriak anak buah Tapak. Luwing yang di samping kanan. Dengan gerakan enteng dia melompat dari punggung kuda, derngan sebat goloknya berkelebat ke arah batok kepala laki-laki muda yang berdiri tetap tenang malahan dengan tertawa-tawa! Tiba-tiba dengan kecepatan yang luar biasa laki-laki muda itu melompat ke belakang. Serangan anak buah Tapak Luwing mengenai tempat kosong. Karena begitu kesusu dan sebatnya maka laki-laki itu jadi terhuyung- huyung sendiri. Sebelum dia sempat mengimbangi badan, satu tendangan menghantam pantatnya! "Manusia tidak tahu peradatan! Orang bicara dipotong seenaknya! Rasakan sendiri olehmu!" Melihat kawan dan anak buahnya dipermainkan begitu rupa sampai tersungkur di tanah. Tapak Luwing dan anak buahnya yang satu lagi segera loncat dari kuda. "Beri tahu namamu lebih dulu, kunyuk!," bentak Tapak Luwing. "Kalau tidak rohmu akan minggat percuma!" "Bicaramuterlalutinggi!Kalau mau tahunamakumajulah…!". Dengan tertawa bergelak Tapak Luwing menyerbu ke muka. Sambaran goloknya deras sedang tangan kirinya laksana palu godam membabat ke arah ulu hati lawan. Inilah jurus "angin mengamuk pohon tumbang" yang memang bukan olah-olah dahsyatnya. "Ah, rupanya kau punya ilmu yang diandalkan juga eh?" ejek lawan yang diserang. Dia merunduk untuk elakkan sambaran golok lalu lompat ke samping guna hindarkan sodokan tinju lawan dan dengan secepat kilat kemudian tangan kanannya yang terbuka menyeruak di antara kedua serangan lawan tadi, menderas ke arah kening Tapak Luwing. Kepala Tiga Hitam dari Kali Comel itu bukan orang yang berilmu rendah. Kalau tidak percuma saja dia menjadi kepala komplotan yang ditakuti selama bertahun-tahun disepanjang Kali Comel dan perbatasan. Dengan sebat, dengan keluarkan bentakan dahsyat Tapak Luwing membuat satu gerakan yang luar biasa. Tubuhnya mencelat satu tombak ke atas dan dalam lompatan itu kaki kanannya menderu muka lawan dan disaat yang sama pula dari sebelah belakang menderu golok anak buah Tapak Luwing ke arah punggung laki-laki muda itu. Yang diserang bersiul. "Akh… kalian rupanya betul-betul maui jiwaku! Tapi kurasa saat ini belum waktunya!". Pemuda ini berkelebat. Lututnya menekuk kedua tangannya berputar seperti kitir dan: "bluk ……. buk"!. Anak buah Tapak Luwing terjerongkang ke belakang, muntah darah dan menggeletak,di tanah. Tapak Luwing sendiri merintih kesakitan sewaktu lengan lawan menghantam tepat tulang keringnya! Di saat itu anak buah Tapak Luwing yang tadi ditendang pantatnya sudah bangun kembali- dan dengan ganas lancarkan serangan dahsyat. Namun nasibnya juga sial. Sekali lawannya berkelebat maka goloknya kena dihantam sikut lawan! Yang satu inipun roboh pula menyusul kawannya Merasakan sakit pada kakinya, melihat kedua anak buahnya dibuat begitu rupa, benar-benar Tapak Luwing hampir-hampir merasa seperti orang mimpi. Apakah agaknya kali, ini komplotan yang dipimpinnya menemui "batunya"? Selama bertahun-tahun bertualang dan menjadi Pemimpin Komplotan Tiga Hitam dari Kali Comel baru hari itu dia melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana kedua anak buahnya dibikin menggeletak hanya dalam satu gebrakan saja! Bahkan dia sendiri merasakan pula bekas tangan lawannya. Lawan yang masih muda belia dan sama sekali tidak dikenalnya. Dengan penuh geram_Tapak Luwing salurkan tenaga dalamnya lewat lengan kanan terus kegolok sedang tangan kirinya saat itu sudah memegang tiga pisau beracun. Kedua kakinya terpentang, pinggangnya sedikit membungkuk ke muka. Tangan yang memegang pisau dinaikkan ke atas agak ke belakang sedang tangan kanan memegang golok lurus-lurus ke muka. "Kenalkah kau jurus ini, pemuda keparat?!". "Ah… hanya jurus –menyebar bunga menusuk buah –nenek-nenek keriputpun bisa mengenalnya!," sahut si pemuda. Bukan saja Tapak Luwing menjadi geram diajek demikian rupa namun dia juga kaget melihat bahwa lawannya bisa menerka jurus yang bakal dikeluarkannya itu! Untuk menutupi keterkejutannya Tapak Luwing berkata: "Kau sudah tahu nama jurus ini, baik sekali!. Tapi juga ketahuilah ini adalah jurus kematianmu! Bagusnya kasih tahu namamu sekarang juga agar kau mampus tidak dengan penasaran!". "Sudahlah…. jangan banyak bacot! Buktikanlah kehebatan jurus yang kau andalkan itu!". Tapak Luwing tertawa dingin. Tubuhnya semakin membungkuk. Hampir tak kelihatan dia menggerakkan tangan kirinya maka tiga pisau yang dipegangnya tahu-tahu sudah meluncur sebat sekali ke arah si pemuda. Yang pertama menjurus batang leher, yang kedua mencuit ke dada dan yang terakhir menggebubu ke bawah perut! Bukan saja daya lesat pisau itu hebat sekali mengingat hanya di lemparkan dengan tangan kiri, namun juga tempat-tempat yang diserangnya juga adalah tempat-tempat yang berbahaya mematikan. Pada detik pisau-pisau beracun itu melesat ke muka, pada saat itu pulaTapak Luwing menerjang dan putar goloknya dengan sebat. Dorongan angin golok yang. menderu menambah kencangnya daya lesat tiga pisau itu. Maka itulah jurus "menyebar bunga rnenusuk buah". Pisau dan golok datang susul menyusul! "Akh jurusmu ini boleh juga!," kata si pemuda. "Tapi coba terima dulu telapak tanganku!". Si pemuda pukulkan tangan kirinya ke muka. Angin dahsyat melanda dan mementalkan ketiga pisau. Tapak Luwing berseru kaget karena dua dari pisau itu akibat dorongan angin pukulan lawan berbalik menyerang ke arahnya. Mau tak mau Tapak Luwing terpaksa pergunakan goloknya untuk meruntuhkan dua pisau itu. "Tring….. tring!" Dua pisau beracun patah-patah dan terlempar jauh. Gerakan untuk menangkis dua pisau ini membuat Tapak L.uwing melupakan pertahanan dirinya seketika. Ketika dia memasang kuda-kuda baru maka telapak tangan kanan lawan sudah berada dekat sekali ke kepalanya. Kepala Tiga Hitam dari Kali Comel ini pergunakan goloknya untuk membabat lengan lawan namun kurang cepat karena lengan kiri si pemuda lebih cepat menyusup membentur sambungan sikunya. "Krak"! "Plak"! Tapak Luwing mengeluh dan huyung kebelakang. Lengannya patah. Keningnya yang kena dihantam telapak tangan lawan sakit dan panas bukan main. Pada kulit kening itu kini kelihatan tertera angka 212! Tapak Luwing coba alirkan tenaga dalam dan atur jalan darahnya. Namun kekuatannya seperti punah. Keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya. Keningnya panas, sakit dan pemandangannya berkunang, lututnya gontai! "Keparat…," desis Tapak Luwing. "Ee… masih bisa memaki?" "Kalau hari ini aku kena kau celakai jangan anggap kau sudah mempecundangi aku, orang muda. Suatu hari kelak aku akan mencarimu dan mematahkan batang lehermu!". Tapak Luwing ambil tiga pisau terbang dengan tangan kirinya. Cepat sekali senjata itu dilemparkannya ke arah si pemuda lalu secepat itu pula dia putar tubuh untuk larikan diri. Si pemuda melompat ke samping. Dua pisau lewat di kiri kanannya. Pisau ketiga diluruhkannya dengan lambaian tangan kiri! Kemudian sambil totokkan dua jari tangan kanannya mengirimkan totokan jarak jauh berserulah si pemuda: "Kenapa pergi buru- buru?! Bicaraku tadi padamu belum habis!" Kontan saat itu juga tubuh Tapak Luwing menjadi kaku tegang tak bisa bergerak lagi! Si pemuda tertawa dan berpaling pada pohon besar di tepi sungai. "Saudara yang sembunyi di belakang pohon. keluarlah. Aku mau bicara juga dengan kau!". Kratomlinggo, yang berdiri di belakang pohon itu terkejut. Namun karena tahu bahwa itu pemuda bukanlah dari golongan jahat maka tanpa ragu-ragu dia segera keluar. Lagi pula penuturan Tapak Luwing tadi yang mengaku bahwa dia.dan kawan-kawannya adalah Komplotan Tiga Hitam dari Kalkomel membuat dia merasa perlu melakukan pe­ nyelidikan lebih jauh. "Saudara, apakah yang telah terjadi di sini sebelumnya dengan kau dan kawankawan…?". "Panjang ceritanya, saudara. Tapi sebelumnya kalau aku boleh tahu siapa namamu…?" "Aku Wiro…," jawab si pemuda. "Aku Kratomlinggo. Aku dan kawan-kawanku yang malang itu sama-sama dari desa Bojongnipah. Kami bermaksud pergi ke Kotaraja…" Maka Kratomlinggopun menuturkan segala sesuatunya, mulai dari soal pajak gila yang dilarik oleh Ki Lurah Kundrawana sampai dengan kematian keempat kawannya itu. Wiro atau Wiro Sableng alias Pendekar 212 geleng-gelengkan kepalanya. "Aku memang sudah lama dengar nama Komplotan bejat mereka. Yang satu ini kalau tak salah bernama Tapak Luwing. Pantas saja selama beberapa waktu terakhir ini tak kelihatan mereka malang melintang di sepanjang Kali Comel. Rupanya tengah bikin kejahatan di sini…". "Dan pastilah penjahat-penjahat ini bekerjasama atau jadi-kaki tangan Ki Lurah Kundrawana…". "Boleh jadi," sahut pendekar 212. "Tapi mungkin juga merekalah biang runyam yang melakukan pemerasan terhadap Ki Lurah!" Kratomlinggo mengangguk. "Supaya jelas biar bangsat yang satu ini kita tanyai," kata Wiro Sableng pula. Dia melangkah mendekati Tapak Luwing untuk melepasakan totokan di tubuh kepala Komplotan Tiga Hitam itu. Namun baru saja satu tindak dia melangkah tiba-tiba sekali berkelebatlah satu sosok tubuh dari kegelapan. Makhluk ini langsung meraih pinggang Tapak Luwing dan membopong melarikannya! Kratomlinggo terkejut Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 berteriak: "Maling tengik! Berhenti!". Sebagai jawaban, terdengar suara tertawa bekakakan dari orang yang melarikan Tapak Luwing itu. "Wiro Sableng, pemuda gendeng! Jangan sangka cuma kau sendiri yang jago dan sakti di jagat ini! Aku tunggu kau besok siang di Rawasumpang! Kuharap kau punya nyali unhuk menerima undangan kematianmu ini! Ha… ha… ha …!" "Sompret betul! Siapa kau! Berhentil". "Besok siang. Wiro!" " Dengan, geram pendekar 212 lepaskan pukulan "kunyuk melempar buah"! ke arah manusia tak dikenal itu! Deru angin yang tiada terkirakan dahsyatnya menyerang si orang asing. Pada saat itu pula terlihat selarik sinar biru. Dan angin pukulan Wiro Sableng terbendung laksana membentur dinding baja! Terkejutlah pendekar 212. Pukulan yang dilancarkannya tadi disertai hampir sepertiga dari tenaga dalamnya. Namun manusia yang tak dikenal itu berhasil meruntuhkan pukulan tersebut! Besarlah dugaan Wiro Sableng bahwa orang yang memboyong Tapak Luwing itu adalah guru Tapak Luwing., setidak-tidaknya kakak seperguruannya. Atau mungkin juga seorang sakti dari golongan hitam yang berkawan dengan Tapak Luwing. –== 0O0 == — HALAMAN rumah lurah bojongnipah penuh oleh penduduk. Suasana malam terang benderang oleh puluhan obor. Agaknya penduduk Bojongnipah sudah tak dapat menahan kesabarannya lagi untuk mencincang dengan segala senjata yang mereka bawa, kedua manusia yang saat itu terikat ke tiang langkan rumah. Mereka tiada lain daripada anak-anak buah Tapak Luwing yang telah dirobohkan oleh Pendekar 212. Keduanya telah siuman. Di samping terikat ke tiang, keduanya juga berada dalam pengaruh totokan Wiro Sableng. Kratomlinggo berdiri di samping Ki Lurah Kundrawana. Beberapa tombak dari mereka berdiri tenang-tenang Wiro Sableng. Kratomlinggo barusan saja menerangkan apa yang diketahuinya tentang kedua orang itu kepada Ki Lurah dan juga apa yang telah terjadi di tepi sungai dekat jembatan. Bola mata Ki Lurah Kundrawaana pulang balik memandangi Wiro Sableng dan kedua anak buah Tapak Luwing. Saat itu Lurah Bojongnipah ini tak dapat lagi menahan hati dan mengendalikan amarahnya. Untuk sesaat lupa dia bahwa anaknya masih berada di dalam tawanan Tapak Luwing dan Tapak Luwing sendiri saat itu tidak berhasil ditangkap! "Saudara-saudaraku se-Bojongnipah…," kata Kundrawana seraya maju beberapa langkah ke hadapan penduduk yang berdesak-desakan. "Sekarang kurasa sudah waktunya untuk menerangkan kepada kalian apa sesungguhnya latar belakang timbulnya pajak gila itu! Aku dengan hati hancur dan seribu satu kepahitan telah terpaksa menerima segala kata-kata dan cap yang kalian lemparkan padaku! Kalian mencap aku sebagai tukang peras, aku telah terima. Kalian cap aku sebagai lintah darat, sebagai tukang tindas… sebagai ini, sebagai itu, semuanya aku terima! Namun hari ini, malam ini kalian terimalah juga satu penuturan dariku, satu kenyataan yang menyebabkan terjadinya pemungutan pajak berat itu. Dulu aku pernah berkata bahwa pajak itu dipungut atas perintah Raja! Untuk pembangunan dan pemeliharaan balatentara Kerajaan. Kini kuakui itu semua hanya alasan belaka, hanya dusta besar yang aku karang-karang demi untuk menyelamatkan keluargaku dan juga menyelamatkan kalian semua dari keganasan dan kejahatan yang kalian tidak ketahui …" PendudukBojongnipah saling pandang memandang satu sama lain penuh ketidak mengertian. Ki Lurah Kundrawana menyapu wajah mereka seketika lalu meneruskan bicaranya. "Tadi kalian sudah dengar semua keterangan Kratomlinggo. Ini satu kenyataan bagus yang dengan sendirinya telah mencuci diriku. Tapi biar aku beri penjelasan lebih lengkap. Dua manusia yang terikat itu adalah anak buah Komplotan Tiga Hitam dari Kali Comel, komplotan rampok-rampok bejat yang dikepalai oleh Tapak Luwing yang berhasil melarikan diri ditolong oleh seorang tak dikenal. Jadi ketiganya sama sekali bukanlah prajurit-prajurit Kadipaten seperti yang mereka sengaja menyamar pagi tadi! Tiga minggu yang lewat, di satu malam mereka telah datang ke rumahku dan memaksaku untuk menarik pajak sepuluh kali lebih besar dari yang sudah-sudah. Jadi berarti aku harus menarik pajak sebanyak sebelas kali terhadap kalian. Yang sepuluh bagian harus kuserahkan pada mereka sedang yang satu bagian sebagaimana biasa diserahkan ke Linggajati di mana Adipati Linggajati kemudian meneruskan ke Kotaraja… Aku coba untuk melawan. Tapi di samping mereka bertiga berilrnu tinggi aku tak bisa berbuat apa-apa karena anakku satu-satunya mereka bawa! Anakku akan mereka bunuh kalau pajak itu tidak aku pungut dari penduduk di sini! Kalian bisa merasakan dan mengetahui sendiri kini. Tak ada jalan lain bagiku untuk membantah, kecuali kalau ingin putera tunggalku rnenemui kematiannya…!". Suasana malam sesepi dipekuburan kini! Penduduk sama menganga dan terlongong- longong. Tentu saja hal ini tiada diduga sama sekali oleh mereka. Dan serentak pula dengan itu maka menggelegaklah kemarahan penduduk. Ketika seseorang di antara mereka berseru: "Cincang dua bangsat ini!," maka menyerbulah penduduk Bojongnipah dengan senjata masing-masing. Namun disaat itu pendekar 212 maju ke muka danberseru nyaring. Sengaja seruannya itu disertaitenaga dalam untuk mempengaruhi. penduduk yang tengah marah itu. "Saudara-saudara, jangan ceroboh! Kunyuk- kunyuk ini akan dapat bagiannya juga! Tapi kalian harus ingat pada nasib anak Lurah kalian! Karena itu biarkan aku bicara sebentar dengan salah satu dari mereka… !" Kalau saja penduduk tidak mendapat keterangan dari Kratomlinggo siapa adanya pemuda berambut gondrong itu, pastilah penduduk tak akan mau ambil perduli akan ucapan Wiro Sableng, lagi pula tenaga dalam si pemuda diam-diam sudah meresap mempengaruhi mereka! Wiro mendekati anak buah Tapak Luwing yang terikat di tiang langkan sebelah kanan. "Namamu siapa, sobat?," tanyanya. Laki-laki itu diam saja. Hanya kedua bola matanya berputar menyorot melontarkan pandangan sangat membenci dan mendendarn. "Eeeh rupanya bekas tanganku membuat kau jadi tuli, huh!". "Keparat! Tak usah banyak bicara… Kelak hari pembalasan dari pemimpinku Tapak Luwing akan tiba! Kalian semua di sini akan dikirim ke neraka!". Wiro Sableng menyeringai. "Mungkin kau dan kawanmu yang akan lebih dahulu dkincang penduduk sampai lumat!" kata Wiro Sableng pula. "Tak usah banggakan pemimpinmu! Dia sudah kabur bersama seorang kawannya!". Keterangan ini mengejutkan kedua anak buah Tapak Luwing. Memang sejak mereka siuman tadi mereka tidak melihat pemimpin mereka dan tak tahu berada di mana. Dan Wiro berkata lagi: "Aku mempunyai dugaan bahwa kau ada sangkut pautnya dengan Adipati di Linggajati. Katakan saja terus terang …. Anak buah Tapak Luwing diam. "Katakan!," bentak Wiro. Sebaliknya laki-laki itu meludah ke lantai. "Beset saja mulutnya!," teriak Kratomlinggo yang sudah tak sabaran. "Kau tak mau kasih keterangan?" tanya pendekar 212. Anak buah Tapak Luwing itu meludah sekali lagi ke lantai langkan! Wiro tertawa. Dijangkaunya sebuah obor yang dipegang oleh seorang penduduk. "Pernah rasa panasnya api?," tanya pendekar ini dengan tertawa-tawa. "Tampangtampang macammu ini akan lebih keren bila disundut begini rupa!". Wiro Sableng lantas menyorongkan api obor ke muka laki-laki itu. Anak buah Tapak Luwing tak sanggup gerakkan kepalanya karena tertotok. Keluhan kesakitan terdengar tiada henti. Udara malam kini berbau hangusnya bulu mata, alis dan sebagian rambut laki-laki itu. Kulit mukanya kelihatan merah terbakar. "Mau sekali lagi?!," tanya Wiro dengan tertawa-tawa. "Aku bersumpah kalau lepas akan membunuhmu dan tujuh keturunanmu!," kata anak buah Tapak Luwing penuh penasaran. "Jangan ngaco! Kau tak akan lepas dari sini. Kalaupun lepas mungkin cuma rohmu saja! Dan aku belum punya keturunan…!". Pendekar muda itu tertawa mengekeh. Mau tak mau orang banyak yang menyaksikan itu jadi ikut- ikutan geli. "Ayo, katakan apa hubunganmu dengan Adipati Linggajatit," bentak Wiro seraya mendekatkan api obor ke muka laki-laki itu. "Tak ada hubungan apa-apa…!," jawab anak buah Tapak Luwing. "Ah… ini satu kebohongan atau kedustaan?!". "Aku tidak dusta. Tidak bohong!". "Lantas apa perlumu pagi tadi menyamar bertiga-tiga menjadi prajurit-prajurit Kadipaten…?". "Itu bukan urusanmu!". "Oh begitu? Memang bukan urusanku. Tapi urusan api obor ini!". Dan sekali lagi api obor menjilati muka laki-laki itu. Dia menjerit-jerit. Wiro rnenunggu sampai beberapa detik di muka. "Mau kasih keterangan apa tidak?" tanyanya. "Aku akan terangkan… !" berkata juga laki-laki itu pada akhirnya. Wiro tersenyum. Dilariknya obor kembali. "Nah bicaralah. Biar kerasan agar semua orang dengar!". Maka anak buah Tapak Luwing itupun memberikan penuturan: "Adipati Seta Boga dari Linggajati mengirimkan seorang utusan pada kami. Dia telah membuat rencana untuk melakukan pemerasan di sini. Kami ditawarkannya pekerjaan untuk menarik pajak itu dengan perjanjian hasilnya dibagi dua. Pemimpin kami menerimanya dan… dan…". "Sudah. Itu sudah cukup terang!" kata Wiro Sableng pula. Ki Lurah Kundrawana maju ke muka. "Jadi ini semua dibiangi oleh Adipati Seta Boga …?". "Ya…". "Kita harus tangkap Adipati itu!" teriak penduduk. "Gantung saja bersama kunyuk-kunyuk yang dua ini!" teriak yang lain. Pendekar 212 angkat tangan kirinya. "Soal Adipati itu serahkan padaku," katanya. "Yang penting kini ialah menyelamatkan anak laki- laki Ki Lurah…". Tersiraplah darah Ki Lurah Kundrawana bila dia ingat kembali akan anaknya. Dijambaknya rambut anak buah Tapak Luwing. "Anakku di mana kalian sekap?!" tanyanya. Laki-laki itu tertawa buruk. Sangat buruk, apalagi melihat mukanya yang hangus dan merah mengelupas. "Jangan harap anakmu akan selamat Kundrawana!" Kundrawana menyentakkan kepala laki-laki itu. "Dimana?!". "Mungkin sudah mampus di tangan pemimpinku!" Kundrawana mengambil obor dari tangan Wiro Sableng. Anak buah Tapak Luwing menjerit keras ketika obor itu disodokkan ke mata kanannya, Mata itu pecah dan darah meleleh di kulit mukanya yang mengelupas hangus! "Kedua matanya akan kubikin buta keparat! Kecuali, kalau kau segera menerangkan di mana anakku kalian sekap!". Laki-laki itu sebenarnya menyadari bahwa kalau sudah tertangkap demikian rupa dirinya tak akan mungkin lagi bisa selamat. Adalah percuma saja baginya untuk memberikan keterangan. Namun dalam diri manusia yang berkeadaan seperti anak buah Tapak Luwing saat itu, walau bagaimanapun senantiasa selalu terdapat sekelumit harapan untuk bisa menyelamatkan diri sehingga ancaman matanya akan dibutakan kedua-duanya itu mau tak mau mengerikannya juga! Maka diapun memberikan keterangan : "Anak itu disekap di satu kuil tua di Parit Kulon…". Lega sedikit hati Kundrawana. "Tapi," katanya, "bila aku datang ke sana anakku tidak ada atau kutemui dia dalam keadaan sudah mati jangan harap kau bisa melihat dunia ini sampai esok lusa!". Kini pendekar 212 yang buka suara : "Saudara-saudara apapun yang kalian lakukan terhadap dua kunyuk ini, itu bukan urusanku lagi. Tapi sedapatdapatnya jangan diapa-apakan dulu dia sebelum anak Ki Lurah ketemu dalam keadaan selamat. Soal Adipati Seta Boga di Linggajati, serahkan padaku. Besok kalian bisa mengambil sosok tubuhnya di Kadipaten Linggajati. Cuma aku tak dapat memastikan apakah dalam keadaan masih bernafas atau tidak. Itu tergantung pada sikapnya sendiri! Sekiranya dia masih hidup, ada baiknya kalian giring saja ke Kotaraja… Nah, selamat tinggal!". "Saudara tunggu dulu!" seru Kratomlinggo dan Kundrawana hampir berbarengan. Namun Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 sudah berkelebat lewat langkan, lewat kepala-kepala penduduk Bojongnipah lalu lenyap ditelan kegelapan malam. *** HANYA sebentar suasana sepi menyeling. Bila bayangan sosok tubuh pendekar 212 sudah lenyap ditelan kegelapan malam maka lupalah penduduk Bojongnipah akan pesan pendekar itu. Beramai-ramai mereka menyerbu kedua anak buah Tapak Luwing yang berada dalam keadaan tak berdaya, terikat ketiang langkan dan tertotok. Puluhan senjata laksana hujan bertubi-tubi mampir ke kepala dan tubuh kedua orang itu. Tiada terdengar suara jeritan kedua orang ini, rintihanpun tidak! Mereka telah menemui nasib pembalasan atas kejahatan mereka. Keduanya menghembuskan nafas dengan tubuh mandi darah dan muka hancur tak bisa dikenali lagi. _ Ki Lurah Kundrawana tidak menyaksikan lagi apa yang diperbuat penduduk Bojongnipah itu. Bersama Kratomlinggo dan tiga orang lainnya, dengan menunggangi kuda, dia meninggalkan Bojongnipah menuju Parit Kulon, sebuah pesawangan yang jarang didatangi manusia, terletak kira-kira ernpat kilometer dari desa. Satu-satunya bangunan di Parit Kulon adalah kuil tua yang diterangkan anak buah Tapak Luwing. Karenanya meskipun malam tak sukar untuk mencarinya. Ki Lurah Kundrawana menyalakan obor yang dibawa. Diiringi oleh keempat orang lainnya dia masuk ke dalam kuil tua itu. Meski dia menemui anaknya dalam keadaan menyedihkan namun Kundrawana merasa. lega dan gembira karena anak satu-satunya itu ternyata masih bernafas. Anaknva tidur di ubin kotor dengan pakaian yang juga kotor. Tubuhnya kurus dari parasnya pucat karena tak terurus. Tangan dan kakinya diikat. Kundrawana bertutut lalu memeluk anaknya itu. Kratomlinggo membuka tali yang mengikat tangan serta kaki si anak yang saat itu sudah bangun. Tetesan air mata mengalir di pipi Ki Lurah Kundrawana. Tapi air mata kali ini adalah air mata gembira. Sementara itu di tempat lain …. Tapak Luwing merasa tubuhnya yang kaku karena ditotok itu dibawa lari dalam kegelapan malam oleh seseorang. Bila sinar bulan yang tidak begitu terang menyeruaki pohon-pohon sepanjang jalan yang mereka lalui dan menyinari paras laki-laki itu samar- samar. Tapak Luwing terheran dan berpikir- pikir. Laki-laki yang membawanya berlari itu tidak dikenalnya sama sekali. Siapa dia dan ke mana manusia ini mau membawanya! Kemudian apakah dia seorang yang akan menolongnya atau bukan? Tapi melihat gelagat dan ucapannya terhadap pemuda berambut gondrong tadi Tapak Luwing bisa sedikit memastikan bahwa laki-laki ini tidak bermaksud jahat terhadapnya. Diam-diam hatinya merasa lega. Maka bertarryalah dia: "Sobat, kau siapakah?". "Jangan banyak tanya dulu!" menjawab orang yang memanggulnya. Suaranya besar dan parau, larinya laksana angin. "Kita ini kemanakah?," tanya Tapak Luwing lagi. "Aku bilang jangan bertanya apa-apa dulu. Apa tidak mengerti?!" Tapak Luwing penasaran sekali. Namun dia menurut dan menutup mulutnya. Sepanjang perjalanan itu, satu hal saja yang diketahui oleh Tapak Luwing tentang orang yang memanggul dan membawa larinya yaitu laki- laki itu puntung tangan kanannya sampai sebatas bahu! Ketika sampai di sebuah telaga kecil akhirnya laki-laki bertangan buntung itu menghentikan larinya. Tapak Luwing diturunkan dan disandarkan ke sebatang pohon di tepi telaga. Kemudian dilepaskannya totokan di tubuh Tapak Luwing. "Atur nafas dan jalan darahmu. Kerahkan tenaga dalam!" berkata si tangan buntung. Tapak Luwing segera melakukan hal itu. Tidak disuruhpun memang semustinya dia sudah bermaksud demikian, sesuai dangan setiap ajaran ilmu silat dari aliran dan golongan manapun. Kemudian dengan tangannya yang cuma satu laki-laki itu dangan cekatan mengobati lengan Tapak Luwing yang patah dan membalutnya dangan secarik kain. "Aku berhutang budi dan nyawa padamu sobat," kata Tapak Luwing. Laki-laki yang menolongnya tertawa. "Ada hutang ada piutang…," katanya di antara tertawanya, "ada budi ada balas". "Maksudmu sobat?" tanya Tapak Luwing. "Di satu hari kelak pertolongan yang kuberikan padamu ini akan kutagih…". Tapak Luwing kerenyitkan kening. "Tidak kau tagihpun, jika ada kesempatan aku pasti akan membalasnya. Bahkan jika aku sudah sembuh dan kau bersedia ikut ke Kali Comel, aku akan hadiahkan kepadamu harta benda, perhiasan dan uang seberapa saja kau suka" Si tangan buntung menyeringai. Gigi-giginya hitam kecoklatan. "Aku tidak butuh semua itu," desisnya. Dipegangnya balutan di lengan Tapak Luwing. Sesaat kemudian Tapak Luwing merasakan aliran tenaga dalam yang ampuh merembas ke dalam tubuhnya. Tubuhnya menjadi segar kini dan rasa sakit pada lengannya yang patah itu berkurang. "Terima kasih," kata Tapak Luwing. "Apa sudah boleh aku kenal padamu. Aku Tapak Luwing…" "Aku tahu siapa kau. Aku sudah lama dengar tentang komplotanmu yang malang melintang di sepanjang Kali Comel. Dan ketika tahu bahwa kau berada di sekitar sini, timbul satu maksud untuk menemuimu". "Apakah maksud itu?" bertanya Tapak Luwing. "Tadi aku sudah bilang, ada hutang ada piutang, ada budi ada balas. Satu hari kelak aku membutuhkan tenagamu…!". "Jangan kawatir, aku pasti bersedia. Tapi untuk keperluan apakah?". "Kau tak usah tahu untuk keperluan apa. Kau nanti akan tahu juga. Dengar, nanti pada hari tigabelas bulan dua belas kau harus dating ke Gunung Tangkuban Perahu…" "Gunung Tangkuban Perahu…?". "Ya. Masih kira-kira delapan bulan dari sekarang. Dan satu hal harus kau ingat. Jangan sekali-kali coba kembali ke desa Bojongnipah untuk buat perhitungan dengan Ki Lurah Kundrawana, salah-salah kau bisa ketemu dangan bangsat yang telah mencelakaimu tadi! Walau bagaimanapun untuk saat ini kau tak akan mampu menghadapinya! Ada saat untuk menyelesaikan urusan dangan dia. Karena itu kau musti datang ke Tangkuban Perahu pada hari tiga belas bulan dua belas nanti. Dengar?" Tapak Luwing mengangguk. "Kau tahu siapa bangsat itu agaknya?," dia bertanya. "Angka pengenalnya telah dituliskannya dikeningmu". Terkejutlah Tapak Luwing. Dirabanya keningnya. Tak ada rasa sakit tapi memang kulit kening itu agak kesat dari sebelumnya. "Berkacalah ke telaga itu". Tapak Luwing merangkak ke tepi telaga. Dia membungkuk dekat-dekat ke air telaga yang jernih itu dan di bawah penerangan sinar bintang-bintang serta bulan sabit samar- samar dilihatnya tertera tiga buah angka. Angka 2 1 2 ! Tapak Luwing memandang keheran-heranan pada si tangan buntung lalu memperhatikan lagi mukanya di air telaga. Diusapnya keningnya. Diusapnya lagi sampai beberapa kali tapi angka 212 itu tidak mau hilang. Dibasahinya keningnya dangan air telaga lalu diusapnya lagi berulang kali. Tetap saja angka 212 itu tidak mau hilang! "Dengan. apapun dan cara bagaimanapun angka itu tak akan bisa pupus dari keningmu Tapak Luwing! Angka itu ditera dengan telapak tangan yang mengandung tenaga dalam dan kesaktian yang luar biasa. Sekalipun kulit keningmu dikelupas sampai ke batok kepalamu maka pada tulang batok kepalamupun angka itu sudah meresap!" "Siapa sesungguhnya manusia muda berambut gondrong dengan angka pengenal 212 itu…" tanya Tapak Luwing pula. "Namanya Wiro Sableng. Dia sakti sekali…" jawab si tangan buntung. "Tapi," katanya kemudian menambahkan, "dihari tiga belas bulan dua belas nanti, kelak ajalnya akan sampai!". Diam-diam, meskipun si tangan buntung tidak menerangkan tapi Tapak Luwing tahu, kini bahwa antara si tangan buntung dan pemuda rambut gondrong yang telah mencelakainya itu terdapat sangkut paut dendam kesumat. "Selama waktu delapan bulan mendatang," berkata lagi si tangan buntung, "kuanjurkan kepadamu untuk berlatih ilmu silat yang telah kau miliki agar lebih hebat." Tapak Luwing mengangguk. Si tangan buntung berkata: "Sekarang kita berpisah. Jangan lupa hari tiga belas bulan dua belas itu. Dan jangan coba-coba untuk tidak memenuhi perintahku ini…" "Kau mau kemana sobat?" "Urusanku masih banyak…" "Tapi kau masih belum menerangkan namamu". "NamakuKalingundil!" –== 0O0 == — LINGGARJATI sudah agak sepi ketika dia sampai ke sana karena hari sudah menjelang larut malam dan udara dingin mencucuki kulit tubuh sampai ke tulang-tulang. Di sebuah kedai dia berhenti untuk membasahi tenggorokan dan menghangatkan tubuhnya dengan segelas bandrek. Di kedai ini juga dia telah menanyakan di mana letak tempat kediaman Adipati Seta Boga. Tak sukar mencari tempat kediaman Adipati Seta Boga. Rumahnya adalah sebuah gedung yang paling bagus dan paling besar di Linggarjati. Saat itu gedung tersebut berada dalam suasana tenang tenteram. Dua orang pengawal berdiri di pintu masuk dan di ruang tamu kelihatan beberapa orang laki-laki. Rupanya Adipati Seta Boga tengah menerima beberapa orang tamu. Laki-laki itu melangkah seenaknya di depan kedua pengawal Kadipaten. "Di sini rumahnya Adipati Seta Boga ?" tanyanya pada salah seorang pengawal. "Betul. Ada apa…?" balik menanya si pengawal. "Ah tidak apa-apa. Aku cuma tanya…," jawab si pemuda. Digaruknya rambutnya yang gondrong. "Adipatinya ada …. ?" "Ada sedang merierima tamu. Kau siapa? Perlu apa tanya-tanya…?" "Cuma tanya," jawab si pemuda. Digaruknya lagi rambutnya lalu tanpa bilang apaapa dia melanjutkan langkahnya. "Sialan . . . ," maki pengawal itu. Yang dimaki jalan terus. Pengawal yang satu berkata "orang gendeng…" Keduanya memandang sampai pemuda tadi lenyap di tikungan jalan yang gelap. Setengah jam kemudian, ketika pemuda itu kembali maka tamu-tamu di Kadipaten sudah tak kelihatan lagi. Lampu besar di ruang depan sudah diganti dengan lampu kecil. Melihat kedatangan si pemuda dan yang seperti tadi berhenti di depan mereka maka membentaklah salah seorang dari pengawal. "Orang sinting! Ada apa kau datang lagi ke sini?!" "Pergi sebelum kepalamu kupentung dengan gagang tombak ini!," menghardik yang seorang lagi. Si pemuda menyeringai. "Dengar sobat-sobatku," katanya. Kedua tangannya diacungkan ke muka. Jari-jari telunjuk dan jari jari tengah diluruskan. "Kalian lihat jari-jari tanganku ini …. ?," tanyanya. "Kunyuk gendeng! Berlalulah atau kuremukkan kepalamu!" bentak pengawal sambil acungkan tombaknya. "Ah… jangan buru-buru marah tak karuan. Bicaraku masih belum habis!," menyahuti si pemuda tanpa acuhkan ancaman pengawal. Jari jari tangannya masih diluruskan. "Coba kalian hitung jari-jari tangan yang kuacungkan ini," katanya. Tentu saja kedua pengawal jadi tambah mengkal melihat tingkah dan mendengar ucapan si pemuda. Maka dua gagang tombakpun meluncur deras ke kepala pemuda itu. Namun lebih cepat lagi dari luncuran kedua tombak itu, maka kedua tangan si pemuda tahutahu sudah menotok urat di pangkal leher pengawal-pengawal. Kontan keduanya menjadi gagu dan kaku menegang. Si pemuda tertawa. Kedua pengawal itu sekaligus dipanggulnya di bahu kiri kanan kemudian dimasukinya halaman Kadipaten. Pengawal-pengawal yang dipanggul kemudian dilemparkannya ke kandang kuda di belakang rumah. Lewat pintu belakang dia masuk ke dalam gedung Kadipaten yang saat itu belum dikunci. Seorang perempuan separuh umur, yang bekerja sebagat pembantu rumah tangga dan yang saat itu tengah mencuci piring terkejut melihat munculnya seorang pemuda berambut gondrong yang tak dikenalnya. Dan pemuda itu tersenyum kepadanya. "Kau… kau siapa…?" tanyanya. Si pemuda masih senyum. Tangan kirinya dilambaikan. Selarik angin tajam menyambar ke leher si perempuan. Perempuan ini hendak berteriak. Namun saat itu mulutnya sudah gagu, lidahnya sudah kelu sedang tubuhnya tak bisa lagi digerakkan akibat totokan jarak jauh yang lihay sekali. Si pemuda kemudian memasukkan perempuan itu ke dalam sebuah bilik kosong di bagian belakang gedung. Saat itu Adipatit Seta Boga tengah membuang hajat kecil di kamar mandi. Ketika dia masuk kembali ke dalam gedung maka terkejutlah Adipati Linggarjati ini. Betapa tidak! Di atas kursi goyang, di mana dia sering dudak bila melepaskan lelah, kini dilihatnya duduk enak-enakan sambil memejam- mejamkan mata seorang pemuda berbadan kekar dan berambut gondrong yang sama sekali tidak dikenalnya! "Setan atau manusia dari mana yang kesasar ke gedungku ini…?" ujar Adipati Seta Boga di dalam hati. Dan pemuda di atas kursi terus juga menggoyang-goyangkan badannya dan kedua matanya masih dipejamkan. "Siapa kau?!" bentak Adipati itu dengan suara menggeledek dan menggema di empat dinding ruangan. Kursi goyang itu bergoyang-goyang juga. Pemuda yang duduk di atasnya masih terus duduk enak-enakan dan memejamkan mata. Geram sekali Adipati Seta Boga jadinya. Dengan langkah besarbesar dia maju mendekat kursi goyang dan orang yang mendudukinya. Telapak tangan kanan terkembang dan detik itu juga maka melayanglah tamparannya! Beberapa saat lagi tangan kanan itu akan mendarat di pipi si pemuda tiba-tiba si pemuda bukakan kedua matanya. Dan seperti alas kursi itu mempunyai per yang melesatkan si pemuda ke atas demikianlah tubuh pemuda itu melayang enteng sampai dua tombak dari kursi yang didudukinya! Dan sebagai akibatnya maka tangan kanan Adipati Seta Boga kini menghantam sandaran kursi goyang. Sandaran kursi itu pecah. Kayunya berkeping-keping berantakan. Dapat dibayangkan bagaimana jika seandainya tamparan itu mendarat di pipi si pemuda karena tamparan itu tidak boleh tidak tentu mengandung tenaga dalam yang luar biasa! "Ah…. kau rupanya Seta Boga…," kata si pemuda sambil mengusap matanya. "Aku sedang enak-enakan tidur, kau mengganggu saja…!" "Anjing kurap kenapa kau bisa kesasar ke mari? Apa minta ditebas batang lehermu?!," radang Adipati Seta Boga. Geram sekali dia. Selama menjadi Adipati baru hari ini ada seseorang yang memanggilnya dengan "Seta Boga," saja ! Sipemuda tertawa dan seperti tak ada hal apa-apa dia duduk kembali seenaknya di atas kursi goyang, kembali bergoyang-goyang dan memejamkan matanya. "Setan alas betul!," damprat Seta Boga. Sekali kaki kanannya bergerak maka mental dan hancurlah kursi goyang itu. Tapi si pemuda sekejapan sebelum itu sudah melompat dan berdiri di sudut ruangan dekat sebuah meja kecil. "Kursi bagus ditendang sampai hancur. Kau sudah sinting rupanya Seta Boga?," tanya si pemuda sambil menyengir. Sementara itu karena suara ribut-ribut di ruang tengah maka istri Seta Boga ke luar dan disamping heran dia juga terkejut melihat apa yang terjadi. "Kakang ada apakah? Siapa manusia ini?!" tanya perempuan itu. "Pergi, panggil pengswal!," teriak Seta Boga pada istrinya. Perempuan itu berteriak memanggil pengawal. Namun tiada pengawal yang datang. Dua pengawal Kadipaten sebelumnya sudah dibikin "mendengkur" oleh si pemuda di kandang kuda! Kegeraman Seta Boga tak terkirakan lagi ketika dilihatnya pemuda berambut gondrong itu mengambil sebatang serutu miliknya dan dalam kotak serutu yang terletak di atas meja kecil di sudut ruangan lalu menyalakannya sekaligus! Rahang-rahang Seta Boga bertonjolan. Jari- jari tangan kanannya diremas-remaskannya satu sama lain. Sesaat kemudian kelihatanlah jari-jari tangan itu menjadi merah. Warna merah terus menjalar sampai sebatas siku. "Anjing kurap yang kesasar, hari ini terima nasibmu harus mampus oleh pukulan wesi geniku!" Tangan kanan yang merah itu dipukulkan ke muka. Selarik angin yang tidak terkirakan panasnya menggebubu ke arah si pemuda. Tubuh si pemuda berkelebat. "Wuss!" "Brak!" Istri Seta Boga menjerit. Dinding di muka mana pemuda itu tadi berdiri hancur berlubang dan menjadi hitam hangus! Orang yang diserang kelihatan disudut ruangan sebelah kanan, asyik-asyikan menyedot serutu! Dada Seta Boga menjadi sesak oleh amarah yang meluap. "Siapa kau sebenarnya ?!" bentak Adipati Linggarjati ini, Si pemuda batuk-batuk lalu cabut serutunya dari sela bibir. "Namaku … ?," ujarnya. "Masakan kau tidak tahu ?!" "Setan alas …. !" Si pemuda tertawa menanggapi makian itu. "Namaku Tapak Luwing," katanya. "Aku datang untuk menyerahkan sebagian dari uang pungutan pajak di desa Bojongnipah. Ini terimalah…!" Si pemuda mengeruk saku bajunya. Sesuatu dalam genggamannya kemudian dilemparkannya ke arah Adipati Seta Boga. Laki-laki ini cepat menghindar dan lambaikan tangan kanannya. Benda yang dilemparkan ternyata adalah kira-kira selusin kalajengking yang saat itu sudah mati dan bertebaran di lantai. Istri Seta Boga memekik lalu lari ke dalam kamar. Si pemuda tertawa bekakakan! Adipati Seta Boga tak menunggu lebih lama menyambar sebuah tombak yang dipanjang di dinding. Dengan senjata ini dia kemudian menyerang si pemuda! Si pemuda tenang- tenang selipkan serutunya ke bibir, menghisapnya dengan cepat lalu menghembuskan asapnya ke arah Seta Boga. Adipati ini terpaksa melompat ke samping sekali lagi karena asap serutu itu mengandung tenaga dalam dan menyambar ke arah kedua matanya! Dari samping kini Seta Boga melancarkan serangan. Tombak di tangannya membabat kian kemari. Tangan kiri melakukan pukulan- pukulan tangan kosong jarak jauh beberapa kali berturutturut! Inilah jurus "kitiran dan alu sabung menyabung" Jurus ini biasanya dilaksanakan dengan memakai pedang. Tapi dengan tombakpun kehebatannya tidak olah- olah. Tapi betapa terkejutnya Seta Boga ketika si pemuda dengan tertawa-tawa berkata : "Ah, cuma jurus kitiran dan alu sabung menyabung, siapa takut? Sambuti serangan balasan ini, Seta Boga!" Demikianlah, meskipun diserang tapi si pemuda bukannya mengelak malahan menyambut dengan serangan pula! "Ini jurus membuka jendela memanah rembulan Seta Boga!," kata si pemuda. Lengan kirinya dipukulkari melintang dari atas ke bawah sedang tangan kanan meluncur ke atas dalam gerakan yang cepat sekali dan sukar dilihat oleh mata ! "Ngek" "Buk !" Tombak di tangan Seta Boga terlepas mental karena lengannya kena dibabat oleh lengan lawan. Suara ngek yang ke luar dari tenggorokannya adalah akibat urat besar di bawah dagunya telah kena ditotok oleh sipemuda. Di saat itu pula tubuhnya tak bergerak lagi alias kaku tegang! Karena sebelum ditotok Seta Boga telah menyeringai kesakitan akibat benturan lengan lawan maka di saat tubuhnya menjadi kaku itu, mimik parasnya sungguh tak sedap untuk dipandang! Si pemuda cabut serutu dari sela bibirnya don meniupkan asap serutu itu ke muka Seta Boga. "Sayang sekali," katanya. "Jurus kitiran dan alu sabung menyabungmu terpaksa bertekuk lutut di bawah jurus membuka jendela memanah rembulan-ku…". Ditiupkannya lagi asap serutu ke muka Seta Boga. Totokan pada urat besar di bawah dagu Seta Boga tetah melumpuhkan tubuhnya, membuat mulutnya menjadi gagu dan, perasaannya menjadi tumpul. Cuma telinganya saja saat itu yang masih sanggup mendengar. Maka berkatalah si pemuda. "Dengar Seta Boga… besok Ki Lurah Kundrawana dan penduduk Bojongnipah akan datang ke sini. Kalau nasibmu baik kau akan mereka seret ke hadapan Raja di Kotaraja. Tapi kalau nasibmu buruk, mereka akan mengeremusmu beramairamai! Dan sebelum aku pergi, terima hadiah kenang-kenangan ini dariku….". Si pemuda acungkan jari telunjuk tangan kanannya. Dengan mempergunakan ujung jari itu diguratnya tiga buah angka di kening Seta Boga, 212 …! Ketika pada keesokan harinya Ki Lurah Kundrawana dan dua lusin penduduk Bojongnipah bersenjata lengkap datang ke gedung Kadipaten di Linggarjati, mereka heran menemui gedung itu dalam keadaan kosong. Tak satu manusiapun ada di dalamnya. "Pasti Adipati keparat itu sudah melarikan diri!," Kata Kundrawana geram. Tiba-tiba terdengar seseorang berteriak dari belakang gedung. Ketika Kundrawana dan yang lain-lainnya pergi ke belakang gedung mereka hampir tak percaya dengan penglihatan mereka. Lima orang kelihatan berdiri tak bergerak-gerak di kandang kuda. Di sebelah muka adalah Adipati Seta Boga dan istrinya. Di kiri kanan mereka pengawal­ pengawal Kadipaten dan di sebelah belakang perempuan yang menjadi pembantu rumah tangga! Ketika diperiksa kelimanya masih dalam keadaan bernafas dan ditotok urat darah mereka. Ki l:urah Kundrawana memandang pada angka 212 yang tertera di kening Adipati Seta Boga. "Dua satu dua . . . . ," desisnya. Dia hanya goleng-goleng kepala lalu memerintah: "Perempuan-perempuan dan pelayan lepaskan totokannya. SetaBoga kita seret ke Kotaraja!" *** Pendekar kapak maut naga geni 212 Wiro Sableng melangkah pelahan menuju ke tepi sungai. Di tempat yang agak kelindungan dia membuka pakaian dan mandi membersihkan diri Sambil mandi itu kadang-kadang dia tertawa sendiri bila mengingat kejadian malam tadi di Kadipaten Linggarjati. Mungkin pagi itu Kundrawana sudah sampai di Linggajati, mungkin masih dalam perjalanan. Satu manusia jahat, satu kejahatan telah berakhir. Tapi pendekar 212 tahu bahwa selama dunia terbentang, selama itu pula kejahatan tak pernah akan berakhir ! Selesai mandi badannya terasa segar. Matahari sudah mulai tinggi. Suara siulan ke luar dari sela bibirnya sedang pikirannya mengingat-ingat pertempurannya dengan Tapak Luwing dan laki-laki yang telah melarikan Tapak Luwing serta menantangnya itu. Tantangan ini mengingatkannya pada pertempurannya di Gua Sanggreng dengan Bergola Wungu tempo hari. Kali ini untuk kedua kalinya dia ditantang. Siapa pula gerangan kali ini yang menantangnya ? "Hidup ini memang penuh tantangan? Tantangan yang timbul dari diri kita sendiri dan dari diri manusia-manusia lain… Sungguh gila kehidupan ini! Tapi kegilaan inilah yang mendatangkan kenikmatan…". Maka siulan pendekar 212 itu semakin meninggi dan melengking membawakan lagu tak menentu. Tentang diri manusia yang telah melarikan Tapak Luwing itu hanya dua hal yang diketahui oleh Wiro Sableng. Pertama, dalam kegelapan malam dia melihat bahwa manusia itu buntung tangan kanannya. Kedua, ketika dia melancarkan pukulan kunyuk melempar buah dengan mempergunakan sepertiga bagian dari tenaga dalamnya, manusia bertangan buntung itu telah menyambuti pukulan tersebut dengan selarik sinar biru! Dan pukulan kunyuk melempar buah telah terbendung oleh selarik sinar biru itu! Ini membawa pertanda bahwa si tangan buntung itu siapapun adanya pastilah memiliki ilmu yang tinggi. Pendekar 212 menduga manusia ini mungkin sekali guru atau kakak seperguruan Tapak Luwing. Dikenakannya pakaiannya kembali dan diteruskannya perjalanannya. Rawasumpang satu daerah tandus penuh rawa-rawa maut yang menghisap setiap benda apa saja yang masuk ke dalamnya. Daerah ini terletak empat kilo di sebelah timur Linggajati. Kesinilah Wiro Sableng menuju. Angin dari utara bertiup kencang membuat pakaian dan rambutnya yang gondrong berkibar-kibar. Dia memandang ke bawah. Pedataran luas penuh rawa-rawa maut itu sunyi sepi. Tak satu manusiapun yang dilihatnya. Wiro memandang ke langit. Matahari tengah bergerak dalam gerakan yang tidak kelihatan menuju ke titik tertingginya. Tiba-tiba dari arah timur terdengar suara bergelak yang santar sekali! Pendekar kita berpaling ke arah itu. Sesosok tubuh laksana anak panah berlari kencang sekali di pedataran luas di sela-sela tebaran rawa- rawa. Begitu suara gelaknya hilang maka tubuhnya sudah berada di bawah bukit di mana pendekar 212 berada. Bukit itu tidak berapa tinggi dan dalam jarak sejauh itu Wiro Sableng segera dapat mengenali siapa adanya manusia yang bertangan buntung itu. "Kalau dia yang menjadi penantangku malam tadi, pastilah dia telah memiliki ilmu yang tinggi dan sangat diandalkan…," kata Wiro Sableng dalam hati. "Tapi…," ujarnya lagi, "bagaimana mungkin dalam tempo beberapa bulan saja kepandaiannya sudah seluar biasa ini…?". "Manusia yang merasa bernama Wiro Sableng, merasa bergelar Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212, turunlah! Atau aku yang musti naik ke atas bukit itu?!". Terdengar suara laki-laki di bawah bukit. Pendekar kita keluarkan suara bersiul. "Tikus buduk cacingan kalau sudah jadi kucing dapur memang berabe!," katanya. "Ada kabar apa kau mengundang aku ke sini kucing dapur…?". Paras Kalingundil kelam membesi. Dengan suara keras dia menyahuti: "Tadinya aku kira kau tak punya nyali untuk datang ke sini pendekar edan! Hitungan kita tempo hari masih belum selesai…" "Oho, jadi untuk maksud itukah kau kehendaki pertemuan ini? Bagus sekali Kalingundil. Memang urusan yang belum selesai harus diselesaikan. Benang kusut harus diurai baik- baik kembali!". "Tepat sekali," jawab Kalingundil. "Cuma satu hal pendekar gila. Kalingundil yang dulu tidak sama dengan yang kau lihat hari ini!". Wiro Sableng tertawa bergelak. "Tentu saja. Tadipun aku sudah bilang bahwa dari tikus buduk cacingan kau sudah berubah menjadi kucing dapur. Tapi kau tak banyak berbeda Kalingundil! Tanganmu yang dulu buntung sekarang masih tetap buntung! Seharusnya kau cari tukang kayu yang pandai untuk membuat tangan palsu…!". Mendidih darah di kepala Kalingundil. Tangan kirinya bergerak, memukul ke atas. Setiup angin biru deras menyambar ke arah Wiro Sableng. Pendekar itu lompat ke samping dengan sebat dan menyaksikan bagaimana tanah bukit tempatnya berdiri tadi terpupus berhamburan laksana longsor dihantam angin pukulan Kalingundil! Diam-diam Wiro Sableng menjadi kagum juga terhadap lawannya itu. Kepada siapakah Kalingundil telah menuntut ilmu selama beberapa bulan ini? "Pendekar gila, jangan petatang peteteng juga! Turunlah ke pedataran rawa-rawa ini!," teriak Kalingundil. "Turun untuk terima kematianmu!". "Setiap undangan baik dan buruk pantang kuelakkan, Kalingundil," sahut Wiro Sableng. Laksana seekor burung garuda dia melompat ke bawah. Dalam keadaan tubuh melayang di udara itu, Kalingundil kirimkan tiga pukulan tangan kosong sekaligus, beruntun hebat sekali. Pendekar 212 sambut pukulan ini dengan pukulan "benteng topan melanda samudera"! Maka beradulah pukulan-pukulan dahsyat yang mengandung tenaga dalam yang tinggi itu sehingga menimbulkan suara meletus hebat. Untuk sesaat pendekar 212 merasakan tubuhnya yang melayang di udara laksana tertahan oleh sebuah dinding yang tak kelihatan sedang di bawah sana Kalingundil melesak kedua kakinya sampai dua dim ke dalam tanah! Sungguh pendekar 212 tidak menyangka kehebatan tenaga dalam Kalingundil berlipat ganda banyak sekali dari beberapa bulan yang lalu! Di lain pihak Kalingundil sendiri mengeluh dalam hati. Waktu melancarkan tiga pukulan beruntun tadi dia telah mengerahkan tiga perempat bagian tenaga dalamnya: Meski dia telah memiliki ilmu silat, yang aneh dan tinggi mutunya namun nyatanya lawan itu masih lebih tangguh! Kalingundil kertakkan geraham. "Pemuda gila, terima pukulan jotos siluman biru ini!," bentak Kalingundil. Tangan kanannya dipukulkan ke muka. Sinar biru berkiblat menyambar ke arah pendekar 212 yang saat itu baru saja injakkan kaki kanannya di tanah dekat tepian rawa! Pendekar kita lompat setinggi empat tombak dan dari atas ganti mengirimkan pukulan balasan yang tak kalah hebatnya. Pukulan angin menimbulkan suara seperti ratusan seruling yang ditiup secara bersamaan. Debu berputar-putar ke udara, lumpur rawa-rawa seperti mendidih. Kalingundil kerahkan tenaga dalamnya ke kaki untuk mempertahankan diri. Tubuhnya bergetar dilanda angin pukulan lawan namun sepasang kakinya laksana baja tetap bertahan ditempatnya. Penasaran sekali, dengan membentak. Pendekar 212 lipat gandakan tenaga dalamnya dalam pukulan itu! Kini Kalingundil tak dapat lagi bertahan dengan segala kehebatan yang dimilikinya itu. Kedua kakinya laksana akar pohon berserabutan dari dalam tanah, terlepas dari pertahanannya. Tubuhnya terhuyung keras ke belakang ke arah rawa-rawa maut. Dihantamkannya tangannya ke muka untuk membendung angjn pukulan lawan dan serentak dengan itu dia jungkir balik di udara melompati sebuah rawa kecil dan berdiri di bagian lain dari pedataran! Dengan demikian kedua manusia itu berhadapan satu sama lain. terpisah oleh sebuah rawa-rawa! Laki-laki bertangan buntung itu tertawa dingin. Tangan kirinya bergerak ke balik pakaian.. Sesaat kemudian di tangan kiri itu tergenggam sebuah pedang buntung yang berwarna biru. Meskipun buntung, melihat kepada kilauan sinar biru dari senjata itu Wiro Sableng maklum bahwa pedang di tangan lawannya adalah sebuah pedang mustika. "Kau lihat pedang ini, pemuda edan?!" bentak Kalingundil. "Nyawamu ada diujung senjata ini!". Pendekar 212 tertawa mengekeh. "Orang dan. senjatanya sama saja! Sama- saama buntung!" mengejek murid Eyang Sinto Gendang itu, Merah padam muka Kalingundil. "Mengejek memang mudah. Tapi ketahuilah, membunuhmu dengan senjata ini jauh lebih mudah lagi!," kata Kalingundil pula. "Buka matamu lebar-lebar orang gila dan lihat ini!". Kalingundil menyapukan pedang buntungnya ke arah rawa-rawa di hadapannya. Lumpur rawa itu muncrat ke atas sampai tujuh tombak. Sebagian besar menyibak laksana terbelah sehingga dasar rawa yang hitam legam terlihat jelas beberapa detik lamanya ! "Senjata hebat," ujar Wiro Sableng dalam hati. "Dalam keadaan buntung demikian luar biasanya. Apalagi kalau dalarn keadaan. Sempurna. Bagaimana ini kucing dapur dapatkan senjata itu…?" "Kau sudah lihat pendekar gila?!," terdengar bentakan Kalingundil. "Senjatamu boleh juga, Kalingundil. Tapi dari pada dipakai buat kejahatan lebih baik ditempa untuk membikin sambungan tangan palsumu!". Marahlah Kalingundil. Disapukannya senjata itu ke arah pendekar 212. Maka berkiblatlah sinar biru yang menyilaukan! Pendekar 212 tidak bodoh. Dengan cepat dialirkannya tenaga dalamnya ke kedua telapak tangan. Dia melompat ke udara. "Ciat!" Didahului oleh bentakan yang menggeledek itu maka Wiro Sableng lepaskan pukulan dinding angin berhembus tindih menindih. Begitu pukulan ini melesat memapasi serangan lawan maka Wiro susul dengan pukulan kunyuk melempar buah yang perbawanya disertai aliran tenaga dalam sampai setengah bagian dari yang dimilikinya! Pukukan yang pertama membuat serangan Kalingundil tertahan laksana menumbuk dinding karang yang atos. Pukulan yang kedua bukan saja membuat buyar sinar biru dari pukulan Kalingundil, tapi sekaligus melabrak pukulan tersebut sehingga kini Kalingundil yang berada dalam keadaan diserang! Ini memaksa Kalingundil menyingkir dua tombak ke samping. Kemudian tanpa membuang waktu lebih lama laki-laki ini menerjang ke muka. Pedangnya membabat deras, sinar biru yang menghamburkan hawa dingin serta tajam menyambar ke arah pendekar 212! Wiro Sableng membentak nyaring! Suara bentakannya ini membuat gendang-gendang telinga Kalingundil tergetar. Pedangnya melabrak ke arah perut lawan tapi dalam kejapan itu pula lawannya berkelabat dan lenyap dari pemandangan! Penasaran sekali Kalingundil putar pedang buntungnya demikian rupa. Maka sinar birupun bergulung- gulung mengurung Wiro Sableng!. Sebagaimana kebiasaan pendekar 212, dalam setiap pertempuran yang mulai menghebat maka disaat itu pula mulai terdengar suara siulannya melengking-lengking membawakan lagu tak menentu! Tubuhnya hanya merupakan bayang-bayang kini. Karena sukar untuk menentukan mana tubuh yang sebenarnya dan mana yang hanya baying- bayang, maka hampir keseluruhan serangan- serangan Kalingundil menghantam tempat kosong. Namun demikian memang permainan silat siluman yang didapat Kalingundil di Gua Siluman tempo hari meskipun cuma sepertiganya saja yang dikuasainya, benar- benar patut dikagumi. Pendekar 212 tahu bahwa lawannya sampai dua puluh jurus dimukapun tak akan dapat mendesaknya, apalagi melukainya. Tapi di samping itu, pihaknya sendiri sukar pula melakukan serangan balasan karena setiap serangan yang dilancarkan Kalingundil merupakan jurus pertahanan! Demikianlah kehebatan ilmu silat siluman yang dimiliki oleh manusia bertangan buntung itu! Tapi adalah percuma saja Wiro Sableng menjadi murid dan digembleng selama tujuh belas tahun oleh nenek-nenek sakti Eyang Sinto Gendeng kalau dia tak bisa menghadapi lawan begitu rupa satu lawan satu! Maka Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 segera robah permainan silatnya. Jurus-jurus yang tak terduga dari Kalingundil dihadapinya dengan jurus-jurus tak teratur yang gerabak gerubuk kian kemari. Kedua tangannya terkembang di kedua sisi laksana sayap burung garuda sedang dari mulutnya senantiasa terdengar suara siulan melengking yang menyamaki liang telinga Kalingundil! Saat itu kedua orang ini sudah bertempur sampai tiga puluh jurus! Sungguh hebat! Tiga puluh jurus seperti tidak terasa! Dan kini kentara sekali bagaimana Kalingundil terdesak hebat. Bagaimanapun Kalingundil mempercepat jurus-jurus permainan silatnya, bagaimanapun dia merobah gerakan- gerakannya dan mengamuk laksana banteng terluka, namun tetap saja dia berada dibawah angin, malahan kini terdesak ke arah rawa- rawa maut! "Ha… ha…. rupanya jalan ke nerakamu harus melalui rawa-rawa maut ini, Kalingundil!". "Budak hina dina jangan ngaco! Sambut bintang silumanku ini!". Sambil melompat jauh, dengan masih memegang pedang buntung, Kalingundil gunakan tangan kirinya untuk mengirimkan selusin benda berbentuk bintang yang berwarna biru ke arah lawannya. "Akh… mainan anak-anak ini kenapa musti dipertontonkan?!" ejek pendekar 212. Tangan kanannya diputar ke udara. Serangkum angin puyuh menggebubu dan bintangbintang siluman itupun berhamburanlah kian ke mari tiada mengenai sasarannya. Pada detik Wiro Sableng gunakan tangannya untuk menyambuti senjata rahasia lawan maka kesempatan ini dipergunakan oleh Kalingundil untuk melompat ke seberang rawa-rawa kecil. "Kucing dapur! Kau mau lari ke mana….?!" teriak Wiro Sableng. Sebagai jawaban Kalingundil lemparkan segulung benda putih ke arah pendekar 212. Mulanya Wiro menyangka benda itu sebuah senjata rahasia, tapi ketika diketahuinya hanya secarik kertas putih yang digulung maka segera ditangkapnya dan di saat itu pula Kalingundil pergunakan kesempatan sekali lagi untuk melompat jauh lalu dengan ilmu larinya yang lihay ditinggalkannya tempat itu. Wiro tidak punya maksud untuk mengejar laki-laki bertangan buntung itu. Dengan penuh tanda tanya dibukanya gulungan kertas di tangannya. Ternyata selembar surat yang ditujukan oleh Kalingundil kepadanya. Cacat di tubuhku tak akan terlupa seumur hidup. Kematian kawan-kawanku dan kematian Mahesa Birawa tak akan terlupa selama hayat. Semua itu kau yang menjadi biang sebab. Hari pembalasan akan tiba! Berani berbuat berani tanggung jawab! Hari tiga belas bulan dua belas kutunggu kau di puncak Gunung Tangkuban Perahu. Kalau kau tak punya nyali untuk datang lebih baik bunuh diri sekarang juga! Pendekar 212 penasaran sekali. Diremasnya surat itu. "Sialan betul kucing dapur itu!," gerendang Wiro Sableng. Dia lari ke bukit. Namun bayangan Kalingundil sudah tak kelihatan lagi. Tantangan yang dibuat Kalingundil di Rawasumpang itu hanyalah sekedar untuk menjajaki sampai di mana kehebatan ilmu silat silumannya bisa menghadapi musuh besarnya itu. Nyatanya Wiro Sableng masih tetap jauh lebih digjaya dari dia. Namun dia tidak kecewa. Pada hari yang telah direncanakannya itu, kelak dendam kesumatnya akan kesampaian. Dan sekaligus di Rawasumpang itu dia te!ah menyampaikan surat undangan kematian bagi musuh besamya itu. Dia yakin pendekar 212 akan datang ke puncak Gunung Tangkuban Perahu! –== 0O0 == — PUNCAK Gunung Halimun…. Puncak gunung ini kelihatan diselimuti awan putih. Bila angin barat bertiup maka beraraklah awan itu kejurusan timur dan Puncak Gunang Halimun kembali kelihatan dengan jelas dan megah. Selewatnya tengahari, sesosok tubuh berlari laksana angin, menuju ke puncak gunung. Semakin ke puncak udara semakin sejuk serta segar. Laki-laki itu mempercepat larinya seakan-akan tak sabar untuk lekas-lekas sampai ke tempat yang ditujunya. Maka lewat sepeminuman teh sarnpailah dia ke puncak tertinggi dari gunung itu. Dia memandang berkeliling. Kernana mata memandang hanya bebatuan saja yang kelihatan. Mulai dari kerikil-kerikil kecil sampai kepada unggukan-unggukan batu besar sebesarbesar rumah! Di kaki-kaki batu- batu besar yang rata-rata licin berlumut itu tumbuh rumput-rumput liar. Laki-laki itu bertangan bunting. Dia tak lain adalah Kalingundil. Mengapa dia berada di puncak gunung ini ialah dalam meneruskan rencana besarnya yaitu membalaskan dendam kesumat terhadap pendekar 212 Wiro Sableng. Kalingundil dengan gerakan yang enteng melompat ke salah satu batu besar. Seseorang yang tidak memiliki ilmu meringani tubuh yang ampuh pasti tak akan sanggup mernbuat lompatan lihay itu, kalaupun dapat mungkin begitu menginjak batu, kakinya akan terpeleset karena lincinnya lumut! Kalingundil memandang keseantero puncak gunung yang telah mati itu. Di antara unggukanunggukan batu-batu rnaka di tengah-tengah kelihatanlah kawah yang besar yang sudah padam. Kawah ini berbentuk kerucut dan dalarn sekali. Kalingundil melompat lagi ke batu besar yang lebih tinggi. Sekali lagi dilayangkannya pandangannya ke seantero puncak gunung. Bila dia sudah yakin betul bahwa tempat kediaman orang yang hendak ditemuinya itu bukalah di permukaan puncak gunung maka segeralah dia melompat ke tepi kawah. Dari sini dia terus turun ke dalam kawah. Selain dalam, kawah Gunung Halimun sukar sekali untuk dituruni. Tapi Kalingundil dengan cekatannya lompat sana lompat sini sehingga dalam waktu yang singkat dia sudah berada di dasar kawah. Udara di dalam dasar kawah gunung ini pengap dan menyesakkan pernafasan. Karenanya Kalingundil segera atur jalan nafasnya. Begitu dirinya dapat menguasai kepengapan, itu maka dia segera meneliti keadaan dasar kawah di mana dia berada. Luas dasar kawah yang merupakan pusat kerucut itu hanya beberapa kali lebih besar dari sebuah sumur. Seluruh dasar kawah merupakan pasir campur tanah yang sudah membeku den mengeras selama berabad-abad sesudah gunung itu meletus. Putaran bola mata Kalingundil terhenti pada sebuah lobang yang besarnya selebar bahu manusia. Laki-laki ini segera mendekati lobang itu. Menelitinya sesaat lalu tanpa ragu-ragu segera memasukinya. Mula-mula dia hanya bisa merangkak. Tapi semakin ke dalam lobang itu semakin besar sehingga dari merangkak kini dia dapat membungkuk- bungkuk dan akhirnya berjalan seperti biasa. Kalingundil sampai ke sebuah ruang empat persegi berdindingkan batu-batu hitam yang kasar. Dari keempat sudut ruangan ini keluar empat liukan asap tipis yang berwarna hitam. Begitu, hidungnya mencium bau yang disebar oleh asap ini mendadak sontak kepala Kalingundil menjadi pusing. Cepat-cepat Kalingundil kerahkan tenaga dalam dan tutup jalan nafasnya. Kalingundil tahu bahwa ruangan batu itu bukanlah ruangan buntu. Tapi matanya tiada melihat adanya pintu atau sebuah celahpun. Laki-laki ini menengadah ke atas. Maka kelihatanlah di langitlangit ruangan sebuah liang tangga batu. Dia memandang berkeliling lalu enjot kedua kaki dan melompat ke tepi liang, terus menaiki tangga batu. Anehnya, bagaimanapun tingginya ilmu mengentengi tubuh yang dimilikinya namun setiap iangkah yang dibuatnya di tangga batu itu berbunyi dan bergema keras! Begitu sampai di anak tangga yang teratas maka sampailah Kalingundil ke satu ruangan putih yang sangat bersih. Demikian bersih dan berkilatan putihnya dinding-dinding serta lantai dan langitlangit ruangan itu, sehingga tak ubahnya seperti berada di satu ruangan kaca. Tepat di tengah-tengah ruangan terdapat sebuah batu besar dan di atas batu besar ini sesosok tubuh laksana patung tengah bersemedi jungkir balik, kaki ke atas kepala ke bawah di atas batu. Sosok tubuh ini mengenakan sehelai kain putih yang dibalutkart sekujur badan mulai dari betis sampai ke dada. Kepala dan paras orang yang bersemedi tiada kelihatan karena tertutup oleh janggut putih yang panjang, hampir menyamai panjangnya rambut yang menjulai di lantai dan juga berwarna putih! Sungguh hebat cara manusia ini bersemedi! Namun pandangan Kalingundil segera terbagi pada seekor harimau besar belang tiga yang berbaring di samping laki-laki yang tengah bersemedi. Begitu melihat kemunculan Kalingundil, makhluk ini berdiri dan menggereng. Mututnya membuka lebar. Gigi dan taringnya kelihatan besarbesar serta runcing mengerikan. Didahului dengan auman yang dahsyat dan menggetarkan ruangan putih itu maka melompatlah binatang itu. Kedua kaki terpentang ke muka, kuku-kuku yang tajam dan panjang siap merobek tubuh Kalingundil! Kalingundil yang maklum bahwa harimau itu bukan binatang biasa tapi peliharaan seorang sakti dengan cepat segera melompat ke samping hindarkan diri. Namun meskipun demikian cepatnya, sang harimau lebih cepat lagi! Laksana seorang jago silat kawakan, masih melayang di udara binatang itu putar tubuh, ekornya berkelebat! Ekor yang panjang laksana cambuk itu menghantam bahu Kalingundil yang buntung. Pakaiannya robek. Bahunya sakit tiada terkirakan. Kalingundil kerahkan tenaga dalam dan disaat itu terpaksa segera melompat pula ke samping karena si belang sudah menyerangnya kembali! Hanya dengan berkelabat-kelabat cepat dan sigaplah maka Kalingundil berhasil mengelakkan setiap serangan. Dia menghitung-hitung, sampai saat itu telah dua puluh jurus dia bertempur menghadapi sang harimau. Dan selama itu Kalingundil terus- terusan bersikap mengelak, sama sekali tak mau menyerang! Kalau dia mengelak terus, di satu ketika mungkin sekali harirmau itu berhasil juga mengoyak daging tubuhnya! Kalau dia melawan, sedangkan binatang itu adalah peliharaan orang sakti dengan siapa dia ingin bertemu dan bicara! Inilah yang menyulitkan Kalingundil! Dan sementara dia bertempur demikian rupa, orang yang bersemedi masih juga terus bersemedi, seperti tiada terganggu, seperti tak mengetahui adanya pertempuran yang dahsyat itu! Satu-satunya jalan bagi Kalingundil untuk tidak mendapat celaka dan tidak mencelakai ialah meninggalkan ruangan putih itu, menghindar keluar untuk sementara, menunggu sampai orang yang bersemedi menyelesaikan semedinya. Maka ketika harimau itu mengaum dan menyerang, Kalingundil jatuhkan diri ke lantai lalu bergulingan ke arah tangga. Pada saat harimau itu hendak menubruknya sekali lagi. Kalingundil sudah lenyap ke bawah tangga… Telah tiga hari Kalingundil menunggu di dasar kawah itu. Telah tiga kali pula dia masuk ke dalam ruang putih dan mengintai dari balik anak tangga teratas, namun sampai saat itu orang yang bersemedi masih juga belum meninggalkan batu persemediannya. Menunggu sampai satu minggupun bagi Kalingundil bukan suatu apa, tapi yang menyusahkannya ialah untuk mendapatkan bahan makanan selama hari-hari penungguan itu. Empat hari kemudian, pada kali yang ke tujuh Kalingundil mengintai dari balik anak tangga, orang itu dilihatnya masih juga bersemedi. Dengan hati kesal Kalingundil menuruni tangga kembali. Tapi begitu dia keluar dari liang tangga dan sampai di ruang bawah maka mendadak terdengar suara menggema dari ruang putih. "Manusia yang berani-beranian menginjakkan kaki kotor di tempatku cepat datang menghadap untuk terima hukuman!". Terkesiap Kalingundil mendengar ini. "Ayo cepat! Tunggu apa lagi?!," kata suara dari ruang putih. Kalingundil memutar langkahnya kembali. Dalam melangkah kembali ke liang tangga, terdengar lagi suara tadi. "Hemm… seorang bertangan buntung macammu sungguh tak pantas masuk ke tempatku! Hukumanmu lipat ganda hai manusia!". Tentu saja Kalingundil terkejut mendengar ini. Bagaimana orang di dalam ruangan putih itu bisa mengetahui bahwa tubuhnya cacat? Meski dia sakti luar biasa tapi mereka belum pernah bertemu muka dan tak mungkin menurut pikiran Kalingundil orang itu mengetahui hal keadaan dirinya! Kalingundil lupa bahwa dinding dan langit-langit ruangan putih di atas sana tak ubahnya seperti kaca sehingga orang yang ada di ruangan putih akan mudah melihat siapa saja yang ada di ruang bawah! Kalingundil melompat ke atas dengan gerakan enteng lalu menaiki tangga. Ketika dia muncul di ruangan putih anehnya harimau yang berbaring tidak lagi menyerangnya. Sedang manusia berselempang kain putih masih tetap berdiri dengan kepala di atas batu kaki ke atas! Seperti hari-hari sebelumnya parasnya masih tertutup oleh julaian janggut putihnya yang panjang menjela-jela. Meski. harimau belang tiga itu tidak rnenyerangnya, namun Kalingundil berdiri dengan waspada. "Kau siapa?!" membentak si kepala ke bawah kaki ke atas. "Namaku Kalingundil. Apakah saat ini aku berhadapan dengan Begawan Sitaraga?," tanyaKalingundil setelah terangkan dia punya nama. Yang ditanya tak menjawab melainkan ajukan pertanyaan: "Perlu apa kau datang mengotori tempatku ini, manusia tangan buntung?!". "Harap dimaafkan kalau kedatanganku rnengotori tempatmu. Tapi sesungguhnya aku tiada maksud demikian," kata Kalingundil pula. "Aku…" "Sudah! Jangan berbacot juga! Melangkahlah lebih dekat untuk terima hukumanmu!". Sebaliknya justru Kalingundil hentikan langkah. Diperhatikannya manusia yang berdiri jungkir balik di atas batu itu. "Melangkah lebih dekat!" bentak orang itu. Suaranya menggaung di ruangan putih sedang harimau di sampingnya menggeram tak kalah hebat. "Begawan…". Kalingundil putuskan kalimatnya. Kaki kiri manusia dihadapannya dilihatnya bergerak. Serangkum angin yang sangat deras melanda ke arah Kalingundil. Ruangan itu bergetar. Dengan jungkir balik secepat yang bisa dilakukannya Kalingundil berhasil elakkan serangan dahsyat itu! Terdengar suara gelak mengekeh. "Pantas… pantas kau berani petatang peteteng datang ke sini untuk bikin kotor tempatku. Rupanya kau memiliki ilmu yang diandalkan juga! Aku mau lihat apakah kau juga sanggup mempertahankan diri dengan jurus kaki selaksa baja ini?!". Kepala yang di atas batu itu berputar. Kedua kaki bergerak. Tahu kalau dirinya hendak diserang lagi dengan tendangan jarak jauh yang lebih dahsyat dari tadi, Kalingundil cepat mendahului berseru. "Begawan! Tahan! Aku datang membawa kabar untukmu!". Oleh ucapan yang lantang ini maka orang. itu hentikan maksudnya untuk kirimkan serangan: "Aku tidak kenal padamu! Kabar apa yang kau bawa?! Cepat katakan!" hardiknya. Dia masih juga berdiri, dengan kepala ke bawah kaki ke atas seperti tadi. "Kabar ini kabar buruk Begawan…" "Sialan! Buruk atau baik cepat katakan! Jangan habiskan, kesabaranku monyet alas!" Kalingundil pada dasarnya sangat tidak senang mendengar kata-kata makian seperti itu. Namun dia menjawab juga. "Sobat kentalmu Mahesa Birawa menemui kematiannya di tangan seorang manusia keparat…" Tubuh di atas batu kelihatan bergerak dan tahu-tahu manusia itu kini sudah tegak dengan kedua kakinya di atas batu. Maka kini kelihatannya parasnya yang sejak tadi tertutup oleh geraian janggut putih panjang. Kulit mukanya sangat pucat seperti tiada berdarah. Pipinya cekung dan rongga matanya lebih cekung lagi membuat wajahnya angker sekali untuk dipandang. Rambutnya putih panjang sampai ke bahu sedang janggutnya menjulai sampai ke perut. Kalingundil menjura memberi hormat. "Jadi betul saat ini aku berhadapan dengan Begawan Sitaraga..?" tanyanya. Si muka pucat. tidak ambil perduli pertanyaan itu. "Siapa yang bunuh dia dan dari mana kau bisa tahu?!" Kalingundil segera buka mulut berikan keterangan. "Mahesa Birawa dan beberapa orang Adipati memimpin sejumlah batatentara untuk memerangi Pajajaran. Tapi mereka kalah. Semua Adipati menemui ajalnya. Mahesa Birawa sendiri tewas di tangan seorang pemuda sakti " Maka kelihatanlah kerutan-kerutan muncul di paras Begawan Sitaraga yang membuat parasnya menjadi tambah angker. Kedua matanya menyipit, pandangannya setajam mata pedang! Rencana untuk memerangi Pajajaran memang dia sudah tahu lama bahkan sebagaimana perundingannya dengan Mahesa Birawa, dia sendiri telah menjanjikan akan turun tangan membantu pemberontakan Mahesa Birawa karena memang sejak lama dia mempunyai dendam kesumat dengan keluarga istana Pajajaran! Di puncak Gunung Halimun dia hanya menunggu kabar dari Mahesa Birawa kapan penyerangan dilakukan. Tapi hari ini datang seseorang yang membawa kabar bahwa pemberontakan gagal dan Mahesa Birawa sendiri menemui kematian! Tehtu saja ini tak bisa dipercayainya. "Aku tidak percaya pada kau punya bicara, manusia tangan buntung!" bentak Begawan Sitaraga. "Demi apapun aku berani sumpah bahwa aku tidak dusta, Begawan" jawab Kalingundil dengan suara merendah meskipun hatinya gusar karena dipanggil dengan nama "manusia tangan buntung" itu. "Namamu siapa…" "Kalingundil". "Punya hubungan apa kau dengan Mahesa B irawa?". "Dia adalah pemimpin dan sobat kentalku sejak tahunan, Begawan…" "Baik! Tapi aku tidak tahu apa itu betul atau tidak. Jawab pertanyaanku untuk membuktikan kebenaran keteranganmu! Siapa nama Mahesa Birawa sebenarnya…?". Kalingundil tertawa. "Kau keliwat tidak percaya pada pihak sendiri, Begawan…". "Siapa akui kau pihakku…? Tampangmu yang jelek inipun baru kali ini aku lihat!". Kalingundil menggerutu dalam hati. "Ayo jawab pertanyaanku! Siapa nama asli Mahesa Birawa?!". "Suranyali!" jawab Kalingundil. "Hem…" Sitaraga merenung, "Mahesa Birawa seorang berkepandaian tinggi. Tidak semudah itu untuk merenggut nyawanya…" "Di luar langit ada langit lagi Begawan! Kesaktian pemuda tandingannya melebihi kesaktiannya…". Begawan Sitaraga kerutkan kening. Dan Kalingundil teruskan ucapannya. "Aku sendiri pernah menghadapinya. Masih untung cuma tanganku yang dimintanya, bukan nyawaku!" "Ho-o… jadi maksudmu datang ke sini untuk mengadu dan merengek macam anak kecil agar aku turun tangan…?". Merah muka Kalingundil. "Itu adalah terserah padamu Begawan. Sebagai sobat dan bekas pemimpinku, aku telah cari pemuda yang membunuh Mahesa Birawa. Namun dia lebih tinggi ilmu silatnya dan lebih tinggi…". "Siapa nama bangsat itu?!" tanya Sitaraga pula. "Wiro Sableng. Tapi dia lebih dikenal dengan julukan Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212…" Mendengar ini maka terkejutlah Begawan Sitaraga. "Kau bilang dia bergelar Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212…?". "Ya…" "Kalau begitu dia adalah nenek-nenek keriput si Sinto Gendeng!". "Tidak… dia adalah seorang pemuda. Masih sangat muda, bahkan tampangnya macam anakanak, berambut gondrong dan berotak miring sinting!" Sitaraga merenung lagi. Kemudian desisnya: "Kalau begitu mungkin sekali dia adalah murid nenek-nenek itu yang diam di puncak Gunung Gede. Tapi setahuku Sinto Gendeng tidak punya murid sejak puluhan tahun berselang…" Sitaraga tarik nafas dalam. "Kalau betul dia murid Sinto Gendeng, tidak salah Mahesa Birawa dipecundangi…" Sitaraga memandang jauh ke muka seperti pandangannya itu mau menembus dinding putih di belakang Kalingundil. Melihat ini maka Kalingundil mulai masukkan jarum hasutannya. "Sewaktu aku bertempur dengan dia di Rawasumpang aku beri peringatan bahwa kelak sobat-sobat Mahesa Birawa yang terdiri dari tokoh-tokoh silat utama akan turun tangan untuk menuntut balas. Dan Wiro Sableng mengumbar bahwa terhadap siapapun dia tidak takut! Bahkan dia menantang untuk bikin perhitungan di puncak Gunung Tangkuban Perahu pada hari tigabelas bulan duabelas nanti!". Mata Begawan Sitaraga menyipit lagi. "Pongah betul," desisnya. "Rupanya sudah kepingin cepat-cepat merasakan gelapnya liang kubur! Sudah cepat-cepat ingin minggat ke neraka!". "Betul Begawan. Bukan saja kepongahannya itu yang menyakitkan hati, tapi tantangannya itu adalah juga sangat menghina dan tiada memandang sebelah matapun terhadap tokoh- tokoh silat utama macam Begawan….". Sitaraga manggut-manggut. "Manusia- manusia macam begitu musti dilenyapkan dengan lekas. Kalau tidak akan menjadi biang runyam golongan dan aliran kita…." Hati Kalingundil menjadi gembira karena tahu hasutannya sudah menyamaki dan mengobari dendam serta amarah Begawan itu. "Tantangan itu…," kata Kalingundil pula meneruskan hasutannya, "sekaligus menghina terhadap guru Mahesa Birawa yang diam di Gunung Lawu… Aku bermaksud untuk menemuinya dan meminta langkah-langkah yang segera akan kita laksanakan". "Kalau cuma untuk memecahkan batok kepala pemuda sedeng itu, aku sendiripun menyanggupinya!" "Betul Begawan. Tapi untuk tidak mengecewa kan guru Mahesa Birawa di kemudian hari, ada baiknya kematian muridnya itu diberi tahu…" "ltu urusanmu," jawab Sitaraga. Matanya. memandang tepat-tepat ke pinggang Kalingundil. Sesungguhnya sejak tadi matanya itu memperhatikan secara diam-diam ke pinggang Kalingundil. "Coba aku mau lihat apa yang kau simpan di balik pinggangmu," katanya tiba-tiba. Kalingundil kaget sekali. Dia melirik ke pinggangnya. Dia telah menyimpan senjatanya baikbaik namun mata Sitaraga yang tajam masih sanggup mengetahuinya. "Ah, tidak apa-apa Begawan. Cuma…" "Cuma apa?!" Sitaraga pelototkan mata. "Cuma sebilah pedang buruk…" sahut Kalingundil. "Keluarkan!" "Begawan…." "Jangan banyak bicara. Keluarkan!" Kalau bukan berhadapan dengan Begawan Sitaraga dan kalau tidak mengingat kepada rencana besarnya, maka pastilah saat itu Kalingundil akan beset mulut manusia yang dihadapannya itu. Dia memang mengharapkan bantuan Sitaraga tapi kalau dirinya dianggap remeh terus menerus dan dihina dimaki serta dibentak, siapa yang bisa sabarkan diri?! . "Kau membangkang Kalingundil?!" Penasaran sekali Kalingundil cabut Pedang Siluman buntungnya. Maka sinar birupun memancarlah di ruangan putih itu. Begawan Sitaraga terkejut. "Pedang Siluman Biru..," desisnya. Dia di samping terkejut juga heran melihat pedang sakti itu kini hanya merupakan sebuah puntungan belaka. "Dari mana kau dapat senjata itu? Bagaimana bisa buntung? Apakah kau muridnya Siluman Biru?!" Kalingundil menyeringai mendengar pertanyaan-pertanyaan menyerocos itu. "Itu semua adalah urusanku Begawan. Yang penting hari ini kita telah berjumpa dan kau telah mengetahui nasib Mahesa Birawa. Sampai bertemu di puncak Gunung Tangkuban Perahu!". Kalingundil berkelebat ke arah tangga. "Tunggu!" teriak Sitaraga. Tapi Kalingundil tak mau ambil perduli. Maka marahlah Begawan Sitaraga. "Kalau tidak memikir kau bekas anak buah Mahesa Birawa, sudah terlalu pantas aku minta nyawamu, Kalingundil! Tapi saat ini cukup kau tinggalkan saja salah satu dari daun telingamu!" Sebuah senjata rahasia melesat ke arah telinga kanan Kalingundil. Laki-laki ini segera lambaikan tangan kirinya. Tapi celaka senjata rahasia itu tak sanggup dibuat mental dengan pukulan tenaga dalam! Terpaksa Kalingundil cabut pedang saktinya kembali. Namun gerakan ini tentu saja sudah terlambat! Kalingundil mengeluh kesakitan. Darah membasahi pipi dan bahu pakaiannya. Daun telinganya sebelah kanan terbabat buntung oleh senjata rahasia Sitaraga! Kalau tidak mengingat-ingat akan rencana pembalasan dendamnya, maulah Kalingundil menyerang Begawan itu dengan kalap, lebih-lebih ketika didengarnya kekehandak Sitaraga yang menusuk liang telinganya! Dalam waktu yang singkat Kalingundil sudah berada di luar Kawah Gunung Halimun. Dibersihkannya darah yang membasahi pipi kemudian dengan sehelai kain dibalutnya kepalanya tepat pada batasan telinga yang buntung. Kemudian diambilnya sebuah pil lalu ditelan untuk menolak racun senjata rahasia Sitaraga itu. Di dasar kawah Gunung Halimun, tak lama sesudah Kalingundil lenyap, kembali Sitaraga merenung. Siapa Kalingundil sebenarnya masih agak samar baginya. Tapi itu tidak begitu penting. Yang menjadi tanda tanya besar ialah siapa itu pemuda yang bergelar Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212? Apa betul murid Sinto Gendeng? Kalau Kalingundil telah menghadapinya dengan Pedang Siluman dan berhasil dikalahkan oleh si pemuda, maka sudah dapat dijajaki oleh Sitaraga sampai di mana ketinggian ilmu pendekar 212 itu! Ini membuat dia ingin lekas-lekas berhadapan dengan sang pendekar muda. Namun dia musti menunggu beberapa bulan di muka sampai saat yang ditentukan yaitu hari tigabelas bulan duabelas! *** SIAPA penduduk desa bukit tunggul yang tidak tahu dengan Asih Permani. Tanyakan pada yang tua-tua, mereka akan tahu, tanyakan pada yang muda-muda mereka akan lebih dari tahu. Tanyakan pada anak-anak kecil yang mengangon bebek atau menggembala kerbau, mereka juga akan tahu. Jika.ditanyakan bagaimana paras Asih Permani maka semua mulut akan memuji. Semua mulut akan mengatakan: Asih Permani gadis yang tercantik se-Bukit Tunggul. Mukanya bujur telur. Hidungnya kecil mancung bak daun tunggal. Bibirnya seperti delima merekah, merah dan segar. Matanya bening bercahaya laksana bintang di angkasa raya. Dagunya seperti lebah bergantung, leher jenjang dan suaranya halus merdu, serasa digelitik liang telinga jika kita mendengar suara Asih Permani. Dan keseluruhan tubuhnya yang montok padat itu dibungkus oleh kulit yang halus mulus. Asih Permani memang cantik seperti perbandingan di atas. Kawannya sesama gadis di desa Bukit Tunggul banyak yang merasa iri dengan kecantikan yang dimiliki gadis itu. Pemuda-pemuda banyak yang tergila. Tapi semua mereka bertepuk sebelah tangan. Karena pada bulan di muka, tepat di waktu bulan rembulan empat belas hari. Asih Permani akan dinikahkan dengan Ranggasastra, anak lurah Bukit Tunggul. Memang di samping kaya raya, banyak harta dan sawah berlimpah kerbau berkandang, maka Ranggasastra cocok dan pantas menjadi suami Asih Permani. Pemuda ini gagah. Badannya tegap, hatinya polos dan ramah kepada setiap orang. Sehingga kalau bersanding dengan Asih Permani di pelaminan nanti tentulah tak ubahnya seperti pinang dibelah dua! Semakin lama, semakin dekat juga hari pernikahan itu. Tentu sama dapat dibayangkan bagaimana perasaan kedua calon pengantin itu menjelang hari perkawinan mereka. Hari yang bersejarah dan tak dilupakan seumur hidup mereka. Hari di mana mereka akan sama-sama membuka suatu "rahasia kebahagiaan hidup". Saat itu Ranggasastra tengah duduk-duduk di depan rumahnya memandangi bintang- bintang yang bertaburan. Entah mengapa malam itu hatinya gelisah saja. Dan dia tak tahu apa sebenarnya yang digelisahkannya itu. Larut matam baru dia dapat tertidur. Tapi menjelang fajar dia tersentak. Ranggasastra adalah seorang yang pernah menuntut ilmu silat dan kesaktian pada seorang guru di pantai utara. Nalurinya menyatakan bahwa ada seseorang lain di dalam kamarnya saat itu. Dibukanya kedua kelopak matanya. Dia terkejut melihat sesosok tubuh manusia sangat kate berdiri dekat tempat tidur. Manusia ini berkepala botak sudah licin berkilat ditimpa kelap-kelip sinar lampu pelita dalam kamar. Manusia kate ini memiliki hidung yang sangat besar. Hidungnya yang besar itu seperti mau menutupi mukanya yang kecil. Ketika dia menyeringai dan mengeluarkan suara mendesau, maka kelihatanlah giginya yang cuma satu di sebelah atas. Ranggasastra segera melompat dari tempat tidur. "Manusia kate! Siapa kau?!" bentak si pemuda. Matanya meneliti manusia dihadapannya dengan tajam. Dan meskipun cahaya lampu minyak di dalam kamar tidak begitu terang, namun Ranggasastra dapat melihat bahwa manusia kate itu mempunyai telapak kaki yang lebar dan besar sekali. Tapak kaki itu sampai sebatas mata kaki sama sekali tidak merupakan tapak kaki manusia, tapi seperti kaki seekor gajah! "He… he… he…". Manusia kate berkaki besar tertawa berkemik. "Kau manusianya yang bernama Ranggasastra, yang bakal jadi penganten minggu depan…?!". Tentu saja apa yang ditanyakan manusia itu, mengejutkan Ranggasastra. "Itu bukan urusanmu! Jawab dulu siapa kau!" "He… he… he…". Tamu tak diundang itu mengekeh lagi. "Maksudmu untuk menjadi penganten, untuk menjadi suami Asih Permani tidak akan kesampaian Ranggasastra…!". "Manusia kate, jangan ngaco pagi-pagi buta!," bentak Ranggasastra dengan marah. "Keluar dari kamarku!". Pemuda itu kepalkan tinjunya. "Kau tak akan pernah menjamah tubuh Asih Permani, anak muda. Karena mulai detik ini ke atas, dia adalah milikku dan akan kubawa ke mana aku suka, akan kuperbuat apa aku senang!". Manusia kate ini mengekeh lagi. "Kalau kau mau mengigau, pergilah mengigau di liang kubur!". Habis berkata demikian Ranggasastra menerjang ke muka. Tinju kanannya menderu! Tapi dia hanya memukul tempat kosong. Hampir tak terlihat oleh matanya, manusia kate itu telah berkelebat dan lenyap dari pemandangannya! Tinggal seorang diri di dalam kamar Ranggasastra merasa seperti orang yang tertidur dan tersentak oleh mimpi. Digosok- gosoknya kedua matanya dengan telapak tangan berulang kali. Tidak, dia tidak mimpi! Dia yakin betul bahwa dia tidak mimpi! Dan ketika dia memandang ke lantai kamar yang terbuat dari papan, maka pada lantai itu jelas dilihatnya bekas-bekas telapak kaki manusia kate tadi. Ketika ingat akan ucapan-ucapan orang kate berkepala sulah tadi maka khawatirlah Ranggasastra. Segera dijangkaunya tongkat besi berujung runcing yang tersisip di dinding. Senjata ini adalah pemberian gurunya. Tanpa menunggu lebih lama, pemuda ini segera tinggalkan rumahnya menuju ke desa sebelah timur di mana terletak rumah orang tua Asih Permani. Sepuluh tombak akan sampai ke halaman muka rumah gadis calon isterinya, mendadak Ranggasastra melihat sesosok tubuh melompat keluar dari jendela samping rumah! Sosok tubuh ini tak lain dari manusia kate yang telah mendatanginya tadi. Dan pada bahu manusia itu kelihatan sosok tubuh seorang perempuan. Meskipun halaman samping gelap tapi Ranggasastra tahu betul, perempuan yang dipanggul itu adalah calon isterinya. Asih Permani! "Bangsat rendah! Pencuri busak! Lepaskan perempuan itu!," bentak Ranggasastra. Si kate kepala sulah tertawa dingin. "Sekali aku bilang bahwa gadis ini jadi milikku, tak satu manusia lainpun yang bisa menghalanginya!". "Kalau begitu terpaksa kukermus kepalamu!". Maka tongkat besi di tangan Ranggasastra menderu ke kepala si kate. Gesit sekali yang diserang melompat ke samping. Ranggasastra susul dengan satu tusukan ke dada kiri. Namun dengan kecepatan yang luar biasa orang kate itu gerakkan kaki kanannya! Tendangan yang keras menghajar tangan kanan si pemuda. Besi panjangnya lepas. Tangannya hancur dan jeritan kesakitan keluar dari mulut Ranggasastra. Pemuda ini terhuyung sebentar lalu mental sampai beberapa tombak ketika tendangan lawan terus menyerempet perutnya! Perut si pemuda robek besar. Tubuhnya menggeletak tanpa nyawa. Si kate tertawa buruk. "Maling hina dina!! Nyawamu di ujung golokku!" teriak seseorang yang melompat dari dalam rumah lewat jendela. Si kate berkepala botak cepat putar badan pada saat sebuah golok berkiblat memapasi batok kepalanya! "He… he… Kau juga inginkan mampus Ki Lurah!" ujar si kate. Manusia yang menyerangnya itu adalah Tanuwira, ayah Asih Permani. "Kau yang akan mampus lebih dahulu manusia laknat!". Golok Tanuwira berkelebat lagi. Tapi si kate sungguh luar biasa. Serangan itu dihadapinya dengan tertawa tawar. Sekali dia gerakkan kaki kanannya maka hancurlah dada Ki Lurah Tanuwira. Si kate tertawa mengekeh. "Calon mantu dan calon mertua sama-sama bernasib sial! Kasihan…". Dihirupnya udara segar menjelang pagi itu sejurus lenyaplah dia dari tempat itu. *** KETIKA dia sampai kepertapaannya di puncak Gunung Lawu maka terkejutlah manusia kate berkepala botak itu sewaktu melihat ada seorang bertangan buntung yang tak dikenalnya berdiri dekat pintu. Orang yang bertangan buntung agaknya juga terkejut melihat kedatangan si kepala botak yang membawa seorang gadis cantik di pundak kirinya. Tapi dia cepat-cepat menjura. "Pastilah saat ini aku berhadapan dengan tokoh silat terkemuka yang bernama Tapak Gajah…" Laki-laki kate yang memang bernama Tapak Gajah turunkan tubuh Asih Permani dari pundaknya. Matanya meneliti tajam orang di hadapannya lalu bertanya: "Kau sendiri siapa? Apakah datang kesini membawa maksud baik atau buruk?". Sambil bertanya demikian Tapak Gajah memperhatikan telinga kanan tamunya yang juga buntung tiada berdaun. "Namaku Kalingundil. Aku datang dengan maksud baik, tapi membawa berita buruk". "Aku tidak kenal padamu sebelumnya. Berita buruk apakah yang kau bawa…?" tanya Tapak Gajah. Maka Kalingundil segera mulai pasang jarum penghasutnya. "Pembunuhan atas diri seorang murid adalah satu hal yang pahit bagi gurunya! Begitu pahit sehingga menanamkan dendam kesumat…". "Jangan bicara berbelit!," potong Tapak Gajah. "Katakan langsung berita buruk itu!" "Muridmu dibunuh orang, Tapak Gajah…" Berubahlah paras si tubuh kate kepala sulah. Sedang Kalingundil saat itu melirik memperhatikan Asih Permani yang berdiri tak bergerak, "Pastilah tubuhnya ditotok", pikir Kalingundil dan dalam hatinya dia bertanya- tanya: "Siapa gerangan gadis cantik ini…". Sesak nafas Kalingundil melihat kejelitaan Asih Permani. "Aku mempunyai beberapa orang murid yang telah turun ke dalam rimba persilatan. Murid yang mana yang kau maksudkan?!" tanya Tapak Gajah. Kalingundil memalingkan mukanya kepada laki-laki itu kembali. "Mahesa Birawa…" "Aku tak punya murid bernama Mahesa Birawa!" berkata Tapak Gajah. Kalingundil kaget. Dia berpikir-pikir seketika. Kemudian dia ingat. "Maksudku muridmu Suranyali…" Sekali lagi berubah paras Tapak Gajah. Di hatinya timbul kesyakwasangkaan. "Apakah kau bicara, ngelantur atau bagaimana…?". "Demi setan dan iblis aku tidak bicara dusta, Tapak Gajah!". "Suranyali bukan manusia sembarangan. Ilmu kesaktiannya tinggi!" "Tapi manusia yang membunuhnya lebih sakti lagi!". "Siapa ?!" "Pendekar 212….". Tapak Gajah merenung. Kedua tangannya terkepal. "Kau dusta Pendekar 212 Sinto Gendeng sudah sejak puluhan tahun lenyapkan diri dari dunia persilatan!". "Tapi…." "Tutup mulut! Terima hukuman dariku bangsat bermulut bohong!". Tapak Gadjah hantamkan kaki tangannya ke muka. "Wutt !" Angin sedahsyat badai yang ke luar dari tendangan itu lebih dahulu menyerang ke arah Kalingudil sebelum tendangannya sendiri sampai ! Kalingundil tak mau ambil risiko. Dia berteriak nyaring dan lompat delapan tombak ke udara. "Byur!" Kaligundil palingkan kepala ke belakang. Tersekat rasanya tenggorokannya sewaktu melihat bagaimana angin tendangan Tapak Gadjah menghancurkan batu besar di belakangnya! Sewaktu manusia kate itu hendak lancarkan serangan kedua Kalingundi cepat berseru: "Tahan! Kita berada di pihak yang sama!" Tapak Gadjah tarik serangannya. "Apa maksudmu kita di pihak yang sama huh?" "Aku adalah bekas anak buah Suranyali sewaktu kami masih sama-sama di Jatiwalu!" "Jangan coba kelabui aku!," membentak Tapak Gadjah. "Perlu dan untung apa aku mengelabuimu!" baias membentak Kalingundil dengan beringas. "Berikan bukti bahwa muridku yang satu itu benar-benar dibunuh orang!" Kalingundil tertawa dingin. "Tidak mau percaya pada orang sepihak akan merugikan diri sendiri Tapak Luwing…" Lalu Kalingundil memberikan keterangan selengkapnya. Kini mulai kelihatan bayangan rasa percaya di paras Tapak Gadjah. Namun apa yang meragukannya ialah keterangan Kalingundil mengenai Pendekar 212 Wiro Sableng. Satu­ satunya kesimpulan bagi Tapak Gadjah ialah bahwa pemuda bernama Wiro Sableng itu adalah murid Sinto Gendeng. "Golongan hitam memang sejak dulu menaruh dendam pada itu nenek-nenek sialan…," ujar Tapak Gadjah pula. "Tapi sebelum kami bersepakat untuk menghabiskan jiwanya, dia sudah lenyapkan diri! Kini muridnya muncul dan membunuh muridku! Benarbenar laknat!" "Aku sendiri telah tantang dia di Rawasumpang demi untuk menuntut balas kematian Suranyali atau Mahesa Birawa. Tapi… itu pemuda keparat memang luar biasa tinggi ilmunya. Kalau aku kalah dalam pertempuran di Rawasumpang itu bukan suatu apa tapi ada satu hal yang benar-benar menyakiti hatiku Tapak Gadjah…" Kalingundil menunjukkan paras yang mengandung dendam. Sepasang matanya memandang lurus-lurus jauh ke muka. . "Katakan apa yang menyakiti hatimu itu!," kepingin tahu Tapak Gadjah. "Sebelum mengundurkan diri dari Rawasumpang aku bilang pada itu pemuda keparat bahwa kelak pembalasan dari guru Sunranyali akan tiba! Pemuda itu ketawa bekakakan dan berkata bahwa sekalipun ada seribu guru Suranyali, akan diterabasnya sama rata dengan tanah!" Rahang-rahang TapakGadjah mengembung. "Begitu keparat itu bilang…?" Kalingundil manggut. "Meski dia murid si Sinto Gendeng, tapi jangan merasa sudah setinggi langit kepandaiannya! Katakan di mana bangsat itu berada! Aku Tapak Gadjah akan pecahkan kepalanya!" "Kau tak perlu susah-susah mencarinya Tapak Gadjah," menjawab Kaligundil. "Bukankah tadi aku sudah katakan bahwa dia sudah umbar mulut menentangmu? Katanya dia tunggu kau pada hari tigabelas bulan duabelas di puncak Gunung Tangkuban Perahu!" "Anjing kurap betul itu manusia!". Tapak Gadjah meludah ke tanah. Dan Kalingundil berkata lagi: "Beberapa tokoh silat utama yang ditantang pendekar 212 itu juga telah kuberi tahu! Mereka sudah memastikan untuk datang ke Tangkuban Perahu guna mengkeremus si pemud !" "Seribu tokoh utama boleh datang ke sana. Namun kematian anjing kurap itu aku yang tentukan!" Kaligundil manggut-manggut. Hatinya gembira. Memang itulah yang diharapkannya. Sudah terbayang bagaimana akan berhasilnya dia purrya rencana nanti. Seorang diri dia memang tak sanggup untuk menghadapi Wiro Sableng. Tapi kalau Tapak Gadjah, Begawan Sitaraga, Wirasokananta. dan Tapak Luwing yang berkumpul jadi satu untuk membuat perhitungan, tiga Pendekar 212-pun tak bakal sanggup! "Aku gembira mendengar keputusanmu itu. Tapak Gadjah. Akupun pasti pula akan datang ke puncak Tangkuban Perahu…" Tapak Gadjah tertawa dingin. "Kalau kau punya nyali tapi punya sedikit ilmu untuk diandalkan sebaiknya tak usah datang ke sana!" Merah padam paras Kalingundil. "Sekarang aku tak ada urusan lagi dengan kau! Silakan angkat kaki dari sini!" bentak Tapak Gadjah. Kelingundil melirik pada Asih Permani. Kemudian katanya pada Tapak Gadjah: "Jangan terlalu memandang rendah terhadap sesama kawan Tapak Gadjah. Aku memang tidak dikenal dalam dunia persilatan tapi untuk menghancurkan batu besar sepertimu tadi, aku masih sanggup!". Kalingundil gerakkan tangan kanannya ke pingaang. Kemudian selarik sinar biru melesat ke arah batu besar yang terletak sekira sembilan tombak dari hadapannya. "Byur!" Batu itu hancur berkeping-keping dan bayangan Kalingundil sendiri sesudah itu lenyap dari pemandangan! Terkejutlah Tapak Gadjah! Tiada disangkanya kalau manusia bertangan buntung bertelinga sumpung itu memiliki kehebatan demikian rupa! Tapi manusia kate ini tidak berpikir lebih lama. Begitu matanya membentur paras dan tubuh Asih Permani maka lupalah dia pada Kalingundil. Segera diboyongnya gadis itu ke dalam pertapaan. Apa yang kemudian dilakukannya terhadap gadis suci itu tak seorang manusiapun yang tahu. Namun pada hari itu satu kesucian telah lenyap dirampas oleh kebejatan! –== 0O0 == — PUNCAK gunung tangkuban perahu. Hari tigabelas bulan duabelas… Angin dari utara bertiup kencang, mengalahkan tiupan angin barat yang menghembus sepoi-sepoi basah. Puncak Gunung Tangkuban Perahu diselimuti kesunyian abadi. Tapi hari itu agaknya kesunyian abadi itu akan sirna oleh kedatangan manusia-manusia pembuat per­ hitungan. Akan pupus di landa dendam kesumat orang sakti! Kawah gunung yang lebar mengepulkan tiada henti asap tipis berbau belerang. Beberapa puluh kaki dari tepi kawah berderet pohpn-pohon cemara berdaun lebat subur, menjulang tinggi dan lurus! Saat itu matahari pagi sudah naik tepat antara titik tertinggi dan titik permulaan terbitnya. Angin utara bertiup lagi dengan kencang, Daun-daun pohon cemara melambai-lambai. Dan diantara kerisikan-kerisikan geseran daun pohon-pohon cemara itu maka terdengarlah suara siulan yang mengumandangi seluruh puncak Gunung Tangkubanperahu. Suara siulan itu juga seperti mau menggelegaki kawah belerang dan menampar-nampar kabut belerang yang meliuk-liuk kepermukaan kawah. Suara siulan itu tidak teratur, tidak membawakan sebuah lagu atau tembang, nadanya tak menentu. Namun ketidakteraturan dan ketidakmenentuan itu anehnya bila didengar dengan seksama akan merupakan suatu lagu aneh bernada ajaib! Suara siulan itu membuat pendengarnya akan terkatung-katung ke dalam satu dunia khayal. Tapi di pagi yang menjelang siang itu di puncak Gunung Tangkuban Perahu itu tak satu orang pun yang ada selain manusia yang mengeluarkan suara siulan tadi. Dan siapakah manusia ini adanya? Suara siulan itu datang dari pohon cemara yang paling tinggi tanda bahwa manusianyapun berada di sana. Dan manusia ini tiada lain dari pada Wiro Sableng, si Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212! Mengapa dia sampai berada di puncak gunung itu adalah sehubungan dengan tantangan musuh lamanya Kalingundil. Namun pendekar muda itu sampai saat itu tak pernah menyangka bahwa yang bakal ditemuinya di puncak gunung itu kelak bukan hanya Kalingundil seorang tapi juga beberapa tokoh dunia persilatan yang terkenal serta sakti! Wiro terus juga bersiul-siul sambil sekali- sekali layangkan pandangannya ke seantero puncak gunung. Sepi dan suasana tenang- tenang saja. Dilayangkannya pandangan ke kaki dan lereng gunung. Juga segala sesuatunya masih diselimuti kesunyian dan ketenangan. Dua kali sepeminuman teh lewat. Telinga pendekar 212 yang tajam dan terlatih baik itu sayup-sayup mendengar suara sesuatu. Segera pemuda ini hentikan siulannya. Kepalanya diputar ke arah timur puncak gunung dari mana datangnya suara itu. Masih belum kelihatan apa-apa tapi suara yang didengarnya tambah nyaring. Beberapa ketika kemudian dari balik gundukan tanah keras tepi kawah sebelah timur kelihatan muncul kepala seseorang, menyusul dada dan badannya. Sosok tubuh manusia ini ternyata bukanlah Kalingundil karena tangannya tidak buntung! "Lain yang ditunggu, lain yang datang !" desis Wiro Sableng dalam hati. Kedua matanya terus memandang tak berkesip pada manusia yang baru datang ini. Orang ini dilihatnya memandang berkeliling agaknya mencari-cari sesuatu, mungkin mencari seseorang. Umurnya sudah lanjut. Menurut taksiran Wiro paling rendah lima puluh tahun. Meskipun tua tapi tubuhnya kekar. Pada pinggangnya kelihatan tersisip sebilah keris emas. Dari gerak geriknya yang enteng dan tenang Wiro tahu bahwa orang tua ini pastilah seorang yang menguasai ilmu silat dari tingkat tinggi. "Mungkin sekali dia diam di sekitar puncak gunung Tangkuban Perahu atau mungkin pula kedatangannya ke situ hanya satu kebetulan saja dengan hari di mana aku akan membuat perhitungan dengan Kalingundil…," demikianlah Pendekar 212 berpikir-pikir di dalam hatinya. Sementara itu si orang tua tak dikenal dilihatnya berdiri di tepi kawah memandang ke bawah lalu memutar tubuh dan menjelajahi seluruh permukaan gunung dengan sepasang matanya yang kecil tetapi tajam. Kemudian orang tua ini pada akhirnya melangkah ke arah deretan pohon-pohon cemara dan di sini duduk melepaskan lelah. Wiro maklum kini bahwa orang tua ini datang ke situ adalah mencari seseorang dan ketika orang itu tak ditemuinya dia memutuskan untuk menunggu. Karena merasa tak punya urusan dengan si orang tua. Wiro tetap saja berada di tempatnya, di atas pohon cemara tinggi. Matahari bergerak juga menuju ke puncak tertingginya. Wiro masih terus memperhatikan si orang tua. Mendadak diputarnya kepalanya ke arah selatan. Sesosok tubuh kelihatan berkelebat. Kedatangan manusia ini boleh dikatakan tidak terdengar atau tak tertangkap oleh telinga Wiro Sableng. Nyatanya kehebatan ilmu lari dan ilmu mengentengkan tubuhnya. Apa yang menarik pendekar 212 ialah bahwa manusia ini bukanlah Kalingundil yang tengah ditunggunya! Orang ini berbadan kate. Kepalanya sulah licin dan berkilat-kilat ditimpa sinar matahari. Kedua telapak kakinya bukan saja lebar tapi juga tebal seperti kaki gajah. Tiba-tiba pendekar 212 ingat akan keterangan gurunya Eyang Sinto Gendeng. Menurut gurunya itu di puncak Gunung Lawu berdiam seorang tokoh silat utama bernama Tapak Gadjah. Kehebatan Tapak Gadjah ialah telapak pada sepasang kakinya yang berbentuk kaki gajah. Jangankan manusia, batupun kalau ditendang akan hancur lebur. Dan memang pada saat itu Wiro menyaksikan sendiri bagaimana tanah gunung yang diinjak kedua kaki laki-laki itu meninggalkan bekas amblas sampai setengah dim! "Mungkin sekali manusia ini adalah Tapak Gadjah," membatin Wiro Sableng. "Tapi kenapa pula dia jauh-jauh bisa muncul di sini…?" Selagi dia membatin begitu rupa Wiro Sableng terkejut pula melihat bagaimana siorang tua? yang duduk di bawah pohon cemara tiba-tiba berdiri tegak menyambuti kedatangan simanusia kate! kedua orang itu saling pandang seketika. Sekali melompat maka si kate sudah berada dua tombak di hadapan si orang tua berkeris emas! Kembali keduanya saling pandang dan meneliti. Kemudian terdengar suara si kate membentak. "Jadi kau sudah datang duluan pendekar gila Wiro sableng?! Rupanya memang kau betul­ betul ingin mati lekas-lekas!" Kemarahan yang meluap membuat Tapak Gadjah lupa akan keterangan Kalingundil bahwa Wiro Sableng adalah seorang muda! Bukan saja siorang tua nampak terkejut dan heran, tapi Pendekar 212 di atas puncak pohon cemara jedi kernyitkan kulit kening waktu mendengar bentakan si manusia kate itu ! Sebelum si orang tua sempat bicara maka si kate sudah bertanya dengan membentak: "Mampus cara mana yang kau kehendaki Pendekar 212! Aku Tapak Gadjah segera melaksanakannya!" "Kalau betul aku berhadapan dengan Tapak Gadjah, tokoh silat terkenal dari Gunung Lawu saat ini…," menyahuti si orang tua, "maka dugaanmu meleset sekali!" Tapak Gadjah pelototkan mata. "Meleset bagaimana maksudmu?" Dan Tapak Gadjah ingat akan keterangan Kalingundil. Lalu diajukan pertanyaan: "Apakah kau bukannya Wiro Sableng si manusia geblek bergelar Pendekar 212 itu…?!" Si orang tua gelengkan kepata. "Aku adadalah Wirasokananta, Ketua Perguruan Teratai Putih di bukit Siharuharu…" "Ah… tak disangka datang dari jauh kiranya akan berjumpa dengan tokoh silat ternama," Tapak Gadjah pula ramah. Mengingat Wiasokananta adalah tokoh silat dari golongan putih dating dia sendiri dari golongan hitam maka bertanyalah Tapak Gadjah: "Gerangan apakah yang membuat Ketua Perguruan Teratai Putih sampai datang ke sini…" "Panjang ceritanya Tapak Gadjah," menyahuti si orang tua berkeris emas. "Ringkasrrya adalah untuk mencari den memenuhi undangan seorang manusia bejat bernama Wiro Sableng bergelar Pendekar 212!" "'Ah… ah… ah…! Kalau begitu kita sama-sama datang untuk maksud yang serupa. Dan pastilah mempunyai tujuan terakhir yang serupa-pula yaitu menamatkan riwayat manusia terkutuk itu. Bukankah demikin?" Meskipun heran bagaimana Tapak Gadjah bias tahu hal itu namun Wirasokananta mengangguk juga. "Maksud sama, tujuan terakhir sama tapi latar belakang tentu lain. Kalau aku boleh tanya, apakah sebabnya Ketua Perguruan Teratai Putih sampai turun tangan dan bukan menyuruh anak-anak murid Perguruan…?" "Semua murid-muridku musnah di tangan manusia laknat itu! Dua diantaranya diperkosa!" jawab Wirasokananta. Suaranya bergetar. Kemudian dituturkannyalah apa yang telah menimpa Perguruan dan murid- muridnya. Di atas pohon cemara Pendekar 212 Wiro Sableng pentang telinga buka mata tak berkesip. Penuturan Wirasokananta tentu saja sangat mengejutkannya. Semenjak turun gunung bukan saja dia tidak pernah mendengar nama Perguruan Teratai Putih, bahkan bertemu muka dengan Wirasokanantapun baru hari ini. Dan hari ini pula Ketua Perguruan itu menuturkan bahwa dia –Wiro Sableng –telah melakukan pembunuhan besar-besaran atas diri murid- murid Perguruan Teratai Putih! Ini adalah satu hal yang sama sekali tidak benar! Kalau ini bukan satu kekeliruan tentu ini adalah fitnah. Dan bila ini juga bukan fitnah, apakah yang telah menyebabkan Wirasokananta merasa yakin bahwa Pendekar 212 lah yang telah memusnahkan Perguruannya ? "Nasibmu dan nasibku rupanya tidak banyak beda Ketua Teratai Putih," terdengar suara Tapak Gadjah. "Muridku Suranyali juga kunyuk sedeng itu yang membunuh!" Kini tahulah Wiro Sableng. Tapak Gadjah rupanya adalah guru Suranyali alias Mahesa Birawa ! "Tapi muridmu cuma seorang yang mati di tangannya sedang aku keseluruhannya," menjahuti Wirasokananta. "Yang penting bukan soal jumlah. Ketua Teratai Putih. Yang penting ialah bahwa kunyuk sedeng itu seorang manusia bejat yang musti kita lenyapkan dari muka bumi ini!" Wirasokananta mengangguk. Tapak Gadjah hendak buka mulutnya kembali. Tapi batal karena saat itu sudut matanya melihat sesosok tubuh berkelebat dan tahu- tahu sudah berada di hadapan mereka. "Siapa lagi yang datang ini…?" membatin Wiro Sableng. Sedang sesat kemudian didengarnya suara Tapak Gadjah berkata sambil menjura: "Sungguh pertemuan yang tak terduga. Tokoh silat dari Gunung Halimun kenapa bisa muncul di sini…?" Orang yang baru datang tertawa lebar. Dia berpakaian kain putih. Rambutnya panjang diriap seperti perempuan, janggutnya menjela sampai ke perut. Rambut dan janggut itu berwarna putih dan melambai-lambai tertiup angin. "Kau sendiri mengapa bisa nongkrong di sini…?" balik menanya si janggut putih, dia melirik pada Wirasokananta. Tapak Gadjah mula-mula perkenalkan si janggut putih pada Wirasokananta. Ternyata si janggut putih itu adalah Begawan Sitaraga, seorang sakti dari Gunung Halimun. Setelah mendengar penuturan Tapak Gadjah yang juga sekalian menuturkan tentang Wirasokananta maka Sitaraga tarik nafas dalam dan berkata "Betul-betul tak bisa diduga kalau kedatangan kita ke sini tiga- tiganya adalah membawa maksud yang sama! Aku kenal baik dengan Mahesa Birawa. Aku telah berjanji untuk membantu perjuangannya menghancurkan Pajajaran karena memang aku tejak lama punya permusuhan dengan itu Kerajaan! Tapi nyatanya Mahesa mendahului aku! Ini kuketahui dari seorarg anak buahnya yang datang ke tempatku! Rupanya sebelum pecah perang Mahesa ada mengirim kurir. Kurir itu tertangkap peronda Pajajaran!" Kesunyian menyeling seketika. Di atas pohon camera Wiro Sableng masih tak bergerak di tempatnya. Dengan munculnya ketiga orang itu dan dengan penuturan masingmasing mereka Wiro kini bisa menjajaki bahwa ada sesuatu yang tak bares. Dan ketidak beresan ini ditimpakan kepadanya. Siapa yang menjadi dalang ketidakberesan ini tak susah untuk diterka yaitu Kalingundil ! Tapi Kalingundil sendiri ke mana mana? Yakin bahwa bukan hanya tiga orang itu saja yang bakal muncul maka Wiro memutuskan untuk menunggu. Dugaannya rnemang betul. Lewat sepeminum teh maka dari jurusan barat kelihatanlah dua soaok tubuh berlari cepat laksana angina! Yang satu bertangan buntung dan segera dikenali oleh Wiro Sableng sebagai Kalingundil adanya. Yang seorang lagi pendekar 212 lupa-lupa ingat. Tapi metihat angka 212 pada keningnya Wiro baru ingat bahwa manusia ini adalah Tapak Luwing, kepala komplotan Tiga Hitam dari Kali Comel yang tempo hari bertempur melawannya tapi kemudian dilarikan oleh Kalingundil! Begitu sampai dihadapan Tapak Gadjah, Wirasokananta dan Begawan Sitaraga keduanya segera menjura. Kalingundil memandang berkeliling. "Harap maafkan kalau kami datang agak terlambat". Dia memandang lagi berkeliling. Orang-orang yang diundangnya sudah lengkap. "Pendekar gila itu masih belum muncul!" Tapak Luwing berdehem. "Aku mempunyai firasat bahwa itu manusia tak bernyali untuk datang antarkan nyawa kemari!" "Kalau dia berani menantang, dia berani datang," menyahuti Kalingundil. "Kita tunggu saja," buka suara Begawan Sitaraga. "Dan kalaupun nanti ternyata silaknat itu tidak muncul, ke pintu nerakapun aku akan cari dia!" berkata Ketua Perguruan Teratai Putih. Gembira sekali Kalingundil mendengar katakata Wirasokananta itu. Nyatalah bagaimana dendam kesumat si orang tua terhadap Wiro Sableng. Sementara itu dari atas pohon cemara pendekar 212 Wiro Sableng memperhatikan ke bawah dengan seksama. Kini tak ada keragu- raguan lagi bahwa segala sesuatunya sampai tiga tokoh silat utama itu berada di sana adalah Kalingundil yang punya rencana. Lima orang yang akan dihadapinya. Kalingundil dan Tapak Luwing sudah bisa dijajakinya ketinggian ilmu kedua orang itu, tapi bagaimana dengan tiga orang lainnya? Sanggupkah dia menghadapi mereka berlima sekaligus? Pendekar 212 diam-diam tarik nafas dalam. Dia memandang ke langit. Matahari sudah sampai ke puncak tertingginya. Apakah dia segera unjukkan diri atau menunggu sampai saat yang dirasakannya tepat? Di saat itu di bawah didengamya suara Tapak Gadjah berkata: "Aku masih belum yakin kalau kunyuk ingusan itu benar-benar murid Sinto Gendeng. Itu nenek-nenek keriput sudah sejak lama minggat dari dunia persilatan…!" Panaslah hati Wiro Sableng mendenger gurunya, disebut demikian rupa. Tiada terasakan lagi, didorong oleh naluri yang telah membuat dia menjadi bisa maka keluarlah suara siulan dari sela bibirnya. Lima manusia di bawah pohon terkejut dan.menengadah ke atas. "Kurang ajar, rupanya kunyuk sedeng itu sudah lama mendekam di atas!," maki Kalingundil. "Pendekar gila turunlah untuk terima mampus!" teriak Wirasokananta. Pendekar 212 tertawa bergelak. "Ketua Perguruan Teratai Putih, aku kasihan pada kau! Tidak tahu bahwa kau telah kena dikelabui oleh manusia tangan buntung itu!" Kalingundil cepat membentak. "Agaknya kau memilih kematian di atas pohon itu. Wiro Sableng?! Memang pohon itu cukup tinggi untuk mempercepat roh busukmu terbang ke neraka!" Wiro tertawa lagi seperti tadi. "Biar aku paksakan dia turun !" buka mulut Tapak Luwing. Tangan kanannya bergerak. Maka tiga pisau terbang beracun melesat ke puncak pohon cemara di mana pendekar 212 herada ! *** TAPAK Luwing! Kalau merasa sudah berilmu tinggi, biar kukembalikan pisaumu!" teriak Wiro dari atas pohon. Sesaat sesudah dia berkata begitu maka menderulah angin deras. Tiga pisau terbang kembali ke bawah menyerang pemiliknya sendiri! Dua buah masih sanggup dielakkan oleh Tapak Luwing tapi yang ketiga sangat cepat sekali meleset ke arah batok kepalanya. "Awas!" seru Begawan Sitaraga. Sekali dia lambaikan tangan maka mentallah pisau itu dan Tapak Luwing yang diam-diam keluarkan. keringat dingin terlepaslah dari bahaya kematian! Wiro Sableng kini tertawa membahak. "Kau terlalu bodoh untuk ikut-ikutan datang ke mari Tapak Luwing ! Seharusnya saat ini kau cuci kaki dan pergi tidur!" Saat itu Wirasokananta tak dapat lagi menahan kesabarannya. Dengan tangan kanan dipukulnya batang pohon cemara. "Kraaak!" Pohon itu tumbang. Wiro melompat ke samping dan melayang ke bawah dengan gerakan enteng. Sambil melayang itu dia berkata: "Musuh penantang cuma satu, mengapa sekarang bisa jadi lima? Apakah kau bisa beranak, Kalingundil?" Lalu pada tiga tokoh silat utama itu Wiro berseru: "Kalian sudah tua bangka masih saja mau derigan urusan dunia dan nafsu membunuh! Apa tidak malu kena dihasut oleh kunyuk tangan buntung itu?" "Jangan banyak bacot manusia gelo! Ajalmu hanya tinggal sekejapan mata saja!" bentak Tapak Gadjah. Dia maju ke muka dan kirimkan tendangan kaki kanan di saat Pendekar 212 masih juga belum menjejakkan kaki di tanah! Angin tendangan kerasnya bukan main. Debu beterbangan. Untuk menjajaki sampai kemana kehebatan tenaga dalam lawan Wiro sengaja tidak mengelak tapi memapasi serangan tersebut dengan lancarkan pukulan "kunyuk melernpar buah". Ketika dua angin pukulan itu beradu terkejutlah Tapak Gadjah! Kedua kakinya melesak sampai tiga senti ke tanah sedang angin tendangannya yang sanggup menghancurkan batu itu buyar! Ternyata tenaga dalam Pendekar 212 tidak berada di bawahnya! Dengan membuat dua kali jungkir balik di udara, pada jungkiran yang ketiga Wiro sudah berdiri di atas kedua kakinya. Lima manusia dihadapannya segera mengurung. "Kalian kunyuk-kunyuk tua bangka apa tidak malu main keroyok begini rupa?!" Pendekar 212 masih sanggup bertanya sambil sunggingkan senyum mengejek. "Seekor anjing kurap macam kau sudah terlalu pantas untuk dijagal bersama-sama!" menyahuti Wirasokananta. "Ah, kau orang tua… Rupanya masih belum tahu kalau dikelabui orang lain! Demi kebenaran aku sama sekali tak pernah mendatangi Perguruanmu. Apa yang terjadi di Perguruanmu aku tidak tahu menahu. Itu semua adalah fitnah. Seseorang lain yang bertanggung jawab. Kurasa manusianya adalah si tangan buntung ini!," Wiro menuding ke arah Kalingundil. "Ha… ha! Bukan saatnya untuk cuci tangan pendekar gila!" seru kalingundil seraya main- mainkan pedang buntung di tangan kirinya. "Tak perlu kambing hitamkan orang lain! Tak perlu lempar batu sembunyi tangan….!" "Aku memsng tak mengambinghitamkan kau orang buntung. Tapi eoba berkaca di cermin Begawan Sitaraga, kau akan melihat bagaimana tampangmu memang persis seperti kambing!". Merah padam muka Kalingundil. Wiro tertawa mengekeh. Begawan Sitaraga yang merasa dihina segera maju ke muka. "Sobat-sobat, tak perlu bicara panjang lebar dengan orang sedeng ini! Mari kita kermus dia!". Habis berkata begitu Sitaraga gerakkan tangannya. Sinar putih yang panas dan menyilaukan menyambar ke arah muka Wiro Sableng. Begitu matanya tersambar sinar tersebut gelaplah pemandangan pendekar 212. "Celaka!" kata Wiro dalam hati. Tenaga dalamnya dialirkan ke kepala dan dia melompat cepat ke salah satu pohon cemara untuk berlindung dari serangan lawan. Tapak Gajah juga tidak berdiam diri. Tendangannya menggebubu. Pohon cemara patah dah disaat itu Wiro sudah berpindah ke tempat lain. Dengan mata masih terpejam dia putar kedua tangannya di udara. Maka menderulah angin pukulan "benteng topan melanda samudera". Meski pukulan ini hanya mempergunakan sebagian tenaga dalam karena yang sebagian masih tetap dialirkan ke muka tapi kehebatannya cukup membuat lima penyerang hindarkan diri ke samping. Ketika matanya dibuka kembali maka pemandangannya sudah terang seperti semula. Begawan Sitaraga terkejut ketika melihat kedua mata lawannya tidak menjadi buta oleh kilapan sinar cerminnya. Di lain pihak Wiro menganggap bahwa senjata yang paling berbahaya di antara penyerang-penyerangnya ialah cermin di tangan Sitaraga itu. Maka dia memutuskan untuk menghancurkan senjata itu terlebih dahulu. Namun dikurung lima begitu rupa tidak mudah bagi Wiro Sableng untuk melaksanakan niatnya. Serangan lima tawan bertubi-tubi. Setiap dia coba untuk menghancurkan senjata di tangan Sitaraga maka pedang Kalingundil atau golok Tapak Luwing atau keris emas ataupun tendangan Tapak Gajah datang pula menyerangnya, kadangkala berbarengan sekaligus! Dengan bergerak gesit, dengan lancarkan serangan­ serangan balasan, dengan hanya bertangan kosong itu, pendekar 212 cuma sanggup bertahan sampai duabelas jurus. Jurus-jurus selanjutnya dia didesak hebat Golok besar empat peregi berkali-kali membabat ke arah dada dan perutnya. Sinar biru Pedang Siluman di tangan Kalingundil tiada henti berkiblat ke sekujur tubuhnya sedang keris emas Wirosokananta laksana hujan mengirimkan tusukan-tusukan mematikan. Dan di antara itu tendangantendangan Tapak Gajah tiada terkirakan ditambah yang paling berbahaya cermin di tangan Sitaraga berkata-kali menyambar kemukanya, masih untung sanggup dialakkannya! Jurus kelima belas murid Eyang Sinto Gendeng itu terdesak ke tepi kawah. Sinar cermin menyambar kemukanya. Di saat itu pula tendangan Tapak Gajah menyeruak ke arah selangkangan. Dari atas menderu Pedang Siluman Biru, keris emas menikam ke dada dan golok besar Tapak Luwing menggebubu ke perut! "Tamatlah riwayatmu pemuda gila!" teriak Kalingundil. "Jangan lupa sampaikan salamku pada setan-setan neraka!" menimpali Wirasokananta. "Bret"! Ujung Pedang Siluman Biru menyambar lewat dada, merobek pakaian pendekar 212! "Sialan!" maki Wiro Sableng. "Memakilah sekenyangmu setan alas! Setan- setan neraka memang paling suka pada manusia-manusia tukang maki macammu!" teriak Kalingundil. Wiro Sableng kertakkan geraham. Kedua pipinya menggembung. Sedetik kemudian meledaklah bentakan yang keras, demikian kerasnya sehingga menggema sampai ke dasar kawah Gunung Tangkuban Perahu! Tubuh pendekar 212 lenyap! Serentak dengan itu terdengarlah suara siulan yang melengking-lengking. Dan di antara lengkingan siulan itu menderu suara laksana ratusan tawon, mendengung menyamaki liang telinga! Sinar putih bergulung-gulung! Lima penyerang tersurut mundur. "Kapak Naga Geni!" seru Begawan Sitaraga ketiga melihat senjata di tangan Wiro Sableng. Belum lagi habis gaung seruannya itu sudah menyusul suara jeritan setinggi langit. Satu tubuh angsrok terpelanting di tanah mandi darah, kepala terbelah dua! Korban Maut Naga Geni 212 yang pertama itu ialah Tapak Luwing! "Kurung biar rapat!" teriak Tapak Gajah. Dia melompat tinggi. Kedua kakinya menendang susul menyusul. Dua senjata lainnya menderu pula ke arah Wiro Sableng. "Ketua Perguruan Teratai Putih!" berseru pendekar 212. "Antara kau dan aku tak ada permusuhan. Sebaiknya undurkan diri saja!" "Jangan bicara melangit pemuda sedeng! Delapan arwah muridku minta roh busukmu!". Wirasokananta percepat tusukan kerisnya. Maka keris emas, Pedang Siluman Biru dan Kapak Naga Geni 212 beradu dengan mengeluarkan suara nyaring. Wirasokananta berseru kaget. Tangannya tergetar hebat dan pedas panas. Keris saktinya terlepas mental. Cepat-cepat Ketua Perguruan Teratai Putih ini melompat mundur. Kalingundil sendiri tak kalah kagetnya. Bagian yang tajam dari pedang buntungnya gompal sedang tangannya menjadi seperti kaku. Kalau tidak sinar cermin Sitaraga menyambar ke arah lawan pastilah Kapak Maut Naga Geni 212 membabat perutnya. Kalingundil keluarkan keringat dingin! Suara siulan Pendekar 212 kini sekali-sekali diselingi oleh suara tawa mengekeh! Tubuhnya hampir tak kelihatan lagi. Kapak Naga Geni mengaung mencari maut. Keempat lawan menjadi sibuk. Merasa mulai terdesak, Tapak Gadjah segera keruk saku pakaiannya. Tanpa memberi peringatan lagi tokoh silat ini segera lepaskan seratus senjata rahasia yang berupa jarum-jarum hitam ke arah Wiro Sableng. Tapi angin putaran Kapak Naga Geni yang ampuh sekaligus meluruhkan jarum- jarum beracun itu. Malahan Tapak Gajah dan kawankawan menjadi sibuk karena harus mengelakkan jarum-jarum hitam yang terdorong berbalik menyerang mereka sendiri! "He.. he.. he..," Pendekar 212 tertawa mengekeh. "Wirasokananta, untuk penghabisan kali aku kasih peringatan padamu. Mundur atau mampus dengan percuma!". Ketua Perguruan Teratai Putih menjadi bimbang. Dia membatin "Adakah seorang musuh yang sehebat ini sampai memberi dua kali peringatan kepadaku?". "Wirasokananta jangan bodoh!" teriak Kalingundil. "Manusia yang telah membunuh delapan muridmu, ape hendak kau lepaskan begitu sa… akh….." Kata-kata Kalingundil tak sampai pada ujungnya. Salah satu dari mata kapak di tangan Wiro Sableng membabat putus lengan kirinya. Tangan dan pedang buntung mental masuk kawah. Darah muncrat. Laki-laki ini terhuyung ke belakang kesakitan. Akhirnya ketika dia kehabisan darah nafasnya megap- megap dan dia jatuh menelentang di tanah tapi belum mati! Tapak Gajah dan Begawan Sitaraga tertegun seketika. Namun sesaat kemudian serentak pula keduanya menyerang sebat. Serangan ini disambut dengan siutan dan tawa mengejek oleh Wiro Sabteng. "Kalian berdua adalah tokoh-tokoh silat dari golongan hitam! Manusia-manusia macam kalian pantas menjadi umpan cacing di liang neraka!". Pendekar 212 putar kapaknya. "Buyar!" Cermin di tangan Sitaraga pecah berhamburan. Begawan itu keluarkan seruan tertahan dan memandang senjatanya yang hancur dengan rasa tak percaya. "Begawan awas!" teriak Tapak Gajah. Tapi terlambat! Kapak Maut Naga Geni 212 datangnya tiada sanggup lagi untuk dielakkan. "Crras"! Putuslah leher Begawan Sitaraga. Darah seperti air mancur muncrat ke udara. Kepala yang buntung mengelinding seperti bola terus masuk ke dalam kawah Gunung Tangkuban Perahu! Melihat kematian sobatnya ini, si kate kepala sulah Tapak Gajah menciut nyalinya! Tanpa buang waktu dia segera putar tubuh. "Eit orang kate, mau minggat ke mana?!" Wiro Sableng berseru. "Ayo berhenti!". Tapi mana Tapak Gajah mau berhenti. Malahan ini manusia tancap gas dan lari lintang pukang. Wiro menyeringai. Tangan kanannya bergerak menekan bagian dekat hulu kapak yang berbentuk kepala naga- nagaan. Maka mengaunglah 212 batang jarum putih beracun ke arah Tapak Gajah. Tapak Gajah coba melompat ke samping namun dia kurang cepat. Hampir keseluruhan jarum-jarum putih itu menembus daging tubuhnya. Tapak Gajah meraung setinggi langit! Begitu racun jarum merembas jantungnya maka tubuhnya kelojotan seketika lalu menggeletak di tanah tanpa bergerak lagi! Wirasokananta leletkan lidah melihat kehebatan pendekar; tapi diam-diam bulu tengkuknya merinding karena ngeri! Sedang ketika dia berpaling pada pendekar itu, dilihatnya Wiro Sableng berdiri sambil garuk- garuk rambutnya yang gondrong! Wiro tarik nafas dalam lalu putar tubuh dan memandang pada Wirasokananta. "Ketua Perguruan Teratai Putih," katanya. "Kenyataan yang kita tidak saksikan dengan mata kepala sendiri adalah terlalu sukar untuk dipercaya. Demikian juga dengan peristiwa di perguruanmu. Sama sekali tak ada sangkut pautnya denganku! Aku yakin manusia inilah yang jadi biang racun!". Wiro mendekati Kalingundil yang tengah megap-megap. Dari dalam sakunya dikeluarkannya sebuah pil. Dia senyum- senyum dan menimang-nimang obat itu. "Kau masih inginkan hidup Kalingundil?" tanyanya. Kalingundil diam saja. "Obat ini bisa menyembuhkan lukamu dan memunahkan racun Kapak Naga Geni yang mengalir di darahmu. Aku akan berikan kepadamu jika kau menerangkan dan mengaku bahwa kaulah yang telah membunuh delapan anak murid Perguruan Teratai Putih…". Kalingundil masih diam. "Kau tak mau hidup….. ?". Kalingundil memandang dengan matanya yang berbinar-binar pada pil di tangan Wiro. Dalam diri setiap manusia yang tengah meregang nyawa akan selalu datang harapan untuk dapat terus hidup. Demikian juga dengan Kalingundil. "Masukkan dulu pil itu ke dalam mulutku," katanya. Wiro memasukkan obat itu ke dalam mulut Kalingundil dan Kalingundil cepat-cepat menelannya. "Sekarang terangkan cepat!". Kalingundil buka mulut mengakui apa-apa yang telah diperbuatnya terhadap Perguruan Teratai Putih. Akan Wirasokananta begitu mendengar penuturan tersebut, tak dapat lagi menahan luapan amarahnya. Tanpa banyak cerita dengan kaki kanan ditendangnya Kalingundil. Demikian kerasnya sehingga tak ampun lagi tubuh Kalingundil mencelat beberapa tombak ke udara dan malang baginya tubuhnya terlempar tepat ke kawah. Masih terdengar jeritan laki-laki itu menggaung ketika tubuhnya melayang ke bawah sebelum amblas di dalam kawah belerang! Sekali lagi pendekar 212 hela nafas dalam dan berpaling pada Wirasokananta. Satu senyum terlukis di bibir pendekar muda itu. Ketua Teratai Putih belas tersenyum. "Orang muda, apakah kau betul-betul muridnya Sinto Gendeng?". "Ah…. murid siapapun aku butan menjadi soal, Ketua Perguruan Teratai Purih" menyahuti Pendekar 212. "Orang-orang mencap aku pemuda edan, sinting, gila, geblek… Kurasa memang suatu ketika kegilaan itu ada perlunya. Hanya manusia-rnanusia gila semacam kita inilah yang sanggup membunuh manusia-manusia bejat dan menghancurkan kebejatan. Coba saja kau pikir mana ada manusia waras mau membunuh sesama manusia…?". Wirasokananta tertawa. "Ucapanmu benar juga, pendekar," katanya. Wiro mendongak ke langit. "Ah, matahari sudah tinggi. Banyak urusan baru yang menunggu kita. Ketua Perguruan Teratai Putih, pertemuan kita hanya sampai di sini. Aku senang bisa berkenalan dengan kau. Semoga kita bisa jumpa lagi….". "Pendekar 212, tunggu dulu…!" seru Wirasokananta. Tapi percuma saja. Sang pendekar saat itu sudah berkelebat dan lenyap! Wirasokananta goleng-goleng kepala. "Pemuda hebat sikapnya seperti betul-betul gila tapi hatinya polos, ilmunya……. ah, aku yang sudah tua ini mungkin tak pernah bisa mencapai ilmu setinggi yang dimilikinya. Belum lagi sempat mengucapkan terima kasih, dia sudah lenyap…" Wirasokananta memandang ke dasar kawah lalu mengikuti jejak Wiro Sableng meninggalkan tempat itu.

12x Baca
Cover Premium
Fiksi

MAUT BERNYANYI DI PAJAJARAN

Di bawah terik panasnya matahari di siang bolong itu maka bertiuplah angin kencang dan gersang. Debu pasir di pedataran beterbangan ke udara, memekat tebal, menutup pemandangan beberapa saat lamanya. Suara siulan aneh yang melengking-lengking membawakan lagu tak menentu terdengar di lereng bukit di ujung pedataran. Siulan aneh ini seperti mau menerpa dan menumbangkan hembusan angin gersang yang datang dari pedataran. Tiba-tiba sekali suara siulan aneh ini terhenti! Sebagai gantinya mengumandangkan suara tertawa mengekeh di seantero bukit. Pemuda berpakaian putih yang ada di puncak bukit saat itu memandang ke samping. Sebelum jelas telinganya menangkap suara tertawa tadi sejenis cairan harum telah melesat ke arahnya. Kalau saja dia tidak cepat-cepat melompat ke belakang pastilah sebagian mukanya kena disambar cairan itu. Cairan yang tak mengenai si pemuda baju putih rambut gondrong ini menghatam pohon besar. Bukan olah-olah hebatnya semburan cairan aneh tadi itu!…. Si pemuda sendiri kejutnya bukan kepalang. Baru saja setengah harian berjalan tahutahu sudah ada orang lain yang inginkan nyawanya! Dia memandang ke arah datangnya semburan cairan aneh tadi. Baru saja dia palingkan kepala mendadak dari atas menderulah ratusan tetes cairan tadi laksana air hujan yang deras ditiup badai! Pemuda itu berseru nyaring dan hantamkan tangan kanannya ke atas. Ratusan tetes cairan itu muncrat kembali ke atas dan ratusan lagi menyibak ke samping. Daun-daun pohon tembus berlubang-lubang sedang batang-batang kayu seperti kena tusukan paku! Gelak mengekeh menggema lagi di seantero puncak bukit. Anehnya si pemuda belum juga dapat mencari dengan matanya, manusia yang telah mengeluarkan suara tertawa itu. Padahal jelas dekat sekali kedengarannya. Hatinya penasaran sekali. Sambil garuk kepala dia memandang berkeliling. Kedua matanya kemudian tertuju lekat-lekat pada sebatang pohon raksasa yang tinggi menjulang ke langit, mungkin lebih dari tiga puluh meter tingginya. Suara tertawa itu datang dari atas pohon tapi orangnya masih tak kelihatan. Mungkin tertutup oleh daun-daun pohon yang lebarlebar dan lebat. "Manusia di atas pohon!," bentak pemuda itu: "Kalau berani buka urusan, berani unjuk diri!" Sehabis berkata begitu pemuda itu pukulkan telapak tangan kanannya ke atas. Serangkum angin yang dahsyatnya laksana topan melanda pohon raksasa itu. Ranting dan cabang berpatahan. Daun-daun berguguran. Hampir sekejapan mata saja maka pohon raksasa yang menjulang ke langit itu sudah menjadi ranggas gundul! Dan di puncak batang pohon yang masih utuh kelihatanlah duduk seorang laki-laki tua berselempang kain putih. Karena tingginya pohon itu tampangnya tak kentara betul. Tapi jenggotnya yang panjang sampai ke dada dilihat jelas berkibar-kibar ditiup angin gersang dari pedataran. Pada pangkuannya ada sebuah bumbung bambu yang panjangnya sekira satu meter. Bumbung bambu seperti itu masih ada satu iagi tergantung di belakang punggungnya. Dan kedua bumbung bambu itu berisi tuak murni yang harum sekali dan lezat rasanya. Tuak itulah tadi yang telah disemburkannya kepada pemuda yang di bawah pohon! Pukulan tangan kosong si pemuda yang telah meluruhkan cabang-cabang dan daun-daun pohon mau tak mau akan membuat mental si orang tua berjanggut putih diatap pohon. Sekurangkurangnya akan membuat terluka tubuhnya di sebelah dalam. Tapi anehnya saat itu si janggut putih tetap saja duduk enak-enak berpangku kaki di puncak pohon yang gundul itu, bahkan sambil meneguk tuaknya dan tertawa-tawa, seakan-akan tak ada terjadi apa-apa! Bukan main geramnya pemuda itu. Tapi untuk bertindak gegabah dia tidak mau. Manusia tua di puncak pohon tinggi berjanggut putih dengan dua buah bumbung tuak itu pernah diceritakan oleh gurunya waktu dia masih di puncak Gunung Gede. Dia adalah seorang pendekar sakti dari empat puluh tahun yang lalu jarang memperlihatkan diri dan dia adalah golongan persilatan putih, artinya yang mempergunakan ilmu silat dan kesaktian untuk maksudmaksud baik. Tapi mengapa tadi dia telah mempergunakan tuaknya untuk menyerang adalah tidak dimengerti si pemuda rambut gondrong. "Orang tua!" seru si pemuda. Bibirnya bergetar tanda ucapannya disertai tenaga dalam agar dapat sampai ke puncak pohon raksasa yang tingginya lebih dari tiga puluh meter. "Kalau aku tidak salah lihat bukankah hari ini aku berhadapan dengan seorang tokoh terkenal di dunia persilatan yang digelari Dewa Tuak?" Orang tua di puncak pohon elus jenggotnya sebentar, teguk tuak lalu tertawa lagi macam tadi. "Orang muda! Matamu sangat tajam dapat mengenali aku yang sudah delapan puluh tahun ini! Tapi apakah kau mau terima undanganku untuk datang ke puncak pohon ini dan meneguk tuak harum dari Kahyangan bersamaku?" Begitulah. Dewa Tuak menamakan tuaknya dari "kahyangan". Memang soal rasa dan harumnya tuak itu sukar dicari tandingan. Si pemuda tersenyum. "Orang tua, kau baik sekali. Hari ini aku ada keperluan mendesak. Mungkin di lain kali aku bisa terima undanganmu…. Terima kasih atas kebaikanmu dan sungguh senang rasanya dapat kenal dengan seorang tokoh persilatan yang selama ini namanya dikenal di delapan penjuru angini" "Ah, kau keliwat memuji, orang muda," jawab Dewa Tuak pula. "Aku sudah lihat kau sejak dari ujung pedataran gersang sana. Kutunggu kau sampai kesini. Tapi sampai di hadapanku kau menolak undanganku. Mungkin tuakku ini kurang baik? Tidak harum.. .?" Si pemuda berpikir sebentar. Agaknya tak menjadi halangan kalau dia menerima undangan Dewa Tuak dan bicara-bicara dengan orang tua itu di puncak pohon. Mulutnya dikatup rapat- rapat, kedua tangan mengembang ke samping dan kedua kaki menghenjot bumi maka laksana seekor elang melayanglah pemuda itu ke puncak pohon. Puncak pohon itu selebar meja bundar luasnya. Meski tidak beranting dan bercabang serta tak berdaun lagi namun ditempat setinggi itu sejuk juga rasanya. "Aku terima undanganmu. Dewa Tuak," kata si pemuda seraya duduk disatu bagian yang menonjol bekas patahan cabang pohon. "He… he… he…," Dewa Tuak girang sekali. "Memang tak ada ruginya menerima undanganku orang muda. Tuak enak, tempat duduk bagus. Seantero daerah sini bisa kau tihat dengan jelas!" Memang ketika duduk di atas pohon itu si pemuda dapat melihat pemandangan indah sejauh mata memandang. Dewa Tuak segera ambil salah satu bumbung tuaknya dan memberikannya pada tamunya. "Kau biasa minum tuak, anak muda?". Si pemuda itu menjawab. "Pernah juga". Padahal seumur hidupnya baru hari itu dia melihat dan membual serta akan merasakan minuman yang bernama tuak itu. Disambutinya bumbung bambu itu dari tangan Dewa Tuak sementara Dewa Tuak mengambil bumbung yang satu lagi dia masih juga berpura-pura menikmati pemandangan sekelilingnya. "Ayo orang muda, silahkan minum!". Dewa Tuak memperbasakan: "Kau harus tahu, tuakku tuak murni. Kalau belum biasa nanti kau bisa mabuk atau pusing dan menggelinding dari pohon ini!" Si pemuda tertawa. Ditempelkannya bibimya ke tepi bumbung bambu. Sedikit saja tuak itu menjalari tenggorokannya maka seluruh badannya menjadi hangat, pemandangannya menjadi jernih sedang pikirannya terasa tenang! "Bagaimana rasanya?". "Tuakmu betul-betul bagus sekali, orang tua. Tak salah kalau kau namakan tuak dari kahyangan!" Dewa Tuak tertawa senang. "Kau ini datang dari mana, anak muda?". "Barusan dari Jatiwalu…". "Jatiwalu kampung jelek. Banyak rampok…," kata Dewa Tuak pula. "Dan rampoknya orang situ-situ juga" Si pemuda berpikir kalau Dewa Tuak tahu apa yang terjadi di Jatiwalu kenapa dia tidak turun tangan? Dewa Tuak agaknya maklum apa yang terpikir oleh si pemuda. Lantas dia berkata: "Aku malas dan bosan dengan urusan-urusan tengik macam begituan. Karenanya kubiarkan saja apa yang terjadi di kampung itu. Orang kampung sana agaknya tidak mau perduli dengan nasib mereka. Lebih senang ditindas. Nanti keadaan di sana akan baik sendirinya…" Dewa Tuak meneguk tuaknya kembali. Setelah diam beberapa lamanya bertanyalah si pemuda: "Dewa Tuak, apakah pohon besar ini tempat kediamanmu?" "Kenapa kau tanya begitu?" "Karena kalau betul berarti aku yang muda telah turun tangan semena-mena membuat pohon ini jadi gundul begini! Dan aku harus haturkan maaf kepadamu… !" Dewa Tuak tertawa mengekeh sampai tuaknya berlelehan di tepi mulut. "Aku senang pada pemuda macammu. Tak percuma satu tahun aku duduk di sini menunggu. Kau cocok buat jodoh muridku!" Dewa Tuak meneguk tuaknya lagi tapi sambil meneguk matanya melirik pada si pemuda. Akan tetapi si pemuda tentu saja kagetnya tiada terkira, mendengar ucapan DewaTuak itu. Mukanya merah karena jengah. Rupanya dunia ini terlalu banyak manusia-manusia aneh, pikirnya. Diteguknya sedikit lagi tuak harum dalam bumbung. Kemudian bumbung bambu itu diserahkannya kepada pemiliknya kembali. "Dahagaku sudah lepas Dewa Tuak. Tuakmu enak sekali. Aku ucapkan terima kasih dan sekarang aku minta diri untuk meneruskan perjalanan.,.." "Ah, orang muda, matahari masih belum bergeser, angin masih sejuk dan pemandangan indah masih banyak yang belum kau lihat. Kenapa musti kesusu?". Si pemuda tersenyum. "Kurasa sudah cukup. Di lain hari jika ada kesempatan aku yang muda ini pasti akan membalas undangan serta suguhan tuakmu yang enak itu…". Dewa Tuak letakkan kedua bumbung tuaknya di pungggung. Ditepuknya bahu pemuda itu. "Kau tak boleh pergi anak muda. Kau musti ketemu dulu dengan muridku. Kau berjodoh dengan dia! Mari kita turun!". Dewa Tuak menarik lengan si pemuda dan keduanya loncat turun ke tanah laksana dua ekor burung rajawali. Tapi sampai di tanah si pemuda segera lepaskan tangannya yang dipegang dengan halus. Dia menjura hormat: "Lain kali kita bertemu lagi, Dewa Tuak. Terima kasih atas suguhanmu!" Tapi baru saja si pemuda berlalu beberapa tombak, tubuhnya sudah terhenti dan tertarik ke belakang kembali. Seutas benang sutera halus telah melilit pinggangnya. Ternyata Dewa Tuaklah yang empunya benang itu dan menariknya. "Anak muda, aku sudah bilang kenapa buru- buru. Kau belum ketemu dengan muridku… Mari…" Kalau bukan berhadapan dengan Dewa Tuak mungkin si pemuda sudah keluarkan semprotan memaki. Namun saat itu dengan menahan hati berkatalah si pemuda: "Dewa tuak, kita baru saja berkenalan hari ini. Manusia bodoh dan jelek macam aku ini mana pantas dijodohkan dengan seorang murid pendekar besar macam kau! Masih banyak lain orang yang lebih pantas!" Pemuda itu hendak berlalu lagi tapi benang sutera halus itu masih juga meliliti pinggangnya. Meneliti sutera halus itu si pemuda bukan tak mampu untuk memutuskannya. Tapi dia khawatir itu akan membuat Dewa Tuak tidak bersenang hati. Sementara itu didengarnya Dewa Tuak mengeluarkan Suara suitan aneh. Sesosok bayangan ungu muncui di hadapan pemuda itu dan nyatanya adalah seorang gadis berpakaian ungu dan berpita ungu. Metihat paras gadis ini mau tak mau pemuda rambut gondrong itu tertarik juga. "Orang muda? Kau lihat sendiri. Muridku toh tidak jelek?! Bagaimana…?" Paras si pemuda jengah sekali. Gadis baju ungu lebih lagi. Ditundukkannya kepalanya sampai dagu dan dadanya hampir menempel. "Muridmu memang cantik Dewa Tuak," kata si pemuda. "Tapi tampangku yang terlalu buruk sehingga tidak cocok! Sebaiknya cari pemuda yang dia sukai sendiri. Dewa Tuak. Selamat tinggal!" Habis berkata demikian si pemuda sentil benang sutera yang melilit pinggangnya. Benang itu putus! "Pemuda geblek! Dikasih perawan malahan kabur!," maki Dewa Tuak. Dia berseru: "Hai pemuda! Tunggu dulu! Kau masih belum terangkan nama!". Orang tua ini keluarkan segulung tali rotan dan dilemparkannya ke arah pinggang pemuda yang tengah larikan diri. Si pemuda yang tahu dirinya hendak dilibat kembali pukulkan telapak tangan kanannya ke belakang. Sesiur angin kencang menderu deras, menahan lontaran tali rotan, terus menyambar ke arah si orang tua. Dewa Tuak terpaksa loncatkan diri ke atas karena maklum angin yang datang menyambar itu bukan angin biasa. Sambaran angin memberantakkan semak-belukar rendah kemudian menghantam pohon kayu besar. "Krak" Tak ampun lagi pohon raksasa itu tumbang patah dua dengan suara berisiknya hampir terdengar di seluruh lereng bukit. Dewa Tuak geleng-gelengkan kepalanya. "Sayang… sayang…," katanya. "Sayang aku tak dapatkan itu pemuda…". Ketika dia memasukkan tali rotannya ke balik pakaiannya, orang tua ini terkejut. Pada bagian pohon besar yang masih berdiri di tanah tapi akar-akarnya hampir berserabutan ke luar, kelihatan tertera tiga buah angka 212. Dewa Tuak memandang pada gadis baju ungu disampingnya lalu memandang lagi pada tiga buah angka dibatang pohon dan leletkan lidah kemudian merenung. Tiga deretan angka itu telah menggemparkan dunia persilatan pada dua puluh tahun yang lalu. Tiga deretan angka yang berarti maut bagi kaum persilatan itu golongan hitam! Apakah kini angka 212 itu telah muncui kembali?! Dunia persilatan pasti akan gempar seperti masa dua puluh tahun yang lalu! Tapi yang menjadi tanda tanya besar di kepala Dewa Tuak saat itu ialah siapa adanya pemuda gagah tadi. Apakah dia muridnya Eyang Sinto Gendeng? Kalau betul berarti munculnya kembali seorang tokoh gagah dengan gelar: "Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212…"! Dewa Tuak palingkan kepala pada anak muridnya. "Anggini! Kau telah lihat kehebatan itu pemuda. Kau musti cari dan kejar dia! Musti dapat! Kalau tidak dapat jangan kembali kepertapaan…" "Tapi guru…" "Tidak ada tapi-tapian. Anggini! Kejar pemuda itu. Kau … dengan jalan apa pun musti bisa ambil dia jadi kawan hidupmu karena dia akan menguasai dunia persilatan dalam waktu yang singkat!" Anggini si gadis baju ungu berdiri termanggu. "Tunggu apa lagi?" tanya gurunya. Gadis ini tak bisa berkata apa-apa lagi melainkan segera meninggalkan tempat itu ke jurusan lenyapnya si pemuda yang telah menerakan angka 212 pada batang pohon! – == 0O0 == - Sang surya sudah lama bergeser ke ufuk barat. Warnanya yang tadi demikian terik menyilaukan kini memudar merah kekuningan seperti tiada sanggup menahan diinya dirampas oleh kedatangan sore. Sore yang akan dirampas oleh senja dan senja yang akan bertekuk lutut di pintu malam. Jalan yang ditempuh pemuda itu semakin sukar. Berliku dan menanjak. Di kiri kanan senantiasa mengapit batu karang putih yang tiada berubah dari zaman ke zaman atas kerasnya. Mendadak dari puncak batu karang di sebelah timur melengking suara suitan aneh yang menusuk sepasang gendang- gendang telinga si pemuda. Dengan waspada pemuda ini putar kepala dan mendongak ke atas. Puncak karang itu tingginya sekira dua puluh lima tombak. Curam dan terjal sukar didaki. Tapi mata si pemuda yang tajam dapat melihat bekas cungkilan-cungkilan pada sepanjang lereng karang mulai dari bawah sampai ke atas. Cungkilan-cungkilan itu merupakan tangga penolong. Meski demikian, jangan harap manusia biasa bisa mempergunakannya. Sekali tergelincir tubuh akan amblas ke bawah, ditunggu oleh unggukan batu karang runcing! Suara suitan aneh itu terdengar lagi lebih keras dan nyaring dari yang pertama. Dan sesaat mata si pemuda berputar kembali ke puncak batu karang itu dia terkejut melihat kemunculan seorang tua bermuka brewok yang kaki kanan dan tangan kanannya buntung. Anggota badan yang buntung ini disambung dengan kayu. Pada ujung kayu dari lengan menancap sebuah benda berbentuk arit yang bergemerlap ditimpa sinar matahari di ambang sore itu! Di tangan kirinya ada sebuah tongkat biru dari besi murni. Karena puncak karang di mana manusia berewok ini berdiri tinggi sekali maka si pemuda tak dapat mengenali dengan jelas potongan muka orang ini, apalagi tertutup berewok. Hanya samar-samar bisa dilihatnya bahwa manusia ini adalah seorang tua yang bertampang angker. Melihat kepada berewok yang memenuhi mukanya keraslah hati si pemuda bahwa dia sudah dekat ketempat tujuannya. Mungkin juga sudah sampai. Dipandang tajam-tajam demikian rupa, si muka angker berewok juga memandang pada si pemuda secara tajam menyorot. Tapi sebegitu jauh tidak buka suara. Si pemuda yang menjadi tak sabar lambaikan tangan dan menjura hormat sedikit. "Orang tua, aku yang muda ini mau tanya apakah ini jalannya ke Gua Sanggreng?!". Orang yang ditanya kerutkan kening. "Bocah gondrong, apakah kau yang dijuluki Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212…?!". Pemuda yang berada di bawah batu karang terkejut sekali. Siapakah orang tua berewok bermuka angker ini? Apakah guru atau kakak seperguruannya Bergola Wungu yaitu musuh yang telah mengundangnya untuk datang ke Gua Sanggreng?. "Aku merasa tak ada orang yang menjuluk demikian, orang tua…!," menyahuti si pemuda yang tak lain dari Wiro Sableng adanya. . Si muka berewok masih memandang menyorot pada pemuda itu. Memang adalah tak dapat dipercayanya kalau pemuda ini adalah Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 karena angka 212 telah menggetarkan dunia persilatan pada dua puluh tahun yang lalu. Tapi ciriciri yang diterangkan muridnya tentang pemuda ini cocok betul. Akhirnya si berewok bersuit lagi. Kali ini suara suitannya lain dari dua kali tadi. Dan sesaat kemudian muncullah sosok tubuh berpakaian hitam. Orang ini mukanya juga berewok dan Wiro dapat mengenalinya sebagai orang yang dulu telah menantangnya yaitu Bergola Wungu! Kini dia yakin bahwa si kaki buntung itu punya sangkut-paut erat dengan Bergola Wungu. Dari bawah dilihatnya kedua orang itu bercakap-cakap sedang si buntung sekali-kali menunjuk-nunjuk dengan tongkat birunya ke arah Wiro. Tiba-tiba mengumandanglah tawa bergelak dari si kaki buntung. Daerah sekitar situ seperti dirobek oleh suara tertawanya. Sambil tertawa diketuk-ketukkannya tongkat di tangan kirinya ke atas batu karang. Batu karang itu bergetar dan bagian yang kena ketuk lebur menjadi pasir! Kemudian kedua mata orang tua buntung itu kembali memandang tajam pada Wiro Sableng. "Kalau kau bukan Pendekar 212 palsu pastilah kau muridnya si Sinto Gendeng…: Ah, kiranya kau tak ubah seperti bocah-bocah ingusan lainnya. Tak ubah seperti gurumu sendiri! Bego dan keblinger…!" "Jaga mulutmu, orang tua!," bentak Wiro marah karena gurunya dimaki. Tapi diamdiam dia juga heran kalau si muka berewok yang satu ini tahu nama gurunya. Melihat kepada umur mungkin kira-kira dia seumur dengan Eyang Sinto Gendeng. Berewok buntung itu tertawa lagi. Tongkatnya diketuk-ketukkannya lagi. "Muridku Bergola Wungu bicara terlalu hebat tentang kau. Tapi setelah berhadapan muka nyatanya kau hanya kosong melompong! Tadinya mendengar kematian tiga muridku aku ingin mengajaknya bertempur sampai seratus jurus. Hendak kupecahkan kepalanya dengan tongkat biru besi murni ini! Tapi nyatanya dia adalah seorang bocah pitit, masih pantas ngempeng! Pakai baju pun belum becus! Pendekar potongan macammu ini sekali aku ayunkan tongkat saja pasti sudah kelojotan!" Panas hati Wiro Sableng tiada terkirakan. Darah mudanya menggeru dalam pembuluhnya. "Orang tua!," serunya. "Bicaramu terlalu sombong! Apakah kau tahu bahwa semut itu sanggup mengalahkan gajah? Apakah kau juga tahu bahwa manusia itu bisa terpeleset oleh sebutir batu kecil berlumut…?!" Si berewok kaki buntung tertawa dingin. "Barangkali kau belum tahu kebalikan ucapanmu itu, orang muda! Tahukah kau bahwa semut itu sekali dipijak oleh gajah akan mejret amblas ke dalam tanah?! Tahukah kau kerikil kecil itu kalau ditendang akan mental jauh tiada daya?" Wiro Sableng keluarkan suara mendengus dari hidung. "Kadangkala manusia keliwat pintar jadi bicara terbalik-balik macam kau!," sahutnya. "Tapi tak apa… aku tak ada urusan dengan kau. Biar aku bicara dengan Bergola Wungu!". Si orang tua tertawa berkekeh. "Jangan sebut soal tak ada urusan, geblek! Muridku mati tiga orang…" "Bukan aku yang bunuh…!". "Tapi kau turut bertanggung jawab!" Menukas Bergola Wungu. "Buset!," kata Wiro."Di depan hidung gurumu kau bisa buka bacot keras Bergola! Aku sudah datang untuk menerima tantanganmu!" Bergola Wungu tertawa mengejek. "Ini bukan Gua Sanggreng, Wiro! Bukan di sini ajalmu harus kau pasrahkan!" "Keren betul kau Bergola! Manusia kalau sudah lupa nasib memang persis macam kau! Kau tahu bahwa kau dulu anak kampung Jatiwalu kentut?! Yang sekarang punya sedikit ilmu lantas jadi kepala rampok! Tapi lantas menantang aku dengan lari kepada gurunya? Kalau aku jadi kau lebih baik terjun dari atas puncak karang itu ke bawah, mampus bunuh diri!" Merah muka Bergola Wungu sampai ke telinga dan ke kuduk. Mulutnya terkatup rapat. Gerahamnya bergemeletakkan. Namun tak ada suara jawaban dari dia. Maka berkatalah si berewok tua kaki buntung. "Bocah 212, karena kau bicara begitu congkak tentu kau punya sedikit ilmu yang diandalkan. Aku yang sudah tua ingin sekali bertukar pengalaman!". Wiro Sableng tertawa-tawa. "Kau yang sebenarnya congkak orang tua! Apakah umurmu yang sudah bangkotan itu masih belum cukup puas untuk melakukan pertempuran? Tapi kalau kau berkeras hati mau iseng-iseng tukar pengalaman katamu, aku yang muda tidak keberatan…." Wiro gosok-gosokkan telapak tangannya satu sama lain "Tapi aku ingin tahu nama dan siapa kau lebih dahulu.:..". Si orang tua kembali tertawa macam tadi yang menggetarkan seantero daerah batu karang itu. "Aku adalah penghuni Gua Sanggreng yang sudah empat puluh tahun malang melintang dalam rimba persilatan! Kau dengar itu bocah? Dan kalau kau perlu tahu namaku… akulah yang bernama Bladra Wikuyana Angin Topan Dari Barat!". Tentu saja Wiro Sableng terkejut mendengar nama asli serta nama julukan si berewok kaki buntung itu karena dari gurunya dia mengenai bahwa Angin Topan Dari Barat adalah satu tokoh persilatan sakti yang memimpin sebuah perguruan di Jawa Barat, yang namanya cukup tenar tapi dicurigai adalah kaki tangan golongan hitam (golongan jahat). Namun demikian pemuda ini sama sekali tidak unjukkan paras kecut. Malah dia tertawa bergelak: "Julukanmu hebat juga, orang tua! Tapi setahuku angin itu hanyalah satu benda kosong belaka dan berbau busuk bila ke luar dari pantat!" Bladra Wikuyana bersuit marah. "Bocah setan! Kau berani kurang ajar terhadap Angin Topan Dari Barat! Terima ini…!". "Wuuuuuutt"! Tongkat birunya disapukan ke bawah! – – == 0O0 == - Angin sedahsyat topan melanda Pendekar 212. Pemuda ini balas dengan hantaman tangan ke udara mengirimkan putaran lengan yang mengandung serangkum angin puyuh! Hal yang hebat sekali terjadilah. Dua pukulan angin yang sama mengeluarkan suara mengaung itu begitu bentrokkan menimbulkan letupan udara yang kerasnya bukan kepalang. Bukit-bukit dan puncakpuncak, karang bergetar. Semak-belukar dan pohon-pohon rambas ke tanah. Pukulan angin puyuh Wiro Sableng telah membuyarkan pukulan angin topan dari tongkat Bladra Wikuyana. Namun demikian Wiro Sableng masih kena juga diterpa kipratan angin pukulan lawan sehingga sesaat tubuhnya menjadi limbung huyung! Bladra Wikuyana terbeliak kaget. Hantaman tongkat birunya tadi telah mempergunakan hampir sepertiga bagian tenaga dalamnya. Dia sudah memastikan kalau tidak mampus pastilah sekurang- kurangnya pemuda itu kelojotan muntah darah! Tapi kepastiannya itu tidak berkenyataan. Di bawahnya Wiro Sableng ditihatnya masih berdiri utuh! Maka berserulah Bladra Wikuyana: "Orang muda! Ilmumu cukup bagus untuk diandalkan! Aku tunggu kau di Perguruan Gua Sanggreng!" Habis berkata begitu manusia ini menarik lengan Bergola Wungu. Sekejapan saja guru dan murid itu lenyap dari pemandangan Wiro Sableng. Si pemuda garuk kepala. "Tongkat itu hebat sekali!," katanya dalam hati. Tapi dia tak menunggu lebih lama. Segera dia lompatkan diri ke atas puncak karang yang tingginya puluhan tombak itu. Puncak karang itu ternyata licin sekali. Kalau saja ilmu meringankan tubuhnya dari kelas rendahan pastilah kakinya akan tergelincir! Wiro memandang berkeliling mencari jejak ke mana larinya kedua orang tadi. Matanya yang tajam segera menangkap bayangan Bladra Wikuyana dan muridnya di balik karang sebelah Timur. Tanpa buang waktu Pendekar 212 segera lompat ke karang yang terdekat. Laksana seekor rajawali demikianlah dia melompat kian kemari sampai akhirnya orang yang dikejamya itu lenyap di sebuah jurang batu karang yang dalam sekali! Wiro berdiri di tepi jurang batu itu, memandang ke bawah. Untuk melompat turun tidak mungkin. Jurang itu dalamnya lebih dari seratus tombak. Berarti tidak mungkin pula Bladra Wikuyana dan Bergola Wungu lenyap turun ke jurang batu itu. Tapi tiba-tiba Wiro melihat sebuah tangga tali yang kuat di tepi jurang sebelah Selatan. Segera dia menuju ke sana dan memeriksa tangga tali itu. Dia berpikir sebentar, kemudian dengan cepat menuruni tangga tali. Bagian bawah jurang batu itu hampir merupakan pedataran batu yang sedikit sekali tetumbuhannya. Penuh waspada Pendekar 212 segera memeriksa keadaan. Tiba-tiba menggema suara suitan dari arah Utara yang dibalas pula oleh suara suitan dari arah barat. Wiro segera menuju ke Barat! Sementara itu di atas jurang, sesosok tubuh yang sudah sejak lama menguntit Wiro Sableng hentikan langkahnya dekat tangga tali, tak berani terus ikut menuruni tangga tali itu. Wiro berdiri di balik sebuah batu karang berbentuk pilar. Sekurang-kurangnya batu karang itu bisa menjadi tameng baginya dari musuh yang menyerang dengan diam-diam. Dari balik batu berbentuk pilar ini dia memandang ke muka. Tepat di antara dua batang kayu besar yang sangat rendah maka beberapa puluh tombak di mukanya dilihatnya sebuah gua besar. Kemudian didengarnya lagi suara suitan. Kali ini dari sebelah belakangnya. Suitan ini disambut oleh suitan yang menggema ke luar dari dalam gua. Pemuda ini menunggu dengan tidak sabar. Ke mana perginya kedua orang tadi? Apakah masuk ke dalam gua itu? Dan apakah gua Itu yang bernama Gua Sanggreng? Lalu apakah saat itu dia sudah berada di Perguruan Gua Sanggreng? Tiba-tiba terdengar suara suitan yang lebih hebat dari suitan-suitan tadi. Dan Wiro melihat dari mulut gua ke luar dua lusin manusia, semuanya laki-laki, ada yang berewokan ada yang tidak dan semuanya mengenakan pakaian hitam dengan ikat pinggang kain putih. Pada pinggang masing- masing tersisip sebatang tongkat biru yang sama bentuknya dengan milik Bladra Wikuyana. Keduapuluh empat orang itu membentuk dua barisan panjang mulai dari mulut gua sampai ke pelataran batu. Tak lama kemudian muncullah Bladra Wikuyana diiringi oleh Bergola Wungu. "Pendekar Kapak Naga Geni 212 tak usah sembunyi di balik pilar! Keluarlah!," seru Bladra Wikuyana. Pemuda itu segera ke luar dari balik tiang batu karang dan berdiri waspada di ujung pelataran. "Angin Topan Dari Barat! Sandiwara atau tari- tarian apakah yang akan kau pertunjukkan kepadaku?!" Bladra Wikuyana tertawa hambar. "Dasar manusia tolol! Ajal sudah di depan mata masih juga mau jadi badut! Tahukah kau bahwa siapa-siapa yang sudah masuk ke mari berarti tak ada lagi jalan keluar! Berarti mampus di sini?!". Wiro Sableng menyengir. Katanya: "Kalau begitu kalian semua di sini juga samasama ikut mampus dengan aku!". Kembali Bladra Wikuyana tertawa hambar. Ditepukkannya kedua tangannya. "Turunkan tangga tali," perintahnya. Dua orang anak murid Perguruan Gua Sanggreng segera melaksanakan tugas itu. Bladra Wikuyana berkemik. "Tangga tali telah diturunkan berarti umurmu semakin singkat. Tapi ada syarat jika kau kepingin hidup terus…" "Apa?" tanya Wiro Sableng kepingin tahu. "Berlutut minta ampun di hadapanku dan bergabung denganku!". Wiro Sableng tertawa meledak. "Muridmu Bergola Wungu menantang aku datang kemari untuk bertempur! Tahutahu kini diajak bergabung, disuruh berlutut malah! Enak betul bikin aturan…!" "Kalau begitu kau datang ke sini betul-betul untuk antarkan jiwa!" kata Bladra Wikuyana pula. Habis berkata begini dia bertepuk tangan satu kali. "Bereskan dia dengan gebrakan enam tongkat merenggut nyawa!" bentak Bladra Wikuyana dengan geram sekali. Maka enam orang muridnya segera melompat mengurung Pendekar 212 dengan tongkat di tangan. "Ketahuilah:.." kata Bladra Wikuyana pula. "Yang akan kalian hajar itu adalah seorang bocah yang mengaku bergelar Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212! Mulai!" Bladra Wikuyana bersuit keras. Keenam muridnya juga bersuit keras dan dengan serentak menyerang Wiro Sableng! Enam larik sinar biru mengambang di udara kian ke mari dalam gerakan yang sangat tak menentu, mengeluarkan suara bersiuran dan kesemuanya menyerang pendekar bertangan kosong itu. Wiro lompat ke udara dan berteriak: "Angin Topan Dari Barat! Kerapa anak muridmu yang tak ada sangkut paut dengan aku kau suruh.maju? Apa kau tidak punya nyali?!". Biadra Wikuyana menyahut dengan membentak: "Kalau kau ada urusan dengan salah seorang di sini berarti kau berurusan dengan Perguruan Gua Sanggreng…!" Saat itu keenam murid Perguruan Gua Sanggreng melompat pula ke udara dan menyerang Wiro Sableng dengan sebat. Tapi dengan pergunakan jurus: Belut Menyusup Tanah, maka Pendekar 212 yang diserang oleh mereka telah berdiri di pelataran batu kembali. Maka bentrokkanlah enam tongkat biru itu di udara! "Tolol," makl Bladra Wikuyana pada murid- murudnya: "Aku beri kesempatan tiga jurus lagi pada kalian! Kalau tak berhasil merubuhkan bangsat itu kalian musti mundur dan terima hukuman!". Ternyata gebrakan enam tongkat merebut nyawa yang dikeluarkan enam murid Perguruan Gua Sanggreng tadi tidak mampu merubuhkan Pendekar 212. Kini karena takut terima hukuman dari guru mereka, keenamnya segera putar tongkat dengan sebat dan lancarkan enam tusukan pada enam bagian tubuh Wiro Sableng! "Ciaaat!" Bentakan dahsyat menggema dan menggetarkan jurang batu itu. Bulu-bulu tengkuk anak-anak murid Perguruan Gua Sanggreng meremang, bukan saja oleh kedahsyatan bentakan tadi tapi juga menyaksikan bagaimana enam kawan mereka kini berdiri kaku tegang di tengah pelataran karena tubuh masing-masing sudah kena ditotok lawan. Sedang Pendekar 212 berdiri saat itu berdiri tenang-tenang bahkan bersiul- siul! Rasa tak percaya membuat Bladra Wikuyana buka matanya lebar-lebar. Dan hatinya merutuk. Tiba-tiba dicabutnya tongkat birunya dari pinggang dan disapukannya ke muka. Keenam tubuh muridnya berpelantingan laksana daun kering tapi sekaiigus angin topan dashyat yang keluar dari tongkat ampuh itu telah melepaskan keenamnya dari totokan! Kemudian Pemimpin atau Ketua Perguruan Gua Sanggreng itu berkata pada Bergola Wungu: "Kau majulah, pimpin semua muridku yang ada di sini! Bentuk-lingkaran pasang surut!". Mendengar ini Bergola Wungu segera melangkah ke muka seraya cabut golok panjang dan bersuit keras tiga kali berturut- turut. Maka dua puluh empat manusia berpakaian hitam-hitam dengan tongkat di tangan di bawah pimpinan Bergola Wungu yang memegang golok panjang segera membentuk dua lapis lingkaran yang disebut lingkaran pasang surut, mengurung Wiro Sableng di tengah-tengah. Gilanya, yang mau diserang malah tetap berdiri tenang-tenang, kemak kemik dan sambil bersiul-siul. Tiba- tiba Bergola Wungu bersuit nyaring. Maka berputarlah barisan lingkaran yang sebelah dalam ke kiri sedang barisan lingkaran sebelah luar berputar ke kanan. Mula-mula lambat pelahan kemudian makin lama makin kencang, makin kencang sampai tubuh kedua puluh empat. manusia berpakaian hitam itu tidak jelas iagi, hanya merupakan bayang- bayang. Debu yang menutupi pelataran menggebu ke atas dan sambil berputar-putar itu Bergola Wungu dan kawankawannya tiada henti berteriak melengking-lengking. Karena putaran dua barisan lingkaran itu makin cepat dan saling berlawanan serta diiringi lengking pekik hiruk pikuk yang memekakkan dan mengacaukan pikiran lambat laun kedua pandangan mata Pendekar 212 menjadi berkunang. Kepalanya terasa pusing. Dia tertegun beberapa jurus lamanya. Dan dua baris lingkaran itu kini kelihatan semakin menciut mendekatinya! Bergola Wungu melihat lawan muiai terpengaruh dengan bentakan lantang menyerbu dan tebaskan goloknya ke kepala lawan yang terkurung ditengah lingkaran. Serangan ini datangnya secara pengecut yaitu dari belakang! Dan Wiro Sableng dalam tertegunnya itu masih juga bersiul-siul seperti orang lupa diri! – == 0O0 == - Dia hanya merasakan datangnya sambaran angin dari arah belakang. Lalu cepat-cepat menggeser kaki ke muka, bergerak ke samping dan sambil bungkukkan diri balikkan badan! Golok panjang Bergola Wungu lewat satu setengah jengkal di atas kepalanya, mengibarkan rambutnya yang gondrong! "Dasar pengecut! Sudah main keroyok menyerang dari belakang!," bentak Wiro Sableng. Kedua tangannya bergerak ke muka untuk merampas golok lawan. Namun hampir hal itu terlaksana, tahu-tahu dua belas ujung tongkat menderu menyerang kedua lengannya. "Sialan!" maki Pendekar 212 dan terpaksa tarik pulang tangannya sambil hantamkan kaki membabat ke arah beberapa orang pengeroyok dari barisan sebelah muka. Mereka yang diserang tendangan kaki anehnya tidak melakukan sesuatu apa, tapi tiba-tiba dari belakang menyeruak kawan- kawan mereka dari barisan kedua, dan menangkis tendangan Wiro Sableng. Sejurus kemudian barisan muka kembali menyerang dengan dua belas tongkat biru mengarah pada dua belas bagian tubuh Wiro Sableng! Sementara itu dari atas laksana alap-alap golok Bergola Wungu kembati membabat! Ini lah kehebatannya lingkaran pasang surut! Ciptaan Bladra Wikuyana! Dua tahun dia melatih murid-muridnya untuk betul-betul memahami jurus tersebut. Meski belum begitu sempurna tapi hasilnya tidak mengecewakan! Sambil senyumsenyum dia berdiri menunggu saat di mana matanya akan menyaksikan tubuh Wiro Sableng terpancung belasan senjata muridnya, telinganya bakal mendengar pekik kematian pemuda itu! Tapi tiada kelihatan, Pendekar 212 terpancung meregang nyawa di tengah pelataran itu! Tiada terdengar pekik kematian Wiro Sableng! Dengan kecepatan luar biasa yang tiada terlihat oleh mata Bladra Wikuyana maka tahu-tahu Wiro Sableng sudah berada di luar serangan anakanak muridnya, berdiri dengan tenang dan kembali bersiul-siul! Sebenamya pemuda bermata tajam ini sudah dapat melihat di mana letak kelemahan barisan lingkaran pasang surut yang mengeroyoknya saat itu. Dengan merobohkan dua atau tiga orang pengeroyok dari salah satu barisan maka pastilah lingkaran pasang surut itu akan menjadi kacau balau! Bisa juga sebagian atau seluruh pengeroyoknya ditumpasnya dengan hantaman pukulan angin puyuh atau dinding angin berhembus tindih menindih! Tapi ini pemuda inginkan cara lain yang lebih disukainya sendiri. Maka berserulah Pendekar 212. "Angin Topan Dari Barat! Apakah kau pernah iihat manusia dipakai jadi senjata untuk menyerang manusia…?!" "Bocah gila! Jangan banyak bacot! Nyawamu sudah di depan hidung! Anak-anak ciutkan lingkaran dalam sepertiga jurus!," teriak Bladra Wikuyana dengan penasaran sekali. Siulan Pendekar 212 tiba-tiba lenyap berganti dengan suara tertawa aneh yang menegakkan bulu tengkuk. Tubuhnya berkelebat tak kelihatan. Dan tiba-tiba pula Bergola Wungu merasakan kedua pergelangan kakinya dicengkeram erat sekali. Dicobanya untuk meronta dan menendang tapi cengkeraman itu laksana japitan besi tak mungkin untuk di1epaskan. Sementara itu tubuhnya menjadi limbung dan terasa terangkat ke atas! Dicobanya membabatkan goloknya! Terdengar satu pekikan! Pekikan kawannya sendiri yang, kemudian roboh mandi darah! Sesudah itu Bergola Wungu tak tahu apa-apa lagi! Wiro Sableng dengan tertawanya yang aneh memegang erat-erat kedua pergelangan kaki Bergola Wungu lalu memutar tubuh manusia itu laksana kitiran! Pekik jerit serta seruan- seruan tertahan terdengar di mana-mana! Barisan lingkaran pasang surut hancur berantakan. Beberapa orang yang masih tak mau menyingkir dan terpukau oleh kedahsyatan itu terpaksa dihantam kitiran dari tubuh Bergola Wungu! Belasan anak murid Perguruan Gua Sanggreng bergeletakan di pelataran batu karang dalam keadaan tubuh luka-luka parah tanpa nyawa. Suara erangan terdengar tiada hentinya. Yang masih hidup yaitu sekira sembilan orang menyingkir jauh-jauh ke dinding batu karang. Suara tertawa Pendekar 212 berhenti. "Angin Topan Dari Barat! Ini terima bangkai muridmu!". Tubuh Bergola Wungu yang tadi dibuat menjadi kitiran untuk melabrak kawan- kawannya sendiri melesat ke arah Bladra Wikuyana. Orang tua ini lambaikan tangan kirinya dan tubuh Bergola Wungu terpelanting ke dinding samping. Tentu saja sudah tanpa nyawa lagi karena sudah sejak tadi kepalanya nyenyar macam pepaya busuk! Bau anyirnya darah yang mengantarkan regangan-regangan nyawa manusia menyesak lobang hidung. Wiro Sableng meludah ke tanah. Dan memandang pada Angin Topan Dari Barat. "Angin Topan Dari Barat! Murid-muridmu menemui kematian dengan cara yang tentu kau tidak senangi! Dan mereka mati tanpa ada sangkut-paut kesalahan apa-apa terhadapku! Kau yang tanggung-jawab semuanya kalau malaekat maut tertanya di liang kubur!" "Pemuda iblis!" bentak Bladra Wikuyana. "Tak usah banyak bacot! Terimalah kematianmu dalam tiga jurus!". Tampang manusia ini kelihatan membesi dan tambah angker. Dia melangkah ringan ke hadapan Wiro Sableng dan cabut tongkat birunya! Tiba-tiba tubuhnya berkelebat dan selarik sinar biru melanda Pendekar 212. Pemuda ini egoskan diri ke samping dengan cepat. Tapi dari samping menderu tangan kanan Bladra Wikuyana yang disambung -dengan kayu dan ujungnya mempunyai senjata berbentuk Arit! "Heyyaaa!". Pendekar 212 membentak keras. Empat dinding jurang tergetar hebat. Tubuhnya lenyap dan sambil jatuhkan diri berjongkok pemuda ini hantamkan tangannya ke muka lancarkan pukulan Kunyuk Melempar Buah! Tapi tongkat biru Bladra Wikuyana sungguh hebat! Pukulan Kunyuk Melempar Buah yang dilancarkan Pendekar 212 mempergunakan sebahagian tenaga dalamnya namun sambaran angin tongkat biru membuat angin pukulan Pendekar 212 tersibak ke samping dan menghantam dinding karang! Dinding karang itu retak-retak pecah! Kepingan-kepingan karang menghambur ke udara berpelantingan! Wiro Sableng penasaran sekali. Tenaga dalamnya dilipat- gandakan sampai tangannya tergetar hebat namun tetap pukulan Kunyuk Melempar Buah yang dilancarkannya masih sanggup disapu oleh angin tongkat biru lawan! "Edan!" maki pemuda ini dalam hati. Dia menjerit setinggi langit dan berkelebat lagi. Kini Pendekar 212 keluarkan jurus Orang Gila Mengebut Lalat! Kedua tangannya kiri kanan memukul kian kemari dan mengeluarkan angin keras laksana badai! Untuk dua jurus lamanya Bladra Wikuyana terdesak hebat bahkan kepepet ke dinding jurang sebelah Timur. Anak-anak murid Perguruan Gua Sanggreng yang ada di jurusan ini terpaksa menyingkir kecuali kalau mau mampus terkena sambaran-sambaran angin dahsyat kedua manusia sakti yang bertempur itu! Angin Topan Dari Barat mengeluh dalam hati! Puluhan tahun hidup di dunia persilatan baru hari ini menghadapi lawan yang tangguhnya bukan olah-olah! Dan gilanya lawan itu adalah anak muda hijau yang baru berumur tujuh belas tahun! Orang tua ini kertakkan gerahamnya. Dari tenggorokkannya keluar suitan kencang. Dengan serta merta permainan tongkat dan jurus-jurus silatnya berubah. Tongkat biru di tangan kirinya menderu dan mencurah taksana hujan badai, laksana menjadi ratusan banyaknya! Wiro Sableng terkejut sekali melihat keganasan serangan tawan ini! Cepat dia lompat tiga tombak ke udara. "Ho-ho! Mau kabur hah?!" bental Bladra Wikuyana. Dan segera manusia ini susul melompat. "Angin Topan Dari Barat!," seru Pendekar 212. "Antara kita sebenarnya tak ada permusuhan yang berarti…". Bladra Wikuyana tertawa buruk. "Ketika nyawa sudah di tenggorokan kau baru ribut-ribut segata permusuhan yang tak berarti! Sudah kepepet-mulai bicara rendah diri! Sebaiknya sebut nama Tuhanmu sebentar tagi roh busuk manusia yang mengaku bergelar Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 akan minggat ke neraka!" Bladra Wikuyana menyerang lagi dengan ganas membuat Wiro Sableng kembali terpaksa lompatkan diri tiga tombak ke belakang. "Kalau kau yang tua tetap berkeras kepata maka sambutlah pukulanku ini!" Bladra Wikuyana terbeliak kaget ketika melihat tangan kanan Wiro Sableng berwarna sangat putih sedang kuku-kuku jarinya memerah menyilaukan! "Pukulan Sinar Matahari!" teriaknya dengan keras. Sekaligus dia menyerukan pada murid- muridnya untuk mencari perlindungan sedang seturuh tenaga dalamnya dialirkannya ke tongkat biru! Selarik sinar putih yang menyilaukan mata melesat ke depan. Bladra Wikuyana lompat ke udara sampai tujuh tombak dan sapukan tongkatnya ke bawah! Dua angin keras beradu hebat. Bladra Wikuyana berseru keras. Tongkatnya hampir terlepas mental sedang tangan kirinya tergetar hebat! Tiada nyana tenaga dalam lawan yang muda belia itu lebih tinggi beberapa tingkat dari padanya. Dengan jungkir balik di udara jago tua ini jauhkan diri untuk atur jatan nafas serta darahnya dengan cepat! Ketika bola matanya berputar memandang berkeliling terkejutlah ia! Seluruh sisa anak muridnya yang tadi masih hidup menggeletak bergelimpangan dipelataran batu karang itu. Tubuh mereka semuanya termasuk yang sudah menemui ajal lebih dahulu di tangan Wiro Sableng mengepulkan asap dan udara dalam jurang itu kini pengap bau daging manusia yang hangus! Ketika Pendekar 212 lepaskan pukulan sinar matahari tadi. Bladra Wikuyana berhasil mengelakkannya. Angin pukulan menghantam dinding karang di sebelah tenggara. Bukan saja dinding karang itu menjadi pecah tapi juga hancur berantakan. Bagian atasnya longsor ke bawah sedang pukulan Sinar Matahari memantul dua kali berturut-turut di dinding karang. Hawa panas angin pukulan ini telah melabrak sisa- sisa anak murid Bladra Wikuyana sehingga tubuh mereka tersambar hangus dan menggeletak mati di situ juga! .Dan sementara itu di tepi jurang sebelah atas, sesosok tubuh berpakaian ungu menyaksikan apa yang terjadi di dalam jurang batu karang itu dengan mulut menganga dan mata terbeliak sedang bulu kuduk merinding…. Kembali ke dalam jurang. Air muka Bladra Wikuyana kelihatan kelam membeku. Tubuhnya laksana patung berdiri di tengah pelataran. Cambang bawuk atau berewoknya kelihatan meranggas kaku sedang sepasang matanya menjadi merah angker. "Pendekar 212!" desis Bladra Wikuyana. "Detik ini jangan harap nyawamu akan selamat…!" Tongkat birunya diacungkan ke muka lurus-lurus dan kini tongkat itu berubah menjadi hitam legam. Sinar hitam yang memancar dari senjata ampuh Itu menggidikkan sekali… "Bersiaplah untuk minggat ke neraka!" teriak Bladra Wikuyana. Serentak dengan itu menyerbulah dia ke muka. Seluruh bagian tenaga dalamnya telah mengalir ke dalam tongkat dan serangannya kini luar biasa ganasnya! Sambil menyerang itu Bladra Wikuyana tiada hentinya bersuit-suit aneh, menggetarkan telinga dan raga! Wiro Sableng begitu merasakan tekanan serangan yang hebat luar biasa segera percepat gerakannya. Namun ilmu mengentengi tubuhnya yang sudah sangat tinggi itu masih sangat terasa lamban ditindih oleh sinar pukulan Angin Hitam yang ke luar dari tongkat lawan. "Breet"! Tersirap darah Pendekar 212. Nyawanya serasa iepas! Ujung tongkat lawan telah merobek pakaiannya di bagian dada. Angin tongkat membuat tulang-tulang dadanya seperti melesak! Pendekar ini berteriak nyaring dan jungkir balik ke belakang ke luar dari kalangan pertempuran! – == 0O0 == - "Ho ho…. Mau merat ke mana?!" tanya Bladra Wikuyana. "Aku sudah bilang, sekali masuk ke sini musti lepas nyawa di sini!" Wiro Sableng tak berikan sahutan. Kalau saja ada sepuluh manusia jahat sesakti Bladra Wikuyana ini di atas jagat pastilah dunia akan tenggelam dalam kekalutan pikirnya. Ketika lawan menyerang kembali Pendekar 212 sambut dengan pukulan Benteng Topan Melanda Samudera. Untuk beberapa ketika lamanya serangan tongkat Bladra Wikuyana terbendung dan kesempatan ini dipergunakan oleh Wiro Sableng untuk melompat ke udara, menukik kembali dan lancarkan pukulan Kunyuk Melempar Buah. Dentuman yang dahsyat terdengar. Wiro terpaksa turun ke pelataran batu karang kembali karena pukulannya kena disapu aliran angin hitam tongkat lawan. Pemuda ini kepepet ke dinding jurang sebelah Timur! Pemuda ini merutuk sendiri dalam hatinya. Dalam merutuk itu tongkat lawan menyapu di atas kepalanya. Wiro lompat ke samping. Tongkat menghantam dinding karang sampai hancur berantakan! Ketika Bladra Wikuyana balikkan tubuh siap untuk menyerang kembali, langkahnya tertahan. Kedua matanya yang merah memandang tak berkedip pada senjata berbentuk kapak bermata dua yang ada di tangan lawannya. Bergidik juga Angin Topan Dari Barat melihat senjata tersebut. Dua puluh tahun yang silam dia pernah saksikan sendiri kehebatan Kapak Maut Naga Geni 212. Kini apakah sanggup dia menghadapinya?! "Angin Topan Dari Barat," Pendekar 212 buka mulut. "Baiknya kau lekas-lekas minta tobat atas kejahatanmu selama ini. Sebentar lagi tentu sudah tak keburu…. !" Angin Topan Dari Barat atau Bladra Wikuyana tindih rasa jerihnya dengan tertawa bergelak. Tahu akan kehebatan senjata di tangan lawan maka dia segera menyerang lebih dahulu! Sinar hitam bergulung-gulung ke arah Pendekar 212. Pemuda ini sambut serangan lawan dengan pergunakan jurus: Orang Gila Mengebut Lalat. Kapak Naga Geni 212 di tangannya berkelebat cepat ke kiri dan ke kanan, mengeluarkan suara berdengung macam suara ribuan tawon! Terkejutnya Bladra Wikuyana bukan kepalang ketika merasa bagaimana kini tongkat saktinya tak dapat lagi bergerak leluasa, tertindih, terbendung dan terpukul angin kapak bermata dua di tangan lawan! Bladra Wikuyana percepat permainan tongkatnya dan menyerang dengan jurus-jurus lihay mematikan. Namun tetap saja tak dapat ke luar dari tindihan senjata lawan. Dan kini sesudah bertempur di jurus yang kesembilan puluh delapan maka mulailah jago tua ini terdesak hebat! Diam-diam Bladra Wlikuyana cucurkan keringat dingin. Ditahannya sedapatdapatnya serangan senjata lawan. Satu kali tongkatnya beradu dan tak ampun ujung tongkat terbabat puntung! Bladra Wikuyana tak berani lagi bentrokan senjata! Matanya kini liar mencari kesempatan untuk kabur. Dia menggeram karena telah menyuruh murid-muridnya menurunkan tangga gantung karena tangga dari tali itulah satu-satunya jalan untuk kabur ke luar jurang batu karang! Karena pikirannya bercabang dua, satu memikir jalan untuk lari, kedua memusatkan pada serangan lawan maka pertahanan Bladra Wikuyana sering-sering melompong. Hal ini bukan tak dilihat oleh Pendekar 212, kalau saja dia mau maka sudah sejak tadi dia melabrak manusia berewok bertangan dan kaki buntung itu. Dari mulut Pendekar 212 mulai terdengar siulan membawakan lagu tak menentu! Sambil kirimkan bacokan ke pinggang, Wiro Sableng putar gagang kapak. Kedua mata kapak membuat setengah lingkaran, salah satu dari padanya memapas pergelangan tangan kanan Bladra Wikuyana yang terbuat dari kayu! Tangan palsu yang ujungnya berbentuk arit itu kutung dan lepas! Mental ke udara! Bladra Wikuyana melompat ke belakang. Mukanya pucat pasi. Dia mengerang karena aliran aneh yang berhawa panas dari senjata lawan merembes melalui kutungan tangan kayu ke dalam tubuhnya! "Cuma lengan kayumu saja. Angin Topan Dari Barat! Kenapa musti pucat macam mayat?" Wiro Sableng tertawa gelak-gelak. "Sekarang aku minta kaki kayumu!" Habis berkata begitu. Wiro Sableng bersiul dan melompat ke muka. Kapaknya membabat ke kepala Bladra Wikuyana. Jago tua ini yang tak berani lakukan bentrokan senjata cepat- cepat melompat berkelit dan lancarkan serangan balasan dengan pukulan tangan kosong yang menimbulkan angin hebat. Namun dengan Kapak Naga Geni 212 di tangan, segala pukulan tangan kosong bagaimanapun hebatnya dari manusia berewok yang bergelar Angin Topan Dari Barat itu tiada artinya lagi! Kapak Naga Geni 212 membacok ke bahu, berbalik merambas pinggang, menderu lagi ke kepala membuat tokoh silat tua dan berpengalaman luas itu menjadi sangat sibuk. Dan ketika tiba-tiba sekali senjata lawan membabat ke bawah, dia tak punya kesempatan lagi untuk mengelak! Untuk kedua kalinya mata kapak membabat anggota badannya yaitu kaki kayu Bladra Wikuyana sebelah kanan! Meski huyung- huyung tapi laki-laki ini masih sempat lompatkan diri ke luar dari kalangan pertempuran. Mukanya pucat sekali dan keningnya penuh keringat! Di dalam dadanya menggelegak rasa benci, dendam dan nafsu untuk membunuh! Dengan tahan tubuhnya pada ujung tongkat, Bladra Wikuyana pejamkan mata. Mulutnya komat kamit. "Ilmu apa yang kau mau keluarkan Angin Topan Dari Barat? Sebaiknya dengar omonganku! Aku yang muda ini masih mau kasih ampun kepada kau jika kau berjanji untuk bertobat dan hidup di jalan yang benar, tidak lagi berbuat kejahatan tapi mempergunakan iimumu buat menolong sesama manusia. Bagaimana…?!" Bladra Wikuyana buka sepasang matanya sedikit. Mulutnya berkemik mengejek. "Jangan kira kau sudah menang bocah hijau! Aku masih jauh dari kalah! Lihat mukaku bocah hijau… lihat mukaku…. " Mata Wiro Sableng menyipit. Ketika diperhatikannya tampang Bladra Wikuyana terkejutlah dia. Kepala tokoh silat itu kini rnenjadi enam dan berwarna hitam, gigi- giginya merupakan caling-caling yang mengerikan, bola-bola matanya besar sedang lidahnya panjang menjulai sampai ke dada. Dari dua belas mata yang ada di enam kepala itu memancar sinar hijau. "Ah… ilmu siluman macam begini hanya pantas untuk menakut-nakuti anak kecil!" ejek Wiro Sabteng. Disapukannya Kapak Naga Geni 212 ke muka. Angin deras membuat Bladra Wikuyana terpelanting tapi muka silumannya masih juga seperti tadi malah semakin menyeramkan. Tiba-tiba dengan menggereng keras laksana harimau terluka menerjanglah tokoh silat itu didahului oleh dua belas sinar hijau yang ke luar dari mata silumannya! "Tua bangka geblek! Dikasih ampun malah keluarkan Ilmu yang bukan-bukan!" rutuk Wiro Sableng. Ditunggunya beberapa detik. Sesaat kemudian berkiblatlah kapak mautnya dari atas ke bawah! Angin Topan Dari Barat terkapar di pelataran batu karang tanpa berkutik, juga tanpa menjerit. Kepalanya sampai ke dada terbelah dua. Darah membanjir! Tamatlah riwayat tokoh silat dari golongan hitam itu yang selama hidupnya telah menebar benih kejahatan dan mendidik manusia-manusia untuk disesatkan! Wiro Sableng garuk rambut gondrongnya dan meludah. Jijik juga dia melihat darah yang membanjir dari tubuh Bladra Wikuyana. Dipandangnya Kapak Maut Naga Geni 212 di tangan kanannya. Mata kapak itu berlumuran darah. Pemuda ini goleng-goleng kepala. "Kapak hebat… kapak hebat…." katanya. Kemudian sekali hembus saja maka noda darah pada mata kapak pun lenyaplah! Senjata sakti pemberian Eyang Sinto Gendeng itu segera dimasukkannya ke balik pinggang kembali. Selama setengah jam Wiro Sableng memasuki dan menggeledah isi Gua Sanggreng. Di sini ditemuinya banyak sekali persediaan makanan dan uang serta barang- barang perhiasan. Menurut pikiran Wiro uang serta perhiasan itu mungkin sekali hasil rampokan yang ditimbun menjadi milik Perguruan Gua Sanggreng. Wiro mengambil sejumlah uang dan perhiasan sekedar bekal di perjalanan. Kemudian pemuda ini duduk di sebuah kursi besar dan menikmati makanan yang ada di dalam gua itu. Waktu dia ke luar dari gua dilihatnya langit sudah sangat merah kekuningan tanda matahari hampir tenggelam. Pemuda ini segera mencari tangga tali. Tangga tali itu kemudian dilemparkannya pada patok runcing batu karang di tepi jurang sebelah atas dan mulailah pendekar ini menaiki anak tangga demi anak tangga menuju ke atas. Dari atas sebelum berlalu dilayangkannya pandangannya untuk terakhir kali ke dalam jurang batu. Duapuluh enam mayat bergelimpangan di mana-mana. Pemuda ini garuk dan golenggoleng kepala. Dan mulailah dia melangkah sepembawa kakinya. Malam tiba nanti entah di mana dia akan berada. Suara siulannya mengumandang di belantara batu-batu karang. Sambil terus berjalan. bernyanyilah pendekar ini: Langit merah angin silir…. Surya tenggelam di ufuk Barat…. Malam yang datang tentu dingin dan gelap…. Berjalan seorang diri memang tidak enak…. Tapi selalu diikuti orang lain juga tidak enak…. Nyanyian ini tiada menentu nadanya dan diulang-ulang sampai beberapa kali. Akhirnya disatu penurunan curam Pendekar 212 hentikan nyanyiannya dan duduk di sebuah unggukan batu. Sambil tertawa-tawa berkatalah dia: "Manusia yang ikuti aku kenapa sembunyi di belakang batu? Coba ke luar unjukkan jidat, apa betul manusia atau hantu…?" Wiro memandang pada celah batu karang yang tadi dilewatinya. Suasana hening saja. "Ah, manusia di belakang batu tentu seorang pemalu," katanya. "Biarlah aku sendiri yang lihat tampangnya!" Habis berkata begitu Wiro Sableng hantamkan tangan kanannya ke arah celah batu. Sebagian lagi terguling ke bawah. Dan dari balik batu terdengar seruan tertahan! Apa yang tidak diduga oleh Pendekar 212 ternyata bahwa penguntitnya sejak dari jurang Gua Sanggreng tadi adalah seorang gadis! – == 0O0 == - "Aha… Nyatanya seorang gadis molek! Pantas malu-malu unjukkan diri…!" kata Wiro Sableng pula dengan tertawa lebar melihat kepada pakaian ungu yang dikenakan gadis itu segera pemuda ini mengenali bahwa gadis itu adalah anak murid Dewa Tuak. "Gadis molek, ada apa kau menguntit aku sejak dari lereng bukit sampai ke jurang maut sana…?" bertanya Wiro. Anggini, si gadis baju ungu, tak memberikan jawaban. Mukanya merah karena malu dan jengah. Wiro Sableng tertawa lagi dan berkata: "Mungkin ada mengandung suatu maksud tidak baik …. " "Saudara… a…aku…" Anggini gugup sekali. Apa yang harus dikatakannya pada pemuda itu? "Apakah gurumu si Dewa Tuak itu juga ikut bersamamu saat ini? Barangkali juga kalian hendak menjebakku…?" "Saudara dengarlah…" kata Anggini pula. "Aku sebenarnya tidak mau dengan semuanya ini…" "Semuanya ini apa…?" potong Wiro Sableng. Anggini menggigit bibir. "Gurumu bersamamu?" "Tidak…." "Gurumu yang menyuruh untuk menguntit aku?" Gadis itu anggukkan kepala. "Perlu apa gurumu menyuruh demikian?" Kembali Anggini menggigit bibir. "Apa dia belum puas dengan sedikit pertempuran siang tadi…?" Anggini tetap membungkam. Ya, bagaimana dia harus mengatakan pada si pemuda bahwa gurunya menyuruhnya mengejar untuk kemudian berusaha menjadi kawan hidup pemuda itu? Bagaimana dia harus terangkan semua itu! Ingin dia menangis dan lari dari hadapan pemuda itu. Tapi kepada Dewa Tuak gadis ini takut sekali! Pendekar 212 kerutkan kening. Mendadak mukanya menjadi merah, semerah langit yang disaputi sinar sang surya yang mau tenggelam di saat itu. Dia ingat akan ucapan Dewa Tuak yang mengatakan bahwa dirinya cocok untuk jadi jodoh muridnya! Pendekar muda ini melirik pada gadis baju ungu. Anggini berparas bujur telur dan molek. Kulitnya kuning dan potongan tubuhnya sedap dipandang mata. Tapi urusan jodoh mana ini pemuda berpikir sampai di situ. Tak ada ingatannya sampai sejauh itu. Bahkan kewajiban berat yang dipikulkan gurunya ke pundaknya, hutang nyawa dendam seribu karat terhadap Suranyali alias Mahesa Birawa sampai hari ini masih belum lunas! Masih belum dilaksanakannya! Wiro Sableng berdiri dari duduknya. Dipandanginya gadis baju ungu itu seketika lalu mengumandanglah gelak tawanya. "Saudari… apakah penguntitan ini ada sangkut pautnya dengan ucapan gurumu si Dewa Tuak?" Paras Anggini semakin merah. "Tadi aku sudah bilang… sebenarnya aku tak senang dengan semua ini. Tapi guru memaksaku…" "Memaksa bagaimana?!" "Katanya aku harus mengejarmu sampai dapat. Kalau tak berhasil tak usah kembali kepertapaan. Katanya lagi aku harus… harus…" Anggini tak dapat meneruskan ucapannya. "Kurasa gurumu itu sudah sinting! Sekurang- kurangnya seperempat sinting!" Meski Anggini memang tak suka menjalankan apa yang diperintahkan Dewa Tuak namun mendengar nama gurunya dicaci demikian rupa gadis ini jadi marah. "Jangan hina guruku, saudara!" bentaknya. Wiro Sableng garuk kepala. "Ah… guru dan murid sama saja gebleknya!" kata ini pemuda. "Kalau gurumu suruh kau makan beling dan minum racun, apakah kau juga akan ikuti ucapannya itu…?!" "Guruku tidak segila itu!" bentak si gadis. "Aku memang tidak bilang gurumu gila, tapi sinting!" menukasi Wiro Sableng. "Sekali lagi kau berani menghina guruku, kutampar mulutmu!" ancam Anggini. Wiro Sableng keluarkan suara bersiul! "Gurumu memang sinting!" katanya lagi. Anggini telah menyaksikan kehebatan ilmu silat dan ketinggian kesaktian Pendekar 212 waktu terjadi pertempuran di jurang Sanggreng beberapa saat yang lalu. Dari situ dia dapat menyimpulkan bahwa gurunya sekali pun belum tentu akan dapat mengalahkan pemuda itu dengan mudah. Namun saat itu kegemasannya tak dapat ditahan lagi. Tangan kanannya bergerak cepat. Sebaliknya Wiro Sableng malah angsurkan pipi ke muka! "Plaak!" Tamparan mendarat di pipi Wiro Sableng. Pendekar muda ini tertawa. "Betapa lembutnya jari-jarimu mengelus pipiku..," katanya dengan pejamkan mata. "Ayo, tamparlah sekali lagi… dua kali lagi… tiga kali lagi… sesuka hatimulah…!" Wiro menunggu tapi tamparan berikutnya tak datang dan pemuda ini bukakan kedua matanya 'kembali. Dilihatnya Anggini berdiri dengan hidung kembang kempis menahan geram yang menyesaki dadanya. Pendekar 212 tertawa. "Kenapa tidak mau tampar?" tanyanya sinis. Karena digemasi terus-terusan Anggini jadi penasaran sekali. Segera dibukanya selendang ungu yang melilit di pinggangnya yang berpinggul besar. "Eh… saudari kau ini apa mau buka pakaian di depanku?" tanya Wiro Sableng sambil kedip-kedipkan mata dengan ceriwis. "Pemuda rendah terima selendangku ini!" bentak Anggini. Tangan kanannya bergerak. Ujung selendang berputar pelahan dan lamban ke arah kepala Wiro Sableng. Selendang terbuat dari kain yang halus. Bila benda itu bergerak lamban berarti benda itu dialiri oleh aliran tenaga halus. Dan Wiro tahu bahwa kadangkala tenaga halus lebih berbahaya daripada tenaga kasar yang di luarnya kelihatan hebat. Pemuda ini tak mau menyambuti liuk liku selendang itu. Dia menggeser kedua kaki dan menjauhkan kepalanya. Masih tertawa dia mengejek: "Saudari, tarianmu bagus sekali! Apakah ini juga dari gurumu kau pelajari?!" Dugaan Pendekar 212 memang tepat. Kalau sekiranya dia mencoba memapasi selendang yang meliuk-liuk itu maka dengan satu sentakan cepat Anggini akan menarik selendang dan melesatkan ujungnya ke mata si pemuda. Ini pun sebenarnya belum ketentuan Wiro Sableng akan kena dihajar begitu saja. Tapi demikianlah kenyataannya bahwa kadangkala ilmu halus dan lembut harus dihadapi dengan kehalusan dan kelembutan pula. Melihat si pemuda geser kaki menjauh tapi masih dengan sikap mengejek maka kini Anggini rubah permainan selendangnya. Laksana seekor naga selendang ungu itu meliuk dan mematuk kian ke mari. Dan kini barulah Wiro menghadapinya dengan kekasaran pula. "Saudari, permainan selendangmu patut dikagumi!" memuji Pendekar 212. "Tapi tak cukup pasal kalau kau sampai menyerangku begini rupa. Aku…" Ucapan Wiro Sableng terpotong oleh bentakan Anggini. "Tutup mulut pemuda ceriwis! Lihat selendang!" Ujung selendang ungu dengan sangat tiba-tiba mematuk ke arah mata kiri Wiro Sableng. Ganda tertawa pemuda ini tundukkan kepala untuk mengelak. Sejak tadi meski dia menghadapi serangan-serangan lawan dengan cara kasar tapi sesungguhnya Pendekar 212 terus-terusan mengambil sikap mengelak. Tapi pada saat Wiro Sableng mengelak, pada detik itu pula ujung selendang dengan sangat cepat turun dan melibat leher! Setengah libatan Pendekar 212 cepat-cepat pergunakan tangan kiri untuk rnengibaskan selendang ujung tapi ini tak bisa dilakukannya karena serentak dengan itu Anggini kirim satu tusukan dua ujung jari tangan kiri ke dada kiri Wiro Sableng. Hebat sekali serangan ini sehingga kalau dilihat dari atas maka serentakan dengan serangan selendangnya tadi, maka sepasang serangan Anggini tak ubahnya seperti sebuah gunting besar yang hendak menggerus tubuh dan leher si pemuda! "Ah… ah… bagus, bagus sekali saudari! Tak percuma kau jadi murid si Dewa Tuak!" memuji Wiro Sableng. Tangan kirinya terpaksa dipalangkan untuk menunggu tusukan jari tangan lawan. Anggini yang tahu bahwa tenaga dalam pemuda itu jauh lebih tinggi darinya batalkan serangan sebaliknya tangan kanannya siap menyentakkan selendang ungu yang ujungnya telah melibat setengah leher Wiro Sableng. Pendekar 212 cepat angsurkan lehernya ke muka untuk mengendurkan selendang sehingga kalaupun detik itu disentak, sentakan itu tak akan mencelakainya. Kemudian dengan tangan kanannya, cepat sekali disampoknya bagian tengah selendang! Anggini sama sekali tak dapat melihat cepatnya tangan kanan lawan yang menyampoki senjatanya. Dia hanya tahu tiba-tiba saja bagaimana selendangnya menjadi menegang dan tertarik ke muka! Sesaat mengetahui bahwa selendangnya kena terpegang lawan terkejutlah gadis ini, tapi juga penasaran sekali. Dibetotnya selendang itu namun mana Wiro Sableng mau lepaskan, malahan sebaliknya pemuda ini tarik selendang tersebut sehingga tubuh Anggini sedikit demi sedikit, selangkah demi selangkah ikut tertarik ke hadapannya. Anggini memaki dalam hati. "Sambut paku perakku, rnanusia rendah!" bentak gadis itu. Sekali dia gerakkan tangan kirinya maka selusin benda yang besarnya setengah jengkal, berbentuk paku dan berwarna putih perak mendesing ke arah Wiro Sableng. Karena jarak mereka terpisah dekat sekali maka dua belas senjata rahasia ini sangat berbahaya bagi keselamatan si pemuda. Anggini sendiri tiba-tiba merasa menyesal melepaskan senjata rahasia itu karena kawatir si pemuda tak dapat berkelit atau memapakinya, karena bukankah gurunya telah berpesan bahwa pemuda itu adalah cocok bakal jadi jodohnya…?! Sebaliknya yang diserang tenang-tenang saja. Bahkan sambil bersiul dilambaikannya tangan kirinya. Delapan paku perak luruh ke tanah sedang yang empat lagi dielakkan dengan berkelit sedikit ke samping. Kalau tadi dia merasa menyesal menyerang pemuda itu dengan senjata rahasianya maka kini setelah si pemuda berhasil selamatkan diri, kembali Anggini menjadi penasaran. Dia memekik keras, lompat ke atas dan kirimkan dua tendangan jarak dekat susul rnenyusul. "Ah, tak sangka gadis molek begini galak sekali!" kata Wiro Sableng pula. Dia melompat ke samping. Membuat gerakan satu putaran, dan sebelum Anggini turun ke tanah, kedua kaki gadis itu sudah terlibat selendangnya sendiri! Membuatnya berdiri dengan terhuyung-huyung tak bisa melangkah! Wiro tertawa gelak-gelak. "Ayo, kenapa berhenti galaknya?" tanyanya mengejek. Karena sampai saat ini Anggini masih memegang ujung yang lain dari selendangnya maka dengan cepat dia dapat membukanya kembali. Paras gadis ini merah sekali. Matanya menyorot memandang kepada Wiro Sableng, sebaliknya Pendekar 212 dengan ceriwis mengedip-ngedipkan matanya! "Senjata apa lagi yang bakal kau keluarkan?!" tanya Wiro. "Lepaskan selendangku!" teriak Anggini. Wiro hanya tertawa. "Lepaskan!" teriak gadis itu lagi. Dicobanya menyentakkan selendang itu tapi Wiro memegangnya erat sekali. Kalau ditariknya keras pasti selendang kain itu akan robek. Kesal dan gemas akhirnya dengan menghentakkan kaki Anggini lepaskan selendangnya, putar tubuh dan lari ke balik sebuah batu besar. Di sini menangislah gadis itu. "Heh… kenapa jadi nangis?" tanya Wiro ketika dia melangkah dan datang di balik batu besar. Pemuda ini jadi garuk-garuk kepala. Lalu katanya: "Saudari, lihat, hari sudah senja. Sebaliknya kau kembalilah ke tempat gurumu! Kalau tidak pasti kau akan sesat di malam yang gelap nanti!" "Aku tak mau kembali! Tak bisa kembali ke pertapaan!" jawab Anggini di antara tangis sesungguhnya. "Kenapa tak mau? Kenapa tak bisa?" "Guruku akan marah!" "Marah kenapa?" tanya Wiro tagi. "Sudah… sudah! Kau tidak tahu!" Dan tangis Anggini semakin mengeras. "Lalu kalau kau tak mau kembali ke tempat gurumu, apa kau bakal nginap di sini?!" "Tak usah perdulikan aku! Biar aku mau malang mau melintang tak usah ambil pusing! Pergi dari sini kau…!" Anggini menyeka mata dan pipinya. "Tak perlu bicara keras macam begitu, Saudari. Antara kita tak ada permusuhan. Ini semua adalah gara-gara gurumu yang berotak sinting itu!" "Jangan hinakan guruku!" hardik Anggini. "Kau seorang murid yang baik. Patuh terhadap guru dan juga hormati Tapi sayang kau juga turut-turutan bertindak tidak pakai pikiran sehat. Sekarang sudah, kembalilah ke pertapaan gurumu sebelum hari menjadi malam…" "Tidak!" Wiro Sableng melangkah ke belakang Anggini. Kasihan-kasihan lucu dia merasa saat itu. Akhirnya pemuda ini berkata juga: "Ini selendangmu. Kalau kau banyak berlatih pasti kau menjadi seorang gadis yang hebat…." Wiro lantas menyampirkan selendang ungu itu di pundak si gadis. Ketika dia memandang ke langit dilihatnya bintang-bintang sudah bermunculan dan bulan sabit kelihatan samarsamar di balik awan. "Sudah malam…." desis pemuda ini. Kemudian dia memandang pada gadis yang berdiri di depannya dengan membelakang itu. "Pergilah cepat, saudari. Nanti kau kemalaman di jalan…." Anggini gelengkan kepala. "Guruku akan marah… akan marah kalau aku kembali…. " "Kalau begitu ya tak usah kembali saja…" ujar Wiro Sableng. "Aku memang tak bakal kembali…" kata Anggini pula. "Hem… dan kau mau pergi ke mana?" "Apa urusanmu tanya-tanya?" "Ah…" Wiro tertawa. Dia melangkah ke hadapan si gadis. Kemudian dipegangnya pundak Anggini. Si gadis dengan serta merta hendak menyibakkan tangan itu. Tapi tubuhnya sudah keburu dijalari perasaan aneh yang menggelora-gelora sampai ke lubuk hatinya. Tak kuasa dia menyibakkan pegangan tangan pada bahu itu. "Saudari, dengarlah…" kata Wiro pula. Tangannya masih memegang bahu si gadis malahan meremas-remasnya dengan lembut. "Dalam hubungan guru dan murid walau bagaimana pun kau musti kembali ke pertapaan. Kau tak boleh tempuh jalan sehdiri. Kalau kau tak kembali malah gurumu akan marah sekali. Kau pasti akan dihukumnya!" "Tapi bagaimana aku mungkin bisa kembali? Tidak bisa saudara.., kau tidak tahu…." "Apa yang aku tidak tahu?" tanya Wiro. Tak mungkin bagi Anggini untuk mengatakannya dengan terus terang. Namun terluncur juga ucapan dari mulutnya: "Kalau aku musti kembali kata guruku… aku harus bersamamu…" Wiro tertawa. Suara tertawanya menggema di daerah sepi dingin di permulaan malam itu. "Saudari… namamu siapa?" bertanya Wiro Sableng. Dan karena tadi gadis itu diam saja diremas bahunya maka tangan Wiro kini meluncur ke pipi, membelai pipi yang masih belum kering dengan air mata itu. Rasa yang menyentak-nyentak mendebarkan dada si gadis kini tambah keras dari tadi. Lagi-lagi tak kuasa dia menyibakkan tangan yang membelaibelai itu. Ditundukkannya kepalanya. "Siapa namamu, saudari…?" tanya Wiro lagi. "Anggini," jawab si gadis perlahan. "Nama bagus… nama bagus," puji Pendekar 212 dan tangannya semakin berani membelai muka Anggini. "Dengar Anggini, orang tua macam gurumu itu memang suka bicara ngelantur. Sekarang kau kembali saja ke pertapaannya dan katakan bahwa kau tak berhasil mengejar atau menemui aku. Habis perkara. Atau kalau tidak katakan saja kau telah menemuiku dalam keadaan tak bernyawa mati di jurang Sranggreng!" "Aku tak bisa berdusta… kalau aku berdusta dia selalu mengetahuinya!" kata Anggini pula. "Wah berabe kalau begini!" ujar Pendekar 212 dengan garuk-garuk kepala. Dia berpikir-pikir apa yang akan diperbuatnya. Kalau ditinggalkannya gadis itu sendirian di situ, tak tega pula hatinya. Pemuda ini hela nafas panjang. Akhirnya diajaknya gadis itu duduk di sebuah batu datar. Daerah belantara di mana mereka berada saat itu serba asing baginya. Mungkin sampai ratusan tombak bahkan ribuan tombak perjalanan belum menemui rumah penduduk. Apakah dia dan gadis itu terpaksa tinggal terus di tempat itu malam ini? Angin bertiup dari celah-celah batu-batu yang meruncing memenuhi tempat itu. "Dingin…?" bisik Pendekar 212. Anggini mengangguk. Dan tangan kiri Pendekar 212 bergerak di balik punggung si gadis untuk kemudian merangkul bahu Anggini. Suasana berubah hangat. Dan untuk beberapa lamanya mereka tiada bicara. Wiro memecah kesunyian. "Kalau kau tak mau kembali ke pertapaan dan aku tak bisa pula meninggalkan kau sendirian maka kita terpaksa bermalam di sini. Tunggulah sebentar aku akan cari tempat yang baik…." "Nanti sajalah…. " kata Anggini. Diletakkannya tangan kanannya di paha Pendekar 212 dan dia memandang ke angkasa. "Langit cerah," kata Wiro. "Kalau nanti turun hujan, memang. kita yang sialan…. !" Anggini tertawa. Manis sekali tertawa itu. Hati Pendekar 212 sejuk sekali jadinya. Dan diperketatnya rangkulannya. Kemudian dengan beraninya pendekar ini menggelitiki tengkuk si gadis dengan hidungnya. "Jangan begitu ah…." kata Anggini menggeliat kegelian. Tapi tubuh dan tengkuknya tidak dijauhkannya. Malam itu Wiro Sableng sengaja tidak membuat, perapian. Dia khawatir kalau-kalau nyala api hanya akan mengundang datangnya hal-hal yang tidak diingini. Apalagi kalau yang datang itu adalah Dewa Tuak adanya. Meskipun dingin, meskipun mereka hanya terbaring di balik batu besar hitam itu dan beratapkan langit luas namun tubuh mereka yang berada berdekatan itu saling memberi kehangatan. Pendekar 212 ingat pada suatu malam ketika dia berada berdua-duaan di sebuah dangau di tengah sawah dengan Nilamsuri. Malam ini tak ada bedanya dengan malam yang dulu itu. Sama-sama ada seorang gadis di sampingnya. Tapi terhadap Anggini, Pendekar 212 masih punya pikiran panjang dan sehat: Meski saat itu Anggini sudah berbaring pasrahkan seluruh tubuhnya untuknya dan memang sudah hampir setiap bagian dari tubuh Anggini disentuh oteh Pendekar 212, namun untuk berbuat lebih jauh dari itu pemuda ini tidak mau. Tubuh perawan itu laksana bara hangatnya, tangannya menggapai punggung Wiro dan pahanya melejang-lejang halus. Tapi Pendekar 212 hanya merangkuli tubuh itu, hanya mengecupi bibirnya yang basah, hanya menciumi matanya yang sayu kuyu tapi menyembunyikan hasrat yang meluap itu. * * * Sinar matahari yang menyapu mukanya membuat gadis ini terbangun dari kenyenyakan tidurnya. Dibukanya kedua matanya dengan pelahan, digosoknya beberapa kali kemudian dipalingkannya kepalanya ke samping. Dia terkejut mendapatkan pemuda itu tak ada di sampingnya, la segera bangun duduk, lalu berdiri dan memandang ke belakang. Tapi pemuda itu tidak kelihatan. "Wiro," panggilnya. Tak ada yang menyahut. "Wiro…. !" panggilnya sekali lagi lebih keras. Hanya gaung suaranya yang menjawab. Tiba- tiba ketika matanya memandang ke batu besar di samping pembaringan di mana dia dan Wiro tidur semalam terbentur olehnya tulisan. Tulisan. Anggini Maafkan kalau aku pergi tanpa pamit. Aku terpaksa meninggalkan kau. Kalau ada umur kita pasti bertemu lagi. Kembalilah ke tempat gurumu. Terima kasih untuk segala-galanya malam tadi. Anggini merasakan dadanya menyesak. Digigit-gigitnya bibirnya. Nyatanya pemuda itu sudah pergi. Tubuhnya masih terasa hangat oleh pelukan Wiro malam tadi. Seperti masih terasa jari-jari tangan pemuda itu mengelusi kulit tubuhnya. Juga kecupan- kecupan yang disertai gigitan-gigitan kecil. Terima kasih untuk segala-galanya malam tadi Anggini membaca lagi tulisan itu. Termangu dia. Diputarnya tubuhnya, parasnya ke kemerahan, ditambah lagi sentuhan sinar matahari pagi. Tak mungkin baginya untuk mengejar pemuda itu kembali. Dia tak tahu apakah Wiro pergi larut malam tadi atau dinihari, atau pagi tadi sebelum dia bangun. Gadis ini tarik nafas panjang dan dalam. Ketika dia membetulkan ikatan selendang ungunya yang di pinggang, maka pada ujung selendang itu dilihatnya sederetan angka: 212. Sekali lagi gadis ini tarik nafas dalam dan panjang. Lalu dengan langkah gontai ditinggalkannya tempat itu. – == 0O0 == - Kerajaan Pajajaran… Pada masa itu Kerajaan Pajajaran masih belum luas pengaruhnya di Jawa Barat. Bahkan dengan kesultanan Banten di pantai Utara masih terdapat hubungan baik, belum ada silang sengketa. Di bawah pemerintahan Prabu Kamandaka maka Kerajaan Pajajaran aman tenteram. Penduduk hidup berkecukupan. Tapi di dunia ini selalu saja ada manusia yang berbusuk hati, yang iri dan dengki. Yang tidak senang dengan kebahagiaan orang lain, yang tidak suka dengan keberuntungan orang lain, yang tidak suka akan kekuasaan orang lain dan ingin meruntuhkan kekuasaan orang lain itu lalu ganti menguasainya! Saat itu satu-satunya manusia di seiuruh Pajajaran yang paling membenci Prabu Kamandaka ialah Werku Alit. Dalam tambo keturunan raja-raja Pajajaran maka Prabu Purnawijaya adalah satu-satunya raja pajajaran yang tidak mempunyai keturunan kandung dari permaisurinya. Mungkin ini sudah menjadi takdir Dewa-dewa di Kahyangan, dan ini jugalah yang menjadi pangkal sebab buntut daripada terjadinya banjir darah di Pajajaran. Ketika Prabu Purnawijaya mangkat maka tokoh-tokoh istana, ahli-ahli agama dan orangorang tua kerajaan menyepakati untuk menobatkan Kamandaka, adik kandung Prabu Purnawijaya, menjadi raja Pajajaran. Kamandaka memang seorang yang bijaksana, pandai serta berilmu tinggi, disegani dan dihormati. Memang dia telah menunjukkan bakat untuk menjadi seorang pemimpin agung. Lagi pula memang tak ada manusia lain di Pajajaran saat itu yang punya hak dan pantas untuk dinobatkan sebagai pengganti mendiang Prabu Purnawijaya. Dari seorang selirnya, Prabu Purnawijaya mempunyai seorang anak yang bernama Werku Alit. Werku Alit ini tua beberapa bulan dari Kamandaka. Ketika masih orok keduanya sama-sama disusukan pada seorang perempuan penyusu istana sehingga boleh dikatakan antara Werku Alit dan Kamandaka terjalin sudah satu pautan tali persaudaraan! Namun ketika Kamandaka dinobatkan sebagai Prabu Pajajaran timbullah dengki di hati Werku Alit. Bukankah Kamandaka hanya adik Prabu Purnawijaya; bukan anak kandungnya? Dan bukankah dia sebagai anak dari Prabu Purnawijaya, lebih mempunyai hak untuk memegang tahta kerajaan? Werku Alit dalam dengkinya, apalagi sesudah kena hasutan oleh golongangdongan tertentu yang memang tidak suka pada Kamandaka, lupa bahwa dirinya hanyalah seorang anak yang dilahirkan dari selir Prabu Pumawijaya, yang sama sekali tidak punya hak untuk menjadi raja Pajajaran. Demikianlah, secara diam- diam Werku Alit meMnggalkan istana Pajajaran, mengembara menuntut ilmu dan menghubungi beberapa orang tertentu. Ketika dia kembali ke istana maka saat itu dia sudah menyusun suatu rencana besar. Yaitu untuk merebut takhta kerajaan dengan jalan kekerasan! Dengan pertempuran, dengan peperangan! Dalam pengembaraan itulah Werku Alit bertemu dengan Suranyali atau Mahesa Birawa. Tahu bahwa Mahesa Birawa seorang manusia sakti luar biasa maka Werku Alit mengambilnya sebagai tangan kanan dengan perjanjian bila kerajaan berhasil digulingkan maka Mahesa Birawa akan dijadikan Perdana Menteri! Dalam menjadi tangan kanan membantu rencana busuk Werku Alit. Mahesa Birawa mempunyai rencana sendiri, rencana dalam selimut. Jika kerajaan jatuh dan Werku Alit menang, maka Mahesa dan kawan-kawannya akan menyingkirkan Werku Alit untuk kemudian dia sendiri yang akan menampilkan diri menduduki tahta kerajaan Pajajaran * * * Di hutan belantara di sekitar kaki Gunung Halimun kelihatan bertebaran ratusan buah kemah. Inilah pusat balatentara pemberontak yang hendak merebut tahta kerajaan Pajajaran di bawah pimpinan Werku Alit. Sementara Werku Alit kembali ke Pajajaran maka pimpinan dipegang langsung oleh tangan kanannya yaitu Mahesa Birawa. Di sini berhimpun sekitar seribu prajurit. Kebanyakan dari pasukan-pasukan ini didapat Werku Alit dan Mahesa Birawa dari Adipati-adipati kecil yang bernaung di bawah Pajajaran tapi yang kena dipengaruhi dan dihasut oleh kedua orang itu. Bahkan saat itu Mahesa Birawa masih menunggu beberapa orang Adipati lagi yang telah dihubunginya. Jika Adipati-adipati ini datang dan menyerahkan beberapa ratus prajurit tambahan maka dapatlah diatur kapan dilaksanakan penyerangan terhadap Pajajaran. Sementara waktu menunggu maka semua prajurit senantiasa dilatih perang- perangan. Para kepala-kepala pasukan diberi tambahan ilmu silat dan kesaktian yang lumayan oleh Mahesa Birawa sedang para Adipati yang saat itu sudah bergabung Mahesa Birawa menurunkan beberapa ilmu kesaktiannya. Mahesa merasa sangat menyesal sekali ketika mendapat kabar bahwa tiga orang anak buahnya yang; diam di Jatiwalu telah menemui ajal akibat bentrokan dengan anak-anak murid Perguruan Gua Sanggreng sedang Kalingundii hilang lenyap tak tentu rimbanya. Kalau saja keempat manusia itu ada di sana tentu tak usah payah-payah dia menggembleng kepala- kepala pasukan dan Adipatiadipati itu. Tapi tak apa payah sedikit. Nanti dia akan memetik hasilnya sendiri! Di dalam kemah besar yang terletak di tengah-tengah ratusan kemah di kaki Gunung Halimun itu, mengelilingi sebuah meja bulat telur maka duduklah empat orang laki-laki. Yang pertama tak lain dari Mahesa Birawa, kumis melintang dan badan semakin gemuk. Yang kedua Adipati Karangtretes yaitu Jakaluwing, bercambang bawuk lebat, potongan tubuhnya tegap kekar. Yang ketiga, yang duduk di samping kiri Mahesa Birawa ialah seorang berbadan tinggi kurus bermuka licin bernama Surablabak. Dia adalah Adipati Manganreja. Yang terakhir seorang laki-laki berbadan gemuk pendek, berkepala sulah. Sinar lampu dalam kemah membuat kepalanya itu berkilat seperti bersinar-sinar. Manusia ini bernama Lanabelong, Adipati Kendil. Di atas meja, di hadapan keempatnya terletak masing-masing segelas tuak murni dan harum. Ketiga Adipati itu telah kena dihasut oleh Mahesa Birawa dan Werku Alit untuk memberontak terhadap Pajajaran dan kepada mereka dijanjikan kedudukan sebagai Menteri kerajaan bila pemberontakan mereka berhasil kelak. "Silahkan diteguk tuaknya, saudara-saudara Adipati," kata Mahesa Birawa pula sesudah keheningan mengungkungi kemah itu beberapa lamanya. Masing-masing kemudian meneguk tuak yang enak itu. Di malam yang dingin minum tuak memang enak menghangatkan tubuh. Jakaluwing raba cambang bawuknya. Lalu bertanya:' "Kapan kira-kira saatnya kita akan menggempur Pajajaran, adimas Mahesa Birawa?" "Soal penggempuran itu kangmas Jakaluwing, sebenarnya saat ini pun kita sudah sanggup melakukannya. Jumlah prajurit cukup, tenaga pimpinan rata-rata sudah berpengalaman dan dapat diandalkan. Cuma kita tak enak kalau meninggalkan saudara-saudara Warok Gluduk dan Tapak Ireng. Kedua Adipati itu telah berjanji akan bergabung dengan kita bersama beberapa ratus prajurit-prajurit mereka. Ada baiknya jika kita tunggu kedatangan mereka. Sesudah itu baru kita hubungi Raden Werku Alit untuk menentukan kapan saat yang baik untuk penyerangan…." Adipati Jakaluwing manggut-manggut. "Begitu memang bagus," kata Lanabelong. Adipati berkepala sulah. Lalu diteguknya tuaknya. "Di samping itu, mengingat bahwa di Pajajaran tentunya terdapat tokoh-tokoh pelindung yang berilmu tinggi maka kita musti tidak pula menyia-nyiakan bantuan yang hendak diberikan oleh Begawan Sitaraga yang diam di puncak Gunung Halimun!" "Ah, hebat sekali kalau Begawan yang tersohor ini ikut di pihak kita!" kata Surablabak sambil pukul meja. "Sebenarnya," kata Mahesa Birawarpula. "Begawan Sitaraga ini mempunyai dendam kesumat yang masih belum terbalaskan terhadap toa Pajajaran yaitu kakek dari Kamandaka…." "Kalau Begawan ini setingkat umurnya dengan kakek Kamandaka, tentu kini kira-kira sudah seratusan usianya…" kata Lanabelong. "Kira-kira begitutah," sahut Mahesa Birawa. Kemudian laki-laki ini berseru memanggil pelayan untuk menyuruh tambah tuak di keempat gelas itu. Sesudah pelayan pergi Mahesa Birawa buka mulut kembali. "Besok aku akan kirimkan dua orang kurir ke Pajajaran untuk menemui Raden Werku Alit. Kuminta kepadanya untuk menyebar mata- mata lebih banyak, terutama di dalam istana guna mengetahui perkembangan terakhir, terutama mencari kabar selentingan apakah gerakan kita ini bocor atau tidak…. " "Dan jangan lupa pula untuk meneliti pertahanan Pajajaran di mana yang lemah," kata Lanabelong. Mahesa Birawa mengangguk. "Saudara-saudara Adipati, agaknya pertemuan kita malam ini cukup. Sampai besok pagi." Keempat orang itu saling menjura kemudian satu demi satu meninggalkan kemah besar khusus untuk tempat perundingan, menuju ke kemah masing-masing. – == 0O0 == - Laki-laki itu berjalan di liku-liku lorong bagian belakang istana dengan menundukkan kepala. Sekali- sekali dilewatinya para pengawal. Pengawal- pengawal istana tidak menegur atau menahan laki-laki ini karena semuanya tahu bahwa laki-laki itu adalah Udayana, pembantu Prabu Kamandaka. Segala urusan rumah tangga sang Prabu dialah yang mengurusnya. Wiro Sableng Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 Maut Bernyanyi Di Pajajaran Di pintu besar gedung istana sebelah belakang laki-laki ini berhenti sebentar lalu menyeberangi halaman kecil dan masuk ke pintu sebuah bangunan kecil yang bagus bentuknya. Justru di sini dua orang pengawal memalangkan tombak menghentikannya. "Aku mau ketemu Raden Werku Alit," kata Udayana. "Ada keperluan apa?" tanya salah seorang pengawal. "Beliau sudah tahu." "Tunggu di sini," Pengawal itu masuk yang seorang tetap di tempatnya. Tak lama kemudian pengawal yang masuk muncul kembali. "Kau dipersilahkan menghadap." katanya memberi tahu. Udayana mengangguk dan memasuki pintu gedung. Di dalam sebuah kamar yang luas, Werku Alit menyambut kedatangannya. Ditepuktepuknya bahu Udayana. "Bagaimana? Ada perkembangan baru…?" Werku Alit berbadan tinggi langsing dan me- melihara kumis panjang menjulai seperti tali, seperti raja-raja Tiongkok! "Perkembangan baru belum ada Raden…. Cuma ada satu berita. Mungkin sedikit banyak nya ada perlunya juga saya sampaikan kepada Raden…" "Bagus, katakanlah Udayana…." "Rara Murni adik Kamandaka siang besok akan berangkat ke Kalijaga untuk menyambangi adik neneknya. Dia akan pergi dengan kereta dan dikawal secukupnya…. " "Hem…." Werku Alit menggumam dan mengusut-usut kumis talinya. "Aku belum melihat adanya hubungan keteranganmu ini dengan rencanaku. Tapi tunggu sebentar, coba kupikir…." Tangan yang tadi mengusut kumis ini memijit-mijit kening. Dan tangan itu tibatiba menepuk bahu Udayana sampai laki-laki ini terkejut. "Aku telah melihat kegunaan keteranganmu ini Udayana. Suruh seorang mata-mata kita menghubungi Kalasrenggi. Katakan bahwa aku akan bicara dengan dia malam ini di pondok tua di luar tembok kerajaan." Udaya menjura. "Perintah Raden akan saya jalankan," katanya lalu cepat-cepat meninggalkan kamar itu. * * * Seluruh balatentara kerajaan Pajajaran dibagi atas lima kelompok pasukan dan tiap- tiap pasukan dibagi dua masing-masing bagian dikepalai oleh seorang yang disebut kepala prajurit, Kalasrenggi adalah salah seorang dari kepala pasukan balatentara Pajajaran. Sebagai kepala lWiro Sableng Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 Maut Bernyanyi Di Pajajaran pasukan tentu saja dia memiliki ilmu dan pengalaman yang dapat diandalkan. Dan memang banyak orang yang mengatakan bahwa diantara lima kepala pasukan Pajajaran maka Kalasrenggi adalah yang paling tinggi ilmunya. Tapi sayang kepala pasukan ini, telah pula terseret ke dalam rencana busuk Werku Alit dan Mahesa Birawa. Telah kena bujuk dan dihasut untuk memberontak dan menggulingkan pemerintahan Prabu Kamandaka! Siang tadi seorang suruhan Raden Werku Alit telah menemui Kalasrenggi dan menyampaikan pesan bahwa Werku Alit akan bicara dengan dia malam ini di pondok tua di luar tembok kerajaan. Maka malamnya dengan seorang diri berangkatlah Kalasrenggi ke ternpat yang ditentukan itu. Dia sampai ke pondok tua itu. Sebenarnya tak pantas disebut pondok karena sama sekali bangunan tua itu tiada mempunyai dinding dan atapnya pun sudah sebagian melompong dimakan umur. Pondok atau lebih tepat teratak itu sunyi saja. Tak seorang pun kelihatan di sana. Kalasrenggi berpikir tentu Raden Werku Alit belum sampai ke sana, maka dia pun menunggulah. Dinyalakannya sebatang rokok. Dia memandang ke angkasa. Langit kelihatan mendung. Bintang-bintang mulai tertutup awan. Bulan menghilang dan angin bertambah besar serta dingin. Dia tak sabaran menunggu. Rokok yang dihisapnya sudah hampir habis. Berbarengan ketika rokok itu dibuangnya ke tanah maka dipengkolan muncul tiga sosok bayangan. Dua dari sosok bayangan itu berhenti sedang yang satu terus melangkah ke arah teratak itu. "Sudah lama kau…?" bertanya orang yang datang ini yang tak lain dari Werku Alit adanya. "Sudah juga," sahut Kalasrenggi. "Raden mau bicara apa dengan saya?" Sementara itu hujan rintik-rintik mulai turun. Angin tambah kencang. "Ada tugas buatmu besok Kalasrenggi," kata Werku Alit. "Tugas apakah, Raden?" Hujan rintik-rintik berubah menjadi lebat. Guruh menggelegar. Kilat menyambar. Sesosok bayangan putih dibawah penerangan kilat yang hanya sedetik saja terangnya, kelihatan berlari sangat cepat menuju teratak tua itu. Werku Alit dan Kalasrenggi terkejut sekali dan tangan-tangan mereka segera meraba hulu senjata di pinggang masing-masing! "Hujan sialan!" Terdengar orang yang baru datang ini merutuk. Kemudian dia berpaling pada Werku Alit dan Kalasrenggi dan berkata: "Saudara-saudara, aku numpang mondok samasama kalian." Werku Alit dan Kalasrenggi memandang tajam pada laki-laki yang baru datang ini. Dia masih muda, berbadan kekar dan berambut gondrong. Kedatangannya mau tidak mau mencurigakan kedua orang itu meski ada alasan bahwa dia datang ke sana untuk berteduh karena hari hujan lebat. "Kau siapa?!" tanya Kalasrenggi membentak garang. Pandangannya buas sekali. Tangan kirinya menyelinap ke pinggang. Laki-laki muda yang dibentak memandang dengan keheran-heranan. "Memangnya apa aku tidak boleh mondok di sini, Saudara?!" "Aku tanya kau siapa dan jangan banyak tanya!" hardik Kalasrenggi. Pemuda itu bersiul dan menyeringai. "Tak usahlah bicara pakai membentak segala. Urusan kecil kalau dipersoalkan dengan kasar bisa menimbulkan gara-gara yang tidak diingini!" Kalasrenggi dengan tidak sabar melangkah ke hadapan pemuda itu dan hendak menempelaknya. Tapi langkahnya dihentfkan ketika dalam kegelapan dan masih sempat rnelihat isyarat yang diberikan oleh Werku Alit. Werku Alit tak ingin terjadi keributan yang buntutbuntutnya bisa membocorkan rencana besamya. Karena itu dengan terancam dia melangkah mendekati pemuda itu. "Saudara," kata Werku Alit sambil memegang bahu si pemuda. "Harap maafkan. Kawanku memang lagi kasar berangasan habis kalah judi! Sudahlah, tak ada yang harus kita ributkan di malam buta begini, mana hujan, mana dingin. Bukankah begitu…?" "Ah… tepat sekali saudara…." jawab si pemuda. Werku Alit tersenyum. Tiba-tiba laksana kilat cepatnya, dua jari tangan kirinya menusuk ke muka menghantam urat besar di bagian kiri tubuh si pemuda. Tak ampun lagi pemuda itu rebah ke tanah. Sebagian kakinya terjulur lewat atap dan segera diguyur oleh air hujan! Werku Alit tertawa mengekeh. "Pemuda konyol mau banyak tingkah!" "Tapi siapa tahu dia bukan pemuda biasa. Raden. Mungkin mata-mata…." "Ah, tampangnya saja geblek, dogol, bagaimana bisa jadi mata-mata? Buktinya sekali totok saja sudah rubuh!" Kalasrenggi memandang sosok tubuh yang menggeletak menelungkup itu. Dia bermaksud untuk menggeledah pemuda itu namun didengarnya Werku Alit berkata: "Sudah, tak perlu perdulikan kunyuk itu! Mad kita muiai pembicaraan. Menurut keterangan pembantu rahasiaku, besok siang Rara Murni akan berangkat dengan kereta ke Kalijaga. Tugasmu culik gadis itu, sekap di kuil tua di lembah Limanaluk. Bila sudah beri laporan sama aku biar aku tentukan langkah selanjutnya!" "Itu tugas mudah, Raden," kata Kalasrenggi. "Tapi saya ingin tahu siapa-siapa saja yang ikut dengan Rara Murni…?" "Aku tak mendapat keterangan tentang hal itu. Yang penting kau harus tangkap Rara Murni hidup-hidup. Yang lainnya kalau melawan bereskan saja, habis perkara!" "Baiklah Raden. Sebelum malam tiba besok, saya akan mengirimkan seseorang untuk memberitahukan bahwa tugas sudah selesai…." Werku Alit menepuk bahu kepala pasukan itu. "Nah, aku pergi sekarang!" Kalasrenggi memperhatikan sampai ketiga orang itu lenyap di kejauhan dalam kegelapan malam. Kemudian laki-laki ini memutar tubuh dan kembali matanya memandangi manusia yang menelungkup di bawah teratak itu. Dia membungkuk hendak menggeledah, meneruskan niatnya yang tadi batal, tapi kemudian terpikir olehnya, perlu apa susah- susah dengan diri orang lain. Dengan seenaknya Kalasrenggi menendang tubuh laki- laki yang menggeletak itu sehingga tubuh itu terlontar sampai beberapa tombak! Kalasrenggi kemudian berlalu pula dari teratak tua itu. – == 0O0 == - Hanya beberapa ketika saja Kalasrenggi meninggalkan teratak tua itu maka orang yang tadi ditotok dan ditendang anehnya tiba-tiba berdiri dengan cepat. Dia melangkah kembali ke bawah teratak. Disekanya mukanya yang basah oleh air hujan dan berselomotan lumpur. Diperhatikannya pakaiannya, kotor semua. Ditepuk-tepuknya pinggul kirinya yang tadi bekas kena ditendang Kalasrenggi. "Sialan betul! Sakit juga tendangan kunyuk itu!" makinya seorang diri. "Di lain hari aku akan balas keramah tamahannya tadi!" Sesungguhnya sewaktu Werku Alit menotoknya tadi, orang ini sudah dapat menduga gerakan dan maksud Werku Alit. Sebelum totokan datang cepat-cepat bagian tubuh di samping kiri dialirkan dengan tenaga dalam. Kemudian ketika totokan Werku Alit mendarat di tubuhnya, taki-laki ini pura- pura jatuh tak sadarkan diri. Demikian juga ketika Kalasrenggi menendangnya, dia dalam meneiungkup pura-pura pingsan masih sempat melihat gerakan kaki orang itu dan bersiap menjaga diri sehingga waktu ditendang tubuhnya hanya terasa pegal-pegal sedikit! Dan apa yang telah dibicarakan kedua orang itu dapat didengarnya dengan jelas. Orang ini duduk bergelung lutut dan berpikir- pikir. Siapakah gerangan kedua orang tadi? Siapa yang dipanggil dengan sebutan "raden" dan siapa yang satu lagi? Mengapa mereka bicara di tempat terpencil dan di malam hari berudara buruk seperti ini? Dan tugas yang diberikan oleh orang yang dipangglkan "raden" itu? Siapakah Rara Murni? Apakah keduanya bukan gerombolan-gerombolan rampok pengacau? Yang hendak menculik Rara Mumi kemudian melakukan pemerasan terhadap orang tua gadis itu? Orang itu usut- usut dagunya. Banyak yang tak dimengertinya atas apa yang telah dialaminya tadi. Tapi esok bila hari sudah siang dia bisa mencari keterangan di Kotaraja. Sejak pagi sampai saat itu sudah beberapa jam dia mengelilingi Kotaraja. Berbagai tempat dan pelosok didatanginya. Namun tampang-tampang manusia yang dua orang yang ditemuinya malam tadi tak berhasil dicarinya. Akhimya masuklah dia ke dalam sebuah kedai. Memang saat itu tenggorokannya sudah seperti terbakar oleh rasa haus dan perutnya perih keroncongan. Sambil makan dia terus juga berpikir-pikir. Rasanya tak mungkin kedua orang yang semalam itu gerombolan- gerombolan rampok. Seorang rampok tak akan dipanggil "raden". Pasti yang dipanggil "raden" itu seorang bangsawan kaya. Lalu kenapa bangsawan kaya mau menculik gadis orang? Mungkin pernah melamar tapi tak diterima? Dia menyudahi makanannya. Ketika dia memandang berkeliling ternyata kedai itu sudah penuh dengan tamu-tamu yang makan siang. Dengan perut kenyang dia kemudian melangkah mendekati pemilik kedai. Ditanyakannya berapa jumlah yang harus dibayarkannya lalu diberikannya sejumiah uang. "lni kembalinya, Nak," kata orang kedai. Dia sudah tua. Rambutnya sudah putih semua. "Ah, tak usah. Ambil saja…." kata pemuda. Si orang tua jadi keheranan. Demikian juga beberapa orang yang duduk di dekat sana. Pemuda yang berambut gondrong, berpakaian lusuh serta bertampang keren tapi macam anakanak itu berlagak seperti seorang kaya raya yang punya banyak uang, sok tak mau terima uang kembalian! Tapi perhatian orang hanya sebentar tertuju kepada si pemuda. Masing-masing kemudian sibuk mengurusi mulut dan perutnya sendiri. Si pemuda mendekati pemilik kedai dan berkata pelahan: "Uang yang kulebihkan itu untuk membayar beberapa keterangan darimu, Bapak," katanya. "Keterangan?" Si orang tua kerenyitkan kening. "Keterangan apa…?" "Bapak sudah lama tinggal di Kotaraja ini?" "Dari masih orok sampai punya buyut!" jawab pemilik kedai pula. Hatinya masih bertanya- tanya dan heran. "Kenapa anak tanya begitu?" "Oh tak apa-apa…. Mungkin bapak kenal dengan seorang perempuan bernama Rara Murni?" Pertanyaan ini membuat si orang tua lebih heran. "Semua orang di Pakuan ini tahu siapa Rara Murni," katanya. "Oh pantas.. pantas… Rara Murni yang kau tanyakan itu adalah adik Sang Prabu Kamandaka!" Tentu saja si pemuda mendengar ini jadi kaget sekali. Siapa sangka kalau Rara Murni adik dari raja Pajajaran?! Namun dengan pandainya dia menyembunyikan kekagetannya itu. Kemudian terdengar suara orang kedai bertanya. "Anak muda, ada maksud apakah kau bertanyakan adik Sang Prabu itu…?" "Oh tidak apa-apa. Tidak apa-apa…." "Kalau kau bermaksud buruk ketahuilah bahwa di Kotaraja ini banyak sekali hulubalanghulubalang Sang Prabu yang bertelinga tajam!" Si pemuda sunggingkan senyum. "Kau terlalu bercuriga terhadapku, orang tua. Aku hanya seorang pemuda desa yang mendengar kabar disampaikan dari mulut ke mulut bahwa Rara Murni adalah seorang yang cantik jelita. Biasa bukan laki-laki tanya perempuan…?" Pemuda ini kemudian tertawa geli. Namun tawa gelinya itu diputuskan oleh suara bentakan dari arah pintu. "Manusia yang berani bicara seenaknya tentang adik Sang Prabu coba putar tubuh! Aku mau lihat tampangnya!" .Suara itu keras dan garang. Si pemuda melihat bagaimana orang tua di hadapannya menjadi gemetar ketakutan. "Aku sudah bilang apa… aku sudah bilang apa…" katanya berulang kali. Pemuda itu dengan perlahan memutar tubuh. Di pintu dilihatnya berdiri seorang prajurit berhadapan tegap bersenjata tombak. "Bagus! Tampangmu memang mirip kunyuk. Jadi cukup pantas untuk pengisi kerangkeng istana!" Prajurit ini melambaikan tangannya. Dua orang prajurit lagi muncul di ambang pintu. "Tangkap pemuda rambut gondrong itu! Dia telah menghina adik Sang Prabu!" Dengan tombak terhunus kedua prajurit itu melangkah ke hadapan pemuda rambut gondrong. "Sebentar saudara… sebentar!" kata si pemuda sambil pentangkan kedua telapak tangannya ke muka. Selarik sinar halus berhembus ke arah jalan darah kedua prajurit itu. Dan semua mata dalam kedai yang tak tahu menahu ha1 itu hanya menyaksikan bahwa kedua prajurit itu hentikan langkah karena memenuhi permintaan si pemuda. Padahal dua prajurit itu sudah kena ditotok dari jarak jauh dan berdiri kaku tak bisa bergerak tak bisa bicara! "Sebentar, aku mau bicara dulu!" kata pemuda rambut gondrong kini pada prajurit yang di pintu. "Bicara apa?! Lekas? Katakan!" Seekor lalat terbang dan hinggap di lengan kiri si rambut gondrong. "Ah lalat ini! Mengganggu aku yang hendak bicara!" kata si rambut gondrong. Dengan jari-jari tangan kanannya disentilnya lalat itu. Namun tujuan sebenarnya bukan binatang itu. Sang lalat memang terpental mati dengan tubuh hancur tapi angin sentilan terus menotok jalan darah prajurit yang berdiri di pintu kedai. Orang-orang tetap melihat dia berdiri sebagaimana biasa tapi sesungguhnya tubuhnya sudah kaku tegang! Si rambut gondrong datang ke hadapannya, pura-pura membisikkan sesuatu lalu menepuk bahu prajurit itu dan berlalu. Orang-orang mulai menjadi heran. Dan beberapa ketika saja sesudah pemuda aneh tadi lenyap tiba-tiba: "Bluk… bluk… b!uk…. !" Ketiga prajurit itu rebah ke tanah susul menyusul! Begitu mencium lantai begitu mereka kembali sadarkan diri! Kedai itu menjadi hiruk pikuk. Tiga prajurit dengan rasa malu, geram dan amarah meluap memburu ke luar kedai tapi si rambut gondrong sudah lama lenyap! Tiga prajurit ini tiada lain adalah anak buah Kalasrenggi. Sewaktu pemuda rambut gondrong mengeliling Kotaraja mencari dua manusia yang ditemuinya malam tadi di teratak tua di luar tembok kerajaan maka tanpa setahunya sepasang mata telah menguntitnya. Yang menguntit tiada lain dari Kalasrenggi yang saat itu tengah bersiap-siap untuk melaksanakan tugas yang diberikan oleh Werku Alit. Ketika si rambut gondrong masuk kedai maka dikirimnya tiga orang prajurit ke sana. Diperintahkannya untuk menangkap pemuda itu dengan alasan yang dibuat-buat. Bila sudah ditangkap, maka pengusutan lebih lanjut siapa adanya pemuda ini akan dilakukan Kalasrenggi sesudahnya dia selesai melakukan tugas dari Werku Alit. Ketika mereka masuk dengan diam-diam mereka telah mencuri dengar apa yang dipercakapkan si rambut gondrong dengan orang kedai. lni mereka jadikan alasan untuk menalngkap pemuda itu. Namun karena tiga prajurit ini hanyalah mengandalkan tenagatenaga lahir yang kasar, tak mempunyai ilmu dalam maka dengan mudah si rambut gondrong "mempermainkannya!" – == 0O0 == - "Kalau Rara Murni adalah adiknya Raja Pajajaran…" kata pemuda itu sambil terus juga menyusuri jalan di bawah panas teriknya matahari musim kemarau, "Pasti peristiwa penculikannya mempunyai latar belakang yang besar dan buntut panjang!" Dia menengadah ke langit. "Ah, cepat benar bergesernya matahari…." katanya lagi. Dan ketika dia berpapasan dengan seorang penjual sayur mayur maka bertanyalah dia, "Bapak, manakah jalan yang menuju ke lembah Limanaluk?" Penjual sayur mayur itu menyeka peluh di keningnya terlebih dahulu. Diputarnya badannya sedikit dan dia menunjuk ke ujung jalan. "Ikuti saja terus jalan ini, jangan mengkol. Limanaluk sekira setengah hari perjalanan dari sini." Pemuda yang bertanya mengucapkan terima kasih lalu metanjutkan perjalanannya kembali…. Kereta itu bagus dan mungil potongannya. Dua ekor kuda coklat yang menariknya berlari kencang. Empat prajurit terpercaya mengawal kereta ini. Dua orang di depan, dua lainnya di belakang. Debu menggebubu sepanjang jalan yang mereka lalui. Setelah dua jam perjalanan meninggalkan Kotapraja jalan yang ditempuh mulai banyak lobang-lobang dan batu- batunya. Kusir memperlambat jalan kereta terutama ketika melewati satu pengkolan tajam. Selewatnya sebuah penurunan jalan yang mereka lalui baik kembali dan menyusuri tepi sebuah kali kecil berair jernih. Prajurit di depan sebelah kanan melambaikan tangan memberi tanda berhenti. Ketika kereta itu berhenti maka tersibaklah tirai jendela dan sebuah kepala berparas jelita remaja munculkan diri ke luar. "Ada apa berhenti?" Suara gadis ini bertanya begitu merdu. Kepala pengawal menjura sedikit dan menjawab: "Kuda-kuda kita perlu diberi minum, Tuan Puteri…" Rara Murni menutupkan tirai jendela kembali. Kusir turun dari kereta dan membawa kedua ekor kuda coklat ke tepi kali. Enam ekor binatang itu kemudian seperti berebutan memasukkan mulutnya ke datam air kali yang bening sejuk. Beberapa ketika berlalu maka rombongan bersiap-siap untuk melanjutkan kembati. Namun belum lagi kusir naik ke atas kereta empat orang penunggang kuda muncul di tempat itu. Badan tegap-tegap dan muka mereka tak dapat dikenali karena kepala masing-masing tertutup dengan kerudung kain hitam yang dilubangi di bagian matanya. "Perjalanan kalian hanya sampai di sini!" kata penunggang kuda paling depan. Suaranya berat dan parau, disertai dengan tenaga dalam sehingga tak mungkin untuk mengenali suaranya yang asli. Empat pengawal kereta yang tahu bahwa manusia-manusia berkerudung kain hitam itu datang bukan dengan membawa maksud baik segera cabut pedang! Melihat ini orang yang tadi bicara tertawa mengekeh. "Kalian kunyuk-kunyuk Pajajaran kalau masih ingin selamatkan batang leher segeralah tinggalkan tempat ini!" "Bangsat rendah! Berani menghina prajurit kerajaan! Terima pedangku!" bentak kepala pengawal. Dia melompat ke muka dan pedangnya berkelebat, berkilauan ditimpa sinar matahari! Manusia berkerudung sentakkan tali kekang kuda dan miringkan badan. Berbarengan dengan itu kaki kanannya meluncur dengan sangat cepat. Kepala pengawal kereta terpekik. Pedangnya lepas dan mental sedang sambungan sikunya yang dimakan tendangan tanggal dari persendian! Dia mengeluh kesakitan, terbungkuk-bungkuk sambil memegangi sambungan sikunya yang copot! Tiga pengawa! yang lain tanpa banyak bicara segera menyerbu dan disambuti oleh tiga laki-laki lainnya yang memakai kerudung. Setelah terlibat dalam dua jurus pertempuran maka terdesaklah ketiga pengawal kereta. Sementara itu di dalam kereta, mendengar suara ribut-ribut dan disusul dengan suara beradunya senjata dengan hati cemas Rara Mumi singkapkan tirai jendela. Dia terkejut sekali melihat ada sesosok tubuh berkerudung melangkah mendekati kereta. dan mengulurkan tangan untuk membuka pintu kereta! "Rara Murni… kau tak usah cemas! Apa yang terjadi di,sini hanya pertunjukan biasa saja. Silahkan turun…!" "Kalian siapa…?!" "Siapa kami itu tidak penting. Turunlah…." "Rampok-rampok biadab! Kalau kalian tahu siapa aku segeralah tinggalkan tempat ini sebelum pasukan kerajaan datang menumpas kalian!" Laki-laki berkerudung tertawa bergelak. Dibukanya pintu kereta dan diulurkannya tangan kanan untuk menarik Rara Murni keluar dari kereta. Kusir kereta yang sejak tadi seperti terpukau melihat pertempuran yang berkecamuk di depan matanya, ketika mengetahui bahwa Rara Murni hendak diperlakukan secara kasar segera mengambil cambuk kereta dan menderu punggung laki-laki berkerudung. "Rampok laknat! Berani mengganggu adik Sang Prabu!" Dan cambuk itu mendera lagi beberapa kali. Laki-laki berkerudung memutar tubuh. Sekali dia gerakkan tangan maka berhasillah dia merampas cambuk itu. Dan kini cambuk itu dipakainya untuk melecuti muka kusir kereta. Kusir ini menjerit-jerit. Kemudian dengan kalap mencabut golok pendeknya dan menyerang si muka berkerudung. Namun hanya dengan mengelak dan sekali tendang saja maka kusir kereta itu terpelanting ke tebing kali, masuk ke dalam kali. Tubuhnya segera hanyut terbawa air, tenggelam timbul karena sebelum jatuh ke dalam kali tendangan laki-laki berkerudung telah membuatnya pingsan terlebih dulu! Pertempuran antara tiga prajurit pengawal dan tiga laki-laki berkerudung lainnya tak berjalan lama. Ketiga pengawal itu menggeletak di tanah bermandikan darah. Sementara itu di atas kereta Rara Murni berusaha melawan dan meronta-ronta, menerjang dan meninju laki-laki yang hendak menyeretnya turun secara paksa. Namun apalah kekuatan seorang perempuan. Dalam waktu sebentar saja segera laki-laki berkerudung itu dapat membekuknya. Rara Murni dinaikkan ke atas kuda. "Lemparkan ketlga mayat itu ke dalam kali!" perintah laki-laki berkerudung yang sudah naik ke atas punggung kudanya. "Juga kereta itu!" Tiga mayat pengawal dilemparkan ke dalam kali. Kuda penarik kereta melonjak-lonjak dan meringkik keras ketika tiga manusia berkerudung itu mendorong kereta ke dalam kali! Dalam waktu yang singkat keempat orang itu segera berlalu. Yang tinggal kini di tempat itu hanya bekas-bekas pertempuran, darah, mayat, kereta dan kuda yang masih terus meringkikringkik sementara tubuhnya dengan perlahan tapi pasti tenggelam ke dalam kali! – == 0O0 == - Lembah Limanaluk satu daerah yang jarang didatangi manusia. Daerah ini sunyi sepi, ditumbuhi pohon-pohon raksasa dan semak belukar lebat. Ke sinilah keempat manusia berkerudung itu membawa Rara Murni. Di hadapan sebuah kuil tua mereka berhenti dan menurunkan gadis itu yang sampai saat itu masih terus juga melawan dengan segala daya yang ada. "Rara Murni, kalau kau tak banyak cingcong aku tak akan perlakukan kau dengan kekerasan…" "Lepaskan aku!" teriak Rara Murni. "Masuklah ke dalam kuil sana!" "Tidak!" dan Rara Murni berusaha hendak lari namun tangannya segera kena dicekat. Laki- laki berkerudung yang bertindak sebagai pemimpin tiga orang lainnya berpaling, lalu katanya pada ketiga orang itu: "Kalian kembalilah. Beritahukan bahwa tugas kita berhasil baik!" Tiga laki-laki berkerudung segera lompat kembali ke atas punggung kuda masing-masing dan meninggalkan tempat itu. Yang seorang tadi menyeret Rara Murni ke dalam kuil. Kuil itu sebuah kuil tua yang sudah tak dipakai lagi. Batu dindingnya sudah pada luruh dimakan umur. Sebuah arca besar yang terdapat di pojok kuil sebagian mukanya rusak dan tangan serta kakinya sudah buntung. "Lepaskan aku dari sini!" teriak Rara Murni untuk kesekian kalinya. Suaranya mulai parau. "Kau terlalu banyak cerewet, Rara Murni." kata laki-laki berkerudung. Kedua bola matanya berkilat-kilat memandangi paras dan tubuh gadis itu. "Tapi…" kata orang ini kemudian, "Kau mungkin tak akan banyak ulah bila mengetahui siapa aku." Habis berkata begitu laki-laki ini membuka kerudung penutup mukanya. Kaget Rara Murni bukan kepalang. Seperti tak percaya dia akan pandangan kedua matanya. Betapakah tidak! Laki-laki berkerudung itu ternyata adalah salah seorang kepala pasukan kerajaan yang cukup dikenalnya. "Kalasrenggi!" Kalasrenggi tertawa mengekeh. "Kau sudah lihat mukaku dan tahu siapa aku. Apa kau juga masih mau cerewet?" "Apa maksudmu dengan semua ini, Kalasrenggi?!' , "Apa maksudku? Kau akan lihat saja nanti!" "Pengkhianat! Pengkhianat terkutuk kau Kalasrenggi! Kau sadar apa akibatnya kalau kakakku mengetahui perbuatanmu ini?!" "Kakakmu tak akan pernah mengetahuinya!" "Aku akan adukan dan kau akan dibuang ke pulau Neraka! Tempat pengkhianatpengkhianat kerajaan!" Kalasrenggi tertawa lagi. Matanya semakin berkilat-kilat memandangi paras Rara Murni. Memang sesungguhnya sudah sejak lama laki-laki ini secara diam-diam merasa tertarik dan jatuh hati terhadap Rara Murni. Kini berada berdua-dua di tempat sunyi itu, hasrat yang terpendam itu menjadi berkobar-kobar memanasi darah dan tubuhnya. "Mungkin kau tak akan pernah punya kesempatan untuk mengadu Rara Murni. Kepalamu cukup bagus untuk jadi benda persembahan kepada kakakmu sendiri!" Rara Murni terkejut. "Apa maksudmu?" Kalasrenggi tertawa. Tawa yang menjijikkan Rara Murni. Katanya: "Kalau kau mau menuruti apa yang aku katakan, mungkin aku masih bisa menyelamatkan kau dari kematian…." "Kau benar-benar pengkhianat terkutuk! Terkutuk!" Masih dengan tertawa yang menjijikkan itu Kalasrenggi melangkah maju mendekati Rara Murni. Matanya berkilat-kilat, cuping hidung kembang kempis dan dadanya bergejoiak. Melihat ini Rara Murni segera melangkah mundur. Mundur sampai punggungnya membentur dinding kuil. Sebelum dia sempat lari ke pintu jari-jari tangan Kalasrenggi yang besar-besar dan panas digelorai nafsu telah mencekal lengannya. "Kenapa musti takut…?" ujar laki-laki itu. Nafasnya yang keras dan panas menghembushembus ke muka Rara Murni. "Keparat! Lepaskan tanganku! Lepaskan!" teriak Rara Murni. Tiba-tiba Kalasrenggi menyentakkan tangan itu. Rara Murni tenggelam ke dalam pelukannya yang beringas dan ganas. Ciumannya bertubi-tubi di paras jelita gadis itu. Rara Murni memekik. Meronta dan memekik! Badannya ditekan erat-erat ke dinding kuil oleh Kalasrenggi, membuatnya hampir tak bisa meronta dan menghindarkan kepalanya dan ciumanciuman laki-laki itu. Bahkan Rara Murni tak bisa berbuat sesuatu apa ketika Kalasrenggi dengan beringasnya menarik kain yang menutupi dadanya! Rara Murni memekik lagi ketika badannya digulingkan ke lantai kuil. Kedua kakinya dilejang-lejangkannya. Namun lejangan-lejangan ini hanya membuat kain yang dipakainya menjadi turun sampai ke paha. Pemandangan ini membuat nafsu yang sudah menggejolak dalam diri Kalasrenggi jadi mengamuk dengan dahsyat. Rara Mumi menjerit tiada henti-hentinya. Menjerit meski dia tahu bahwa jeritan itu tak ada artinya bagi Kalasrenggi, menjerit meskipun tahu bahwa dia dalam keadaan begitu rupa tak akan mungkin lagi menyelamatkan diri dan kehormatannya! Dalam nafsu yang mengamuk itu mendadak Kalasrenggi merasakan sesuatu menyambar di atas punggungnya. Belum lagi dia sempat palingkan kepala untuk melihat benda apa yang menyambar itu maka terdengarlah suara bergedebukan di lantai kuil! Dan sesaat bila Kalasrenggi memalingkan kepala maka terkejutlah dia, terkejut seperti melihat setan berkepala tujuh! Tiga sosok tubuh bergeletakkan di lantai kuil! Bukan saja tiga sosok tubuh yang bergeletakkan itu yang mengejutkan Kalasrenggi tapi terlebih lagi ialah ketika mengenali bahwa ketiga manusia ini adalah anak buahnya sendiri, yang tadi disuruhnya kembali ke Kotaraja untuk memberikan laporan pada Raden Werku Alit bahwa tugas penculikan atas diri Rara Mutni telah dilaksanakan. Nafsu yang membara di tubuh Kalasrenggi dengan serta merta mengendur dan lenyap sama sekali. Perlahan-lahan laki- laki ini berdiri dan meninggalkan Rara Murni yang tadi hampir saja menjadi mangsa kebejatannya. Ketika diperhatikannya ketiga anak buahnya itu ternyata tidak bernafas lagi alias sudah menjadi mayat! Muka-muka mereka membiru sedang pada kening masing-masing dilihatnya tiga deretan angka-angka 212. Muka yang biru itu diketahuinya adalah akibat pukulan atau tamparan yang ampuh sekali. Tapi adanya angka-angka 212 pada kening ketiga orang ini adalah tidak dimengerti sama sekali oleh Kalasrenggi! Pada saat dirinya dilepaskan oleh Kalasrenggi maka pada saat itu pula dengan serta merta Rara Murni bangkit berdiri dan hendak lari ke pintu kuil. Namun baru tiga langkah kedua kakinya bergerak, gadis ini hentikan langkah, darahnya tersirap dan mukanya memucat. Pada pintu kuil sesosok tubuh yang memakai kerudung hitam berdiri dengan bertolak pinggang. Tak bisa tidak pastilah manusia ini anak buah Kalasrenggi juga, pikir Rara Murni… Kalasrenggi sendiri ketika melihat bayangan seseorang di pintu kuil cepat menoleh dan kembali mukanya dilanda rasa terkejut! Dia tidak kenal dengan manusia berkerudung di pintu itu, tapi dia pasti betul bahwa laki-laki ini bukanlah orangnya, tapi kerudung hitam yang dikenakannya adalah kerudung salah seorang anak buahnya yang telah menemui ajal dengan cara yang aneh itu! Bukan tidak mustahil manusia ini pulalah yang telah menamatkan riwayat tiga anak buahnya itu! Meski amarahnya tidak terkirakan namun Kalasrenggi tidak mau bertindak gegabah. Sepasang matanya memandang tajam-tajam seperti mau menembus kerudung yang menutupi kepala sosok tubuh manusia yang berdiri di pintu kuil itu! "Tamu tak diundang, silahkan buka kerudung!" kata Kalasrenggi. Orang yang di pintu menyeringai di balik kerudung hitamnya. Lalu terdengarlah suara tertawanya, mula- mula mengekeh perlahan, tapi kemudian menjadi tawa bergelak yang menggetarkan gendang-gendang telinga serta menggetarkan dinding-dinding kuil tua itu! Kalasrenggi bersiap-siap dengan tenaga dalamnya dan berlaku waspada. Kalau suara tertawa manusia ini dapat menggetarkan gendang- gendang telinga bahkan menggetarkan dinding kuil, maka ini suatu pertanda bahwa siapa pun adanya manusia ini, dia bukanlah orang sembarangan! Dan semakin yakin Kalasrenggi bahwa orang inilah yang telah menewaskan ketiga anak buahnya. Akan Rara Murni, kalau tadi hatinya kecut dan takut melihat munculnya manusia berkerudung ini, maka setelah mengetahui bahwa dia bukanlah di pihaknya Kalasrenggi, diamdiam Rara Murni menjadi sedikit lega hatinya. Tapi dia tak tahu apakah manusia yang baru datang ini adalah tuan penolongnya ataukah seseorang yang lebih bejat dan terkutuk dari Kalasrenggi! Dalam pada itu dia sendiri masih belum dapat melihat tampang orang ini. Hati Kalasrenggi serasa dibakar karena ucapannya disahuti dengan suara tertawa macam begitu oleh si kerudung hitam. Maka berkatalah dia dengan menunjukkan nyali besar: "Kalau kau tak mau buka kerudung, terpaksa aku turun tangan…." Orang berkerudung hentikan tertawanya. Dan dia buka mulut menyahuti: "Diri manusia tidak diukur dari tampangnya, tapi dari hatinya! Bila dia seorang prajurit, maka kejujuran hati, kesetiaan dan baktinya pada kerajaanlah yang menjadi ukuran!" Merah paras Kalasrenggi mendengar kata- kata ini. Si kerudung hitam tertawa bergumam dan berpaling pada Rara Murni dan berkata: "Bukan begitu Tuan Puteri Rara Murni…?" Rara Mumi tak menyahuti. Tapi dia menjadi terkejut karena tak menyangka kalau lakilaki itu tahu namanya. Dan beratlah dugaannya bahwa laki-lakl ini adalah orang dalam juga. Orang kerajaan juga, entah pengkhianat entah seorang penolong. Tapi kalau dia bermaksud menolong, mengapa musti pakai kerudung hitam segala? "Tapi…" kata laki-laki yang di pintu pula melanjutkan bicaranya, "Kalau kau memang kepingin melihat tampangku, baiklah! Aku tak keberatan untuk membuka kerudung hitam ini. Tampangku memang buruk. Namun jika dibandingkan dengan tampangmu, masih mendingan aku ke mana-mana!" Sambil tertawa-tawa laki-laki ini membuka kerudung hitam yang menutupi kepalanya. – == 0O0 == - Bila Rara Murni memandang ke muka maka di balik kerudung yang telah dibuka itu ternyata laki-iaki yang berdiri di pintu adalah seorang pemuda gagah berambut gondrong. Meski tertawanya tadi mengekeh dan bergelak namun parasnya yang gagah itu condong kepada paras anak-anak. Sebaliknya begitu menyaksikan tampang manusia di depannya, kedua mata Kalasrenggi menyipit, kulit mukanya mengerenyit. Otaknya berputar dengan cepat, mengingat-ingat di mana dia pernah melihat pemuda ini sebelumnya. Dan secepat dia ingat maka menggeramlah Kalasrenggi. Pemuda yang ada di hadapannya saat itu tak lain daripada pemuda yang malam tadi telah berteduh di teratak di luar Kotaraja sewaktu hari hujan lebat dan sewaktu dia tengah bicara dengan Werku Alit! Juga pemuda inilah yang kemudian ditotok Werku Alit! Dan dia sendiri menghadiahkan satu tendangan! "Ingat siapa aku…?" "Saudara, apa urusanmu dalam hal ini?!" bentak Kalasrenggi garang. Tangan kirinya menyelinap ke balik pinggang di mana tersisip sebilah keris. "Ah… tentu ada saja, Saudara. Pertama, kau telah menghadiahkan tendangan padaku malam tadi. Enak juga tendangan itu. He,.. he… he…. Lalu, aku tidak begitu suka pada manusiamanusia yang bersifat ular kepala dua, pengkhianat besar serta tukang rusak kehormatan perempuan…. Apa itu kurang cukup untuk bikin urusan denganmu?!" "Hem…." Kalasrenggi menggumam. "Jadi hari ini aku berhadapan dengan seorang pendekar budiman huh?! Satu hal yang menyenangkan sekali!" Habis berkata begini Kalasrenggi keluarkan suara berdengus dari hidungnya. "Terangkan dulu siapa kau punya nama!" katanya kemudian. "Ah, kau keliwat ramah tanya-tanya segala nama. Namaku sudah kutuliskan pada kening ketiga anak buahmu!" jawab si pemuda pula. Kalasrenggi tertawa mengejek. "Baru kali ini aku bertemu manusia yang namanya adalah tiga buah angka. Angka- angka gila!" Si pemuda tertawa. "Angka-angka itu mungkin gila! Tapi tidak segila pengkhianat macam kau Kalasrenggi!" "Kau sudah tahu namaku. Kenapa tidak lekas kabur tinggalkan tempat ini?!" "Apa kabur dari sini? L.alu kau teruskan maksud busukmu terhadap Tuan Puteri Rara Murni? Aku tidak sebodoh dan sepengecut yang kau sangka, Kalasrenggi!" "Kalau betul kau punya nyali, tahan ini!" bentak Kalasrenggi garang. Dengan satu lompatan cepat Kalasrenggi lancarkan serangan tangan kosong. Tapi serangan yang hebat ini dapat dielakkan lawan dengan mudah bahkan sambil bersiul dan tertawatawa. "Kalasrenggi, kalau mau baku jotos jangan di dalam sini, mari keluar!" kata si pemuda rambut gondrong atau pendekar 212 Wiro Sableng. Sengaja dia berkata begitu karena khawatir dalam pertempuran nanti Rara Murni yang juga berada di ruangan itu akan mendapat celaka. "Tak usah banyak mulut! Kau harus mampus disaksikan ketiga mayat anak buahku!" bentak Kalasrenggi pula. Untuk kedua kalinya kepala pasukan Pajajaran yang berkhianat ini menyerang, lebih hebat dari tadi. Tiba-tiba orang yang diserangnya lenyap dari hadapannya. Kemudian di belakangnya terdengar suara siulan. "Aku di sini Kalasrenggi, mengapa menyerang tempat kosong?!" Kalasrenggi kertakkan rahang. Dia berbalik dengan cepat dan menyerang lebih ganas. Tangannya bergerak cepat, tendangan kaki bertubi-tubi. Keseluruhannya mengeluarkan angin yang keras dan bersiuran. Agaknya permainan silat tangan kosong Kalasrenggi tidak dari tingkat rendahan. Dari angin pukulan dan tendangannya Wiro sudah dapat menjajaki kehebatan lawan. Karena tak mau ambil resiko pemuda ini segera bergerak cepat. Dalam waktu yang singkat tiga jurus berlalu sebat. Pada saat memasuki jurus keempat Wiro Sableng melihat Rara Murni melarikan diri keluar kuil. Sambil rundukkan kepala mengelakkan hantaman tinju Kalasrenggi, Wiro Sableng berseru: "Rara, tunggu! Jangan pergi dulu!" Tapi mana si gadis mau dengar. Sambil menyingsingkan kainnya ke atas Rara Murni mempercepat larinya. Terpaksa pendekar 212 lepaskan pukulan tangan kanan ke arah kedua kaki gadis itu. Serangkum angin melesat deras dan dingin. Rara Murni merasa kedua kakinya seperti disiram air es, kemudian kedua kakinya itu kaku tak bisa lagi digerakkan. Larinya dengan serta merta terhenti. Melihat lawan melakukan dua gerakan sekaligus maka kesempatan ini dipergunakan oleh Kalasrenggi untuk membobolkan pertahanan lawan. Tendangan kaki kanan dan tinju kiri kanan menyerang susul menyusul ke tempat-tempat terlemah dari Wiro Sableng! Namun dengan membentak keras dan berkelebat cepat ketiga serangan lawan dapat dikelit oleh pendekar 212. Penasaran sekali Kalasrenggi memburu lagi dengan satu serangan berantai. Kali ini, pada saat tangan kanan Kalasrenggi memukul ke muka, pendekar 212 sengaja menyongsong datangnya lengan lawan. Maka beradulah lengan dengan lengan! Kalasrenggi terpekik. Tubuhnya terpelanting ke belakang sampai punggungnya menghantam dinding kuil. Lengan kanannya yang beradu dengan lengan lawan kelihatan biru dan bengkak besar. Sakitnya bukan alang kepalang! Karena tadi Wiro Sableng melayaninya seperti acuh tak acuh, Kalasrenggi tidak menduga kalau kehebatan lawan demikian lihainya. Sesudah mengurut lengannya yang bengkak biru serta mengalirkan tenaga dalam ke bagian yang terpukul itu maka kemudian Kalasrenggi dengan tangan kirinya mencabut sebilah keris dari balik pinggang. Senjata ini sebuah senjata pusaka juga rupanya karena memancarkan sinar membiru. Tanpa banyak bicara kepala pasukan Pajajaran itu segera lancarkan serangan dahsyat. Kalasrenggi memang seorang kidal dan permainan kerisnya juga sudah mencapai tingkat yang matang. Apalagi dengan mempergunakan tangan kiri itu maka serangan-serangannya sukar diduga. Namun demikian pendekar 212 sudah punya rencana sendiri terhadap manusia kepala dua ini! Dibiarkan dan dielakkannya saja untuk beberapa lamanya serangan-serangan keris Kalasrenggi. Kepala pasukan pengkhianat ini semakin gemas dan geram. Dipercepatnya gerakannya namun tetap saja tiada mencapai hasil yang dikehendakinya. "Pegang senjatamu erat-erat, Kalasrenggi." kata pendekar 212 memberi ingat. Kalasrenggi masih belum mengerti apa maksud ucapan lawannya itu. Bahkan dia sama sekali tidak dapat melihat dengan jelas gerakan kedua tangan Wiro Sableng. Tahu-tahu saja dirasakannya keris pusakanya terlepas dari tangan. Laki-laki ini mengeluarkan seruan tertahan. Memandang dengan tak percaya pada tangan kirinya yang kosong! Wiro Sableng tertawa mengekeh dan melompat ke muka. Tangan kanannya terkembang seperti hendak mencengkeram muka Kalasrenggi. Yang diserang cepat merunduk dan berusaha menyodokkan lipatan sikunya ke perut lawan. Tapi kali ini Kalasrenggi tertipu. Tangan yang menyerang dan hendak mencengkeram itu hanya gerakan palsu belaka. Tanpa dapat dikelit lagi oleh Kalasrenggi maka dua ujung jari tangan kanan Wiro Sableng meluncur ke rusuk kirinya. Mendadak sontak detik itu juga tubuh Kalasrenggi menjadi kaku tegang. Tangan dan kakinya tak bisa digerakkan lagi, tapi mulutnya masih sanggup bicara, telinganya masih bisa mendengar, demikian juga indera-inderanya yang lain masih tetap seperti biasa. Pendekar 212 sengaja menotok laki-laki itu demikian rupa, sesuai dengan rencananya. Sambil tertawa-tawa dan garuk- garuk kepalanya yang berambut gondrong Wiro Sableng memandangi Kalasrenggi beberapa lamanya. Kemudian pendekar muda ini melangkah mendapatkan Rara Murni. Dilepaskannya totokan yang telah memakukan kedua kaki gadis itu. Rara Murni begitu merasa kakinya bebas segera hendak lari namun tangannya cepat dipegang oleh Wiro Sableng. "Lepaskan tanganku!" teriak Rara Murni. "Terhadapku tak usah takut, Rara Murni." kata pendekar 212 pula. "Kau siapa?!" tanya Rara Murni dan berusaha melepaskan tangannya yang dipegang. "Siapa aku itu soal nanti. Tapi apakah kau akan tinggalkan begitu saja Kalasrenggi tanpa memberikan satu hukuman yang setimpal terhadapnya?!" "Aku akan laporkan kejahatannya terhadap Sang Prabu. Pasukan Kerajaan akan menyeretnya ke Pakuan! Dia pasti akan dibuang ke pulau Neraka! " Pendekar 212 tersenyum. "Kuil ini juga bisa menjadi tempat neraka baginya, Rara Murni. Mari, aku akan tunjukkan cara yang bagus untuk menghukum pengkhianat dan manusia bejat macam dia!" Dengan seutas tali pendekar 212 mengikat kedua pergelangan kaki Kalasrenggi. Kalasrenggi yang saat itu meski tubuhnya kaku tapi masih bisa merasa, melihat dan bicara: "Keparat! Kau mau buat apa terhadapku?!" "Ah, kau masih bilang keparat, Saudara…" jawab pendekar 212 dengan tertawa. "Pernahkah kau melihat dunia terbalik?! Melihat dengan kaki ke atas kepala ke bawah?!" "Apa maksudmu?!" bentak Kalasrenggi. Tapi dalam hatinya dia sudah dapat menduga apa yang bakal dilakukan oleh Wiro Sableng dan tubuhnya mengucurkan keringat dingin. "Apa maksudku kita akan saksikan sama- sama, Kalasrenggi," kata Wiro Sableng pula. Sekali saja tali yang mengikat kedua pergelangan kaki Kalasrenggi ditariknya maka terbantinglah laki-laki itu ke lantai kuil. Kutuk serapah dan keluh kesakitan bersemburan dari mulut Kalasrenggi. "Sudahlah, jangan memaki-maki juga, tak ada gunanya," kata pendekar 212. Dia memandang ke atas atap kuil dan dilihatnya sebuah tiang yang membentang memalang di bawah atap. Ujung tali yang dipegangnya dilemparkannya ke atas. Bila ujung tali itu menjuntai ke bawah kembali setelah terlebih dahulu menyangkut di tiang palang maka pendekar 212 mulai mengerek badan Kalasrenggi. Gelap dunia ini bagi Kalasrenggi. Dalam tempo yang singkat mukanya menjadi sangat merah karena darah yang mengalir turun memberati mukanya. Laki-laki ini coba meronta, tapi tubuhnya kaku tak bergerak, hanya terbuai- buai saja macam karung diisi pasir dan digantung! Yang bisa dilakukan Kalasrenggi hanya memaki dan memaki tiada habisnya dia menjadi letih sendiri. Pendekar 212 tertawa mengekeh macam kakek-kakek. Dia berpaling pada Rara Murni sebentar lalu bertanya pada Kalasrenggi: "Bagaimana, indahkah dunia ini bila dilihat terbalik…?" "Demi setan bila bebas aku bersumpah untuk mencincang tubuhmu keparat…!" hardik Kalasrenggi. "Sumpahmu terlalu hebat Kalasrenggi. Tapi bisakah kau membebaskan dirimu dari jarijari tanganku ini…?" Dengan senyum-senyum Wiro Sableng melangkah mendekati Kalasrenggi. Kemudian sepuluh jari-jari tangannya menggerayang menggelitiki tulang rusuk Kalasrenggi! Laki-laki ini menjerit, melolong setinggi langit sampai suaranya menjadi serak! Wiro Sableng tertawa senang. Rara Murni sendiri hampir-hampir tak dapat menahan gelinya. Dan Kalasrenggi terus juga berteriak, menjerit, melolong dan memekik dengan suaranya yang serak parau itu! "Rara Murni, ayo mengapa diam saja? Kalau kau ingin membalaskan sakit hatimu terhadapnya, inilah saatnya," kata Wiro Sableng pula. Meski amarahnya memang masih meluap terhadap Kalasrenggi namun berada lebih lama di situ menimbulkan kekhawatiran bagi Rara Murni. Gadis ini walau bagaimanapun tak dapat memastikan manusia yang bagaimana adanya pemuda rambut gondrong itu, meskipun dianya telah menolong dan menyelamatkan diri serta kehormatannya. Karenanya tanpa banyak bicara menyahuti ucapan Wiro Sableng tadi, juga tanpa membuang waktu, Rara Murni segera lari meninggalkan kuil itu. Kali ini Wiro Sableng tidak berbuat apa-apa lagi untuk menahan Rara Murni, diikutinya saja gadis itu dengan pandangan mata. "Gadis tolol!" gerendeng pendekar 212 dalam hati. "Dikiranya Kotaraja dekat dari sini!" Kemudian ketika Rara Murni lenyap di balik kelebatan pohonpohon di lembah Limanaluk itu maka pendekar 212 segera angkat kaki pula, menyusul dengan diam-diam dari belakang…. – == 0O0 == - Begitu keluar dari lembah Limanaluk maka sesaklah nafas Rara Murni karena telah berlari itu. Sebelumnya jangankan berlari, berjalan sejauh itu pun tak pernah dilakukannya! Dia berhenti dan berdiri bersandar ke sebatang pohon rindang. Saat itulah baru disadarinya keadaan pakaiannya yang tidak menutupi badannya, terutama letak kain di bagian dadanya. Segera dibetulkannya letak pakaiannya, dirapikannya pula rambutnya. Dia menunggu sampai nafasnya yang memburu dan dadanya yang sesak pulih seperti sedia kala. Saat itu kedua kakinya pun terasa sakit. Rara Murni merasa bahwa dia tidak sendirian di tempat itu. Dipalingkannya kepalanya. Darahnya tersirap karena begitu kepalanya diputar maka kedua matanya membentur sesosok tubuh yang berada dekat sekali di sampingnya. Orang ini ternyata adalah pemuda rambut gondrong yang di kuil tua tadi! "Letih?" tanya Wiro Sableng dengan senyum- senyum. Rara Murni tak menjawab. "Kotaraja tidak dekat dari sini, Rara…" "Aku tahu…" "Lalu, mengapa lari-lari macam begini? Mungkin juga aku membuat kau jadi takut? Rambutku yang gondrong ini barangkali ya?" "Saudara, kau ini siapa sebenarnya?" "Aku? Aku ya aku…" jawab Wiro pula. "Kalau kau hendak bermaksud jahat pula terhadapku sebaiknya berlalunya saat ini juga!" "Ah… tampangku memang jelek, tapi aku tidak sejahat yang kau sangkakan Rara Murni. Aku hanya tak ingin melihat kau musti lari setengah mati sampai di Kotaraja! Mungkin seperempat jalan kau sudah mengeletak pingsan!" Rara Murni terdiam. Tapi kemudian dia berkata: "Walau bagaimanapun aku musti kembali ke Kotaraja selekas mungkin…" "Itu memang betul. Tapi bukan dengan lari caranya. Mari ikut aku…" "Ikut ke mana?" "Dengar Rara, kau tak perlu terlalu bercuriga terhadapku. Di tepi sungai sana ada beberapa ekor kuda. Kau bisa naik kuda?" Gadis itu menggeleng. Wiro Sableng garuk- garuk kepalanya. "Kalau begitu…" katanya, "Kau terpaksa naik kuda bersama-samaku!" Maka merahlah paras Rara Mumi. "Jangan bicara seenak perutmu, saudara!" bentak gadis ini. "Heh… aku toh tidak bicara usil. Habis kalau kau tak bisa naik kuda sendiri bagaimana?" "Aku lebih baik jalan kaki!" sahut Rara Murni dengan hati dan suara keras. Wiro Sableng tertawa. "Dengar Rara Murni, aku mempunyai firasat bahwa peristiwa penculikanmu ada ekornya. Ekor yang panjang dan besar. Kalau Kalasrenggi berkhianat terhadap Sang Prabu, terhadap kerajaan Pajajaran, bahkan bukan hanya sekedar berkhianat tapi juga hendak bikin celaka terhadap kau, maka tidak mustahil masih ada pejabat-pejabat tinggi kerajaan lainnya yang turut terlibat dalam pengkhianatan ini…" Ucapan Pendekar 212 itu memang terpikir ada benarnya oleh Rara Murni. Tapi menunggang kuda bersama pemuda itu, tentu saja dia merasa malu sekali. Apa akan kata orang bila melihat hal itu nanti? Kemudian didengarnya pula oleh gadis ini suara Wiro Sableng kembali: "Makin cepat kau sampai ke Kotaraja semakin baik…" Rara Murni termenung sejurus. Tapi hatinya tetap keras tak mau naik kuda bersama pemuda itu. Tanpa banyak bicara gadis ini kemudian putar tubuhnya dan bergegas meninggalkan tempat itu. Wiro Sableng menggerutu dalam hatinya. "Gadis keras kepala! Kalau sudah lecet kulit kakinya baru tahu rasa!" Dia geleng-geleng kepala dan melangkah pula mengikuti. Beberapa lama kemudian mereka sampai di tepi sebuah jalan umum. Selama itu tak satu pun dari keduanya yang buka mulut. "Rara," kata Wiro ketika mereka sampai di jalan umum itu. "Ada baiknya kita berhenti istirahat di sini. Siapa tahu ada kereta atau gerobak yang lewat dan kita bisa menumpang." Gadis itu tak menjawab. Tapi dia menghentikan langkah karena memang kedua kakinya sudah letih. Hampir sepuluh menit mereka berdiri di tepi jalan itu tapi tak satu kendaraan pun yang lewat. "Rara Murni…" kata Wiro Sableng. "Agaknya kau tidak senang terhadapku…? Tak mau bicara denganku?" Rara Murni diam saja. Sebenarnya memang tak ada yang harus ditidaksenangkannya terhadap pemuda itu. Hanya segala apa yang tadi terjadi dan segala apa yang hampir menimpa dirinyalah yang membuat dia jadi tak banyak bicara dan merasa bercuriga terhadap pemuda berambut gondrong yang sampai saat itu masih belum juga diketahuinya siapa adanya. Wiro Sableng memandang ke ujung jalan. Sepi tiada bermanusia. "Kita berangkat lagi, Rara…?" "Saudara…." kata Rara Murni untuk pertama kalinya sesudah sedemikian lama berdiam diri. "Kau sendiri siapa sebenarnya dan mau menuju ke mana?" "Ah… ini pertanyaan yang bagus sekali. Bagus sekali." kata pendekar 212 dengan senyum- senyum. "Siapa aku, kurasa tidak penting. Dan ke mana aku mau menuju… aku sendiri sebenarnya juga tidak tahu… !" Rara Murni memandang dengan sudut matanya memperhatikan pemuda itu. Jawabannya seperti jawaban orang yang tidak betul pikirannya, atau mungkin pula jawaban itu hanya sekedar jawaban belaka. Tiba-tiba keduanya memalingkan kepala ke ujung jalan sebelah kanan. Di kejauhan kelihatan muncul sebuah gerobak, ditarik oleh dua ekor lembu. Di bagian depan gerobak yang terbuka itu duduk dua orang laki-laki. Mereka berpakaian petani sedang setengah dari gerobaknya sarat dengan sayur mayur. "Nasib kita baik juga rupanya Rara," kata Wiro Sableng. Dan ketika gerobak itu datang mendekat, pemuda ini segera lambaikan tangannya. Gerobak berhenti. "Saudara, apakah kalian menuju ke Kotaraja?" Kedua orang di atas gerobak tak menjawab pertanyaan Wiro Sableng melainkan memandang lekat-lekat pada gadis di sampingnya. "Kalau kami tak salah lihat," kata laki-laki yang mengemudikan gerobak, "Agaknya kami berhadapan dengan Tuan Puteri Rara Murni, adik Sang Prabu Pajajaran…" Rara Murni mengangguk dan kedua orang itu segera turun dari kereta lalu menjura. "Ada hal apakah sampai Tuan Puteri berada di tempat ini…?" tanya laki-laki yang memegang kemudi gerobak. Kedua matanya kemudian melirik sekilas pada Wiro Sableng, lalu melirik pada kawannya. Rara Murni hanya menarik nafas panjang. Karena mengira pemuda rambut gondrong dan berpakaian sederhana itu adalah hamba sahaya atau pembantu Rara Murni maka yang ditanya menjawab dengan anggukan kepala acuh tak acuh. Seorang dari mereka kemudian berkata pada Rara Murni: "Jika Tuan Puteri bermaksud hendak kembali ke Pakuan, kami tentu saja bersedia bahkan merasa berkewajiban untuk membawa Tuan Puteri. Tapi maafkanlah keadaan kereta kami, kotor dan penuh sayuran…" "Itu tak menjadi apa, pokoknya asal sampai ke Kotaraja." Yang menjawab adalah Wiro Sableng. Ini mengesalkan kedua orang itu. Kemudian mereka menolong Rara Murni naik ke atas gerobak. Gadis itu duduk di sebelah muka, di samping pengemudi sedang kawannya bersama Wiro Sableng duduk di sebelah belakang, di samping tumpukan sayur. Tak lama kemudian gerobak itu pun bergeraklah. – == 0O0 == - Kesunyian sepanjang jalan itu kini dipecahkan oleh suara deru roda gerobak. Sekalisekali diselingi dengan gemeletakkan- gemeletakkan bila roda gerobak menggilas bebatuan atau suara kayu- kayu kendaraan itu bergerobyakan ketika salah satu rodanya memasuki lobang jalanan. Saat itu masih cukup jauh dari Kotaraja, Pendekar 212 duduk melunjurkan kedua kakinya di bagian belakang kereta. Matanya terpejam-pejam oleh hembusan angin siang yang sejuk. Beberapa kali dia sudah menguap. Orang yang duduk di hadapannya senantiasa membuang muka, segan atau tepatnya tak senang memandang pada pemuda ini yang sebentarsebentar menguap, sebentar-sebentar menggaruk kepalanya yang berambut gondrong. Beberapa saat kemudian Wiro Sableng membuka juga kedua matanya. Dia menggeliat. Ini menambah ketidaksenangan orang yang di hadapannya. "Saudara, aku minta mentimunmu satu…." kata Wiro Sableng. Dan tidak menunggu jawaban pemilik sayuran itu langsung saja Wiro Sableng mengambil sebuah mentimun besar dan menggerogotinya. Orang yang di depan Wiro Sableng memaki dalam hati. Rahangnya terkatup rapat-rapat. "Rara Murni…" seru Wiro Sableng tiba-tiba. "Apakah kau suka makan mentimun?" Di bagian depan kereta Rara Murni berpaling sebentar tapi tak menjawab. "Panas-panas begini enak sekali makan mentimun, untuk pelepas haus dan mendapatkannya tak usah susah payah…" "Terima kasih… aku tidak haus, Saudara…." Terdengar jawaban gadis itu. "Hem…." Wiro Sableng menggumam dan terus juga mengunyah mentimun dalam mulutnya, dan gerobak terus juga bergerak menempuh jalan berdebu dan berlobang serta berbatu- batu. Di bagian belakang kereta Wiro Sableng mengusap-usap perutnya. Telah tiga butir ketimun amblas ke dalam perut itu dan betapa asamnya tampang orang yang di hadapannya. Kini kembali Wiro Sableng memejamkan matanya. Kalau perut sudah kenyang memang kantuk segera datang. Mendadak gerobak itu dibelokkan ke sebuah jalan buntu yang menuju sungai oleh pengemudinya. Begitu gerobak berhenti maka terdengarlah suara Rara Murni bertanya: "Saudara, kenapa ke sini dan berhenti di sini?" Pengemudi gerobak tertawa mengekeh. Tiba- tiba tertawanya yang menjijikkan itu lenyap dan diganti dengan teriakan Rara Murni. Dan di bagian belakang kereta sendiri petani yang duduk dihadapan Wiro Sableng tiba-tiba mencabut sebatang golok dari balik pinggang. Begitu golok tercabut keluar dari sarungnya tanpa menungu lebih lama segera dibacokkan ke kepala Wiro Sableng yang saat itu masih pejamkan mata, keenakan tidur-tidur ayam tertiup angin sejuk sepanjang perjalanan! Satu jengkal lagi mata gotok yang tajam akan membelah batok kepala pendekar 212, maka terdengarlah bentakan menggeledek. "Ciaaat!" Tubuh petani yang menyerang terpental ke luar gerobak. Goloknya lepas dan tubuh itu kemudian tergelimpang di tanah dengan perut pecah dihantam tendangan! Manusia ini hembuskan nafas tanpa keluarkan sedikit suara pun! Pandangan bola mata pendekar 212 menyorot bersinar. "Kentut betul!" makinya dan meludahi muka mayat petani ini. "Orang lagi enak-enak tidur mau dibacok, rasakan sendiri! Puah…!" Diludahinya lagi muka mayat itu kemudian dipalingkannya kepalanya dengan cepat. Rara Murni tengah meronta-ronta melepaskan cekalan petani yang mengemudikan gerobak sayur. "Saudara, tolong aku!" teriak gadis itu pada Wiro Sableng. "Petani sialan!" gerendeng Wiro Sableng seraya melompat dari atas gerobak. "Budak hina! Pergi dari sini atau kutebas batang lehermu!" teriak laki-laki yang mencekal Rara Murni. "Sreet!" Dicabutnya sebuah golok dari batik pinggang. "Hemmm… jadi kau hanyalah seorang rampok bejat yang berkedok sebagai petani huh? Seekor serigala yang berbulu domba…. Lepaskan gadis itu atau jidatmu kubikin rengkah!" "Anjing buduk tak tahu diri, dikasih kebebasan malah minta mampus!" Dengan tangan kirinya pengemudi gerobak itu totok tubuh Rara Murni. Melihat kelihayan totokan laki-laki itu pendekar 212 segera maklum bahwa orang itu bukanlah seorang petani biasa atau pengemudi gerobak yang bodoh, tapi seorang pendekar lihay yang tengah menyamar! Maka ketika senjata lawan berkelebat ke arah kepalanya pendekar 212 bergerak cepat dan tak mau kasih peluang lagi. Pengemudi gerobak itu buka matanya lebih lebar sewaktu melihat orang yang diserangnya tenyap dari hadapannya. Sambaran goloknya yang deras mengenai tempat kosong. Ini membuat laki-laki itu terdorong ke muka dan pada saat inilah kedua matanya melihat sosok tubuh kawannya yang menggeletak di tanah dengan perut pecah! Berdiri bulu kuduk laki-laki ini. Tapi hanya sebentar saja. Rasa ngeri ini segera digantikan dengan rasa geram dan amarah yang meluap. Tubuhnya diputar kembali, untuk kedua kalinya berkiblatlah senjatanya menyerang Wiro Sableng. Tapi kali yang kedua ini justru adalah saat kematiannya! Senjatanya lagi-lagi menghantam angin kosong dan sebelum dia sempat mengirimkan serangan berikutnya maka lima jari tangan dilihatnya berkelebat dekat sekali ke arah keningnya, tak bisa dipapaki dengan golok, tak bisa dikelit dengan kecepatan yang bagaimanapun! "Plaaak!" Telapak tangan kanan pendekar 212 mendarat di kening laki-laki itu, disusul dengan suara jerit kesakitan. Laki-laki itu terguling ke tanah tidak sadarkan diri lagi. Kulit keningnya hitam seperti terbakar dan di bagian tengah kulit kening itu terteralah angka 212. Laki-laki ini bernasib masih untung dari kawannya karena pendekar 212 tidak menamatkan riwayatnya. Wiro Sableng melepaskan totokan yang mengakukan tubuh Rara Murni. "Hari ini nasibmu sial terus-terusan rupanya, Rara," kata pemuda itu dengan senyum- senyum. Si gadis tak berkata apa-apa. Mukanya masih agak pucat. Dan Wiro Sableng berkata lagi: "Tapi ada juga untungnya. Gerobak ini sekarang jadi milik kita. Ayo kita teruskan perjalanan. Rara Murni naik kembali ke atas gerobak. Wiro Sableng mengemudikan gerobak itu. Sepanjang perjalanan gadis itu tak habis pikir. Pemuda yang duduk di sampingnya itu bertampang gagah, tapi aneh dan juga lucu. Dan di samping itu kehebatan yang telah disaksikan sendiri olehnya tadi diam-diam membuat dia mengagumi si pemuda. Dan sampai saat ini Rara Murni tidak tahu sama sekali siapa nama pemuda itu! Beberapa jauh di luar tembok kerajaan, Wiro Sableng menghentikan gerobak. Dia berpaling ke samping. Lalu berkata: "Rara, Pakuan sudah di depan mata. Aku mengantarkan kau hanya sampai di sini. Kau bawalah terus gerobak ini, tak susah untuk mengemudikannya…." "Kau sendiri hendak ke mana, Saudara?" tanya Rara Murni heran. Pendekar 212 tertawa. "Ke mana aku mau pergi itulah satu hal yang aku tidak bisa jawab," ujar Wiro Sableng pula. "Cuma pesanku, jangan lupa untuk mengatakan segala kejadian yang kau alami pada Sang Prabu. Kurasa peristiwa-peristiwa yang kau alami itu mempunyai latar belakang. Dan bukan mustahil kalau masih ada pembesar-pembesar istana lainnya yang menjadi pengkhianat macam Kalasrenggi…." Rara Murni mengangguk. Kemudian Wiro Sableng berkata lagi: "Juga jangan lupa mengirimkan sepasukan prajurit ke kuil di lembah Limanaluk itu untuk membekuk Kalasrenggi…." Rara Murni mengangguk untuk kedua kalinya. Ketika dilihatnya pemuda rambut gondrong itu memutar tubuh hendak berlalu, gadis ini cepat-cepat berkata: "Saudara… tunggu dulu." Pendekar 212 putar tubuhnya kembali. "Ada apakah Rara…?" "Aku belum bilang terima kasih pada kau…" "Ah…." Wiro Sableng goyangkan tangannya, "Tak usah… tak usah. Itu hanya kebetulan saja…." "Sang Prabu mungkin akan banyak bertanya tentang kau. Kurasa lebih baik kau ikut sama- sama ke istana." "Terima kasih. Tapi aku ada urusan lain Rara…." jawab Wiro Sableng. "Lalu kalau hem… kalau Sang Prabu bertanya siapa namamu, bagaimana aku musti menerangkannya?" Wiro Sableng tertawa. "Nama itu sebenarnya tidak ada arti apa-apa. Rara. Kita semua dilahirkan tidak bernama. Orang-orang tua kita yang memberi nama dan itu hanya kebiasaan saja…." "Jadi, apakah kau tidak punya nama?" tanya Rara Mumi pula. Wiro Sableng tertawa lagi. "Namaku tidak penting Rara. Tapi kalau kau penasaran ingat-ingat angka ini…." Habis berkata begitu ditariknya saja ujung bawah kain yang dikenakan Rara Murni. Dan dengan ujung jari tangannya, dengan mempergunakan tenaga dalam tentunya, maka dituliskannya tiga rentetan angka 212. Rara Murni memperhatikan angka itu. "Dua satu dua…:" desisnya. Diangkatnya kepalanya hendak mengatakan sesuatu pada pemuda itu. Namun dia terkejut dan tak habis heran. Si pemuda sudah tak ada lagi di hadapannya, seakan-akan gaib lenyap ditelan bumi. Rara Murni memandang berkeliling. Tapi pendekar 212 tetap saja tidak kelihatan. Gadis itu menghela nafas panjang. "Pemuda aneh… agak ceriwis… tapi berhati polos…." kata Rara Murni dalam hati. Dicambuknya sapi-sapi penarik gerobak. Gerobak itu pun bergeraklah menuju pintu gerbang Kotaraja. Tentu saja Prabu Kamandaka sangat terkejut ketika mendapat keterangan dan mengetahui apa yang telah terjadi atas diri adiknya. Sepasukan prajurit kerajaan segera dikirim ke lembah Limanaluk. Tapi mereka datang terlambat karena saat itu pengkhianat Kalasrenggi sudah tak bernafas lagi, mati tergantung dengan darah bercucuran dari hidung, mata serta telinga! Rara Murni sendiri, secara diam-diam menyuruh beberapa orang kepercayaannya untuk mencari jejak Wiro Sableng si Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212, namun usaha mereka siasia belaka. Hari itu juga di seluruh Kerajaan diadakan pembersihan, termasuk di dalam istana. Tapi hasilnya tidak memuaskan sama sekali. Bahkan biang racun pengkhianat yaitu Raden Werku Alit tetap tenang-tenang saja di tempatnya di dalam gedungnya yang mewah di lingkungan istana. Siapa yang menduga kalau saudara sepenyusuan dari Sang Prabu sendiri yang menjadi tokoh pengkhianat terbesar? Satu-satunya orang yang ditangkap dalam pembersihan yang diadakan ialah petani yang menggagahi Rara Murni di tengah jalan sewaktu naik gerobak. Namun sebelum dibawa ke hadapan Sang Prabu, petani ini berhasil merampas pedang seorang perajurit dan menghunjamkannya ke batang lehernya. Tak ampun lagi manusia itu meregang nyawa di situ juga. Siapakah petani ini sesungguhnya? Siapa pula kawannya yang telah ditamatkan riwayatnya oleh pendekar 212 sebelumnya? Mengapa pula petani yang satu itu memutuskan untuk membunuh diri sendiri? Dia dan kawannya tiada lain adalah mata-mata kaki tangan kaum pemberontak yang dikirimkan oleh Mahesa Birawa untuk menemui Raden Werku Alit dan menyelidiki suasana di Pajajaran menjelang saat-saat penyerangan total diadakan! Seperti yang diceritakan di atas, dalam perjalanan menuju ibu kota kerajaan yaitu Pakuan, mereka telah bertemu dengan Rara Murni, adik Sang Prabu, bersama seorang laki-laki gondrong yang mereka sangkakan hamba sahaya Rara Murni. Maka saat itu timbullah niat mereka untuk menculik gadis itu dan membawanya ke tempat persembunyian kaum pemberontak di kaki Gunung Halimun. Namun maksud mereka itu membawa celaka kepada diri mereka sendiri. Yang satu mati dihajar pendekar 212. Yang satu lagi roboh pingsan di tengah jalan kemudian ditangkap oleh serdadu-serdadu kerajaan tapi berhasil bunuh diri sebelum dibawa ke hadapan Sang Prabu, sebelum dipaksa untuk memberikan keterangan! – == 0O0 == - Malam itu untuk kesekian kalinya di dalam kemah besar diadakan pertemuan kali ini sangat penting sekali rupanya karena di luar kemah itu dijaga dengan ketat oleh para pengawal. Pertemuan ini bukan saja penting karena datangnya dua tokoh sekutu dari kaum pemberontak yaitu Adipati Warok Gluduk dari Rajasitu dan Adipati Tapak Ireng dari Ratujaya, tapi juga karena kabar yang dibawa oleh seorang kurir Raden Werku Alit dari Kotaraja. Sebagaimana biasa pertemuan penting ini di:pimpin oleh Mahesa Birawa yang duduk di kepala meja. Setelah mempersilahkan kelima Adipati meneguk minuman masing-masing maka Mahesa Birawa segera membuka pembicaraan. "Pertama sekali perkenankanlah saya atas nama Adipati-Adipati yang terdahulu datang ke sini dan juga atas nama Raden Werku Alit, mengucapkan selamat datang pada Adipati Warok Gluduk dan Adipati Tapak Ireng. Kemudian kami juga mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi- tingginya atas tekad Adipati-Adipati berdua untuk bersedia membantu dan bersekutu dalam perjuangan mencapai cita-cita kita yang besar yaitu menggulingkan Pajajaran, menumbangkan Kamandaka dari takhta kerajaannya karena sesungguhnya selama Raden Werku Alit masih hidup maka Kamandaka tidak punya hak sama sekali untuk menjadi Raja Pajajaran…." Mahesa Birawa memuntir-muntir kumisnya yang melintang dua tiga kali lalu melanjutkan bicaranya: "Kedua kalinya, pertemuan ini adalah juga untuk membahas keterangan yang telah disampaikan kurir dari Kotaraja. Diterangkan bahwa dua orang mata-mata kita tertangkap. Yang satu terbunuh dan yang satu lagi bunuh diri. Mayat mereka dibuang ke kali. Mengenai peristiwa ini ada sedikit keterangan yang bersimpang siur sehingga belum dapat saya menarik satu kesimpulan bagaimana sampai kedua matamata kita itu mengalami nasib demikian rupa. Kabar keterangan yang paling buruk ialah bahwa salah seorang pembantu utama kita yaitu kepala pasukan Kalasrenggi juga telah menemui kematiannya. Dia digantung di sebuah kuil tua di lembah Limanaluk. Mengenai kematian Kalasrenggi ini ada hal-hal aneh dan keterangan yang agak bersimpang siur. Menurut kurir Raden Werku Alit, ketika pasukan kerajaan datang ke kuil itu, Kalasrenggi sudah tidak bernafas, digantung kaki ke atas kepala ke bawah dan pada keningnya tertera guratan-guratan yang membentuk tiga buah angka yaitu angka 212…." Mahesa Birawa memandang berkeliling dan melihat paras-paras Adipati itu keheran- heranan. "Sukar diduga siapa sebenarnya yang membunuh Kalasrenggi dan juga tak dapat ditafsirkan apa arti angka 212 itu! Di samping itu, sesudah kejadian itu Sang Prabu memerintahkan pembersihan besar-besaran di kerajaan. Namun semua orang kita sudah menyingkir. Dan menurut Raden Werku Alit sampai saat dia mengirimkan kurir itu masih belum ada kecurigaan terhadap dirinya. Namun demikian dalam sehari dua ini dia akan segera berangkat ke sini untuk berunding terakhir kali, menentukan kapan penyerangan dilakukan terhadap Pajajaran. Raden Werku Alit berharap agar kita terus dalam kesiap siagaan….." Sunyi sebentar, Adipati Lanabelong dari Kendil yang berkepala sulah meneguk tuaknya, mengumur- ngumurkan minuman itu dalam mulutnya beberapa lama, lalu bertanya: "Sampai saat ini berapakah kekuatan balatentara Pajajaran?" "Menurut keterangan Kalasrenggi sebelum menemui kematiannya tempo hari sekitar dua ribu lebih. Memang jumlah kekuatan mereka lebih dari kita. Kita cuma sekitar seribu enam ratusan. Tapi janganlah itu menjadi kekhawatiran para Adipati sekalian. Mengapa aku katakan tak usah khawatir sebabnya begini. Pertama, dalam peperangan itu jumlah yang besar tidak selamanya menentukan untuk mencapai kemenangan. Sering pasukan yang lebih sedikit sanggup mengalahkan pasukan yang lebih besar. Ini adalah disebabkan bahwa sesungguhnya unsur kekuatan atau jumlah tidak terlalu menentukan tapi unsur taktiklah yang lebih menentukan. Dengan taktik yang tinggi serta matang, dengan mengetahui di mana kelemahankelemahan pertahanan pasukan Pajajaran, pasti kita dalam sekejapan mata bisa mengobrakabrik mereka! Kedua, dalam peperangan kecepatan tempur atau waktu penyerangan yang tepat adalah sangat menentukan. Bila lawan sedang lengah, meskipun jumlahnya besar, sanggup dikacau balaukan dan disapu bersih oleh sepasukan kecil saja. Demikian pula dengan kita. Kita akan menyerang dengan tiba-tiba, dengan menyergap! Pajajaran hanya baru akan mengetahui bila balatentara kita sudah berada di depan mata hidung mereka! Dan saat itu mereka tak akan ada waktu lagi untuk mempersiapkan diri. Aku rasa dengan berpegang teguh pada dua hal itu, tidak sukar bagi kita untuk membereskan Pajajaran. Apalagi para Adipati di sini bukan pula manusia-manusia berilmu rendah. Sedikit banyaknya adalah murid-murid dari perguruanperguruan silat yang ternama juga, bukankah demikian?" Kelima Adipati itu sama mengulum senyum. Memang rata-rata mereka dalah pewaris ilmu-ilmu silat dari pelbagai cabang dan aliran dan ilmu-ilmu mereka tidaklah dapat dianggap ilmu pasaran yang rendah belaka! "Di samping itu," kata Mahesa Birawa pula, "Jangan pula kita lupakan bantuan yang akan diberikan oleh seorang tokoh dunia persilatan yang terkenal yakni Begawan Sitaraga…." "Oh, jadi Begawan sakti yang diam di puncak Gunung Halimun itu membantu kita pula?" tanya Warok Gluduk, Adipati dari Rajasitu. "Ya," sahut Mahesa Birawa. "Bagaimana sampai Begawan ini mau membantu perjuangan kita?" tanya Tapak Ireng. "Setahuku dia mempunyai pertikaian dengan Toa Kamandaka…. " jawab Mahesa Birawa pula. "Kalau benar begitu, satu hari saja Pajajaran pasti sudah sama rata dengan tanah…." kata Warok Gluduk sambil mengusap-usap dagunya. Dan dibayangkannya kedudukan yang bakai diterimanya bila pemberontakan mereka berhasil nanti! * * * Waktu itu hari hujan rintik-rintik. Angin malam bertiup kencang dan dingin. Sosok tubuh itu berjalan dengan acuh tak acuh. Tidak perduli hujan rintik-rintik, tidak perduli angin kencang, tidak perduli segala rasa dingin yang menyembilui tulang-tulang sumsum. Dia berjalan terus bahkan sambil bersiul-siul. Sesampainya di ujung jalan itu maka disusurinya tembok tinggi dan sekali-sekali, dalam jarak-jarak tertentu dilewatinya seorang pengawal bersenjata lengkap. Di hadapan sebuah pintu gerbang yang dikawal oleh delapan orang perajurit berhentilah pemuda itu. Dia memandang ke kiri dan ke kanan, memandang ke atas pintu gerbang lalu memandang pada barisan pengawal dengan pandangan orang bodoh. Pengawal-pengawal pintu gerbang mula-mula memandang saja dengan penuh curiga namun kemudian salah seorang daripadanya membentak: "Pemuda gondrong! Ada apa kau celangak celinguk di sini?!" Dibentak malahan pemuda itu tersenyum. "Apa kau tidak tahu berada di mana saat ini?!" bentak prajurit pengawal yang lain. "Ah… itulah yang aku mau tanya, saudara. Apakah ini istananya Sang Prabu Raja Pajajaran?" Delapan pasang mata prajurit pengawal memandang dari atas ke bawah. Tak ada kesimpulan lain bagi mereka daripada berpendapat bahwa tentulah pemuda berambut gondrong itu seorang yang kurang ingatan. Seorang prajurit yang agak berumur maju ke muka. "Orang muda, ini memang istana Raja Pajajaran. Siapapun tak diperkenankan berdiri lama-lama di sekitar sini…." Pemuda itu garuk-garuk kepalanya. "Kalau berdiri di sini tidak boleh… tentu masuk lebih tidak boleh lagi…. " katanya perlahan seperti pada dirinya sendiri. "Berlalulah dari sini," kata prajurit tadi. "Tapi, aku mau bertemu dengan Rara Murni…." kata si pemuda. Prajurit tua itu tertawa. "Tak seorang pun yang diizinkan bertemu dengan Tuan P.uteri, apalagi kau…." "Ini urusan penting sekali, Saudara!" desak si pemuda. Salah seorang prajurit yang lain, yang sudah tak sabaran berkata: "Pemuda gila, berlalulah dari sini. Atau pangkal tombakku akan membenjutkan kepalamu!" Tapi si pemuda tidak memperdulikan ancaman itu. "Saudara pengawal, dengarlah," katanya. "Aku pernah kenal dengan Rara Murni. Mungkin aku lebih kenal padanya dari kalian semua di sini. Aku musti ketemu dengan dia. Katakan saja bahwa ada seorang pemuda berambut gondrong bernama 212 mau bertemu dengan dia. Pasti dia tahu dan mengizinkan aku masuk…." Kedelapan prajurit pengawal itu tertawa membahak. Beberapa di antaranya malah mencibir. Dan seseorang di antara mereka berkata: "Kau salah alamat, kawan. Mustinya kau datang ke rumah dukun Gendong di kampung Andawa, minta obat kepadanya agar otakmu yang geblek sinting itu bisa diperbaikinya!" "Siapa bilang aku sinting?!" radang si pemuda rambut gondrong. "Kau memang tidak sinting! Tapi berotak miring atau setengah gila!" Dan gelak membahak terdengar lagi di depan pintu gerbang istana itu! "Kalau kalian tidak mau kasih aku masuk, tak apa," kata si pemuda yang tiada lain daripada pendekar 212 Wiro Sableng. "Tapi satu hal aku katakan, aku tidak gila. Kalianlah semua yang gila tertawa tiada pangkal sebab!" Habis berkata begini pemuda itu berlalu, melangkah sambil bersiul-siul. Rara Murni seperti tidak percaya pada pemandangannya ketika melihat pintu terbuka dan dua sosok tubuh masuk ke dalam. Yang seorang adalah inang pengasuhnya, seorang perempuan tua, sedang yang satu lagi adalah pemuda rambut gondrong yang pernah menolongnya tempo hari. "Kita bertemu lagi, Rara," kata Wiro Sableng. "Di pintu gerbang aku tak diperbolehkan masuk, terpaksa lompat lewat tembok dan memaksa perempuan tua ini untuk memberitahukan kamarmu…. " "Ada apakah kau datang ke sini, Saudara 212?" tanya Rara Murni. "Ah… rupanya kau masih belum melupakan angka itu. Bagus sekali! Mengapa aku datang ke sini…. Untuk bertemu dengan kau tentunya." kata pendekar 212 pula seraya menyandarkan punggungnya ke pintu yang tadi ditutupkannya. Merah paras Rara Murni mendengar kata-kata Wiro Sableng. Tentang diri penolongnya ini memang tak pernah dilupakannya, terutama mengingat kehebatannya. Maka bertanya pula dia: "Mengapa kau ingin ketemu aku…?" "Oh, jadi tak boleh ketemu?" "Bukan begitu maksudku, Saudara…." "Dengar Rara, aku musti bertemu dan bicara dengan Sang Prabu malam ini juga…." Rara Murni terkejut. "Ada urusan apa…?" "Urusan penting. Penting sekali…." Rara Murni berpikir-pikir. Pemuda ini selama dikenalnya meski ceriwis dan suka bicara ngelantur tapi hatinya polos. Namun demikian dia masih belum tahu siapa adanya pemuda ini. Bukan mustahil dia adalah seorang pengkhianat macam Kalasrenggi tapi yang menjalankan taktik secara lain. Purapura menolong pertama kali, kemudian bila tiba saatnya akan menggolong. "Katakan saja urusan pentingmu itu, saudara. Nanti aku yang sampaikan kepada Sang Prabu…." "Ini bukan urusan perempuan, Rara Murni." kata Wiro Sableng pula. Rara Murni yang lebih mementingkan keselamatan kakak kandungnya Prabu Kamandaka menjawab: "Maaf, walau bagaimanapun aku tak dapat mempertemukan kau dengan Sang Prabu…." Wiro Sableng tak berkata apa-apa. Digaruknya kepalanya. "Sukar memang untuk percaya pada manusia macamku. Tapi biarlah, bertemu dengan kau puas juga hatiku." Pendekar itu tertawa dan kembali melihat bagaimana kedua pipi Rara Murni menjadi merah. Tiba-tiba tangan kirinya dihantamkan ke muka dengan telunjuk terpentang lurus-lurus. Tanpa keluarkan suara inang pengasuh yang tadi berlutut kini rebah tiada sadarkan diri. Rara Murni hendak menjerit. Tapi mulutnya ditekap oleh Wiro Sableng. Pemuda ini berkata: "Rara, perempuan itu tak apa-apa. Aku hanya menotoknya agar jangan sampai dia membocorkan rahasia. Ketahuilah, istanamu ini kini penuh dengan pengkhianatpengkhianat. Aku tak tahu siapa yang menjadi biang pengkhianat! Kalau tahu siang-siang sudah kupuntir kepalanya dan kubawa ke hadapan Sang Prabu. Kuharap besok pagi atau malam ini juga kau bawalah Sang Prabu ke kamarmu ini dan baca pesanku ini?" Habis berkata demikian pendekar 212 melangkah ke dinding dan pergunakan jari telunjuknya untuk menulis. Menulis serentetan syair yang mengandung nasihat dan peringatan. Dalam waktu yang dekat akan pecah pemberontakan Pemberontakan menggulingkan Sang Prabu dari takhta kerajaan Istana penuh dengan pengkhianat- pengkhianat bermuka jujur tapi berhati seculas setan Siapkan bala tentara di luar tembok kerajaan 212 "Samapi ketemu lagi Rara Murni." kata pendekar 212 Wiro Sableng sehabis menulis rentetan syair itu. Lalu cepat-cepat ditinggalkannya kamar itu. Rara Murni memburu ke pintu tapi si pemuda sudah lenyap. Ketika malam itu juga Rara Murni menemui Sang Prabu dan menerangkan tentang kedatangan pemuda aneh itu maka terkejutlah Prabu Kamandaka. Dengan langkah besarbesar dan tanpa pengawal sama sekali Raja Pajajaran itu bersama adiknya pergi ke kamar. Dan memang apa yang tertulis di dinding kamar cocok seperti apa yang diterangkan adiknya. Dinding kamar itu dari batu dan dilapisi dengan marmer putih yang sangat keras. Dengan pahat sekalipun akan sukar menuliskan rentetan syair itu. Tapi si pemuda aneh telah menuliskannya dengan ujung jari! "Bagaimana pendapat Kanda?" tanya Rara Murni kepada kakaknya. "Pemuda itu tentu seorang yang sakti luar biasa." kata Prabu Kamandaka. "Tapi apa yang dituliskannya di dinding ini, adalah satu hal yang aku belum bisa percaya. Tentara kerajaan telah mengadakan pembersihan. Dan tak seorang pengkhianat pun ditemukan…." "Mungkin mereka semua sudah menyingkir dan mempersiapkan diri di satu tempat yang tersembunyi di luar kerajaan," kata Rara Murni pula. Prabu Kamandaka mengusap-usap dagunya. Lalu katanya: "Rahasiakan tentang tulisan ini, Dinda. Meski aku tak percaya, aku akan mengadakan penyelidikan juga." Sesudah itu, keluarlah Kamandaka dari kamar adiknya. – == 0O0 == - "Berhenti!" "Tahan!" Enam prajurit maju ke muka, enam ujung tombak ditujukan ke dada dan punggung manusia berpakaian putih itu. "Siapa kau?!" "Aku mau bertemu dengan Mahesa Birawa!" "Keparat, aku tanya siapa, menjawabnya lain" bentak prajurit itu. Laki-laki itu menggeram dalam hati. "Tunjukkan kemah Mahesa Birawa. Kalau tidak antarkan aku kepadanya!" " Manusia bau tengik! Kau kira kami ini budakmu? " "Kau mata-mata Pajajaran ya?!" bentak prajurit yang paling kanan sekali. Ujung tombaknya kini digeser ke tenggorokan laki- laki asing itu. "Kalian sontoloyo semua! Aku bicara baik- baik, dibalas dengan bentakan-bentakan! Sialan!" Enam ujung tombak dengan serta merta bergerak ke muka. Laki-laki yang hendak menjadi bahan sasaran ujung senjata itu berkelebat cepat. Satu kali gebrakan saja maka mentallah keenam prajurit itu! Empat tergelimpang di tanah tak bangun lagi. Satu berdiri nanar, sedang yang satu sambil memegang perutnya yang kesakitan, masih sanggup berteriak memanggil kawan- kawannya. Maka dalam sekejapan mata saja puluhan prajurit dengan senjata terhunus sudah mengurung tempat itu, mengurung ketat laki-laki berpakaian serba putih. Oborobor menerangi tempat itu dan jelaslah tampang manusia yang telah menggeprak enam prajurit tadi. Dia memandang berkeliling dengan air muka melontarkan senyum mengejek. "'Inikah tampangnya manusia-manusia yang hendak memberontak pada kerajaan….?" Laki- taki itu tertawa mengekeh. "Kalian manusia dogol semua. Mau saja diperalat oleh segelintir manusia yang hendakkan kekuasaan secara keji! Kalau kalian kalah, kalian dan dipancung semua! Kalau kalian menang, kalian dapat apa?!" Seorang laki-laki berbadan tinggi kekar dan berkulit hitam maju ke hadapan orang asing itu. Dia adalah seorang pelatih prajurit- prajurit yang hendak memberontak itu. Satu tangan bertolak pinggang, satu lagi menuding tepat-tepat ke muka si orang asing, dia berkata: "Kurasa kau masih belum buta untuk melihat kenyataan, di mana kau berada saat ini!" kata laki-laki tinggi besar itu. Si orang asing masih tertawa seperti tadi, mengekeh mengejek. Si tinggi kekar yang merasa dihina di hadapan orang banyak dengan gemas sekali hantamkan tinju kanannya ke perut si orang asing. Apa yang terjadi kemudian terlalu cepat untuk dilihat oleh mata orang banyak di tempat itu. Tubuh kepala pelatih yang tinggi besar itu jungkir balik di udara dan jatuh punggung di tanah. Untuk beberapa lamanya tak dapat bergerak-gerak! Kesunyian karena terkejut dan keheranan hanya berlangsung beberapa ketika saja. Begitu terdengar seseorang berteriak maka menyerbulah puluhan prajurit itu. Suara beradunya senjata riuh dan kacau balau. "Tahan!," Seorang prajurit berteriak. "Lihat! Kita menghantam sesama kita! Kunyuk itu sudah ada di sana!" Dan ketika semua mata memandang ke jurusan yang ditunjuk maka kelihatanlah orang asing tadi berjalan seenaknya di sela-sela kemah prajurit! Sewaktu dirinya diserang, secara bersama- sama tadi, laki-laki itu dengan kecepatan luar biasa jatuhkan diri di tanah dan lolos di antara selangkangan para penyerangnya. Keadaan malam yang gelap menolongnya untuk lolos dan melangkah seenaknya di sela- sela kemah. Metihat bahwa orang yang mereka serang sudah berada di tempat lain, di samping terkejut tentu saja prajurit-prajurit itu menjadi geram sekali. Apa lagi kepala pelatih yang tadi dibikin menggeletak di tanah dalam satu kali gebrakan. Dia berseru memanggil prajuritprajurit lainnya. "Kurung bangsat itu! Kalau tak mungkin ditangkap hidup-hidup, cincang sampai lumat!," perintahnya. Kepala pelatih ini kemudian cabut kerisnya. Sebelum menyerbu di antara anak buahnya dia memberi perintah pada seorang prajurit yang kebetulan berada di dekatnya: "Beri tahu hal ini pada Mahesa Birawa….!" Di dalam kemah besar itu tengah berlangsung perundingan. Mahesa Birawa tengah berkata: "Besok Raden Werku Alit sudah berada di sini dan agaknya…. " Ucapan Mahesa Birawa terputus. Kepalanya berpaling ke kanan dan dari mulutnya keluarlah suara bentakan: "Pengawal! Apa kamu orang tidak tahu bahwa tidak siapa pun boleh masuk ke dalam kemah ini? Keluar…. !" "Mohon maaf Raden… kata pengawal kemah seraya menjura dua kali. "Seorang prajurit memberitahukan bahwa terjadi kerusuhan di sebelah timur…" "Kerusuhan….?!" Mahesa Birawa berdiri dari kursinya. "Ya, seorang asing diketahui memasuki perkemahan. Ketika dikurung dan ditanyai dia melawan. Dia merubuhkan enam prajurit! Memukul kepala pelatih Suto Rande dan kini tengah dikeroyok oleh puluhan prajurit di bawah pimpinan Suto Rande!" "Hanya seorang asing nyasar ke sini saja kalian tidak bisa membereskan?! Memalukan sekali!" kertak Mahesa Birawa. Tapi dalam hatinya dia sebagai seorang yang sudah berpengalaman dalam dunia persilatan memaklumi, kalau seseorang sanggup merubuhkan enam lawan sekaligus, bahkan memukul jatuh kepala pelatih prajurit ini suatu tanda bahwa dia bukanlah orang sembarangan, pasti mempunyai ilmu yang diandalkan. Tapi siapa adanya orang asing yang berani datang seorang diri ke perkemahan itu, inilah satu hal yang ingin diketahui Mahesa Birawa. Mahesa Birawa berpaling pada Adipati-Adipati yang ada dalam kemah itu dan berkata: "Harap maafkan. Aku terpaksa meninggalkan persidangan sebentar untuk membereskan keonaran…" Semua Adipati menganggukkan kepala. Adipati Tapak Ireng berkata: "Mungkin sekali perusuh ini seorang mata- mata Pajajaran…" "Boleh jadi," sahut Mahesa Birawa seraya menindak ke pintu kemah. Dan saat itu pengawal kemah berkata: "Orang asing itu berkata bahwa dia ingin bertemu dengan Raden…" "Dengan aku?" Mahesa Birawa menuding dadanya sendiri. Pengawal mengangguk. Ini membuat Mahesa Birawa tambah ingin lekas- lekas mengetahui siapa adanya perusuh itu. Pertempuran berkecamuk seru ketika Mahesa Birawa sampai ke sana bersama seorang prajurit. Prajurit ini hendak berseru tapi diberi isyarat oleh Mahesa Birawa agar diam saja. Akan disaksikannya dengan mata kepala sendiri beberapa jurus kehebatan pertempuran itu. Pekik dan jeritan terdengar hampir setiap saat. Setiap pekikan musti disusul dengan menggeletaknya tubuh seorang pengeroyok. Menurut taksiran Mahesa Birawa saat itu ada sekitar tiga puluh prajurit di bawah pimpinan Suto Rande yang mengeroyok si orang asing. Diam-diam Mahesa Birawa mengagumi juga kehebatan orang asing itu. Masih muda belia, bertampang keren dan senjatanya sebuah tombak yang diputar seperti kitiran, menderu dan setiap saat meminta korban dari pihak pengeroyok! Mahesa Birawa tahu betul, tombak yang di tangan pemuda itu adalah tombak rampasan. Dan yang membuat Mahesa Birawa terpaksa leletkan lidah ialah meski dikeroyok puluhan manusia, si pemuda itu dengan seenaknya saja melayani sambil tertawa dan bersiul! Beberapa orang lagi rubuh menggeletak dengan perut atau dada terluka parah disambar ujung tombak. Kemudian terdengar lagi satu pekikan dahsyat. Sesosok tubuh mental, jatuh tepat di hadapan Mahesa Birawa. Ketika diteliti oleh Mahesa Birawa ternyata sosok tubuh itu adalah sosok tubuh Suto Rande, kepala pelatih prajurit! Nyawanya sudah minggat dan pada keningnya kelihatan guratan angka 212…! Angka ini sekaligus mengingatkan Mahesa Birawa pada keterangan kurir Raden Werku Alit tentang kematian Kalasrenggi secara aneh, digantung kaki ke atas kepala ke bawah dan juga ada angka 212 pada kulit keningnya! Tanpa menunggu lebih banyak korban lagi yang jatuh maka berserulah Mahesa Birawa! – == 0O0 == - "Aku Mahesa Birawa memerintahkan untuk hentikan pertempuran ini!" Suara yang hampir menggeledek itu dengan serta merta menghentikan pertempuran. Prajurit-prajurit yang mengeroyok melompat ke luar dari kalangan pertempuran. Si pemuda asing masih berdiri di tempat dengan tombak di tangan. Teriakan Mahesa Birawa tadi membuat dia putar kepala ke arah datangnya suara itu. Dan sepasang matanya segera membentur sesosok laki-laki berbadan tegap berkumis lebat melintang, berpakaian bagus. Pada pinggangnya terselip keris. Dalam hatinya pemuda itu menggumam: "Hem… jadi inilah dia manusianya yang bernama Mahesa Birawa itu…". Selagi dia menggumam begitu laki-laki itu melangkah mendatanginya. "Orang asing!," kata Mahesa Birawa dengan nada keren dan lantang. "Meski kau punya sedikit ilmu yang diandalkan, tapi di sini bukanlah tempat untuk memamerkannya!" Si pemuda keluarkan suara bersiul. "Betul aku berhadapan dengan Mahesa Birawa saat ini…?" tanyanya. "Kau siapa?!," membentak Mahesa Birawa. "Namaku tertulis di kening anak buahmu itu!" Si pemuda pendekar 212 menunjuk ke mayat Suto Rande. "Hem… bagus kalau begitu!" Mahesa Birawa puntir kumisnya. "Kau yang membunuh Kalasrenggi, bukan?" "Tidak! Aku hanya menggantungnya dan Tuhan kemudian mengambil rohnya….". Habis berkata begitu pendekar 212 Wiro Sableng tertawa mengekeh. "Kau tahu Mahesa, manusia macam Kalasrenggi itu tak layak hidup lama-lama di dunia! Masih kebagusan ada kali untuk tempat pembuang mayatnya! Dan kau tahu… di atas bumi ini masih banyak manusia- manusia macam Kalasrenggi malahan lebih terkutuk dari Kalasrenggi yang musti dilenyapkan!" Di sini bukan tempat pidato, budak hina!," bentak Mahesa Birawa. "Oh, begitu…? Kalau demikian mari kita bicara empat mata Mahesa Birawa. Aku memang sudah lama mencari kau!" Mahesa Birawa menyeringai. Kemudian kelihatan bagaimana mukanya menjadi kelam membesi. "Kalau aku bicara dengan kau maka biar aku terangkan padamu bahwa kedatanganmu ke sini hanyalah untuk mengantar nyawa!" Habis berkata demikian Mahesa Birawa hantamkan tangan kanannya ke muka. Setiup angin yang bukan olah-olah panasnya menggebubu ke arah pendekar 212! Pendekar 212 lompat tiga tombak ke atas. Angin pukulan lewat di bawahnya dan menghantam sebuah pohon kayu. "Buum!" "Kraak!" Pohon itu bukan saja tumbang dilanda angin pukulan tapi juga berwarna hitam karena hangus! Kedua orang itu sama- sama terkejut. Pendekar 212 terkejut melihat kehebatan pukulan dan tenaga dalam lawan sedang Mahesa Birawa heran tidak menyangka kalau pukulannya itu dapat dielakkan dengan satu lompatan enteng ke udara! Dengan penuh waspada Wiro Sableng jejakkan kedua kakinya kembali ke tanah. "Mahesa Birawa," katanya, "Soal pertempuran soal mudah. Mudah dimulai, mudah diakhiri. Tapi aku bilang, aku mau bicara dengan kau! Empat ma…." "Budak hina! Siapa sudi bicara dengan kau!" potong Mahesa Birawa membentak. Sekali lagi tangan kanannya dipukulkan ke muka. Kalau tadi dia hanya mempergunakan sepertiga dari tenaga dalamnya maka kini dialirkan ke dalam pukulannya itu setengah dari tenaga dalamnya! Namun untuk kedua kalinya pula Mahesa Birawa dibuat gemas karena Pendekar 212 berhasil pula mengelakkan serangannya yang dahsyat itu. "Mahesa Birawa, apakah kau yang lebih tua tidak memberikan kesempatan padaku untuk bicara empat mata?!"tanya Wiro Sableng pula. Kesabarannya mulai terkikis dari hatinya. Kalau saja dia tiada ingat pesan gurunya Eyang Sinto Gendeng pastilah saat itu juga dibalasnya serangan-serangan Mahesa Birawa tadi! Untuk tidak terlalu kehilangan muka karena dua pukulannya berhasil dielakkan lawan maka berkatalah Mahesa Birawa: "Percuma saja kau bicara, toh nantinya nyawamu akan aku bikin merat juga dari kau punya badan!" Pendekar 212 tertawa. "Dengar Mahesa Birawa…" kata pendekar ini. Rahang-rahangnya bertonjolan. Pelipisnya bergerak-gerak tanda dia menekan amarahnya dan berusaha mempertahankan kesabarannya. "Aku membawa pesan dari Eyang Sinto Gendeng…" Maka terkejutlah Mahesa Birawa mendengar nama itu. "Kau ini siapa kalau begitu?!" tanyanya. "Siapa aku masih belum penting. Aku tunggu kau malam ini di bukit Jatimaleh. Seorang diri, Mahesa Birawa. Datanglah seorang diri…." "Kau bisa bicara di sini!" Pendekar 212 menggeleng. "Di bukit Jatimaleh…" desisnya. "Aku bilang di sini!," bentak Mahesa Birawa. "Takutkah kau datang ke bukit itu malam- malam gelap begini? Atau mungkin takut pada dinginnya udara? Atau mungkin takut pada roh-roh manusia yang selama ini membayangimu….?!" Mahesa Birawa kertakkan geraham. Dia memberi isyarat. Bersama puluhan prajurit yang ada di situ maka menyerbulah dia! Pendekar 212 melompat sampai setinggi tujuh tombak. Dia berpegangan pada ujung sebuah cabang pohon, membuat satu kali putaran pada saat mana Mahesa Birawa lemparkan sejenis senjata rahasia. Mahesa Birawa berseru tertahan ketika melihat senjata rahasianya membalik kembali menyerang dirinya sendiri. Dikebutkannya tangan kirinya. Senjata rahasia itu bermentalan, menghantam prajurit-prajurit di sekitarnya. Empat orang menggerang dan rebah ke tanah! Bayangan Wiro Sableng lenyap namun masih terdengarsuara seruannya mengiangi anak telinga. "Bukit Jatimaleh, Mahesa! Malam ini. Ingat, seorang diri…. !" – == 0O0 == - Bukit Jatimaleh tertetak tidak berapa jauh dari perkemahan pemberontak. Ketika Mahesa Birawa hendak meninggalkan perkemahan, beberapa prajurit menyatakan hendak ikut serta tapi Mahesa berkata: "Biar aku sendiri yang membereskan urusan ini! Kalian semua di sini bersiap siagalah. Perkuat penjagaan dan lipat gandakan prajurit-prajurit peronda!" Cuaca malam di atas bukit Jatimaleh gelap gulita. Di langit tiada rembulan tiada bintang. Udara yang dingin mencucuki daging menyembilui tulang- tulang sampai ke sungsum. Dalam kegelapan inilah kelihatan dua sosok tubuh berdiri berhadap-hadapan. Yang satu membentak lantang: "Cepat terangkan siapa kau adanya budak hina!" "Ah… jangan bicara memaki terus-terusan Mahesa Birawa. Belum tentu aku lebih hina dari kau!," jawab Pendekar 212. Marahlah Mahesa Birawa. Dia menggeser langkahnya ke muka. Tapi langkahnya segera pula terhenti ketika didengarnya pemuda di hadapannya berkata: "Pesan Eyang Sinto Gendeng ialah agar kau segera kembali ke puncak Gunung Gede dalam waktu secepat-cepatnya!" "Kembali ke puncak Gunung Gede…. ?!" "Yeah… Untuk menerima hukuman atas perbuatan-perbuatan jahatmu sejak kau turun gunung tujuh belas tahun yang silam!" "Jangan bicara ngaco belo! Ada hubungan apa kau dengan Eyang Sinto Gendeng?!" Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 tertawa datar. "Aku hanya pesuruh buruk saja, Mahesa…." jawabnya. "Dusta!," bentak Mahesa Birawa menggeledek. "Kalau kau tak mau bicara yang sebetulnya jangan menyesal bila kepalamu kupuntir sampai putus!" Wiro Sableng bersiul. "Aku tak tahu segala urusan puntir kepala. Aku hanya menyampaikan perintah Eyang Sinto Gendeng agar kau menghadapnya di puncak Gunung Gede! Kau dengar Mahesa…. He… he… he…." Jari-jari tangan Mahesa Birawa mengepal membentuk tinju. "Aku ingin tahu saat ini juga. Apakah kau bersedia memenuhi perintah itu atau tidak…?" "Aku tanya dulu! Apa hubunganmu dengan Eyang Sinto Gendeng? Jangan bikin kesabaranku habis!" "Kurasa akulah yang mustinya kehabisan rasa sabar melihat tampangmu saat ini!" tukas Wiro Sableng. "Katakan saja terus terang bahwa kau tak mau menghadap Eyang Sinto Gendeng! Itu lebih baik dan lebih jelas….!" Mahesa Birawa busungkan dada. Katanya: "Kalau orang tua geblek itu butuh ketemu dengan aku, suruh dia datang ke sini!" Suara menggeram jelas terdengar di tenggorokan Pendekar 212. Mukanya kelam membesi. Tanah yang dipijaknya melesak sampai tiga senti! "Bicaramu terlalu besar Mahesa Birawa! Terlalu pongah! Dosamu sendiri sudah lebih dari takaran! Hari ini kau hina gurumu sendiri! Guru yang bertahun-tahun telah memeliharamu, mengajarmu segala ilmu kepandaian! Guru yang telah kau nodai nama baiknya! Kau mengandalkan apakah, Mahesa Birawa….. ?!" "Bocah gila! Terpaksa mulutmu kurobek detik ini juga!" bentak Mahesa Birawa. Secepat kilat, belum lagi habis bicaranya maka lima jari-jari tangan kanannya bergerak mencengkeram ke muka. Pendekar 212 tertawa. Tertawa dan bersiul. Bentakan nyaring menggeledek dari mulutnya dan dia lompat ke samping sambil hantamkan tangan kirinya. Mahesa Birawa terkejut ketika merasakan satu angin yang deras mendorong tubuhnya. Cepat-cepat dia pergunakan tangan kanan untuk memapasi dorongan angin itu tapi tak urung tubuhnya menjadi gontai juga! Maka kini keringat dingin memercik di kening laki-laki itu! "Urusan kekerasan urusan mudah, Mahesa!," kata Wiro Sableng. "Tapi bicaraku masih belum habis. Tujuh belas tahun yang lewat kau pernah malang melintang di Jatiwalu. Ingat…. ?" "Pemuda sedeng! Darimana…." "Ah… kau masih ingat! Bagus… bagus sekali! Apa kau juga ingat bahwa pada masa tujuh belas tahun itu kau telah membunuh Ranaweleng, Kepala Kampung Jatiwalu?! Apakah kau juga masih ingat bahwa pada masa itu kau juga merusak kehormatan seorang perempuan bernama Suci, isteri Ranaweleng, kemudian karena malu perempuan itu bunuh diri?! Apa kau juga masih ingat dan sanggup menghitung berapa banyak jiwa penduduk yang kau renggut, kau bunuh?!" Mulut Mahesa Birawa terkatup rapat-rapat. Dan pendekar 212 buka mulut lagi: "Kalau aku tidak ingat pesan Eyang Sinto Gendeng, pada detik aku melihat tampangmu aku sudah bertekad untuk mengermus kepalamu! Kini setelah tahu bahwa kau tidak mau diperintahkan untuk menghadap ke puncak Gunung Gede maka tak ada lagi halangan bagiku untuk membalaskan dendam kesumat seribu karat, untuk membalaskan sakit hati yang berurat berakar sejak tujuh belas tahun yang lewat! Ketahuilah Mahesa Birawa, aku adalah anak Ranaweleng. Dan aku adalah juga murid Eyang Sinto Gendeng! Adik seperguruanmu sendiri, tapi yang akan memisahkan roh busukmu dengan tubuh bejatmu!" Habis berkata begini maka tertawalah pendekar 212. Suara tertawanya keras dan panjang, menegakkan bulu roma. Bergetar hati Mahesa Birawa mendengar suara tertawa yang menegakkan bulu kuduknya itu. Terbayang olehnya masa tujuh belas tahun yang silam. Begitu cepat waktu berlalu dan tahu-tahu kini dia berhadapan dengan kenyataan yang pahit! Berhadapan dengan anak laki-laki dari suami isteri yang pernah menjadi korbannya. Seperti tak percaya dia akan kenyataan ini! "Orang muda…!," kata Mahesa Birawa pula. Suaranya diperbawa dengan aliran tenaga dalam agar tidak kentara getaran hatinya. "Kuharap kau cepat-cepat saja bangun dari mimpimu dan tahu berhadapan dengan siapa…!" Pendekar 212 tertawa lagi seperti tadi. Lebih seram malah! Dan didengarnya suara Mahesa Birawa, musuh besarnya itu berkata pongah: "Jangankan kau… Eyang Sinto Gendeng sekalipun tak akan sanggup turun tangan terhadapku! Kalau kau teruskan niat edanmu, ketahuilah bahwa kedatanganmu sejauh ini dari puncak Gunung Gede hanyalah untuk mencari mampus sendiri!" "Kita akan lihat Mahesa Birawa! Kita akan saksikan! Darah siapa di antara kita yang akan dihisap oleh tanah! Kau telah menentukan kematian ibu bapakku di siang hari! Disaksikan oleh langit siang dan matahari! Karena itu besok, bila matahari tepat sampai di puncak ubun-ubun, aku tunggu kau di atas bukit ini! Biar langit dan matahari yang dulu menyaksikan kematian ibu bapakku, besok menyaksikan pula kematianmu, menyaksikan pembalasan dendam kesumat seribu karat!" Mahesa Birawa keluarkan suara mendengus. "Aku bukan manusia yang bisa menunggu, apa lagi terhadap keroco macam kau! Tapi dengar orang muda… daripada kau mati tiada guna, aku ada usul baik bagimu. Ikut bersamaku menghancurkan Pajajaran, niscaya kau akan kuangkat kelak menjadi seorang pejabat berpangkat tinggi…. !" Wiro Sableng bersiul. "Aku tidak butuh usul, Mahesa Birawa, juga tidak butuh apa-apa. Saat ini aku hanya butuh roh busukmu! Besok siang di tempat ini. Mahesa. Darahmu atau darahku, nyawamu atau nyawaku!" Maka kini Mahesa Birawa tidak dapat lagi menahan hatinya. "Tak perlu tunggu sampai besok! Sekarang pun aku bersedia melayani! Terima pukulan seribu badai ini!" Mahesa Birawa menerjang ke muka. Tangan kanannya memukul dan gelombang angin yang sangat hebat menderu menyambar ke arah pendekar 212. Yang diserang tanpa tunggu lebih lama berkelebat dan melompat setinggi tujuh tombak. Kedua kakinya tergetar dan linu ketika angin pukulan lawan dalam jarak setinggi itu masih sanggup menyapu kedua kakinya! Dengan kerahkan setengah dari tenaga dalamnya Wiro Sabteng hantamkan tangan kanan ke bawah melancarkan pukulan Benteng Topan Melanda Samudera! Mahesa Birawa berseru tertahan melihat datangnya angin laksana badai ke arahnya. Cepat-cepat dia melompat ke samping. Tubuhnya hampir terpelanting diserempet angin pukulan lawan. Dengan kerahkan tenaga dalamnya dia masih sanggup berdiri di tempat setelah mengelak tadi. Namun demikian kedua kakinya melesak sampai lima senti ke dalam tanah! Dalam keterkejutan melihat kehebatan lawan Mahesa Birawa mendengar suara tertawa pendekar 212. "Kutunggu besok siang Mahesa Birawa. Di sini,di puncak bukit ini! Satu hal perlu kukatakan. Besok aku menghadapimu bukan sebagai manusia bernama Mahesa Birawa, tapi sebagai Suranyali!" Wiro Sableng berkelebat. "Budak hina! Jangan lari!" teriak Mahesa Birawa alias Suranyali. Namun pendekar 212 sudah lenyap dari pemandangannya ditelan kegelapan malam. – == 0O0 == - Malam itu Mahesa Birawa tak dapat memicingkan mata. Dia gelisah sekali. Sebentar-sebentar di atas pembaringan dalam kemah dia membalik ke kiri, membalik ke kanan. Ingatannya mengawang kembali pada masa tujuh belas tahun yang silam. Terbayang olehnya kematian Ranaweleng. Terbayang olehnya Suci, perempuan yang bunuh diri itu. Dan ketika ingatannya berpindah pada pemuda yang mengaku anak dari Ranaweleng itu, tubuhnya seperti dijalari hawa dingin. Meski sudah dapat mengukur kehebatan lawan namun Mahesa Birawa tidak takut sama sekali untuk menghadapi pemuda itu. Cuma kemunculan si pemuda yang tidak terdugalah yang benar-benar mengejutkan dan menyirapkan semangatnya. Hati kecilnya mengutuki kebodohannya sendiri. Pada masa tujuh belas tahun yang silam itu dia tahu kalau Ranaweleng dan Suci mempunyai seorang putera. Kenapa dia tidak sekaligus membunuh orok Ranaweleng itu? Tapi saat itu tentu saja dia tidak mempunyai pikiran panjang seperti waktu sekarang ini. Mahesa Birawa membalikkan tubuhnya kembali. Dia memandang ke dinding kemah. Dan pada dinding kemah itu seperti terbayang oleh matanya rentetan kalimat yang pernah dibacanya pada dinding tempat kediamannya tujuh belas tahun yang lalu yaitu ketika dia baru saja berhasil melarikan Suci dan memasukkannya ke kamarnya. Di sana… di dalam ingatan Mahesa Birawa alias Suranyali, seperti tertera kembali rentetan kalimat itu. Rentetan kalimat yang menjadi kenyataan: "Apa yang kau lakukan hari ini akan kau terima balasannya pada tujuh belas tahun mendatang!" Mahesa Birawa akhirnya turun dari pembaringan. Beberapa lama dia mondar mandir didalam kemah besarnya itu. Kemudian teringat dia pada kematian Kalasrenggi dan dua orang mata-mata yang dikirim ke Kotaraja tempo hari. Mereka menemui kematian akibat turun tangannya seorang manusia aneh. Kalasrenggi mati dengan guratan angka 212 pada keningnya. Dan tadi dia juga saksikan sendiri kematian Suto Rande dalam cara yang sama! Kalau begitu sedikit banyaknya atau mungkin pasti… pasti sekali pemuda yang mengaku anak Ranaweleng itu, yang sesungguhnya adalah adik seperguruannya sendiri, pastilah mempunyai sangkut paut atau hubungan dengan Pajajaran. Dan kalau sudah begini berarti bocornya rencana untuk menggulingkan Prabu Kamandaka, bocornya rencana untuk memberontak terhadap Kerajaan! Mahesa Birawa melangkah lagi mondar mandir sambil mengepalkan tinjunya. Dia harus bertindak cepat sebelum Pajajaran benar-benar tahu keseluruhan rencananya. Bukan mustahil saat itu balatentara Pajajaran tengah menuju ke perkemahan mereka untuk menyapu mereka! Malam itu juga Mahesa Birawa berunding dengan kelima Adipati. Dan malam itu pula diputuskan untuk menggerakkan seluruh pasukan ke Kotaraja. Dua orang kurir dikirim terlebih dahulu. Yang pertama untuk menemui Raden Werku Alit di Kotaraja, memberitahukan bahwa karena sesuatu hal yang mendesak maka pasukan diberangkatkan malam itu dan direncanakan untuk menggempur Pajajaran selambat- lambatnya satu dua jam sesudah fajar menyingsing! Kurir yang kedua berangkat menuju puncak Gunung Halimun, menemui Begawan Sakti Sitaraga yang sebelumnya telah mengatakan bersedia turun tangan membantu kaum pemberontak! Tapi kurir ini kemudian tertawan oleh prajurit-prajurit Pajajaran di perbatasan. Meski tetap berhati bimbang akan kebenaran peringatan yang dibacanya di dinding kamar adiknya, namun Prabu Kamandaka tak urung menyiapsiagakan balatentara Pajajaran secara diamdiam. Dan ketika dini hari itu dia dibangunkan secara mendadak, dilaporkan tentang terlihatnya sepasukan besar mendatangi Kotaraja. Raja Pajajaran ini benar-benar menjadi kaget. Benar juga peringatan itu, katanya dalam hati. Kepada Kepala-Kepala Pasukan Kerajaan segera diberikan perintah kilat: "Kalau pasukan yang datang itu adalah benar pasukan pemberontak, hadapi mereka di luar tembok Kerajaan!" Manakala sinar fajar pertama memancar di ufuk timur maka pada saat itu pulalah mulainya berkecamuk pertempuran yang dahsyat di sepanjang tembok besar yang mengelilingi Kotaraja. Yang paling seru adalah pertempuran pada dua buah pintu gerbang. Pihak pemberontak menyerang habis-habisan untuk dapat membobolkan pintu gerbang Kotaraja itu. Yang diserang bertahan mati-matian! Suara beradunya senjata, pekik kematian, lolong manusia-manusia yang terbabat senjata, bau anyirnya darah, semuanya menjadi satu menimbulkan suasana yang mengerikan. Agaknya serangan lawan mulai tak dapat dibendung. Hal ini kelihatan sesudah pertempuran berkecamuk hampir setengah jam lebih. Prabu Kamandaka dengan teriakan- teriakan hebat berkelebat kian ke mari memberi semangat pasukan Pajajaran. Prabu ini menunggangi seekor kuda putih dan di tangannya tergenggam sebilah golok panjang yang berlumuran darah! Prabu Kamandaka seperti terpukau dan tak mau percaya akan kedua matanya ketika dia bergerak ke medan pertempuran sebelah timur, dia langsung berhadap-hadapan dengan Werku Alit, saudara sepenyusuan sendiri! "Matakukah yang terbalik atau benarkah kau yang ada di hadapanku ini, Alit?" ujar Sang Prabu. Raden Werku Alit tertawa membesi. "Matamu masih belum terbalik, Kamandaka! Cuma otakmu yang miring sehingga mengambil hak orang lain….!" "Hak apakah yang aku telah ambil dan siapakah orang lain itu?!" "Takhta Kerajaan adalah hak syah diriku, Kamandaka!" jawab Werku Alit garang. Prabu Kamandaka tertawa dingin. "Kau mengigau di slang hari Alit! Tak kusangka, kau sendiri yang menjadi biang racun pentolan pemberontak yang memberikan perintah untuk mengeroyok Raja Pajajaran itu!" Prabu Kamandaka dengan teriakan- teriakan hebat berkelebat kian ke mari memberi semangat pasukan Pajajaran. Prabu ini menunggangi kuda putih dan di tangannya tergenggam golok panjang yang berlumuran darah! Agaknya serangan lawan mulai tak dapat dibendung. Hal ini kelihatan sesudah pertempuran berkecamuk hampir setengah jam lebih. Yang diserang bertahan mati-matian! Suara beradunya senjata, pekik kematian, lolong manusia-manusia yang terbabat senjata bau anyirnya darah, semuanya menjadi satu menimbulkan suasana yang mengerikan. Satu demi satu prajurit yang bertempur bersama rajanya itu gugur bergelimpangan. Keadaan Sang Prabu sangat kritis sekali sedang di sebelah barat balatentara pemberontak di bawah pimpinan Mahesa Birawa sudah hampir berhasil membobolkan pertahanan pintu gerbang! – == 0O0 == - Pada saat pertempuran berkecamuk dengan serunya, pada saat pintu gerbang Kotaraja di sebelah barat hampir bobol dan pada saat keselamatan Prabu Kamandaka sendiri terancam maka pada saat itulah terdengar suara yang keras laksana guntur mengatasi segala kecamukan perang yang mendatangkan maut itu! "Manusia-manusia bodoh! Hentikan pertempuran ini!" Hampir semua mereka yang bertempur di medan sebelah timur itu jadi terkejut dan hampir semua mata pula memandang ke atas tembok Kotaraja di mana kelihatan berdiri seorang pemuda berpakaian putih-putih berambut gondrong! Mungkin sekali Raden Werku Alit adalah orang yang paling terkejut melihat pemuda di atas tembok itu. Manusia ini tampangnya sama betul dengan pemuda yang tempo hari ditotoknya sewaktu hujan-hujan di teratak tua! "Orang-orang mati inginkan hidup, kalian yang hidup mau bertempur sampai mati! Goblok betul!" terdengar lagi pemuda yang di atas tembok berkata dengan suaranya yang mengguntur. Werku Alit kertakkan rahang. Hatinya gusar terhadap si pemuda. Diam- diam dia tahu bahwa suara yang mengguntur itu pastilah menandakan bahwa si pemuda yang memiliki tenaga dalam yang sangat tinggi. Namun bila dia melirik ke samping dan detik itu melihat Prabu Kamandaka berada dalam keadaan lengah maka kesempatan ini dipergunakan Werku Alit dengan sebaik- baiknya. Senjatanya berkelebat cepat dan ganas. Satu ujung tajam dari toja menyambar ke leher sedang ujung yang lain menyapu ke kaki Prabu Kamandaka! Melihat datangnya serangan itu Prabu Kamandaka sadar akan keteledorannya berbuat lengah. Sangat terlambat baginya untuk dapat mengelakkan senjata lawan yang menyerang dua tempat itu sekaligus. Salah satu ujung tajam dari senjata lawan pastilah akan mengenai badannya. Prabu Kamandaka lemparkan diri ke belakang meski dia tahu bahwa kakinya akan disapu ujung toja lawan. Tapi pada saat itu pula dari atas tembok melesat satu benda putih sekali laksana bercahaya. Benda ini berbentuk bintang dan mengeluarkan suara mendesing, menghantam pertengahan toja Werku Alit dengan tepatnya. Toja itu patah dua. Salah satu patahannya menggores dada Werku Alit sendiri! Laki-laki ini menjerit kesakitan dan lompat mundur namun diburu dengan sebat oleh Prabu Kamandaka. Dalam keadaan terluka, bersama orang-orangnya Werku Alit bertahan dengan hebat. Dua Adipati lainnya yang melihat terdesaknya Werku Alit segera berikan bantuan sehingga Prabu Kamandaka dan orang-orangnya kembali terdesak hebat! Werku Alit mengamuk dahsyat. Mengamuk dengan patahan tojanya. Namun keadaan dirinya mulai payah akibat luka yang dideritanya. Gerakan-gerakannya mulai menjadi lamban sehingga dia terpaksa mengambil posisi bertahan dan membiarkan pembantupembantunya menyerang pihak lawan. Adipati Tapak Ireng mendekati Werku Alit dan sodorkan sebuah pil. "Telanlah cepat Raden Alit dan alirkan tenaga dalammu ke bagian yang terluka…." Werku Alit cepat-cepat telan pil yang berwama hitam itu lalu kerahkan tenaga dalamnya. Obat yang diberikan oleh Adipati Tapak Ireng memang manjur sekali. Sesaat kemudian darah pada luka Werku Alit berhenti dan tiada terasa sakit lagi. Maka dengan cabut kerisnya Werku Alit kembali maju menghadapi Prabu Kamandaka. Ketika Adipati Lanabelong dengan ruyung besi putihnya turut pula membantu Werku Alit maka lebih buruk dari tadi keadaan Prabu Kamandaka kembali terdesak hebat. "Kaum pemberontak! Hentikan pertempuran ini!" teriak orang yang di atas tembok. Tapi tak ada yang memperdulikan malah Adipati Jakaluwing dari Karangtretes menantang: "Orang gila berambut gondrong kalau mau rasakan toja besiku, turunlah!" Orang di atas tembok menggerutu penasaran. Dari balik pinggangnya dikeluarkannya sebuah kapak bermata dua! Mata kapak itu berkilat-kilat ditimpa sinar matahari pagi. Kemudian dengan satu gerakan yang sangat enteng dia melompat turun. Dan begitu sampai di tanah ditempelkannya ujung gagang kapak ke bibirnya. Maka sesaat kemudian menggemalah suara seperti seruling. Mula- mula pelahan, kemudian makin keras dan melengking-lengking! Telinga pihak pemberontak yang mendengar suara lengkingan seruling itu seperti ditusuk-tusuk sakit sekali. Prajurit-prajurit rendahan menjadi terpukau dan dengan mudah menjadi korban senjata prajurit-prajurit Pajajaran! Werku Alit dan lima Adipati sekutunya terkejut ketika merasa bagaimana sakitnya telinga mereka sedang jalan darah mereka tidak lagi teratur tapi sesak tersendat-sendat. Dan ketika mereka memandang berkeliling mereka melihat bagaimana pasukan mereka di bagian medan mayat prajurit dengan dada mandi darah! Werku Alit dan Adipati-Adipati yang masih hidup terkejutnya bukan main. Serangan mereka di samping dijuruskan kepada Prabu Kamandaka kini juga dititikberatkan pada Wiro Sableng! Namun bila sekali lagi Kapak Naga Geni 212 berkelebat maka kini giliran Adipati Jakaluwing pula yang meregang nyawa dengan kepala hampir terbelah dual Werku Alit dan Adipati-Adipati yang masih hidup menjadi kecut. Mereka saling berlirikan tajam dan beri isyarat namun pada saat itu pula pendekar 212 yang sudah tahu maksud mereka membuat gerakan cepat. Rujung besi Ranabelong mental puntung dua ke udara disusul dengan jerit kematiannya! Satu- satunya Adipati yang masih hidup yaitu Warok Gluduk boleh dikatakan sudah tak ada daya lagi sesudah lengan kanannya tadi dibabat puntung oleh Prabu Kamandaka. Dia memutuskan untuk kabur saja tapi tombak seorang kepala pasukan Pajajaran lebih dahulu menancap di punggungnya terus menembus sampai ke dada! Nyali Werku Alit semakin luntur menciut. Di medan pertempuran sebelah timur itu hanya dia sendiri kini yang menjadi pucuk pimpinan. Kalau tadi dia dan anak-anak buahnya merupakan pihak penyerang yang mendesak maka kini keadaan terbalik! Di mana-mana puluhan prajurit-prajuritnya bergeletakan mati. Yang masih hidup bertempur dengan setengah hati, mundur terus-terusan dan kacau balau! Suara seruling Kapak Naga Geni 212 yang terus menerus melengking seperti melumpuhkan sekujur tubuh Raden Werku Alit. Dicobanya mengerahkan tenaga dalamnya namun tenaga dalamnya terasa laksana punah! Telinganya sakit dan kemudian dirasakannya ada yang meleleh pada kedua liang telinganya itu! Darah! – == 0O0 == - Mahesa Birawa yang ada di medan pertempuran sebelah barat, yang saat itu sudah hampir berhasil mendesak pasukan Pajajaran dan membobolkan pintu gerbang pertahanan menjadi terkejut ketika selintas kepalanya dipalingkan ke arah timur! Pasukan pihaknya di jurusan ini dilihatnya bertempur dengan kacau, malah sebagian besar mundur terdesak hebat! Beberapa kelompok pasukan bahkan dilihatnya melarikan diri kucar kacir! Dan di antara semua apa yang disaksikannya itu sayup-sayup telinganya mendengar lengkingan suara seruling! Jaraknya dengan medan pertempuran sebelah timur terpisah puluhan tombak tapi suara seruling itu seperti menerpa-nerpa kulit tubuhnya, menyendatkan jalan darahnya dan menyakitkan anak telinganya. Dan saat demi saat jumlah prajurit yang bertempur di medan sana itu semakin berkurang juga, banyak yang lari dan banyak yang tergelimpang mati! Mahesa Birawa serahkan pimpinan kepada seorang kepala pasukan yang dipercayainya. Kemudian dengan gerakan sebat dia menuju ke medan pertempuran sebelah timur. Begitu sampai di medan pertempuran ini dia disambut oleh satu pemandangan yang cukup membuat bulu kuduknya merinding. Saat itu, Raden Werku Alit sudah terdesak hebat dan tak sanggup mengelakkan sambaran pedang Prabu Kamandaka. jarak yang jauh Mahesa Birawa masih berusaha untuk membokong Prabu Kamandaka dengan pukulan tangan kosong. Namun angin pukulannya yang dahsyat itu diterpa hebat oleh satu gelombang angin ganas dari samping! Ketika dia berpaling maka sepasang matanya membentur pemuda yang tak asing lagi baginya. Maka membentaklah Mahesa Birawa. Namun bentakannya belum lagi keluar, tahu-tahu satu benda menggelinding ke arah tempatnya berdiri, dan ketika diperhatikan benda itu adalah kepala Raden Werku Alit yang sesaat sebetumnya lehernya kena ditebas pedang Prabu Kamandaka! Kemarahan Mahesa Birawa tiada terperikan. Dengan keris di tangan kanan dan gada berduri yang mempunyai tiga mata rantai berduri pula dia menyerbu ke hadapan Prabu Kamandaka! Namun setiup angin dahsyat memotong serangannya itu dari samping. Dan ketika dia berpaling ternyata lagi-lagi pemuda itu yang menghalanginya! "Aku lawanmu, Mahesa Birawa!," teriak pendekar 212 dengan bola mata bersinar- sinar. "Kutunggu kau di bukit Jatimaleh!" "Budak hina! Kuburmu adalah di antara tumpukan mayat di tempat ini juga!," bentak Mahesa Birawa. Sementara itu Prabu Kamandaka yang tahu bahwa yang tadi hendak menyerangnya adalah tokoh pemberontak kaki tangan Werku Alit yang berbahaya segera berteriak berikan perintah: "Kurung bangsat-bangsat pemberontak ini!" Dua lusin prajurit, tiga kepala pasukan dan Prabu Kamandaka sendiri segera mengurung Mahesa Birawa. Namun pada saat itu pula Wiro Sableng melompat ke muka dan berseru: "Prabu Kamandaka! Kau memang punya hak untuk menangkap dan membunuh manusia karena dia adalah pentolan pemberontak musuh Pajajaran! Tapi aku merasa lebih punya hak untuk membereskannya karena dialah pembunuh ayahku dan penyebab kematian ibuku! Serahkan dia padaku Prabu Kamandaka!" Raja Pajajaran meski amarahnya hampir tak dapat dikendalikan lagi, tapi mendengar ucapan Wiro Sableng itu menahan juga serangannya dan bertanya: "Orang muda gagah, kau siapakah?!" Wiro Sableng senyum sedikit. Diacungkannya kapak yang di tangan kanannya. Dan pada kedua mata kapak itu jelas kelihatan tiga rentetan angka. 212! Terkejutlah Sang Prabu! Tak disangka pemuda itulah kiranya manusia aneh yang telah memberikan peringatan kepadanya sebelumnya tentang akan pecahnya pemberontakan. Tahu kalau si pemuda gagah betul-betul berada di pihaknya sendiri maka Prabu Pajajaran itu tidak keberatan mengabulkan permintaan Wiro Sableng. Dia beri isyarat agar prajurit-prajuritnya mundur kembali. Sementara itu boleh dikatakan pertempuran sudah hampir berakhir. Balatentara pemberontak yang kini tidak berpimpinan lagi sudah mundur jauh dari tembok Kerajaan dan terus dikejar oleh pasukan Pajajaran sehingga lari kucar kacir. Dan di antara gelimpangan mayat manusia di atas tanah yang banjir darah, di udara yang masih hangat oleh baunya maut maka berhadapanlah dua musuh besar, Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 dengan Suranyali alias Mahesa Birawa! Pendekar 212 baru saja pasang kuda-kuda dan melintangkan kapak Naga Geni di muka dada ketika dengan membentak dahsyat Suranyali menerjang ke muka. Keris menusuk ke kepala dan gada rantai berduri menyapu ke perut! "Ciaat!" Wiro Sableng tak kalah sebat. Tubuhnya berkelebat, Kapak Naga Geni berputar dahsyat menimbulkan gelombang angin dan mengeluarkan suara mengaung laksana suara ratusan tawon! Gelombang angin itu sekaligus membentur senjata- senjata Suranyali membuat kedua tangan- tangannya laksana kena dipukul mental! Suranyali alias Mahesa Birawa kini tidak bisa bertempur tanggung-tanggung lagi. Seluruh tenaga dalamnya dikerahkan dan untuk kedua kalinya dia menyerbu ke muka! Serangan kali ini lebih dahsyat dari yang pertama namun pendekar 212 menunggu dengan tenang! Setengah tombak tubuh lawan mengapung ke arahnya Wiro Sableng sapukan Kapak Maut Naga Geni ke muka dalam jurus Orang Gila Mengebut Lalat. Suranyali merasakan badannya seperti membentur dinding yang tak kelihatan! Dengan andalkan ilmu mengentengi tubuh yang sudah sempurna sekali, laki-laki ini lompat ke samping. Kapak Naga Geni melesat di bawahnya dan pada detik itu pula Suranyali kembali menukik dan babatkan gada berdurinya! Yang diserang sama sekali tidak mau mengelak, tapi putar Kapak Naga Geninya di atas kepala. Maka dua senjata bentrokanlah dengan hebat, mengeluarkan suara nyaring! Kapak Naga Geni memancarkan bunga api, dua dari rantai besi berduri yang bergandul pada gada berduri di tangan kiri Suranyali putus! Membuat pemiliknya jadi terkejut sekali! Dan dalam saat itu pula laksana topan Kapak Naga Geni membalik membabat ke arah selangkangannya! Suranyali berseru keras dan jungkir balik di udara! Keringat dingin mengucur di kuduknya! Prabu Kamandaka leletkan lidah melihat pertempuran yang hebat itu. Dalam waktu yang singkat kedua orang itu telah bertempur dua puluh jurus! Dan kentara sekali bagaimana kini Suranyali alias Mahesa Birawa mulai mendapat tekanantekanan hebat! Dan pada saat laki- laki ini terpaksa buang penggada berdurinya karena senjata itu dibabat puntung oleh kapak lawan! Dengan penasaran Suranyali cabut senjatanya yang lain yaitu sebuah tongkat besi yang ujungnya bercagak dua. Tongkat besi ini memancarkan sinar kehijauan tanda bukan senjata sembarangan dan menggndung racun yang hebat! Dengan keris di tangan kanan dan tongkat besi bercagak di tangan kiri berkelebatlah Suranyali. Kedua senjatanya memancarkan sinar dahsyat yang membungkus lawannya. Namun yang dihadapi Suranyali saat itu bukan manusia berilmu rendah dan bukan pula yang bersenjatakan senjata biasa! Kapak Naga Geni 212 menderu- deru mengaung mengeluarkan sinar putih menyilaukan. Tubuh kedua orang itu hanya merupakan bayangbayang saja dan tiba-tiba terdengar teriakan Suranyali. Keris di tangan kanannya terlepas mental patah dua. Kalau saja dia tidak cepat-cepat tarik tangan kanannya pastilah tangan itu kena pula dibabat kapak lawan! Suranyali melompat ke luar dari kalangan pertempuran! Mukanya memucat laksana salju! Cepat-cepat dia atur jalan nafasnya. Ketika dia melangkah ke muka maka kelihatanlah tangan kanannya sampai ke pangkal siku berwarna sangat hijau dan bergetar. "Pemuda hina dina! Kau lihat lengan kananku ini?!" tanya Suranyali sambil acungkan tangan kanannya. "Tujuh belas tahun yang lalu bapakmu meregang nyawa oleh pukulan Kelabang Hijau-ku! Kini anaknya akan menerima bagian yang sama pula!" Wiro Sableng tahu. kalau tujuh belas tahun yang lalu musuh besarnya itu telah memiliki ilmu pukulan Kelabang Hijau itu maka kini kehebatannya tentu tak dapat dibayangkan. Namun hal ini sama sekali tidak menggetarkan hatinya! Kapak Naga Geni 212 dipindahkan ke tangan kiri dan tiga perempat bagian tenaga dalamnya dialirkan ke tangan kanan. Dan kelihatanlah tangan kanan itu menjadi sangat putih sedang kuku-kuku jarinya bersinar memerah menyilaukan! Terkejutlah Suranyali melihat hal ini. Hatinya tergetar. "Pukulan sinar matahari…," desisnya. Pendekar 212 tertawa menggumam. "Silahkan mulai dahulu, Suranyali…," katanya menantang! Diam-diam Suranyali alirkan teluruh tenaga dalamnya ke lengan kanan. Mulutnya komat-kamit. Kedua kakinya amblas lima senti ke dalam tanah yang basah oleh genangan darah. Dan sambil lompat sembilan tombak ke atas kemudian laki-laki ini hantamkan tangan kanannya ke muka! Pendekar 212 tetap tak bergerak di tempatnya. Sinar hijau dari pukulan lawan melesat ke arahnya dan disambutinya dengan pukulan tangan kanan! Dua pukulan dahsyat beradu di udara mengeluarkan suara berdentum! Sinar hijau dan putih saling nyambar dan memecah ke samping! Pekik jerit dari orang-orang yang berdiri di tepi kalangan pertempuran terdengar di mana-mana. Tubuh mereka tergelimpang mati. Ada yang menjadi hijau akibat racun pukulan Kelabang Hijau Suranyali dan banyak yang menjadi hangus hitam tersambar pukulan sinar matahari Wiro Sableng! Prabu Kamandaka sendiri jika tidak cepat-cepat melompat pastilah akan menjadi korban pula! Ketika dua sinar itu beradu keras Suranyali merasakan badannya menjadi panas. Celaka! Keluhnya. Pukulannya kelabang Hijaunya bukan saja musnah oleh pukulan lawan tapi juga kena dihantam dikembalikan ke arah kedua kakinya. Cepat-cepat laki-laki ini ambil sebuah pil dari sabuk di pinggangnya dan menelannya. Kemudian sesaat sesudah itu laksana seekor elang dia menukik ke bawah, tusukan besi bercagaknya ke leher Wiro Sableng. Wiro memapasi dengan kapaknya. Suranyali coba menjepit gagang kapak dengan gagakan besi. Tapi "trang!" Sekali kapak itu berkiblat maka patahkan senjata Suranyali. Sebelum dia sempat menjejakkan kaki di tanah, sebelum dia sanggup menjauhi lawan maka Kapak Naga Geni 212 menderu lagi kali ini tiada ampun membabat kuntung bahu kanan Suranyali! Laki-laki ini melolong seperti srigala haus darah! Tubuhnya limbung menghuyung! Wiro Sableng tertawa mengekeh. "Itu dari ayahku, Suranyali!" katanya. "Dan ini dari ibuku!" Kapak Naga Geni berkiblat lagi. Suranyali coba menghindar dengan segala daya tapi tak berhasil. Bahu kirinya terpapas mental. Darah menyembur! Sungguh mengerikan menyaksikan tubuh Suranyali yang tanpa lengan itu! "Yang ini dari Eyang Sinto Gendeng, Suranyali!" kata Wiro Sableng pula dengan masih tertawa mengekeh seperti tadi. Kapak Naga Geni sekali lagi menderu. Tubuh Suranyali mental tersandar ke tembok Kerajaan! Dadanya sampai ke perut robek besar. Darah membanjir dan ususnya menjela- jela. Pendekar 212 masih belum puas. "Yang terakhir ini dariku sendiri, Suranyali!," katanya. Ketika Kapak Maut Naga Geni 212 itu membelah kepala Suranyali alias Mahesa Birawa itu, tiada terdengar pekikan atau keluh kematian dari mulutnya. Tubuhnya masih tersandar sesaat lamanya pada tembok Kerajaan, kemudian merosot ke bawah dan tergelimpang di atas mayat-mayat pemberontak lainnya. Tapi tubuh itu tak berada lama menggeletak di sana. Sekali kaki kanan Wiro Sableng menendang maka mentallah tubuh musuh bebuyutannya itu sampai belasan tombak! Wiro Sableng tertawa mengekeh, lama dan panjang. dimasukkannya Kapak Naga Geni 212 ke balik pinggangnya. Kemudian seperti tak ada kejadian apa-apa, seperti dia bukan berada di antara hamparan ratusan mayat, pemuda ini melangkah seenaknya bahkan dengan bersiul! "Saudara muda!," Prabu Kamandaka memburu. "Tunggu dulu…. !" Pendekar 212 berpaling. "Ah…. aku sampai lupa minta diri padamu Prabu Kamandaka…." "Saudara, kau tak boleh pergi dulu…" "Kenapa?" "Ikutlah ke istana. Kau telah berjasa besar dan…." "Jasa hanyalah jasa Sang Prabu. Hanya sekedar kenang-kenangan indah. Bagiku jasa tidak berarti mengharapkan balas imbalan. Selamat tinggal…." Prabu Kamandaka memegang bahu pemuda itu. "Kuharap kau sudi datang ke istana terlebih dahulu, saudara," katanya. "Terima kasih Sang Prabu, terima kasih….," sahut pendekar 212. "Kalau begitu beri tahu saja namamu…." Wiro Sableng tersenyum. "Namaku tidak penting Sang Prabu. Cuma ingatlah angka 212. Mungkin suatu ketika angka itu akan kembali lagi ke Pajajaran ini…. Dan satu hal…. jangan lupa sampaikan salamku buat adikmu…. Rara Murni…." "Akan kusampaikan" kata Prabu Kamandaka pula., Dan semua mata kemudian menyaksikan kepergian pendekar muda itu. Prabu Pajajaran akhirnya geleng-geleng kepala dan tarik nafas panjang. "Pemuda hebat…. pemuda gagah….," katanya. "Pajajaran berhutang besar kepadamu. Jasamu tak akan dilupakan sampai turun temurun…."

11x Baca
Cover Premium
Fiksi

Wiro Sableng - Empat Brewok Dari Goa Sagreng

"Ini!" kata laki-laki berkumis melintang itu dengan suara kasar. "Berikan sama dia! Aku harus terima jawaban hari ini juga, Kalingundil!! Kau dengar!?" Orang yang bernama Kalingundil mengangguk. Diambil surat yang disodorkan. "Kalau dia banyak bacot.....," kata laki-laki berkumis melintang itu pula, "bikin beres saja. Berangkat sekarang, jika perlu bawa Saksoko!" Kalingundil berdiri dan meninggalkan ruangan itu. Dan bila Kalingundil baru saja lenyap di balik pintu maka menggerendenglah Suranyali, laki-laki yang berkumis tebal itu. "Betul-betul perempuan laknat! Perempuan haram jadah!" Dibulatkannya tinju kanannya dan dipukulkannya meja kayu jati di hadapannya. "Brakk!!" Papan meja pecah. Keempat kaki meja amblas sampai tiga senti ke dalam lanci ubin dan ubin sendiri retak-retak! Kemudian dia berdiri. Tubuhnya menggeletar oleh amarah yang hampir tak bisa dikendalikannya lagi. Dan mulutnya terbuka kembali. Dia memaki-maki seorang diri. "Perempuan keblinger! Ditinggal satu tahun tahu-tahu kawin! Bunting malah dan punya anak malah! Keparat!" Suranyali berdiri dengan nafas menghempas-hempas di muka jendela lalu dia melangkah ke meja lain yang juga terdapat di ruangan itu. Dari dalam sebuah kendi diteguknya air putih dingin. Tapi baru dua teguk air melewati tenggorokannya, isi kendi itu sudah habis. "Keparat!" maki Suranyali lagi. Dibantingkannya kendi itu ke tanah hingga pecah berantakan. Seorang perempuan paruh baya memunculkan kepalanya di pintu sebelah sana namun melihat Suranyali yang lagi beringasan ia cepat-cepat diam menghilang kembali. Akhirnya, Suranyali letih sendiri memaki-maki dan marah-marah seperti itu. Dibantingkannya badannya ke sebuah kursi. Dan kini terasa olehnya betapa letih badannya. "Ludjeng!" teriak Suranyali. Perempuan separuh baya yang tadi memunculkan diri di pintu masuk bergegas. "Ya, Denmas Sura....". "Kau juga keparat!" damprat Suranyali pada perempuan itu. Ludahnya menyemprot dan Wilujeng tak berani menyeka ludah yang membasahi mukanya. "Sudah berapa kali aku bilang, jangan panggil aku dengan nama itu! Apa kau sudah gila hingga lupa terus-terusan?!? Kau gila ya, hah?!!." Wilujeng terdiam dengan tubuh menggigil ketakutan. Lagi-lagi dia lupa. Lagi-lagi dia memanggil dengan Sura padahal sudah sering Suranyali memerintahkan agar dia memanggil dengan nama Mahesa Birawa. "Perempuan monyong! Aku tanya kau sudah gila? Jawab!" "Tidak, Denmas Su....., eh Mahesa Birawa....." "Kalau tidak gila kau musti sinting! Ambilkan aku air, lekas!" Wilujeng putar tubuh. Sebentar kemudian dia sudah kembali membawa segelas air putih. Air yang dingin itu menyejukkan hati Suranyali sedikit. Kemudian dia duduk tenang-tenang di kursi itu dan bila matanya dipicingkannya, maka kembali terbayang saat setahun yang lewat. Waktu itu dia sudah lama berkenalan dengan Suci. Dia tahu bahwa gadis itu tidak suka terhadapnya, tapi dengan menemui Suci terus-terusan di tepi kali tempat mencuci, dia berharap lama-lama akan dapat juga melunakkan hati gadis itu. Memang akhirnya Suci mau juga bicara-bicara melayani Suranyali, tapi ini bukanlah karena dia suka terhadap Sura melainkan karena kasihan belaka. Tapi celakanya Suranyali salah tafsir. Dia menduga bahwa kini Suci sudah terpikat kepadanya. Satu ketika Sura dipanggil oleh seorang sakti di gunung Lawu. Sebelum pergi, Sura menemui Suci dan berkata, "Suci, aku akan pergi ke Gunung Lawu. Mungkin satu tahun lagi aku baru kembali. Kuharap kau mau menunggu dengan sabar. Jika aku kembali aku akan mengawini kau....." "Tapi Kangmas Sura....." Suci menghentikan kata-katanya karena saat itu dilihanya Suranyali melangkah ke hadapannya dan mengulurkan tangan untuk memeluknya. Suci mundur. "Jangan, Kangmas. Nanti kelihatan orang....." Kemudian Suranyali pergi tanpa ada lagi kesempatan bagi Suci untuk menerangkan bahwa dia tidak suka laki-laki itu, bahwa dia menolak lamaran tadi! Dan dalam kepergian Suranyali itu maka Suci kemudian kawin dengan Ranaweleng seorang pemuda yang dicintainya dan juga mencintainya. Bagi Suci perkawinannya dengan Ranaweleng itu sama sekali bukan pengkhianatan atas diri Suranyali karena memang dia tidak mencintai Suranyali dan juga tak pernah menyatakan cintanya. Demikianlah, bila hari itu Suranyali kembali dari perjalanannya maka kabar yang pertama yang didengarnya, yang begitu menyentakkan darah amarahnya ialah bahwa Suci telah kawin dengan Ranaweleng. Kedua suami istri itu bahkan sudah mempunyai seorang anak laki-laki. Kehidupan mereka meski sederhana tapi bahagia dan kini Ranaweleng sudah menjadi Kepala Kampung Djatiwalu. Jika Suranyali seorang manusia punya muka dan punya harga diri, sebenarnya mengetahui perkawinan Suci itu dia musti bersikap mundur karena adalah memalukan sekali bila dia terus-terusan menginginkan Suci sedang Suci tidak mencintainya apalagi kini sudah bersuami dan beranak pula. Tapi dasar Suranyali bukan manusia berpikiran jernih, lekas kalap dan naik darah membabi buta, maka hari itu juga dikirimkannya anak buahnya ke Djatiwalu untuk membawa sepucuk surat ancaman kepada Ranaweleng. Suranyali yang kini memakai nama Mahesa Birawa bangkit dari kursinya ketika didengar suara gemuruh kaki-kaki kuda di halaman. Dia melangkah ke jendela dan memperhatikan kepergian kedua orang anak buahnya. Jari-jari tangannya mencengkeram sanding jendela. "Suci musti dapat..... musti dapat!" katanya dalam hati yang dikecamuk amarah itu. "Kalau tidak.....," Mahesa Birawa tak meneruskan kata-katanya. Sebagai gantinya tangan kirinya bergerak memukul dinding jendela. Dan kayu sanding itu pecah berantakan!! DUA Keduanya menghentikan kuda di hadapan seorang laki-laki tua yang tengah mencabuti rumput halaman. Tanpa turun dari kudanya, Kalingundil bertanya dengan membentak kasar, "Ini rumahnya Ranaweleng?!" Orang tua berdiri perlahan-lahan dari jongkoknya. Ketika berdiri nyatalah bahwa tubuhnya pendek dan bongkok. Ditengadahkannya kepalanya dan dikeataskannya topi bambo yang menutupi keningnya untuk dapat melihat orang yang telah bicara kepadanya. Orang tua ini tak segera berikan jawaban melainkan melirik kepada Saksoko yang duduk di atas pungung kuda di sisi kanan Kalingundil. "Orang tua bego!" maki Kalingundil. Laki-laki bertubuh langsing ini memang bersifat tidak sabaran. "Aku tanya ini rumahnya Ranaweleng?!" "Ya!" jawab Kalingundil. "Ada keperluan apa Saudara?" Si gemuk pendek Saksoko kini yang buka suara. Suaranya parau dan tidak enak didengar. "Tak perlu tanya keperluan kami. Kamu orang tua pikun minggirlah!" Saksoko menyentakkan tali kekang kudanya. Sekali kuda itu menghambur ke depan maka terpelantinglah si orang tua kena terajakan kaki binatang yang ditunggangi Saksoko itu! Orang tua itu bangun dengan perlahan-lahan. Matanya yang mengabur dimakan umur kelihatannya menyorot. Dengan kaki kirinya ditendangnya secara acuh tak acuh topi bambunya yang tergeletak di tanah. Topi itu melesat ke muka laksana anak panah cepatnya dan menghantam kemaluan kuda yang ditunggangi oleh Saksoko. Kuda jantan itu meringkik dahsyat. Kedua kaki depannya melonjak ke atas tinggi-tinggi dan Saksoko terpelanting ke tanah! Si orang tua diam-diam merasa puas. Dengan sikap seperti tidak terjadi apa-apa dia memutar tubuh jongkok kembali dan mulai lagi mencabuti rerumputan di halaman! Bola mata laki-laki gemuk pendek itu berpijar-pijar. Untuk beberapa lamanya segala sesuatunya menjadi guram dalam pemandangannya. "Saksoko, ada apa dengan kau?!" tanya Kalingundil terkejut dan heran. "Aku sendiri tidak tahu," sahut Saksoko seraya bangun dengan menepuk-nepuk pantat celananya. Dia memandang berkeliling. Tidak ada siapa-siapa kecuali orang tua yang tadi tengah mencabuti rumput. Kemudian mata laki-laki itu membetnur topi bambu yang tergeletak tak berapa jauh dari tanah. Hatinya curiga. Tapi bila dilihatnya lagi orang tua kurus dan bongkok itu kecurigaannya menjadi sirna. Tak mungkin, pikirnya. Tak mungkin kalau kakek-kakek pikun itulah yang telah melemparkan topi bambu itu ke kuda tunggangannya. Kalingundil juga memandang berkeliling dengan hati bertanya-tanya. Dilihatnya orang tua itu. Dilihatnya topi itu. Kemudian dia berkata, "Kurasa orang tua kerempeng itu....." Kalingundil memang lebih tajam penglihatannya dan perasaannya. Dalam ilmu silatpun dia lebih tinggi dua tingkat di atas Saksoko. "Mana mungkin," kata Saksoko pula tidak percaya. "Coba kita lihat." Kalingundil turun dari kudanya. Diambilnya topi yang tergeletak di tanah. Diperhatikannya topi bambu ini seketika. Matanya melirik pada orang tua yang masih jongkok dan mencabuti rumput dekat pagar halaman. Kalingundil menggerakkan tangan kanannya. Topi terlepas dari tangan itu dan melesat deras ke arah kepala si orang tua. Begitu acuh tak acuh sekali, orang tua yang jongkok membelakangi itu gerakkan tangan kanannya untuk menggaruk bagian belakang kepalanya. Dan adalah mengejutkan kedua orang anak buah Mahesa Birawa atau Suranyali ketika melihat bagaimana topi bamboo itu melesat ke samping dan menggelinding di tanah! Kalingundil dan Saksoko saling pandang. "Apa kataku, kau lihat?" desis Kalingundil. Melihat kenyataan ini maka geramlah si gemuk pendek Saksoko. "Orang tua edan!" makinya. "Punya sedikit ilmu saja sudah mau kasih pamer!" Dia membungkuk dan meraup pasir. Raupan pasir itu dilemparkannya ke arah si orang tua. Meski hanya pasir namun karena diisi dengan tenaga dalam maka pasir itu melesat hebat dan dapat melukakan kulit membutakan mata! Si orang tua tiba-tiba berdiri dengan terbungkuk-bungkuk. Ditepuk-tepuknya pakaian hitamnya seperti seseorang yang sedang membersihkan debu dari pakaiannya. Tapi gerakannya ini sekaligus membuat berhamburannya pasir-pasir halus yang menyerang ke arahnya! "Kurang ajar betul!" damprat Saksoko karena merasa semakin ditantang dan dipermainkan. Dia menerjang ke muka. Dalam jarak beberapa tombak dilepaskannya pukulan tangan kosong. Orang tua itu memutar badannya yang bungkuk ke samping. "Apa-apaan ini?!" tanyanya dengan suaranya yang halus melengking, "ada apa kau serang aku?!" Namun gerakannya tadi sekaligus telah melewatkan angin pukulan Saksoko hanya beerapa jengkal saja di depan hidungnya. Saksoko kertak rahang. "Orang tua gelo! Siapa kau sebetulnya?!" Orang tua itu menyeringai menunjukkan gusinya yang tidak bergigi barang sepotongpun. "Aku sudah tua, tak usah bicara memaki!," katanya dan didorongkannya telapak tangan kanannya ke depan. Setiup angin dahsyat melanda tubuh Saksoko. Kalau tidak cepatcepat menghindar pastilah si gemuk pendek ini akan mendapat celaka. Begitu melompat ke samping segera dia kirimkan satu jotosan kepada orang tua itu. Pada saat inilah dari pintu rumah terdengar seruan keras: "Ada apa di sini?! Tahan!!" Saksoko tarik pulang tangannya dan berpaling. Seorang laki-laki muda berparas gagah dilihatnya keluar dari rumah dan berdiri di tangga langkan. Kemudian dilihatnya Kalingundil memberi isyarat agar datang mendekatinya. Meski hatinya masih diselimuti amarah terhadap si orang tua tapi melihat isyarat kawannya itu segera dia datang juga. Keduanya melangkah ke hadapan langkan rumah. "Kau Ranaweleng?" tanya Kalingundil membentak. Selama menjadi Kepala Kampung di Jatiwalu, baru ini harilah Ranaweleng dibentak orang demikian rupa dan oleh orang asing pula! Dari tampang-tampang serta sikap kedua tamunya itu Ranaweleng segera maklum bahwa mereka tentu datang bukan membawa maksud baik. Namun demikian, dengan suara ramah dia menjawab: "Betul, Saudara, aku memang Ranaweleng," lalu tanyanya kemudian, "Saudara-saudara datang dari mana dan ada keperluan apakah?" Kalingundil cabut gulungan surat dari balik pakaiannya. "Ini! Silahkan dibaca!" katanya. Gulungan surat itu dilemparkannya ke hadapan Ranaweleng. Karena lemparan itu disertai dengan aliran tenaga dalam maka surat tersebut melesat berdesing dan ujung kayu di mana surat itu disepit menancap pada tiang langkan! Ranaweleng kaget. Ditekannya rasa kaget itu dan dicabutnya surat yang menancap dari tiang langkan lalu dibacanya. Kalingundil dan Saksoko memperhatikannya dengan bertolak pinggang. Ranaweleng keparat! Aku kasih tempo satu hari untukmu agar angkat kaki dari Jatiwalu ini! Bawa anakmu tapi tinggalkan istrimu! Ini adalah perintah! Kalau kau tidak patuhi, jangan harap kau bisa melihat matahari tenggelam esok hari! Ini adalah perintah! Mahesa Birawa Bergetar tubuh Ranaweleng. Dadanya panas dikobari luapan hawa amarah. Dia tak pernah kenal dengan manusia yang bernama Mahesa Birawa itu, bahkan juga tak pernah dengar nama atau riwayat manusia itu sebelumnya. Matanya memandang melotot pada kedua tamunya. "Mahesa Birawa ini siapa?" tanya Ranaweleng. Kalingundil meludah dahulu ke tanah sebelum menjawab. "Laki-laki yang kau rampas kekasihnya dan yang kini menjadi istrimu!" Kaget Ranaweleng bukan alang kepalang. Belum dia sempat bicara Saksoko sudah mendahului. "Mahesa Birawa inginkan jawabanmu hari ini juga Ranaweleng!" Kalingundil menyambungi, "Dan sebaiknya..... apa yang tertulis di surat itu kau ikuti saja." "Kalau tidak?," tanya Ranaweleng menindih rasa geramnya. Kalingundil tertawa mengekeh. Gigi-giginya kelihatan besar-besar dan coklat kehitaman. Ranaweleng tak dapat lagi menahan luapan amarahnya. Diremasnya dan dipatah-patahkannya kayu penyepit surat lalu dilemparkannya ke kepala Kalingundil, tepat mengenai mulut yang sedang tertawa mengekeh itu! "Bangsat rendah!" hardik Kalingundil. Dia meloncat ke muka. "Kau berani berlaku kurang ajar terhadapku, huh?!" "Tak usah jual lagak di sini, setan!" balas menghardik Ranaweleng. "Kalian budak-budak sinting kembalilah kepada majikan kalian! Bilang sama itu manusia Mahesa Birawa agar lekas-lekas pergi mencari dukun untuk mengobati otaknya yang tidak waras!" "Betul-betul anjing budak yang tidak tahu diri!" semprot Saksoko. Dari tadi dia memang sudah beringasan gara-gara si orang tua yang telah mempermainkan dan setengah menantangnya tadi. Sekali dia ayunkan langkah maka satu tendangan yang didahului oleh angin hebat melanda ke bawah perut Ranaweleng. Melihat musuh yang inginkan jiwanya ini Ranaweleng menggeram dan kertakkan rahang. Dia berkelit ke samping dan hantamkan ujung sikunya ke tulang iga lawan. Saksoko bukan manusia yang baru belajar ilmu silat kemarin. Sambil melompat ke atas lututnya ditekuk dan disorongkan ke kepala lawan. Ranaweleng merunduk dan lompat ke samping. Sebelum dia berbalik untuk mengirimkan pukulan ke punggung lawan yang saat itu masih belum menginjak lantai langkan maka terdengarlah suara seseorang. "Ah, Raden Ranaweleng, mengapa musti mengotori tangan terhadap kunyuk kesasar ini?! Biar aku si tua bangka Jarot Karsa yang kasih sedikit pelajaran sopan santun terhadapnya!" Ternyata yang berkata itu adalah orang tua renta kurus kerempeng yang tadi mencabuti rumput di halaman, yang merupakan pembantu Kepala Kampung Jatiwalu. Mendengar dirinya dimaki sebagai kunyuk kesasar maka marahlah Saksoko. Dia membalik dan menyerang orang tua itu kini dengan satu pukulan jarak jauh yang menimbulkan angin deras. Angin pukulan ini menyerang ke pusat jantung di dada Jarot Karsa. Dengan begitu Saksoko berkehendak untuk mencabut nyawa si orang tua detik itu juga! Tapi Jarot Karsa ganda tertawa. Sekali dia gerakkan tangan kanannya yang kurus maka setiup angin dahsyat memapaki serangan si gemuk pendek Saksoko. Angin pukulan Saksoko menyungsang balik menyerang Saksoko sendiri. Ditambah dengan dorongan angin pukulan si orang tua maka kedahsyatannya bukan olah-olah! Tubuh Saksoko mencelat keluar langkan rumah sampai tiga tombak dan menggelinding di tanah. Dicobanya bangun kembali. Tapi tubuhnya itu segera rebah lagi setelah terlebih dahulu dari mulut Saksoko menyembur darah kental dan segar! Kaget Kalingundil bukan kepalang. Mukanya hitam membesi. Laki-laki ini menerjang ke depan. Terjangan ini disertai dengan bentakan yang keras menggeledek membuat langkan rumah dan tanah menjadi bergetar! Jarot Karsa merunduk cepat. Gerakannya ini disusul dengan cepat oleh Kalingundil. Serangkum angin keras dan dingin menyerang ke seluruh jalan darah di tubuh orang tua. Pasir menderu beterbangan, debu menggebu. Jarot Karsa cepat-cepat dorongkan tangan kanannya ke muka. Maka dua angin pukulan bertemu di udara menimbulkan suara berdentum seperti letusan meriam! Tubuh Jarot Karsa kelihatan bergoyang gontai sedang Kalingundil terdampar ke tanah tapi cepat bangun lagi. Keringat dingin memercik di kening anak buah Mahesa Birawa ini. Nyalinya menciut kecil. Tak nyana si orang tua memiliki kehebatan demikian rupa! Tak diduganya sama sekali kalau tenaga dalamnya ada di bawah angin berhadapan dengan tenaga dalam Jarot Karsa! Tapi laki-laki ini, yang menjadi buta matanya dan tumpul pikirannya karena amarah dan kebencian yang meluap, tidak memikirkan lagi bahwa sesungguhnya si orang tua bukan tandingannya. Kedua tangannya dipentang ke muak. Tangan itu kelihatan bergetar. Jarot Karsa dan juga Ranaweleng memperhatikan gerak gerik manusia itu dengan tajam. Kelihatan kini bagaimana sepasang lengan Kalingundil sampai ke jari-jari tangannya berwarna kehitaman. "Ha.....ha....," terdengar kekehan si tua Jarot Karsa, "Kau hendak pamerkan ilmu lengan tangan baja?!" Kalingundil terkejut. Terkejut karena belum apa-apa musuh sudah mengetahui ilmu simpanan yang paling diandalkannya. Tapi ini tidak diperlihatkannya, bahkan dia pentang mulut. "Bagus, penglihatanmu masih tajam juga, huh! Tapi tahukah kau kehebatan ilmu pukulan lengan tangan baja ini?!" "Kau tak perlu banyak bacot, Kalingundil, majulah!" tantang Jarot Karsa. Kalingundil menggeram. Kebetulan saat itu dia berdiri di dekat langkan rumah. Sekali ayunkan tangan kanannya maka: brak!! Tiang langkan yang besarnya hampir menyamai paha manusia patah. Atap rumah menurun miring! Sebenarnya Jarot Karsa kagum juga dengan kehebatan ilmu lawannya itu. Tapi sebagai orang tua yang sudah banyak pengalaman dalam dunia persilatan masakan dia jerih menghadapi ilmu pukulan macam begitu saja! "Ayo monyet kesasar, majulah!" katanya dengan terbungkuk-bungkuk. Kedua telapakan kaki Kalingundil menjejak tanah. Tubuhnya melesat ke muka, sedikit miring. Kaki kiri dan kanan mengirimkan serangan berantai terlebih dahulu kemudian menyusul sepasang lengannya yang menghitam oleh aji 'lengan tangan baja.' Angin yang ditimbulkan oleh serangan dua lengan ini dahsyatnya bukan alang kepalang, tajam dan memerihkan mata. Lengan kiri membabat ke pinggang Jarot Karsa, kalau kena pastilah pinggang orang tua itu akan terkutung dua. Lengan kanan menghantam dari atas ke bawah mengincar batok kepala Jarot Karsa. Dapat dibayangkan bagaimana dalam sekejapan mata lagi kepala si orang tua akan hancur berantakan! Pekikan setinggi langit yang hampir merupakan lolongan serigala haus darah melengking menegakkan bulu roma! Kalingundil melingkar di tanah. Nafasnya sesak, lidahnya menjulur keluar seperti orang yang tercekik dan matanya melotot. Tubuhnya bergerak-gerak beberapa lamanya kemudian ketika darah menyembur dari mulutnya, tubuh itu pun tak bergerak-gerak lagi! Kalingundil pingsan menyusul kawannya yang terdahulu. Ranaweleng menghela nafas dalam. Dipandanginya kedua manusia yang melingkar di tanah itu. Kemudian dia berpaling pada si orang tua. "Bapak Jarot Karasa, kau kenal dengan manusia yang bernama Mahesa Birawa itu?" Jarot Karsa menggeleng. "Siapa dia tak penting Raden. Yang penting ialah mulai saat ini kita musti waspada karena cepat atau lambat manusia itu pasti datang ke sini untuk membuat perhitungan dengan kita!" Ranaweleng mengangguk. "Aku tak ingin melihat kdua orang ini lebih lama di depan rumahku. Bereskan mereka, pak Jarot." Si orang tua tertawa mengekeh. "Tak usah khawatir...... tak usah khawatir. Aku akan sapu mereka dari depan hidungmu, Raden." Dua kali kaki kanan Jarot Karsa yang kurus kering itu menendang. Tubuh Kalingundil dan Saksoko mencelat seperti bola, dan angsrok di luar pagar halaman. TIGA Kedua mata Mahesa Birawa alias Suranyali yang menutup dalam tidur-tidur ayam membuka lebar-lebar bila telinganya menangkap suara derap kaki kuda yang memasuki pekarangan. Dia bangun dan melangkah cepat ke pintu muka. Dan matanya yang tadi membuka lebar itu kini tampak membeliak. Setengah meloncat dia turun ke tanah. "Ada apa dengan kalian?!" tanya Mahesa Birawa. Pertanyaan ini hampir merupakan teriakan. Kedua kuda itu berhenti. Penunggangnya, Kalingundil dan Saksoko turun perlahan-lahan. Pakaian mereka kotor oleh darah dan debu. Muka keduanya pucat pasi. Melihat ini Mahesa Birawa segera maklum bahwa kedua anak buahnya itu mendapat luka dalam yang parah. Kalingundil berdiri terbungkuk-bungkuk sambil mengurut dada. Pemandangannya masih berkunang-kunang. Saksoko begitu menginjakkan kedua kakinya di tanah segera tergelimpang, muntah darah lagi lalu pingsan! Mahesa Birawa melompat dan cepat menubruk Saksoko. Dari dalam sabuknya dikeluarkannya sebutir pil dan dimasukkannya ke dalam mulut Saksoko. Sebutir lagi kemudian diberikannya pada Kalingundil. "Telan cepat!," katanya. "Kalau sudah, lekas atur jalan nafas dan darahmu!" Kalingundil menelan pil yang diberikan lalu cepat-cepat duduk bersila di tanah untuk mengatur jalan nafas dan darahnya. Tak lupa dia mengalirkan tenaga dalamnya ke bagian tubuh yang tadi kena terpukul. Satu jam kemudian keadaan Kalingundil boleh dikatakan siuman meski masih berbaring menelentang di atas sebuah tempat tidur. "Sekarang!" kata Mahesa Birawa sangat tidak sabar dan sambil menggeprak meja, "terangkan apa yang terjadi Kalingundil!" Kalingundil tarik nafas panjang. Diurutnya dadanya beberapa kali lalu mulailah dia memberi keterangan. Dan bila Mahesa Birawa selesai mendengar keterangan itu maka mendidih darah di kepalanya. Mukanya hitam membesi. Kumisnya yang tebal melintang bergetar. Matanya yang memang sudah besar itu dalam keadaan melotot seperti mau tanggal dari rongganya! "Kalingundil! Siapkan kudaku! Panggil Majineng dan Krocoweti. Kalian bertiga ikut aku ke tempatnya itu manusia haram jadah! Lekas.....!" Kalingundil tanpa banyak bicara tinggalkan tempat itu. Tak lama kemudian kelihatanlah empat orang penunggang kuda menderu laksana terbang. Debu mengepul, pasir berhamparan. Mahesa Birawa memacu kudanya di muka sekali. Orang tua bernama Jarot Karsa itu mengusap dagunya. Tanpa berpaling pada Ranaweleng yang berdiri di sampingnya dengan mata yang memandang tajam ke muka dia berkata, "Dugaan kita tidak salah, Raden. Mereka datang. Agaknya yang di depan sendiri itu adalah manusia yang bernama Mahesa Birawa....." Ranaweleng memandang pula ke muka. Hatinya mengeluh. Inilah pertama selama menjadi Kepala Kampung dia menghadapi kesukaran dan kekerasan macam begini! Bahkan dia tadi belum sempat menyelesaikan pembicarannya dengan Suci ketika Jarot Karsa memanggilnya, memberi tahu kedatangan empat penunggang kuda itu. Ketika Mahesa Birawa sampai di halaman, Suci pun saat itu sudah berdiri di belakang suaminya. Mahesa Birawa hentikan kudanya. Sorotan matanya seganas kelaparan tertuju pada Ranaweleng. Di belakangnya Kalingundil memberikan kisikan. "Laki-laki tua yang berdiri di dekat tiang itulah bangsatnya yang telah mencelakai aku dan Saksoko. Hati-hati terhadap dia, Mahesa. Ilmunya tinggi sekali....." "Kau manusia kintel tutup mulut! Tak usah kasih nasihat padaku!" membentak Mahesa Birawa. Kalingundil terdiam. Digigitnya bibirnya. Dan saat itu dendam serta bencinya terhadap kedua orang yang berdiri di langkan rumah itu, terutama Jarot Karsa, tak dapat dilukiskan. Mahesa Birawa memandang sekilas pada Suci yang berdiri di belakang suaminya. Nafsu untuk dapat memiliki perempuan ini yang tak kesampaian atau belum kesampaian membuat amarahnya semakin meluap-luap. Dadanya seperti mau pecah. Saat itu meski sudah bersuami dan punya anak satu tapi Suci dilihatnya semakin tambah cantik dan muda jelita. Bola mata Mahesa Birawa bergerak ke jurusan Jarot Karsa setelah terlebih dahulu menyapu tampang Ranaweleng dengan garangnya. "Anjing tua yang di atas langkan turunlah untuk menerima mampus!" suara Mahesa Birawa begitu lantang dan menggeletarkan karena disertai tenaga dalam yang tinggi sudah mencapai puncak kesempurnaannya. Jarot Karsa sunggingkan senyum tawar. Sekali dia menggerakkan kedua kakinya maka setengah detik kemudian dia sudah berdiri di tanah, beberapa tombak di hadapan kuda Mahesa Birawa. Gerakannya waktu melompat tadi enteng sekali. Senyum datar yang mengejek tersungging lagi di mulut orang tua ini. "Ini manusianya yang bernama Mahesa Birawa?! Yang inginkan istri orang?! Kalau kau tidak sedeng tentu sinting! Apa kunyukmu yang satu ini sudah kasih tahu padamu agar mencari dukun untuk mengobati otak miringmu?!" Bergetar badan Mahesa Birawa mulai dari ubun-ubun sampai ke ujung jari-jari kaki! "Anjing tua yang tak tahu diri, hari ini terpaksa kau harus pasrahkan nyawa kepadaku!" Mahesa Birawa enjot diri, melompat turun dari kuda. Dalam keadaan tubuh melayang demikian rupa kedua tangannya dipukulkan ke muka. Dua rangkum angin sedahsyat badai menyerbu orang tua yang membungkuk itu. Debu dan pasir mengebubu! Jarot Karsa melengking dan melompat setinggi tiga tombak ke atas. Angin pukulan yang dahsyat lewat di bawah kedua kakinya. Pada detik dia hendak mengirimkan serangan balasan maka berserulah Ranaweleng. "Bapak Jarot minggirlah, biar aku yang hadapi manusia pengacau ini!" "Ah Raden....," kata Jarot Karsa dalam keadaan tubuh masih mengapung di udara. "Biarlah aku yang sudah tua ini kasih pelajaran padanya! Tak usah Raden bersusah payah. Dalam satu dua jurus ini akan kusapu badannya keluar halaman!" Mahesa Birawa kertakkan rahang. Dua tinjunya bergerak susul menyusul. Deru angin yang dahsyat melanda ke arah Jarot Karsa. Si orang tua, yang rupanya ingin menjajaki sampai di mana ketinggian tenaga dalam lawan, balas mengirimkan pukulan tangan kosong. Letusan sedahsyat meriam berdentum ketika dua tenaga dalam itu saling bentrokan di udara. Gendang-gendang telinga seperti menjadi pecah dan pekak. Tubuh Mahesa Birawa kelihatan berdiri gontai beberapa detik lamanya sedangkan Jarot Karsa jatuh duduk di tanah, mandi keringat dingin! Bukan saja Jarot Karsa sendiri, tapi Ranaweleng-pun kagetnya bukan main. Suci yang berdiri di belakang suaminya dan menyaksikan itu menjerit tertahan karena menyangka si orang tua mendapat celaka besar. Ternyata tenaga dalam Mahesa Birawa demikian tingginya, lebih tinggi dari tenaga dalam Jarot Karsa. Tahu kalau tenaga dalam lawan lebih unggul dari dia, Jarot Karsa segera melompat dan menyerang. Kedua tangannya bergerak demikian cepat hampir tak kelihatan, menyapu-nyapu dan sekali-kali menjotos ke muka dengan dahsyatnya. Hampir dua jurus Mahesa Birawa terkurung oleh pukulan-pukulan yang anginnya memerihkan matanya. Mahesa Birawa atau Suranyali mau tak mau mempercepat pula gerakannya. Tubuhnya kini laksana bayang-bayang. Bila satu jurus lagi berlalu, maka Jarot Karsa mulai merasakan tekanan-tekanan serangan yang membuatnya harus berhati-hati. Tiga jurus lagi berlalu. Tubuh kedua manusia itu sudah hampir tak kelihatan karena cepatnya gerakan mereka ditambah lagi dengan debu serta pasir yang menggebubu ke udara menutupi keduanya. Tiba-tiba diiringi dengan lengkingan yang menggetarkan dengan satu gerakan yang sukar ditangkap oleh mata Jarot Karsa, dengan mengandalkan ilmu mengentengi tubuhnya yang lebih tinggi sedikit dari lawan dia menyorongkan siku kirinya ke muka. Tubuh lawan di lihatnya mengelak ke samping dan sekaligus tangannya yang lain memapaki gerakan mengelak dari Mahesa Birawa. "Buk!!" Mahesa Birawa terjajar sampai dua tombak ke belakang. Mulutnya memencong menahan sakit pukulan tangan kanan Jarot Karsa yang bersarang di dada kirinya. Cepat-cepat dialirkannya tenaga dalamnya ke bagian yang terkena itu, Jarot Karsa tertawa mengekeh. "Jika kau masih juga belum mau angkat kaki dari sini bersama kunyuk-kunyukmu itu, jangan menyesal kalau mukamu nanti akan benjat benjut macam mangga busuk!" Tampang Mahesa Birawa kelam membesi. Kedua kakinya merenggang. Tangan kiri dipentang lurus-lurus ke muka. Tangan kanan ditarik tinggi-tinggi ke belakang di atas kepala. Pelipisnya bergerak-gerak. Tangan kanan Mahesa Birawa kemudian kelihatan menjadi hijau dan bergeletar. "Bangsat tua bangka!" kertak Mahesa Birawa, "lihat tangan kananku. Kenalkah kau akan pukulan yang akan kulepaskan ini....!" Jarot Karsa kerutkan kening. Matanya memandang lekat-lekat ke tangan kanan Mahesa Birawa yang semakin lama semakin bertambah hijau itu. Meski dia sudah hidup hampir tujuh puluh tahun, meski pengalamannya di dunia persilatan setinggi langit sedalam lautan namun kali ini mau tak mau tergetar juga hatinya meliahat tangan kanan lawan itu, ditambah lagi dia sama sekali tidak tahu ilmu pukulan apakah yang akan dilancarkan oleh lawannya! Akan tetapi Ranaweleng, begitu melihat tangan Mahesa Birawa yang menjadi hijau itu, kagetnya bukan main. Dengan cepat dia memberikan kisikan pada Jarot Karsa dengan mempergunakan ilmu "menyusupkan suara." "Bapak Jarot, hati-hati. Pukulan yang hjendak dilepaskan itu adalah pukulan uKelabang Hijau - Hebatnya bukan main dan sangat beracun....!" Jarot Karsa menindih rasa terkejutnya. "Pukulan Kelabang Hijau....," keluhnya dalam hati. Hampir-hampir tak dapat dipercayanya kalau tidak menyaksikan sendiri. Dia tahu betul bahwa di dunia persilatan hanya ada satu manusia yang memiliki ilmu pukulan yang dahsyat ini yaitu seorang Resi bernama Tapak Gajah yang diam di lereng Gunung Lawu. Tapi kini muncul seorang lain yang memiliki ilmu pukulan itu. Apakah Mahesa Birawa ini muridnya Tapak Gajah? Kerut-kerut pada kening Jarot Karsa mengendur sedikit. Dicobanya menunjukkan mimik mengejek. "Hanya pukulan Kelabang Hijau, apakah perlu ditakutkan....!" kata seorang tua bungkuk itu. Diam-diam Mahesa Birawa menjadi kaget melihat bahwa lawan mengetahui ilmu pukulan yang hendak dilepaskannya. Cepat dia membentak. "Kalau sudah tahu mengapa tidak segera berlutut, anjing tua?!" "Hanya monyet edan yang akan berlutut di hadapanmu Mahesa Birawa. Terimalah ini....!" dan tangan Jarot Karsa mendahului melepaskan pukulan tangan kosong yang dahsyat. Setengah tombak lagi angin pukulan yang menghembuskan maut itu melanda tubuh dan kepala Mahesa Birawa maka kelihatanlah laki-laki ini meninjukan tangan kanannya ke muka! Setiup angin laksana topan prahara dan mengeluarkan sinar hijau melesat ke muka. Angin pukulan Jarot Karsa terdorong dan balik menyerang orang tua itu sendiri! Jarot Karsa melompat ke samping. Tapi tak keburu. Sinar hijau pukulan Kelabang Hijau telah melanda pinggangnya. Suci menjerit dan menutup mukanya dangan kedua tangan. Orang tua itu berteriak setinggi langit. Tubuhnya terguling di tanah. Kulitnya kelihatan hijau. Dia mengerang dan menggelepar-gelepar seketika, kemudian nafasnya lepas, maka tubuhnya melingkar tanpa nyawa! "Manusia biadab!" bentak Ranaweleng. "Orangku tiada permusuhan dengan kau. Mengapa kau bunuh dia?!" Mahesa Birawa atau Suranyali tertawa mengekeh. "Sebentar lagi kau juga akan mampus Ranaweleng! Tapi aku masih berbaik hati untuk membiarkan kau angkat kaki dari sini. Kalau kau masih keras kepala ketahuilah bahwa ajal sudah di depan mata!" dan Mahesa Birawa tertawa lagi macam tadi. "Hari ini aku mengadu nyawa dengan kau manusia iblis!" teriak Ranaweleng. Maka menerjanglah Kepala Kampung Jatiwalu itu. EMPAT "Manusia keparat yang tidak tahu diri, hari ini terimalah mampus di tanganku!" bentak Mahesa Birawa seraya angkat lengan kirinya untuk menangkis pukulan lawan. Dua lengan beradu dengan keras, Ranaweleng terpelanting ke belakang sedang Mahesa Birawa hanya terjajar beberapa langkah saja. Lengan Ranaweleng yang beradu dengan lengan Mahesa Birawa kelihatan kemerahan dan perih. Laki-laki ini menggigit bibirnya menahan sakit. Dia maklum bahwa tenaga dalamnnya lebih rendah dari lawan. Karena itu dengan mempergunakan ilmu meringankan tubuhnya yang sudah sampai ke puncaknya, Ranaweleng tidak lebih digdaya dari Jarot Karsa. Sementara itu di langkan rumah terdengar jeritan-jeritan Suci pada kedua orang yang berkelahi itu. "Suranyali! Kakang Rana! Hentikanlah perkelahian ini! Hentikanlah!" Suci tidak pernah tahu kalau Suranyali telah berganti nama menjadi Mahesa Birawa. Dan dia berteriak lagi, "Kalian berdua tidak mempunyai permusuhan mengapa musti berkelahi?!" "Suci masuklah ke dalam!" sahut Ranaweleng kepada isterinya. Saat itu dia harus jungkir balik di udara mengelakkan pukulan lawannya. Di pihak Mahesa Birawa sudah barang tentu tiada niat sama sekali untuk menghentikan perkelahian. Bahkan teriakan-teriakan Suci tadi mendorongnya untuk lebih cepat menamatkan riwayat Ranaweleng! Dalam sekejapan saja kedua orang itu telah bertempur delapan jurus dan kelihatanlah dengan nyata betapa Ranaweleng terdesak dengan hebat. Pukulan-pukulan tangan kosong lawan mengurungnya dari berbagai jurusan. Dengan membentak keras serta mempercepat gerakannya dan mengandalkan ilmu mengentengi tubuh, Ranaweleng berusaha keluar dari kurungan pukulan lawan. Namun percuma saja. Tubuh Mahesa Birawa laksana bayang-bayang. Bergerak cepat sekali. Dan pada jurus ke sepuluh satu hantaman sikut kiri yang keras sekali menyambar rusuk kanan Ranaweleng. Ranaweleng merintih tertahan. Mukanya kelihatan pucat kebiruan. Dia tahu, sekurang-kurangnya dua dari tulang iganya telah patah dan tubuhnya di bagian dalam terluka hebat! Untuk beberapa lama dia berdiri limbung dengan pemandangan mata berkunang-kunang. "Ha.... ha....," tertawa Mahesa Birawa. "Sebentar lagi Ranaweleng, sebentar lagi ajalmu akan sampai. Lebih bagus cepat-cepat kau minta tobat pada Tuhanmu sebelum mampus!" Mulut Ranaweleng komat kamit. Rahang-rahangnya menggembung. Kedua tangannya terpentang ke muka. Dia siap-siap untuk melancarkan pukulan tangan kosong yang dahsyat. Di lain pihak Mahesa Birawa berdiri laksana tugu. Kedua kakinya tenggelam satu senti ke dalam tanah. Tenaga dalamnya dialirkan ke segenap bagian tubuh untuk menghadapi serangan lawan. Tiba-tiba jeritan sedahsyat angin punting beliung keluar dari mulut Ranaweleng. Kedua tangannya bergerak susul menyusul dan gelombang Angin Panas menderu ke arah Mahesa Birawa. Yang di serang membentak dahsyat dan lompat tiga tombak ke udara. Begitu angin panas menggebubu di bawah kakinya, membakar hangus pohon-pohon di belakangnya, maka Mahesa Birawa segera menukik ke bawah laksana seekor elang. Pukulan Angin Panas yang dilakukan oleh Ranaweleng membutuhkan pemusatan tenaga dan pikiran yang besar. Beberapa detik sesudah dia melancarkan pukulan tersebut, keadaan dirinya masih terbungkus oleh pemusatan pikiran itu sehingga pada saat lawannya menukik dari atas dia terlambat meneyingkir. Untuk kedua kalinya Ranaweleng harus menerima hantaman lawan. Kali ini badannya hampir terjungkal ke tanah. Masih untung dia sempat menggulingkan diri kalau tidak pastilah tendangan kaki kanan Mahesa Birawa yang mengarah bawah perutnya menamatkan riwayatnya! Begitu bangun, karena tahu bahwa dia tak akan sanggup menghadapi lawan dengan tangan kosong maka Ranaweleng segera cabut keris eluk tujuh dari balik pinggangnya! Tapi betapa terkejutnya Ranaweleng ketika melihat ke muka. Mahesa Birawa berdiri dengan kedua kaki terpentang. Tangan kiri lurus-lurus ke muka, tangan kanan diangkat tingitinggi di belakang kepala dan tangan itu sudah menjadi hijau oleh racun ilmu pukulan Kelabang Hijau! Suci yang telah melihat kedahsyatan pukulan Kelabang Hijau itu menjerti keras. "Sura!! Jangan....! Hentikan perkelahian ini!" Suranyali alias Mahesa Birawa sunggingkan senyum berbau maut. "Jika kau punya sepuluh senjata, keluarkanlah sekaligus Ranaweleng!" katanya mengejek. Hati Ranaweleng tergetar hebat. Keringat dingin mebasahi badannya. Seperti halnya dengan Jarot Karsa dia tak akan sanggup menghadapi kedahsyatan pukulan Kelabang Hijau tersebut. Tapi untuk lari menyelamatkan diri, sebagai seorang laki-laki, sebagai seorang yang berjiwa ksatria, tiada ada dalam kamus hidup Ranaweleng. Lebih baik mati berkalang tanah dari pada hidup sebagai pengecut! Lagi pula dia sudah tahu benar bahwa lawan betul-betul menginginkan nyawanya. Karena itu Ranaweleng ambil keputusan untuk mendahului menyerang. Dengan keris sakti di tangan, Ranaweleng menerjang ke muka. Namun tetap sia-sia saja. Pada detik tubuhnya baru dalam setengah lompatan, tangan kanan Mahesa Birawa telah memukul ke depan! Suci menjerit. Tubuh Ranaweleng mencelat mental dan jatuh di tanah tanpa nyawa. Sekujur kulit tubuhnya bahkan sampai-sampai kepada keris sakti yang saat itu masih tergenggam di tangannya menjadi hijau oleh racun ilmu pukulan Kelabang Hijau! Suci pun menjerit lagi lalu lari menubruk suaminya. Tapi Mahesa Birawa cepat meloncat ke muka dan mencekal perempuan itu. Kalau sampai Suci menyentuh tubuh suaminya yang mati hijau itu maka dalam sekejapan racun yang menyerap di tubuh Ranaweleng akan mengalir ke tubuh Suci dan pastilah perempuan ini akan meregang nyawa pula! "Lepaskan aku! Lepaskan aku manusia terkutuk! Biadab!!" pekik Suci. "Sedikit saja kau menyentuh tubuh laki-laki itu kau akan keracunan Suci....!" "Aku tidak takut! Aku juga ingin mati!" "Kau masih terlalu muda untuk mati....!" Dan dengan sekali gerakkan tangannya, maka Mahesa Birawa segera membopong Suci di bahunya. Karena perempuan itu masih meronta-ronta dan menjerit-jerit serta memukuli punggungnya, maka Mahesa Birawa segera menotok urat darah besar di pangkal leher Suci sehingga perempuan itu menjadi kejang kaku kini. Sambil melangkah ke kudanya Mahesa Birawa memerintah kepada ketiga orang anak buahnya. "Bakar rumah keparat itu!" Kalingundil dan Krocoweti serta Majineng segera laksanakan perintah itu. Dalam sekejapan mata maka tengelamlah rumah besar Kepala Kampung Jatiwalu itu dalam kobaran api. Senyum puas membayang di muka Mahesa Birawa. Bila sebagian dari rumah itu sudah musnah di makan api, maka bersama anak buahnya segera ditinggalkannya tempat itu. Jeritan bayi yang baru berumur beberapa bulan terdengar melengking-lengking di antara kobaran lidah-lidah api yang membakar rumah. "Bayi itu! Bayi itu....!" teriak salah seorang di antara orang banyak yang berkerubung di halaman rumah Kepala Kampung. "Oroknya Raden Rana....! Aduh, kasihan!" "Kalau tidak lekas ditolong pasti mati!" Tapi semua orang di situ hanya bisa berteriak dan berteriak. Mana mereka berani menghambur menyelamakan bayi itu. Dan suara tangisan bayi semakin lama semakin kecil serta parau sementara nyala api mulai membakar tempat tidur di mana bayi itu terbaring! Pada saat suara tangisan bayi yang menyayat hati itu hampir tidak lagi kedengaran, pada saat orang banyak sudah tak tahu lagi apa yang mesti mereka perbuat untuk menyelamatkan itu orok, maka pada saat itu pula, entah dari mana datangnya kelihatan sesosok bayangan berkelebat dan lenyap masuk ke dalam kobaran api. Sesaat kemudian sosok tubuh itu keluar lagi dan melesat ke halaman lalu lenyap di jurusan timur. Demikian cepat dan sebatnya sosok tubuh itu bergerak sehingga tidak satu orangpun yang dapat melihat siapa adanya manusia tersebut ataukah betul bisa memastikan bahwa sosok tubuh itu adalah sesungguhnya manusia, bukan setan atau dedemit! Jangankan untuk melihat wajahnya, untuk memastikan sosok tubuh itu laki-laki atau perempuan juga tak satu orangpun yang bisa! Begitu cepat dia datang, begitu cepat dia lenyap! Hanya warna pakaian yang hitam saja yang bisa dilihat mata orang banyak saat itu. Dan hanya beberapa detik saja sesudah sosok tubuh itu lenyap maka rumah Ranaweleng yang terbakar itu runtuh ambruk dan lidah api mengelombang tinggi ke udara! Siapapun adanya sosok tubuh itu, entah dia manusia atau bukan, entah laki-laki atau perempuan, tapi yang pasti dan semua orang yang ada di situ tahu, bahwa sosok tubuh itu telah menyelamatkan bayi Ranaweleng dan melarikannya ke arah timur! Ketika Mahesa Birawa membuka pintu kamar dan membaringkan Suci di atas tempat tidur dan secara tak sengaja memandang ke dinding, maka meluncurlah seruan tertahan dari mulut laki-laki ini! Pada dinding papan kayu jati yang keras itu tertulis rangkaian kalimat yang berbunyi: APA YANG KAU LAKUKAN HARI INI AKAN KAU TERIMA BALASANNYA PADA TUJUH BELAS TAHUN MENDATANG! Tiada tertera nama dari siapa yang menulis tulisan pada dinding itu. Tulisan itu dibuat dengan sangat cepat. Dan Mahesa Birawa tahu, kalau bukan manusia yang mempunyai tenaga dalam luar biasa dahsyatna pastilah tak akan sanggup membuat tulisan semacam itu pada dinding kayu jati yang keras, karena tulisan itu dibuat dengan mempergunakan ujung jari! Adalah hampir tak dapat dipercaya bila di puncak Gunung Gede yang semustinya sepi tiada bermanusia, pada siang hari yang panas terik itu terdengar suara lengkingan tawa manusia! Sekali-sekali lengkingan itu hilang, berganti dengan suara yang membentak yang kadang-kadang dibarengi oleh suara gelak membahak lain! Jelas bahwa ada dua manusia di puncak Gunung Gede saat itu! Dan keduanya kelihatan tengah bertempur dengan segala kehebatan yang ada. Bertempur sambil tertawa-tawa! Siapakah mereka ini?! Yang berbadan tinggi langsing dan mengenakan pakaian serta kain hitam adalah seorang nenek-nenek berkulit sangat hitam berkeringat-kerinyut. Kulit yang hitam berkerinyut ini tak lebih hanya merupakan kulit tipis pembalut tulang saja! Mukanya cekung dan kecekungan ini merambas ke matanya sehingga matanya ini kelihatan demikian menyeramkan. Berlainan dengan kulit serta pakaiannya yang seba hitam itu maka rambut di kepalanya serta alis matanya berwarna sangat putih. Dan rambut yang putih itu tumbuh sangat jarang di atas batok kepalanya yang hampir membotak licin berkilat. Namun lucunya pada kepala yang berambut jarang ini, nenek-nenek itu memakai lima tusuk kundai. Dan anehnya kelima tusuk itu tidaklah tersisip disela-sela rambut yang putih karena memang tidak mungkin untuk menyisip di rambut yang jarang itu. Kelima tusuk kundai itu menancap langsung ke kulit kepala nenek-nenek itu! Siapakah nenek-nenek ini? Dialah yang bernama Eyang Sinto Gendeng, seorang perempuan sakti yang telah mengundurkan diri sejak dua puluh tahun yang lalu dari dunia persilatan. Selama malang melintang dalam dunia persilatan itu, sepuluh tahun terakhir Sinto Gendeng telah merajai dunia persilatan di daerah Barat Jawa bahkan sampai-sampai ke Jawa Tengah. Selama itu pula dia telah menyapu dan membasmi habis segala manusia jahat. Terhadap manusia-manusia jahat, hanya ada satu kesimpulan bagi Sinto Gendeng untuk dilakukan yaitu membunuhnya! Tidak heran kalau namanya menjadi harum. Nama asli dari perempuan ini adalah Sinto Weni. Namun karena sikap dan tingkah lakunya yang lucu serta aneh-aneh bahkan seringkali seperti orang yang kurang ingatan maka lambat laun dunia persilatan menganugerahkan nama baru padanya yaitu Sinto Gendeng! Atau Sinto Gila! Siapa pula orang kedua yang berada di puncak Gunung Gede itu dan yang saat itu bertempur menghadapi Sinto Gendeng? Dia seorang pemuda belia remaja yang baru memasuki usia tujuh belas tahun. Tubuhnya tegap, tampangnya gagah dan kulitnya bersih kuning, hampir seperti kulit perempuan. Rambutnya gondrong sebahu dan agak acak-acakan sehingga tampangnya yang keren itu seperti paras kanak-kanak. Sebenarnya kedua orang itu sama sekali bukan tengah bertempur karena pemuda tujuh belas tahun tersebut adalah murid Eyang Sinto Gendeng sendiri! Bagaimana sikap tingkah laku gurunya, demikian pula sikap sang murid. Tertawa-tawa dan menjerit-jerit serta cengar cengir! Meski keduanya tengah melatih ilmu kepandaian, namun setiap jurus-jurus serta serangan-serangan yang mereka lancarkan adalah benar-benar serangan yang berbahaya sehingga bila tidak hati-hati dapat mencelakai diri! Debu dan pasir beterbangan. Daun-daun pohon berguguran, semak belukar tersapu kian kemari oleh angin pukulan dan gerakan tubuh kedua orang itu yang laksana bayang-bayang! Di tangan kanan Sinto Gendeng ada sebatnag ranting kering sedang muridnya memegang sebilah keris bereluk tujuh. "Ayo Wiro! Serang aku dengan jurus 'orang gila mengebut lalat'! Serang cepat, kalau tidak aku kentuti kau punya muka!" Wiro Saksana sang murid tertawa membahak dan menggaruk-garuk kepalanya sehingga rambutnya yang gondrong semakin awut-awutan. Tiba-tiba suara tawa membahak itu menjadi keras dan menggetarkan tanah, menggugurkan daun-daun pepohonan! "Ciaaat....!!" Bentakan setinggi jagat keluar dari mulut Wiro Saksana. Tubuhnya lenyap. Keris yang di tangan kanannya menyapu kian kemari dalam kecepatan yang sukar ditangkap oleh mata. Inilah yang disebut jurus: orang gila mengebut lalat. Dan memang gerakan menyapu-nyapu dengan keris itu meskipun luar biasa cepatnya namun kelihatan seperti tak teratur tak menentu. Tubuh Wiro Saksana hoyong sana hoyong sini. Namun serangan itu telah mengurung si nenek sakti Eyang Sinto Gendeng! Tapi si perempuan tua masih juga mengikik-ngikik. Masih juga petatang petiting sambil memainkan ranting kering yang di tangannya. Jika saja yang dihadapi oleh Wiro Saksana saat itu bukannya gurunya sendiri, bukan seorang sakti macam Sinto Gendeng, tapi seorang lain pastilah tubuhnya akan terkutung-kutung atau sekurang-kurangnya terbabat, tercincang oleh mata keris yang menyapu-nyapu laksana badai itu! Sinto Gendeng mengikik. "Geblek kau Wiro! Masih kurang cepat, masih kurang cepat!" kata Sinto Gendeng. Sang murid memaki dalam hati. "Eeeee.... kau memaki ya?!" hardik Sinto Gendeng. "Lihat ranting!" teriak perempuan tua itu. Tubuh Sinto Gendeng berkelebat. Tangan kanannya yang memegang ranting bergerak. "Awas ketek kananmu, Wiro!" (ketek=ketiak). Meskipun sudah diperingatkan, meskipun sudah mengelak dengan kecepatan yang luar biasa namun tetap saja ujung ranting itu lebih cepat datangnya ke ketiak kanan Wiro Saksana. "Breeett!!" Baju putih Wiro Saksana robek besar di bagian ketiak sebelah kanan! "Buset....! Untung cuma ketekku!" seru pemuda itu. Dengan kertakkan geraham dia menerjang ke muka. "Eyang," katanya, "terima jurus u kunyuk melempar buah u ini!" (kunyuk = monyet). "Ah hanya jurus geblek begitu siapa yang takut?!" menyahuti sang guru. Wiro Saksana meninjukan tangan kanannya ke muka. Pada saat tangannya perpentang lurus maka jari-jari tangannya membuka dan setiup gumpalan angin keras laksana batu besar melesat ke arah tenggorokan Eyang Sinto Gendeng! Nenek-nenek itu tertawa cekikikan. Dia meludah. Meski Cuma ludah dan disemburkan secara acuh tak acuh tapi karena diisi dengan tenaga dalam, ludah itu berbahaya sekali bagi pembuluh-pembuluh kulit dan mata. Wiro Saksana berkelit ke samping. Sambil berkelit dilambaikannya tangan kirinya untuk menambah perbawa dorongan pukulan tangan kosongnya tadi yaitu u kunyuk melempar buah u yang agak menyendat sedikit akibat dipapaki oleh semburan ludah Sinto Gendeng. Melihat serangan lawan masih terus mengganas ke batang tenggorokannya, kembali Sinto Gendeng tertawa. Memang manusia satu ini aneh sekali sifatnya. Bahkan setiap jurus-jurus ilmu yang diciptakannya diberinya dengan nama-nama aneh dan lucu. Tak salah kalau banyak orang-orang dalam dunia persilatan menukar namanya menjadi Sinto Gendeng! Suara tertawa nenek-nenek itu lenyap, berganti dengan satu lengkingan nyaring yang menusuk gendang-gendang telinga. Tubuhnya kelihatan jungkir balik dan melesat seperti terbang ke sebuah cabang pohon jambu klutuk! Sekaligus Sinto Gendeng telah mengelakkan gumpalan angin keras "kunyuk melempar buah." Angin keras ini menghajar batang pohon di seberang sana dan batang pohon itu patah lalu tumbang ke tanah! Terdengar lagi suara tawa mengikik. Gemas sekali Wiro Saksana memandang ke atas. Dilihatnya gurunya duduk enak-enakan di cabang pohon jambu klutuk sambil menggerogoti buah jambu itu! "Gendeng betul....!" gerutu Wiro kesal karena serangannya hanya mengenai pohon. "Memang namaku Sinto Gendeng!" kata sang guru pula. Kemudian tanyanya, "Kau mau jambu, Wiro?!" Dan sebelum Wiro Saksana sempat menyahuti maka gurunya telah menyemburkan biji-biji jambu klutuk itu ke arahnya. Dua puluh satu butir biji jambu klutuk menyerang hampir ke seluruh jalan darah di tubuh Wiro Saksana! "Ah, cuma bijinya siapa yang sudi!," jawab Wiro Saksana. Dia menghembus ke udara dan melambai-lambaikan kedua tangannya. Dua puluh satu butir biji jambu klutuk itu berguguran ke tanah bahkan tujuh butir di antaranya berbalik menyerang Sinto Gendeng. Tapi dengan goyangkan sedikit saja kaki kanannya, maka nenek-nenek sakti itu membuat ketujuh biji jambu klutuk itu bermentalan! "Kalau tak sudi biji jambu, terimalah ranting kering ini!" kata Sinto Gendeng. Dan ranting kering yang di tangan kirinya dilemparkannya ke bawah, mendesing laksana anak panah mengarah batok kepala muridnya! Memang Sinto Gendeng benar-benar seorang perempuan tua yang aneh. Dalam melatih muridnya setiap serangan yang dilancarkannya benar-benar merupakan serangan yang mematikan atau sekurang-kurangnya bisa menimbulkan celaka hebat bila sang murid tidak berhati-hati. Setiap jurus ilmu silat yang diciptakannyapun aneh-aneh namanya. Melihat serangan ranting kering ini Wiro ganda tertawa. Sekali dia gerakkan tangan kanan yang memegang keris maka ranting kering itu belah dua tepat di pertengahannya dan jatuh ke tanah. "Sebaiknya turun saja dari pohon eyang" kata Wiro Saksana. "Kalau tidak...." "Kalau tidak kenapa?" memotong Eyang Sinto Gendeng. "Sambut keris ini, Eyang....! Sambut dengan jidatmu biar konyol!" Habis berkata begitu Wiro Saksana tertawa mengakak dan melemparkan keris eluk tujuh yang di tangan kanannya. Senjata itu melesat hampir tidak kelihatan karena cepatnya. Namun empat detik kemudian terdengarlah suara cekikikan Eyang Sinto Gendeng. Dan ketika Wiro mendongak ke atas dilihatnya keris yang dilemparkannya tadi berada dalam jepitan telunjuk dan jari tengah kanan gurunya. Wiro Saksana menggerendeng. Tiba-tiba. "Ini balasan kehormatan untuk keris bututmu, Wiro!" Sinto Gendeng cabut dua tusuk kundainya dari batok kepalanya yang berambut putih dan jarang itu. Dibarengi dengan angin lemparan yang bukan olah-olah dahsyatnya maka menyambarlah dua tusuk kundai itu ke arah Wiro Saksana. Yang satu menyerang kepala, yang lain menyerang perut! Wiro Saksana yang tahu kehebatan tusuk kundai itu tak mau memapaki senjata tersebut dengan mengandalkan lambaian tangan yang mengandung tenaga dalam. Didahului dengan bentakan nyaring maka pemuda ini menjejek bumi dan melintangkan badannya ke udara. Tusuk-tusuk kundai itu lewat di kiri kanannya, terus amblas ke dalam tanah! Eyang Sinto Gendeng tertawa gelak-gelak. "Bagus...., bagus kau tidak menangkis seranganku dengan hantaman tenaga dalam! Tak satu tenaga dalam yang bagaimana hebatnyapun yang sanggup memapaki tusuk kundai itu Wiro! Eeee.... aku haus! Hik.... ambilkan air buatku Wiro! Cepat!" "Kalau haus jilat saja air keringat!" kata murid yang lucu dan seperti kurang ingatan pula macam gurunya. Dan dasar Eyang Sinto Gendeng manusia aneh, dia sama sekali tidak marah mendengar gurau yang keliwatan dari muridnya itu, melainkan tertawa mengakak. Tiba-tiba tawanya lenyap. "Air, Wiro! Lekas!" bentak perempuan itu. Sang murid berlalu juga dari tempat itu. Melangkah ke sebuah pondok kecil. Di bagian belakang pondok ini ada sebuha gentong berisi air putih dingin. Wiro mengambilnya segayung. Ketika dia melangkah kembali ke tempat tadi untuk memberikan air itu kepada gurunya maka didengarnya suara Eyang Sinto Gendeng menyanyi. Suaranya sama sekali tidak merdu. Namun kata-kata yang terjalin dalam nyanyian itu membuat Wiro Saksana menjadi heran dan bertanya-tanya dalam hati Pitulas taun wus katilar, Pucuking Gunung Gede isih panggah kaya biyen mulo, Langit isih tetep biru, Wulan lan suryo isih tetep mandeng lan kangen, Pitulas taun agawe kang tua tambah tua. Pitulas taun ndadekake bayi abang dadi pemuda kang gagah, Pitulas taun wektu perjanjian, Pitulas taun wiwitane perpisahan, Pitulas taun wekdaling pamales.... Artinya: (Tujuh belas tahun telah berlalu. Puncak Gunung Gede masih tetap seperti dulu, Langit masih tetap biru, Bulan dan matahari masih berpandangan jauh dan rindu. Tujuh belas tahun membuat si tua tambah tua, Tujuh belas tahun membuat seorang orok menjadi pemuda gagah, Tujuh belas tahun masa perjanjian, Tujuh belas tahun ujung perpisahan, Tujuh belas tahun saat pembalasan). ENAM Selama diam di puncak Gunung Gede itu bersama gurunya, walau bagaimanapun miring otak sang guru, namun baru hari itulah Wiro Saksana melihat dan mendengar Eyang Sinto Gendeng menyanyi. Kata-kata dalam nyanyian itu entah mengapa membuat Wiro jadi berdebar. Apakah maksud kata-kata nyanyian itu? Perasaan yang bagaimanakah yang tengah dicetuskan oleh gurunya karena Wiro melihat nenek-nenek itu menyanyi dengan penuh perasaan, dengan mata memandang jauh ke muka. Tujuh belas tahun membuat aku si tua bangka tambah tua. Kata-kata ini jelas ditujukan ke diri gurunya sendiri. Tapi pada siapakah ditujukan kalimat yang berbunyi: Tujuh belas tahun membuat seorang orok menjadi pemuda gagah, itu? Apakah ditujukan kepadanya? Berdebar hati Wiro Saksana. Kemudian kalimatkalimat: Tujuh belas tahun ujung perpisahan.... serta.... Tujuh belas tahun saat pembalasan.... Apakah arti semua itu? Ketika Wiro Saksana memandang ke atas pada saat itu pula Eyang Sinto Gendeng melihat ke bawah. Dan mata yang tajam dari Wiro Saksana, meskipun cuma sekilas, namun masih dapat melihat pantulan air muka serta cahaya mata gurunya yang lain dari biasanya! Air muka itu. Sinar mata itu menyembunyikan satu perasaan sedih! Perasaan apakah yang menyemaki hati sang guru sebenarnya? Tiba-tiba Eyang Sinto Gendeng membentak keras sampai Wiro Saksana terkejut dan serasa terbang nyawanya. "Tunggu apa lagi, geblek?! Orang sudah haus dianya tegak mematung! Kukencingi kepalamu baru tahu! Lemparkan gayung itu cepat!" Dan Wiro Saksana segera lemparkan gayung batok kelapa yang berisi air ke atas. Gayung itu melesat ke atas tanpa setetes airpun yang tumpah! "Bagus Wiro.... bagus sekali!" memuji Sinto Gendeng. Dan dengan tangan kirinya disambutnya gagang gayung. Sesaat kemudian tenggorokannya yang kurus dan kerinyutan itu kelihatan turun naik meneguk air dari dalam gayung. Air itu diteguknya sampai habis. "Terima gayung ini kembali, Wiro!" Gayunng melesat ke bawah. Wiro Saksana ulurkan tangan untuk menyambut tapi pada detik itu pula di atas pohon gurunya kelihatan menggerakkan tangan kanannya. Angin deras mendorong kepala gayung, membuat gayung yang hendak disambuti Wiro Saksana itu mencelat ke samping dan menyerang dadanya! "Gila betul!" bentak si pemuda. Cepat-cepat dia palangkan lengannya di muka dada. Gayung dan lengan beradu. Gayung pecah berantakan ke tanah, gagangnya patah dua! Pada saat itulah Sinto Gendeng melayang turun ke bawah. Kedua kakinya menjejak tanah tanpa suara dan tanpa meninggalkan bekas sedikitpun padahal cabang pohon jambu klutuk dari mana dia meloncat tadi hampir empat tombak tingginya. Dapat dibayangkan bagaimana luar biasanya ilmu meringankan badan perempuan sakti ini! Kedua orang itu, guru dan murid berdiri berhadap-hadapan. Wiro Saksana dapat merasakan betapa lainnya pandangan kedua mata Sinto Gendeng kepadanya, pandangan yang tidak dimengertinya. Nenek-nenek ini bergerak mundur beberapa langkah ke belakang. Kedua kakinya kemudian merenggang sedang kedua tangan mengembang ke muka. Mulutnya berkemik. Detik demi detik sepasang kakinya amblas ke dalam tanah sampai tiga senti sedang seluruh tubuhnya bergetar hebat. Mukanya yang hitam dan berkerinyut itu basah oleh keringat. Tiba-tiba kejut Wiro Saksana bukan olah-olah ketika dilihatnya bagaimana kedua tangan gurunya berwarna putih sekali sedang sepuluh kuku jari tangan perempuan itu memerak serta memancarkan sinar yang menyilakuan! "Eyang!" seru Wiro Saksana. "Apakah kau mau bikin aku mati konyol dengan Pukulan Sinar Matahari itu?!" Sinto Gendeng tidak menjawab. Mulutnya semakin mengemik. Rahang-rahangnya semakin mengatup dan pandangan mata serta tampangnya sangat mengerikan! Merinding bulu kuduk Wiro Saksana. Baru kali ini dilihatnya gurunya sedahsyat itu. Tanpa menunggu lebih lama, tanpa menunggu sampai kedua tangan yang mengepal dihantamkan ke muka, maka pemuda ini cepat-cepat pentang kaki dan dekapkan lengan di muka dada. Matanya meram, mulutnya komat kamit. Sepasang kakinya amblas dua senti ke tanah. Tubuhnya tak bergerak barang serambutpun, laksana gunung karang yang keras membatu! "Ciaaaaaaatttt" Bentakan Sinto Gendeng melengking melanglang langit! Kedua tangannya dipukulkan ke muka. Dua rangkum sinar putih yang menyilaukan serta panasnya dapat menghanguskan dan melelehkan benda apa saja menggempur ke arah sasaran di muka sana yaitu tubuh Wiro Saksana! Pada detik yang sama Wiro Saksana membentak pula. "Heeyyyaaaaa!" Tangan yang tadi bersidekap dengan serentak memukul ke depan. Dan kedua tangan itu terus saja terpentang lurus ke muka. Inilah apa yang dinamakan ilmu pukulan "benteng topan melanda samudra"! Ilmu pukulan ini bukan saja dapat dipakai untuk menyerang tapi sesuai dengan namanya juga dapat menjadi perisai tangguh atau benteng kekar yang melindungi Wiro dari serangan gurunya! Bila angin-angin topan pukulan itu sama bertemu di udara maka terdengarlah suara berdentum yang menyenging liang telinga, debu dan pasir beterbangan, daun-daun pohon berguguran bahkan ranting-ranting kering patah-patah dan berjatuhan! Puncak Gunung Gede bergetar. Langit seperti mau terbelah oleh dentuman itu! Ketika debu dan pasir surut ke tanah, ketika keadaan di sekitar situ menjadi terang kembali maka Wiro Saksana melihat bagaimana kedua kaki gurunya amblas ke dalam tanah sedalam sepuluh senti. Muka perempuan itu penuh keringat dan matanya menyipit. Namun bila ditelitinya pula keadaan dirinya maka didapatinya kedua kakinya tenggelam ke dalam tanah sampai sebatas betis. Sedangkan tubuhnya yang memercikkan keringat dingin itu terasa masih bergetar gontai akibat adu tanding tenaga dalam yang luar biasa tadi! "Bagus Wiro, bagus sekali!" terdengar Eyang Sinto Gendeng. Meski memuji namun dari mukanya bukan menunjukkan kegembiraan, sebaliknya muka yang berkerut-kerut itu masih memancarkan kengerian. "Sekarang sambuti pukulan angin es ini, Wiro!" Dan habis berkata begitu, Sinto Gendeng angkat tinggi-tinggi kedua tangannya dengan telapak membuka lebar menghadap ke arah muridnya. Matanya kembali terpejam. Wiro menunggu dengan badan tiada bergerak. Udara mendadak menjadi sangat sejuk. Kemudian ketika Sinto Gendeng memutar-mutar kedua tangannya maka kesejukan itu mendadak sontak berubah menjadi udara yang sangat dingin menyembilui tulang-tulang sungsum. Geraham-geraham Wiro Saksana bergemeletakan menahan rasa dingin yang amat sangat itu. Permukaan kulitnya membeku seperti ditutupi salju. Tanah yang dipijaknya laksana pedataran es. Satu menit saja hal itu berlangsung lebih lama pastilah tubuh pemuda ini menjadi beku membatu. Inilah kehebatan ilmu kesaktian yang bernama "angin es" itu! Dengan badan bergetar menahan dingin, Wiro Saksana membentak dahsyat. Bersamaan dengan itu kedua tangannya diputar-putar ke udara angin laksana badai menggebubu ke pelbagai arah. Puncak gunung itu menderu-deru. Daun-daun pohon yang tadi kaku tegang oleh dinginnya udara kini kelihatan mulai bergerak, makin kencang u makin kencang. Udara dingin yang tadi menyayat sungsum kini tergetar buyar dilanda ilmu "angin puyuh" yang dilepaskan oleh Wiro Saksana. Semakin keras putaran tangan pemuda itu, semakin membadai gebubu angin, semakin buyar udara dingin. Daun-daun pohon yang tadi hanya bergerak-gerak kini jatuh berhamburan bersama rantingnya. Kemudian satu demi satu pohon-pohon kecil bertumbangan. Pohon-pohon besar yang masih bisa bertahan menjadi gundul daun dan rantingnya! Tubuh Eyang Sinto Gendeng kelihatan tergoyang hebat. Pakaian hitamnya berkibar-kibar. "Gila betul! Gila betul!" teriak perempuan sakti itu. Mulutnya mengeluarkan lengkingan dahsyat kemudian dia melompat sejauh sembilan tombak dan dari situ mencabut sebuah tusuk kundai lalu menyambitkannya ke arah Wiro. Sang murid cepat-cepat hentikan putaran tangannya dan melompat ke samping. Tusuk kundai membawa angin maut itu melesat menghantam sebatang pohon. Pohon itu tumbang dengan batang pecah berkeping-keping! Udara dingin lenyap. Angin yang memuyuh juga lenyap dan suasana kembali sepeti sedia kala. Ketika Wiro memandang ke muka dilihatnya gurunya berdiri memegang sebentuk kapak yang aneh sekali. Belum lagi dia sempat meneliti lebih lama benda itu, Eyang Sinto Gendeng ajukan pertanyaan, "Kau lihat senjata di tanganku ini, Wiro? Kau lihat....?!" Sang murid mengangguk dan matanya tetap lekat ke kapak aneh di tangan gurunya. "Kali ini kau tak akan sanggup lagi berkelit dari seranganku, Wiro!" "Eyang Sinto.... apakah kau sudah gila hendak membunuh murid sendiri....?!" Perempuan itu tertawa mengikik. "Aku memang sudah gila Wiro! Kalau tidak percuma namaku Sinto Gendeng! Goblok kau yang tidak tahu artinya Gendeng!" Wiro memandang dengan waspada. Matanya kembali meneliti kapak aneh di tangan gurunya. Kapak itu bermata dua dan besarnya hampir sebesar batu bata. Gagangnya putih bersih, mungkin terbuat dari gading menurut taksiran Wiro. Pada batang kapak yang besar hampir sebesar lengan itu kelihatan enam buah lobang-lobang kecil. Ujung terbawah dari gagang kapak ini merupakan kepala seekor naga yang mulutnya membuka. "Wiro!", kata Eyang Sinto. "Aku akan pergunakan kapak ini tiga jurus berturut-turut untuk menyerangmu! Bila kau sanggup melayaninya, kau akan selamat. Kalau tidak maka bersiaplah untuk mati konyol!" Wiro Saksana kertakkan geraham. Dia hendak menjauhi kata-kata gurunya itu. Namun sebelum mulutnya terbuka, Eyang Sinto Gendeng sudah berseru: "Ini jurus pertama Wiro!" Si tua Sinto Gendeng menerjang ke muka. Kapak besar di tangan kanannya membabat kian kemari dalam jurus "orang gila mengebut lalat." Ketika tadi Wiro Saksana memainkan jurus itu dengan mempergunakan sebilah keris, kehebatannya sudah luar biasa apalagi kini penciptanya sendiri yang melakukannya maka dahsyatnya bukan olah-olah! Kapak besar itu berkelebat kian kemari hampir tidak kelihatan karena cepatnya. Angin deras bersiuran mengibar-ngibarkan pakaian Wiro. Angin deras ini bukan sembarang angin karena bila menyambar kulit maka kulit itu perih bukan main, seperti lecet! Dan dari mulut kepala naga pada ujung gagang kapak senantiasa keluar suara mendengung macam tawon! Dalam sekejap saja Wiro Saksana segera terbungkus sambaran-sambaran kapak bermata dua itu. Mata dan kulit tubuhnya perih terkena angin tajam yang menderu-deru. Telinganya pengang oleh suara yang mengaung yang keluar dari mulut kepala naga-nagaan pada gagang kapak. "Ciaaaaatt!" Wiro membentak dahsyat. Tubuhnya berkelebat dan lenyap detik itu juga. Tangan dan kakinya sambar menyambar kian kemari, membuat gerakan menghindar dan menyerang bagian-bagian yang lowong dari gurunya. Tapi mana dia sangup menghadapi senjata aneh yang dahsyat itu. Apalagi senjata tersebut berada dalam tangan Sinto Gendeng dan mempergunakan jurus "orang gila mengebut lalat" yang sudah mencapai tingkat kesempurnaannya. Dalam sekejap saja pemuda itu terdesak hebat. Lengah atau ayal sedikit saja pastilah pinggang atau perut atau dada atau tenggorokannya akan kena disambar mata kapak. Hanya dengan mengandalkan ilmu meringankan tubuh yang sangat tinggi yang dimilikinyalah maka Wiro Saksana dapat menghindari sambaran-sambaran dan bacokan-bacokan kapak bermata dua itu. Berkali-kali Wiro melepaskan pukulan-pukulan tenaga dalam yang dahsyat. Namun angin pukulannya terbendung bahkan dihantam buyar oleh angin tajam yang menderu yang keluar dari senjata di tangan gurunya. "Senjata edan!" maki Wiro Saksana. Tiba-tiba dijatuhkannya tubuhnya ke bawah. Serentak dengan itu tangan kanannya dengan jari-jari ditekuk kedalam meluncur ke arah sambungan siku Eyang Sinto Gendeng. Tapi pada detik itu pula kaki kanan sang guru menyapu dari atas ke bawah, mencari sasaran di kepala Wiro Saksana. Mau tak mau ini pemuda terpaksa jatuhkan dan gulingkan diri di tanah. Dengan demikian maka berakhirlah jurus pertama yang penuh kehebatan itu. Sinto Gendeng berdiri dengan dada turun naik. "Kini jurus kedua, Wiro!" katanya. Kedua kakinya dipentang lebar-lebar. Tubuhnya membungkuk ke muka sedikit sedang kapak di tangan kanan dipegangnya lurus-lurus ke muka ke arah Wiro Saksana. Dari balik pakaian hitamnya Eyang Sinto Gendeng mengeluarkan benda hitam yang berkilauan ditimpa sinar matahari. Wiro tak dapat memastikan benda apa yang ada dalam tangan kiri gurunya itu. Mungkin sebentuk besi, mungkin juga sebuah batu. Tiba-tiba tangan kiri Sinto Gendeng memukulkan benda di tangan kirinya ke kepala kapak. Bunga api memijar. Dan sedetik kemudian lidah api yang dahsyat menyambar ke arah Wiro Saksana! Terkejutnya pemuda itu bukan alang kepalang. Dia membentak dan lompat ke udara. Lidah api lewat di bawahnya, kedua kakinya terasa perih panas dan bila dia melirik ke belakang maka dilihatnya bagaimana semak belukar serta pepohonan terbakar berkobar oleh sambaran lidah api tadi! Masih belum turun ke tanah lagi, maka Sinto Gendeng telah menyerang pemuda itu untuk kedua kalinya. Lidah api menyambar lagi. Wiro bergulingan di tanah, menghindarkan dengan sebat. Tanah yang tersambar lidah api kapak sakti itu menjadi hitam hangus. Wiro leletkan lidahnya. Masih belum sempat dia mengatur nafas, tangan kiri dan tangan kanan Sinto Gendeng bergerak lagi berkali-kali. Lidah-lidah api yang hampir setengah lusin banyaknya menyambar tubuhnya dari enam jurusan! Wiro memekik dahsyat. Meraung dan membentak. Kedua tangannya diangkat tinggi-tinggi ke atas. Tubuhnya melompat kian kemari, mulutnya komat-kamit. Aji angin es yang ditebarkannya hanya bisa menahan gelombang lidah api yang menyambar tapi sama sekali tidak dapat melenyapkan hawa panas lidah-lidah api itu! Wiro Saksana kelagapan tapi masih belum hilang akal! Bentakan setinggi langit melengking ke udara. Tubuh Wiro Saksana lenyap keluar dari sambaran-sambaran lidah-lidah api untuk sesaat kemudian berguling di tanah dengan sangat cepatnya, menuju ke tempat Eyang Sinto Gendeng berdiri. Sambil bergulingan ini, Wiro lepaskan dua pukulan tangan kosong yang hebat. Satu "kunyuk melempar buah" yang satu lagi "sinar matahari"! Mau tak mau Sinto Gendeng hindarkan diri juga ke samping. Maka putuslah jurus kedua itu! Wiro Saksana itu berdiri dengan tubuh berkeringat dingin. Dibelakangnya kobaran api masih juga membakari semak belukar dan daun-daun pepohonan. Gurunya dilihatnya berdiri tegak tak bergerak. Benda yang di tangan kirinya tadi ternyata adalah sebuah batu api dan kini sudah disimpannya kembali di balik pakaian hitamnya. "Jurus terakhir Wiro....!" kata Eyang Sinto Gendeng. Pemuda itu tahu, kalau dua jurus pertama tadi hebatnya bukan olah-olah maka jurus ketiga atau yang terakhir ini tentu lebih dahsyat lagi. Karenanya dia benar-benar lebih waspada dan teliti kini. Sepasang matanya yang hitam pekat itu menyorot tajam-tajam kedepan. Sinto Gendeng memegang kapak itu dengan tebalik. Mulut naga-nagaan yang terbuka di dekatkannya ke mulutnya sedang jari-jari tangannya menutup enam lobang di batang kapak. Ketika Wiro Saksana tidak mengerti apa yang bakal diperbuat gurunya maka terdengarlah suara tiupan seruling! Ternyata kapak itulah yang mengeluarkan suara seruling tersebut dan ditiup oleh Sinto Gendeng! Gema seruling itu mula-mula perlahan, halus dan lembut, memukau Wiro Saksana. Kemudian tiupan seruling mengeras dan pembuluh-pembuluh darah di tubuh Wiro seperti ditusuk-tusuk. Darahnya mengalir tidak karuan, menyendat-nyendat. Matanya mengabur, kepalanya berat dan pusing! Maklum bahwa tiupan seruling itu bukan tiupan biasa, cepat-cepat Wiro menghempos tenaga dalam. Mengatur jalan nafas dan darahnya! Tapi kasip! Suara seruling semakin kencang. Melengking dan menusuk-nusuk gendang-gendang telinga! Wiro kerahkan lagi tenaga dalamnya. Mulutnya komat-kamit, kedua tangannuya menghantam ke arah Sinto Gendeng, tapi sang guru kini tidak di tempat, melainkan berlari-lari sebat mengelilingi pemuda itu. Wiro membentak, tapi suaranya tidak keluar. Dari melompat tapi tubuhnya terhuyung. Seluruh kekuatan luar dan dalamnya punah oleh tiupan seruling! Pinggangnya tertekuk kemuka. Mendadak samar-samar ingatan jernih melintas di otaknya. Cepat-cepat pemuda ini mentutup indera pendengarannya. Sukar sekali mula-mula, karena saat itu kedua liang telinganya sudah mengeluarkan darah! Tapi dengan kerahkan segala sisa tenaga yang ada pemuda ini sanggup juga menutup pendengarannya. Begitu suara seruling lenyap dari telinganya maka perlahan-lahan tenaga luar dan dalamnya yang tadi punah kini datang kembali. Tapi rasa yang menusuk-nusuk pembuluh-pembuluh darahnya masih belum lenyap. Karenanya, diaturnya jalan nafas dan darahnya. Pengaruh tiupan seruling sakti itu berhasil dilawannya sedikit demi sedikit. Dan ketika dirasakannya sudah punya kekuatan untuk balas menyerang pemuda ini pura-pura jatuhkan diri ke tanah, pura-pura pingsan. Namun begitu tangan kanannya menyentuh tanah, segera diraupnya pasir tanah itu dan dilemparkannya ke arah Sinto Gendeng! Ratusan pasir yang sudah diisi dengan aji "angin puyuh" itu menderu ke arah mulut naga-nagaan dan lobang-lobang di gagang kapak, ratusan butir lagi menyerang ke muka Sinto Gendeng. Perempuan tua renta itu melepaskan mulutnya dari mulut kepala naga dan cepatcepat menghembuskan ke muka. Pasir-pasir yang menghambur menyerangnya rontok kembali ke tanah! Bersamaan dengan itu Sinto Gendeng memasukkan kapak saktinya ke balik pakaiannya. Berarti jurus ketiga yang mendebarkan itu berakhir sudah. Wiro berdiri tersengal-sengal bersandar. Matanya tetap menyorot lekat-lekat dan memperhatikan gerak-gerik gurunya. Meski tadi Eyang Sinto Gendeng mengatakan hanya akan menyerangnya sebanyak tiga jurus, tapi bukan mustahil nenek-nenek itu akan menyerangnya kembali! Tapi dilihatnya Eyang Sinto Gendeng cuma memandang saja kepadnya. Wiro garuk-garuk kepala yang tidak gatal. Sekian belas tahun lamanya dia menuntut ilmu kesaktian dan ilmu silat baru hari ini diketahuinya bahwa Eyang Sinto Gendeng memiliki sebuah senjata berbentuk kapak yang demikian anehnya, tapi juga demikian hebatnya! Selama sekian tahun baru hari itu pula gurunya menggempur dia dengan serangan-serangan yang benar-benar mematikan. Serangan-serangan yang dilancarkan tidak dengan tertawa-tawa sebagaimana biasanya! Dihubungkannya pula dengan nyanyian yang dibawakan gurunya tadi! Benar-benar banyak keanehan yang dilihat Wiro Saksana hari ini. Tiba-tiba dilihatnya nenek-nenek sakti itu berkelebat. Wiro segera siapkan diri. Terdengar suara tertawa yang meringkik-ringkik macam kuda. "Gila betul!" maki Wiro. Dia cepat-cepat lompat ke samping karena Eyang Sinto Gendeng berkelebat ke arahnya! DELAPAN Tetapi Eyang Sinto bukan menyerangnya. Nenek-nenek sakti ini ternyata hanya melompat ke atas pohon jambu klutuk dan duduk di cabang tempat dia duduk sebelumnya. "Bagus Wiro.... bagus sekali," katanya. Mukanya dihadapkan lurus-lurus ke arah timur. "Sekian lama kau kudidik di puncak Gunung Gede ini, ternyata tidak mengecewakan....!" Sinto Gendeng tertawa melengking-lengking. Dan sehabis tertawa tadi maka diulanginya nyanyian tadi. Nyanyian yang membuat hati Wiro Saksana menjadi tergetar. Pitulas taun wus katilar, Pucuking Gunung Gede isih panggah kaya biyen mulo, Langit isih tetep biru, Wulan lan suryo isih tetep mandeng lan kangen, Pitulas taun agawe kang tua tambah tua. Pitulas taun ndadekake bayi abang dadi pemuda kang gagah, Pitulas taun wektu perjanjian, Pitulas taun wiwitane perpisahan, Pitulas taun wekdaling pamales. Wiro duduk menghamparkan diri di bawah sebatang pohon di seberang pohon jambu klutuk. Dilihatnya gurunya menghela nafas dalam beberapa kali. "Dadamu sesak Eyang? Aku bisa tolong urut...." "Diam!" bentak Sinto Gendeng. Wiro menggaruk kepalanya dan diam. "Aku mau bicara sama kau!" kata Sinto Gendeng pula. "Bicara apa Eyang....?" Pemuda ini mulai bicara sungguh-sungguh karena dilihatnya gurunya juga bicara sungguh-sungguh. "Berapa lama kau tinggal di sini bersamaku, Wiro?!" "Murid tidak ingat...." "Gelo betul! Buat apa aku ajar tulis baca dan berhitung sama kau?!" "Mungkin sepuluh tahun, Eyang...." "Goblok! Tujuh belas tahun, tahu?!" Wiro tertawa, "Iyyaa.... tujuh belas tahun Eyang," katanya pula. "Kuharap hari ini kau jangan bicara sinting sama aku, Wiro!" bentak Sinto Gendeng dan matanya masih terus menatap ke timur. "Kau lihat matahari itu?" "Lihat Eyang...." jawab Wiro seraya memandang ke timur. "Matahari itu masih tetap matahari yang dulu juga, masih sama dengan matahari tujuh belas tahun yang silam. Puncak Gunung Gede ini juga masih seperti dulu juga. Cuma yang tua tambah tua, yang orok jadi pemuda! Cuma dunia luar yang banyak berobahnya!" Wiro Saksana mendengarkan dengan sungguh-sungguh karena tak pernah dilihatnya gurunya bicara seperti itu sebelumnya. Kemudian terdengar kembali suara sang nenek. "Tujuhbelas tahun. Sekian lama kau tinggal bersamaku. Belajar tulis baca, belajar ilmu silat, belajar segala kesaktian. Tapi kau jangan lupa! Kudu inget! Ilmu dan segala kesaktian apa yang telah aku berikan sama kau semuanya adalah masih sangat terlalu kecil, terlalu sedikit, sama sekali tidak ada artinya jika dibandingkan dengan ilmu kekuasaan Gusti Allah. Kau mengerti, Wiro?" "Ya, Eyang...." "Karena itu kau musti sadar, kudu ingat. Kalau ini hari kau sudah menjadi sakti mandraguna yang tak sembarang orang bisa menandingi kau, tapi hal utama yang musti kau lakukan ialah menjauhkan diri dari segala sifat yang tidak baik! Kau jangan sekali-kali bersifat sombong, congkak dan tekebur! Pakai semua ilmu yang kuberikan untuk menolong sesama manusia, untuk kebaikan. Kalau kau nyeleweng, kau akan dapat balasan sendiri di kemudian hari! Kau musti ingat bahwa bukan kau saja yang sakti di dunia ini. Kau musti sadar bahwa diluar langit ada langit lagi. Kau sadar, Wiro?" "Sadar, Eyang...." "Ingat?" "Ingat,Eyang...." "Ingat.... ya ingat! Manusia ingat dengan pikirannya, sama otaknya! Tapi aku tak mau kalau kau cuma sekedar mengingat saja karena setiap ada ingat musti ada lupa. Dan manusia manapun selagi bernama manusia, suatu ketika tetap akan membawa sifat lupa itu. Lupa dan kelupaan. Yang penting ialah kau musti menanamkan sedalam-dalamnya ke dalam hatimu, ke dalam sanubarimu, ke dalam aliran kau punya darah, ke dalam detakan jantung, ke dalam hembusan nafas! Sesuatu itu, jika ditanamkan dalam-dalam laksana sebatang pohon jadinya, tak satu tanganpun yang sanggup mencabutnya dari bumi karena dari hari ke hari akar yang membuat pohon itu tegak semakin kokoh dan jauh masuk ke dalam tanah!" Kesunyian menyeling beberapa lamanya. Kesunyian ini dipecahkan oleh suara Eyang Sinto Gendeng kembali. "Hari ini adalah hari yang penghabisan kau berada di sini, Wiro!" "Eyang....," terkejut Wiro Saksana mendengar kata-kata gurunya yang tiada disangkanya itu. "Kau terkejut....? Tak perlu terkejut. Di dunia ini selalu ada waktu bertemu selalu ada waktu perpisahan. Waktu datang dan waktu pergi! Aku telah selesai dengan kewajibanku memberikan segala macam ilmu kepada kau dan kau sudah selesai dengan kewajiban kau yaitu menuntut dan mempelajari ilmu itu dari-ku...." Dalam duduknya itu Wiro Saksana jadi tertegun. Jadi rupa-rupanya apa yang dinyanyikan oleh Eyang Sinto Gendeng tadi ada hubungannya dengan peri kehidupannya. Cuma yang belum dimengerti Wiro ialah barisan kalimat, Tujuh belas tahun masa perjanjian.... tujuh belas tahun saat pembalasan.... Eyang Sinto Gendeng tiba-tiba melayang turun ke tanah kembali. Dia berdiri di hadapan muridnya. Dan mulai lagi bicara. "Segala apa yang ada di dunia ini selalu terdiri atas dua bagian, Wiro! Dua bagian yang berlainan satu sama lain tapi yang menjadi pasangan-pasangannya...." Wiro Saksana kerenyitkan kening tak mengerti. "Misalnya Eyang?" tanyanya. "Misalnya...., ada laki-laki ada perempuan. Bukankah itu dua bagian yang berlainan? Tapi merupakan pasangan?!" "Betul Eyang...." "Misal lain.... ada langit.... ada bumi. Ada lautan ada daratan. Ada api ada air.... ada panas ada dingin. Ada hidup ada mati, ada miskin ada kaya. Ada buta ada melek. Ada lurus ada bengkok, ada panjang ada pendek, ada tinggi ada rendah, ada dalam ada cetek! Semuanya selalu begitu Wiro, Kemudian.... ada susah ada senang, ada tertawa ada menangis. Di atas semua itu ada satu yang tertinggi. Yang satu ini ialah penciptanya. Siapa yang ciptakan kau, Wiro....?" "Tidak tahu Eyang...." "Goblok!" "Aku tahu Eyang...." "Siapa?" "Ibu sama bapakku." "Siapa yang mencipatakan ibu sama bapak kau?" "Nenek sama kakek...." "Yang menciptakan nenek sama kakek....?" "Nenek dari nenek dan kakek dari kakek...." "Dan yang menciptakan nenek dari nenek serta kakek dari kakek....?" "Ya nenek dari nenek dari nenek dan kakek...." "Geblek!" bentak Sinto Gendeng. "Manusia tidak pernah bisa menciptakan manusia! Bapak kau kawin sama ibu kau dan ibu kau cuma melahirkan kau, lain tidak!! Ibu kau dilahirkan sama nenek, kau begitu seterusnya goblok! Semua manusia ini, semua apa saja di dunia ini diciptakan oleh Yang Satu. Oleh Gusti Allah! Hal-hal yang dua itupun juga diciptakan dengan kodrat iradatnya Gusti Allah. Gusti Allah ciptakan laki-laki juga Dia ciptakan perempuan. Gusti Allah bikin langit, juga bikin bumi. Bikin orang-orang susah juga bikin orang-orang senang. Bikin manusia-manusia kaya juga bikin manusia-manusia miskin. Sekarang aku mau tanya sama kau. Berapa kau punya mata?" "Dua, Eyang." "Hidung?" "Satu Eyang." "Lobang hidung?" "Dua Eyang...." "Mulut?" "Satu...." "Bibir?" "Dua Eyang." "Kepala?" "Satu...." "Tangan?" "Dua...." "Kaki....?" "Juga dua Eyang...." "Kau punya biji kemaluan....?" "Dua Eyang," dan dalam hatinya Wiro memaki tapi geli. "Kau punya batang kemaluan?" "Satu Eyang...." Wiro geli lagi dan memaki lagi. "Nah.... itu semua membuktikan di dunia ini kehidupan manusia adalah tak ubahnya seperti bilangan dua dan satu, satu dan dua, dua satu dua dan seterusnya. Angka dua dan satu itu selalu ada melekat dalam diri manusia. Dan semuanya itu hanya diciptakan oleh Yang Maha Kuasa yakni Gusti Allah! Kehidupan dua dan satu ini, kehidupan dua satu dua ini, dan adanya dua satu dua ini tak bisa diingkari dan harus melekat dalam diri manusia! Manusia pasti akan merasakan senang susah, gembira sedih, kaya miskin, lapar kenyang, hidup mati, dan manusia juga musti percaya pada yang satu yakni Gusti Allah...." "Tapi manusia yang picak, Eyang, matanya cuma satu, manusia yang buntung kakinya sebelah, berarti cuma punya satu kaki. Jadi dia tidak memiliki angka dua yang sempurna dalam dirinya...." "Betul, meski begitu berarti dia cuma punya satu mata, punya satu kaki! Nah, bukankah ada juga melekat angka satu pada dirinya?! Aku sudah bilang sama kau bahwa dalam diri manusia musti ada angka dua dan satu itu! Apa kau masih kurang ngerti, goblok?!" Wiro diam, kata-kata gurunya itu memang betul. "Sekarang berdirilah kau!," perintah Eyang Sinto Gendeng. Wiro Saksana berdiri. Eyang Sinto Gendeng menyeringai dan tertawa cekikikan. Tiba-tiba dari balik pakaian hitamnya dikeluarkannya kembali kapak saktinya. Terkejut Wiro Saksana dan pemuda ini mundur beberapa langkah ke belakang. Sinto Gendeng menyeringai lagi, tertawa lagi hingga kedua matanya berair. SEMBILAN "Kenapa kau terkejut....?" tanya Eyang Sinto Gendeng. "Kau takut?!" "Eyang mau bikin cilaka murid lagi?!" tanya Wiro Saksana bersiap-siap. Dan nenek itu tertawa lagi melengking-lengking. Dia mundur sampai tujuh tombak ke belakang. "Pejamkan matamu, Wiro!" perintah Eyang Sinto Gendeng pula. "Tapi.... Eyang mau bikin apa?!" "Eeee.... kunyuk betul kau! Aku suruh pejamkan mata malah banyak tanya!! Pejamkan matamu!" Wiro memejamkan matanya dengan ragu-ragu. Karena itu kedua mata itu dipejamkannya tidak rapat betul. "Biar rapat!" hardik Sinto Gendeng. Dan Wiro terpaksa menutup matanya rapat-rapat. "Buka bajumu!" Wiro membuka bajunya dan meletakkannya di tanah. Kedua matanya tetap memejam. "Buka tangan kananmu, naikkan ke atas dan hadapkan telapaknya kepadaku!", perintah Sinto Gendeng lagi. Wiro mengikuti perintah itu. Eyang Sinto Gendeng memegang mata kapak dengan tangan kanannya erat-erat. Salah satu jarinya kemudian menempelkan disatu bagian rahasia pada gading dekat kepala kapak yang terbuat dari besi putih itu. "Apapun yang terjadi sekali-kali jangan buka kedua matamu dan sekali-kali jangan bergeser. Kecuali kalau kau mau mampus!" "Eyang...." "Diam! Gila betul!," bentak Sinto Gendeng. Wiro terpaksa membungkam. Perempuan tua itu menekan alat rahasia dekat kepala kapak. Maka dari mulut naganagaan di hulu kapak melesat dengan suara menderu tiga puluh enam batang jarum putih. Ketiga puluh enam jarum itu mendarat dan menancap di dada kanan Wiro Saksana. Jarum-jarum ini menancap dengan teratur membentuk susunan angka 212. Pemuda itu menjerit keras. Tubuhnya rebah ke tanah! Sekali lagi Sinto Gendeng menekan alat rahasia dekat kepala kapak. Kini dua puluh empat batang jarum hitam meluncur dan menancap di telapak tangan sebelah kanan Wiro Saksana! Pemuda ini menjerit lagi karena tancapan jarum yang 36 tadi telah membuat dia tak sadarkan diri! Sebelum Wiro Saksana siuman, Eyang Sinto Gendeng sudah mencabuti jarum-jarum putih di dada pemuda itu, juga jarum-jarum hitam di telapak tangan kanan Wiro. Dan ketika Wiro sadarkan diri maka dilihatnya di kulit dadanya terukir deretan angka-angka 212 berwarna hitam kebiruan. Angka-angka yang sama juga juga terdapat di telapak tangannya. Bedanya angka-angaka yang di telapak tangan ini agak kecil dan berwarna putih sehingga agak samar-samar kelihatannya. "Berdiri Wiro!" perintah sang guru. Wiro Saksana berdiri. Dia tak tahu apa sebenarnya yang telah dilakukan oleh gurunya. Yang dia tahu tadi ialah suara yang menderu-deru, lalu dia menjerit, lalu roboh dan.... tak ingat apa-apa lagi. "Kau telah lihat angka 212 pada kulit dada dan telapak tangan kananmu?" Wiro mengangguk. "Berarti dalam dirimu sudah kulekatkan unsur-unsur keduniaan dan unsur ingat Tuhan. Agar kau tidak lupa bahwa kau hidup di dunia adalah untuk menolong sesama manusia. Juga agar kau tidak lupa bahwa kau mempunyai Tuhan yang harus dituruti segala perintah dan dijauhkan segala laranganNya. Kau mengerti?" "Mengerti Eyang. Tapi... mengapa badanku kini tiga kali lebih enteng dari sebelumnya? Bahkan tenaga juga terasa bertambah hebat!" Eyang Sinto Gendeng tertawa mengikik. "Itu adalah berkat jarum kapak Naga Geni 212" kata Sinto Gendeng pula. Lalu nenek-nenek ini menerangkan apa yang telah dilakukannya terhadap muridnya. Wiro merasa mendapat anugerah ilmu tambahan segera berlutut dihadapan gurunya. "Tak usah pakai peradatan segala macam. Berdirilah! Masih banyak yang aku mau bicarakan sama kau," kata Sinto Gendeng pula. Wiro berdiri. Sinto Gendeng mengeluarkan kapak dan batu hitam kembali. Diulurkannya benda-benda itu. "Wiro.... kapak ini kuberi nama Kapak Naga Geni 212. Sepuluh tahun lamanya kubutuhkan waktu untuk membuatnya dan telah dua puluh tahun lebih senjata ini berada di tanganku. Rupanya kau ada jodoh dengan senjata ini. Terimalah...." Tertegun dan hampir tak percaya Wiro Saksana mendengar ucapan gurunya. Tak disangkanya bahwa dia bakal mendapat anugerah senjata yang sangat sakti itu. Dia terdiam mematung seketika. "Ayo Wiro! Kenapa kau jadi bimbang? Terimalah Kapak Naga Geni 212 ini untuk kau!" Wiro Saksana mengulurkan kedua tangannya. Ketika senjata sakti itu menyentuh tangannya mendadak sontak mengalirlah arus aneh yang dingin ke dalam tubuh Wiro. Dan disaat itu pula dirasakannya tubuhnya naik sampai dua tingkat, padahal dia merasa tingkat tenaga dalam yang sudah dimilikinya sebelumnya sudah mencapai tingkat yang paling sempurna! "Sisipkan di pinggangmu Wiro dan pakai kau punya baju kembali!" Wiro melakukan apa yang dikatakan Eyang Sinto Gendeng. Kapak dan batu yang ada angka 212-nya itu disisipkan ke pinggangnya. "Kapak Naga Geni 212 bukan senjata sembarangan, Wiro. Karenanya juga tak boleh kau pakai sembarangan. Pergunakanlah hanya pada saat-saat kau terdesak hebat atau dalam keadaan nyawamu terancam. Kau telah lihat juga macam kehebatan kapak itu tadi, tapi masih ada satu lagi kehebatannya yaitu bila kau tekan salah satu bagian di bawah mata kapak itu maka akan berhamburanlah jarum-jarum putih dari mulut naga-nagaan.... Untuk membuat angka 212 pada dada dan telapak tanganmu aku telah pergunakan jarum-jarum semacam itu tadi. Cuma jarum-jarum tadi telah kuisi dengan sejenis racun yang hebat sehingga tubuhmu akan kebal terhadap segala racun apapun juga! Tangan kananmu juga mempunyai racun yang tersembunyi, Wiro. Jangan sembarangan mempergunakannya karena bisa mematikan lawan!" Wiro Saksana hendak berlutut lagi, tapi segera dibentak oleh gurunya. "Terima kasih Eyang.... terima kasih," kata pemuda itu. Eyang Sinto Gendeng hanya keluarkan suara tertawa. Digaruk-garuknya kepalanya yang berambut jarang dan yang kini hanya ditancapi dua buah tusuk kundai. Kemudian mulailah dia untuk ketiga kalinya menyanyikan lagu tadi: Pitulas taun wus katilar.... Ketika Sinto Gendeng selesai menyanyikan lagu itu maka bertanyalah Wiro. "Eyang, apakah maksud Eyang dengan nyanyian itu....?" Sinto Gendeng tertawa. Aneh sekali tawanya kali ini. Dan parasnya kelihatan begitu sedih serta rawan. Kemudian ketika dia berkata, jelas suaranya itu bergetar tanda dia tak dapat menahan sesuatu yang menyesak di lubuk hatinya. "Aku sudah bilang bahwa hari ini adalah hari yang penghabisan kau berada di Gunung Gede ini bersamaku...." "Mengapa demikian, Eyang....?" Wiro garuk-garuk kepalanya. "Karena segala ilmuku telah kupasrahkan kepadamu. Karena hari inilah saatnya bagimu untuk turun gunung, memasuki alam dunia luar, membawa garis-garis kehidupanmu sendiri yang telah ditentukan Gusti Allah...." Sinto Gendeng diam seketika. Kemudian diteruskannya, "Sebelum kau meninggalkan puncak Gunung Gede ini ada satu tugas yang musti kau lakukan...." "Tugas apakah itu, Eyang?" tanya Wiro Saksana. Lagi-lagi digaruknya kepalanya yang berambut gondrong itu. "Dengar baik-baik Wiro.... Lebih dari empat puluh tahun yang silam aku telah mengambil seorang murid bernama Suranyali. Waktu itu dia baru saja berumur dua tahun. Dari umur dua tahun itulah aku mulai mendidiknya pelbagai ilmu dasar silat dan kesaktian. Tapi kemudian aku ketahui bahwa aku telah ketelanjuran mengambil itu manusia menjadi muridku. Suranyali kulepas turun gunung, kubekali pelbagai nasihat tapi dasar Suranyali bukan manusia baik-baik, begitu turun gunung segala ilmu yang kuberikan padanya dipakainya untuk perbuatan jahat, maksiat. Dia membuat keonaran dimana-mana! Menjadi kepala perampok! Tukang peras bahkan menculik perempuan-perempuan cantik dan merusak kehormatannya! Menurutku kini umurnya sudah hampir setengah abad, sudah dekat ke liang kubur! Tapi ini sama sekali tidak memberikan keinsyafan pada dirinya. Kejahatannya akhir-akhir ini semakin menjadi-jadi, sudah lewat dari takaran! Kini dia tengah menyusun rencana busuk terhadap Pajajaran. Pajajaran hendak dibikinnya banjir darah! Karena itu kau harus lekas-lekas dapat mencari itu manusia laknat dan perintahkan kepadanya untuk datang ke sini menghadapku guna mempertanggungjawabkan segala apa yang telah dibuatnya selama malang melintang di dunia sana! Dan perlu kau ketahui, Suranyali kini telah memakai nama baru yakni Mahesa Birawa!" Wiro Saksana merasa betapa sedihnya akan berpisah dengan gurunya yang selama 17 tahun telah mendidiknya itu. Tapi mengingat perpisahan itu adalah demi untuk menjalankan tugas dari sang guru, terhibur juga sedikit hatinya. Dan berkatalah pemuda itu: "Tugas Eyang akan aku laksanakan. Cuma bagaimana jika itu manusia Mahesa Birawa tidak mau mematuhi perintah untuk datang ke sini....?" "Jawabnya hanya satu Wiro. Pateni manusia itu! Bunuh manusia durhaka itu!" Wiro Saksana terdiam. Dalam diamnya ini dia berpikir-pikir sampai dimanakah ketinggian ilmu Suranyali atau Mahesa Birawa itu? Sanggupkah dia menghadapi manusia yang sesungguhnya adalah kakak seperguruannya sendiri?! "Aku tahu apa yang kau pikirkan Wiro," kata Eyang Sinto Gendeng pula tiba-tiba. Ini mengejutkan Wiro Saksana. "Suranyali memang sakti bahkan kudengar dia telah berguru pula pada seorang sakti di Gunung Lawu! Tapi kau tak usah takut! Kau memiliki kapak Naga Geni 212. Dan kau berada dalam kebenaran pula! Sesungguhnya kau punya hak untuk membunuh itu manusia, Wiro. Pertama karena tugas yang aku pikulkan dibatok kepalamu! Kedua karena Suranyali atau Mahesa Birawa itulah yang telah membunuh kau punya ibu-bapak!" Mendadak sontak bergetarlah sekujur tubuh Wiro Saksana. Parasnya berubah kelam membesi! Sejak kecil, sejak diam di puncak Gunung Gede itu belum pernah dia mengetahui apa yang dinamakan kebencian dan dendam kesumat! Tapi saat itu dadanya serasa mau pecah oleh kobaran kebencian dan amarah serta dendam yang tiada terkirakan! "Bapakmu bernama Ranaweleng! Dibunuh oleh Suranyali. Ibumu dilarikannya. Sesudah itu bunuh diri sesudah dirusak kehormatannya. Kau sendiri hampir menemui ajal dimakan api sewaktu rumah bapakmu dibakar oleh Suranyali dan anak buahnya. Kebetulan sekali aku lewat disitu...." Wiro menjatuhkan diri di hadapan gurunya. "Terima kasih Eyang.... kalau Eyang tidak ada...." "Berdiri!" bentak Sinto Gendeng. Perempuan aneh itu memang paling tidak suka dilututi seperti itu. "Bukan aku yang menolong kau, tapi Gusti Allah!" katanya. "Ayo berdiri!" Wiro berdiri kembali. Dan Sinto Gendeng menuturkan peristiwa tujuh belas tahun yang lalu sejelas-jelasnya. Kini maklumlah Wiro apa arti kata-kata dalam nyanyian gurunya tadi. Dikuatkan hatinya untuk mengendalikan perasaannya yang campur aduk. Dikuatkannya dirinya untuk membendung air mata yang hendak tumpah dari kelompok matanya! "Eyang....," desis Wiro Saksana, "Sewaktu Eyang turun ke kampung Jatiwalu itu, mengapa Eyang tidak langsung turun tangan....?" Sinto Gendeng tertawa rawan. "Semustinya.... semustinya memang aku harus turun tangan saat itu. Tapi ketika kutahu bahwa Ranaweleng u bapakmu u mempunyai seorang orok maka aku mempunyai pikiran lain! Kalau kupelihara anak itu dan kudidik ilmu silat seta kesaktian maka jika sudah besar dia lebih mempunyai hak dariku untuk menamatkan riwayat Suranyali alias Mahesa Birawa. Kalau tidak percuma saja aku ajarkan kepadamu bahwa kehidupan di dunia ini tersimpul dalam tiga barisan angka 212. Bukankah setiap budi ada balas? Setiap kejahatan ada pembalasannya? Tuhan telah menolongmu, berarti itu angka 1. Suranyali membunuh orang tuamu berarti itu angka2, Wiro! Jangan sekali-kali kau lupakan!" "Menurut Eyang, apakah manusia keparat itu masih ada di kampung Jatiwalu bersama anak-anak buahnya....?" "Tak dapat kupastikan, Wiro. Itu tugasmu untuk menyelidik. Yang aku tahu ialah bahwa manusia itu hendak membuat Pajajran banjir darah. Karenanya, seret dia ke sini sebelum hal itu terjadi. Dan kalau dia tidak mau, pateni saja!!" (pateni=bunuh). Sunyi selang beberapa lamanya. Kedua orang itu tenggelam dalam alam pikiran masing-masing. "Kau akan segera berangkat, Wiro?" Pemuda itu tak segera menjawab. Kemudian dia mengangguk perlahan. "Ucapanku yang terakhir Wiro, mulai saat kau turun gunung ini, pakailah nama WIRO SABLENG. Itu lebih baik bagi kau. Gurunya GENDENG, muridnya SABLENG." Dan habis berkata demikian si nenek tua ini tertawa mengikik lama dan panjang. Namun tertawa itu hanyalah untuk menyembunyikan hati yang rawan, sedih itu untuk membendung air mata yang hendak tumpah keluar! "Eyang.... kapan kita bisa bertemu lagi?" tanya Wiro. Sang guru hentikan tertawanya. "Selama langit masih biru, selama hutan masih hijau, selama air sungai masih mengalir ke laut, kita pasti bertemu lagi Wiro Sableng....!" Kedai nasi itu cukup besar. Tapi saat itu pengunjungnya cuma beberapa orang. Wiro Sableng meneguk air liurnya. Dia tak punya banyak uang tapi perutnya perih dan lapar, tenggorokannya kering dahaga. Akhirnya dia masuk juga ke dalam kedai itu. Wiro duduk di satu sudut. Kursi-kursi dan meja lengket oleh debu. Tapi pemuda rambut gondrong ini terus saja duduk seenaknya tanpa mengacuhkan debu itu. Seorang laki-laki tua ubanan datang mendekatinya. Dia adalah pemilik kedai. "Makan nak....?" tegurnya. Wiro mengangguk. "Tapi jangan mahal-mahal, aku tak punya banyak uang!" kata Wiro Sableng terus terang. Pemilik warung itu kerutkan kening. Selama dia membuka kedai di Jatiwalu itu baru hari ini ada seorang tamu yang datang di kedainya dan berkata seperti itu. Matanya meneliti Wiro Sableng dari rambutnya yang gondrong sampai ke kakinya yang berdebu. "Kau tentu seorang pendatang....", katanya. "Betul," Wiro menggaruk-garuk rambutnya. "Tolong lekas nasinya, pak, perutku sudah lapar betul....!" Orang kedai itu segera mengambilkan sepiring nasi dan segelas air lalu diletakkannya di atas meja di hadapan Wiro. Titik air liur pemuda ini. Selama tujuh belas tahun di puncak Gunung Gede dia hanya kenal nasi merah dan sayur. Kini menghadapi nasi putih dan ikan serta gulai yang lezat maka lahaplah makan Wiro. Keringat memercik di kulit mukanya. Kemudian diteguknya air. Pada saat dia mengusapi perutnya yang buncit keras itu maka masuklah empat orang laki-laki. Semuanya berpakaian serba hitam, memakai golok di pinggang. Tampang-tampang mereka sungguh tak sedap dipandang. Mereka masuk dan duduk dengan seenaknya. Keempatnya memelihara berewok. Pemilik kedai melihat kehadiran keempat orang ini dengan cepat datang melayani. Agaknya keempat manusia ini pastilah orang-orang penting juga. Tak lama kemudian maka dihidangkanlah makanan yang lezat-lezat di atas meja. Tuak murni pun diletakkan dalam sebuah bumbung bambu berikut empat buah gelas yang juga dari bambu. Keempat orang itu makan dengan angkat kaki. Suara celepak-celapak mulut mereka terdengar sampai ke tempat Wiro Sableng duduk. Tapi tentu saja pemuda ini tak mau ambil peduli. Meski mereka menyiplak sampai sekeras geledek pun dia tak akan ambil pusing! Wiro Sableng melambaikan tangan memanggil pemilik kedai. "Berapa aku musti bayar?" tanya Wiro. Orang kedai itu menyebutkan jumlah uang yang musti dibayar Wiro. "Waduh... mahal sekali!" keluh Wiro. "Tadi aku sudah bilang jangan mahal-mahal..." "Itu juga sudah sangat murah, Nak," kata orang kedai. Wiro Sableng garuk-garuk kepalanya. "Habis uangku buat bayar makanan itu." Dikeluarkannya uangnya dan diberikannya pada orang di kedai. Pada saat itu pula terdengar gelak tawa keempat orang yang duduk di meja seberang sana. Salah seorang dari mereka, yang berbadan gemuk pendek dan berkepala botak berkata, "Kalau tidak gablek uang, jangan masuk kedai, Bung!" Yang seorang lagi menyambungi, "Dari pada takut-takut keluar uang, sebaiknya cari saja makanan di tong sampah!" Keempat orang itu tertawa gelak-gelak. Wiro memandang kepada mereka. Diejek demikian rupa pemuda ini tenang-tenang saja malahan sunggingkan senyum dan garuk-garuk kepala. Laki-laki yang berkumis panjang menjulai ke bawah bertanya, "Kau mau uang buat beli makanan?" "Mau saja kalau diberi," jawab Wiro sejujurnya. Digaruknya lagi kepalanya. "Merangkaklah dihadapanku, menyalak tiga kali dan tuanmu ini pasti akan kasih uang kepadamu" Atap kedai itu seperti mau runtuh oleh suara tertawa keempat orang itu. Wiro memandang berkeliling. Ketika dilihatnya beberapa sisir pisang ambon yang berjejer digantung di atas meja tempat meletakkan ikan dan gulai maka tertawalah pemuda itu. Mula-mula perlahan tapi makin lama makin keras dan dia melangkah mendekati deretan pisang itu. Dikeluarkannya sisa seluruh uangnya yang masih ada yang tak seberapa tapi cukup untuk membeli sesisir pisang. "Aku beli pisangmu, pak," kata Wiro. Diturunkannya sesisir sambil melangkah ke pintu dipotesnya sekaligus empat buah pisang. Dia melangkah juga ke pintu sementara di belakangnya masih terdengar suara gelak tawa keempat orang tadi. Tiba-tiba hampir tak kelihatan saking cepatnya, dan tanpa berpaling sama sekali Wiro Sableng gerakkan tangan kanannya. Empat buah pisang meluncur lewat bahunya. Di belakangnya suara tertawa keempat orang tadi mendadak sontak berhenti, berganti dengan suara-suara tercekik! Keempat buah pisang itu telah jeblos ke dalam mulut empat manusia berpakaian hitam-hitam itu. Jangankan untuk tertawa, bernafaspun mereka sudah megap-megap! Dan diluar sana Wiro Sableng sambil senyum-senyum melangkah terus sepanjang jalan. Dipotesnya sebuah pisang dan mulai memakannya. Dia melangkah terus dan acuh tak acuh ketika beberapa saat kemudian didengarnya derap kaki empat orang dalam kedai tadi mengejarnya. "Bikin mampus saja sama kawan-kawan!" teriak salah seorang pengejar. "Berani kurang ajar sama kita orang! Cincang sampai lumat!," kata yang berbadan paling tinggi. Wiro Sableng terus juga melangkah enak-enak. Cuma sekali-kali tangan kanannya dilambaikannya ke belakang untuk melemparkan kulit-kulit pisang yang dimakannya. Namun lambaian tangan itu bukan lambaian tangan biasa yang hanya sekedar melemparkan kulit pisang belaka! Dari tangan kanan pemuda itu membadai angin dahsyat laksana tembok baja yang membendung lari keempat orang pengejar itu! Betapapun mereka mempercepat lari mereka namun tetap saja mereka tak sanggup mengejar Wiro Sableng padahal kelihatannya pemuda itu hanya tinggal sepejangkauan tangan lagi! Keempat orang itu berteriak-teriak, memaki dan menggeram, menggapai-gapaikan tangan ke muka karena merasa hampir-hampir dapat menagkap punggung baju Wiro Sableng! Namun gerakan-gerakan mereka itu tak ubahnya seperti empat ekor monyet yang menjadi gila mencak-mencak kian kemari! Dan orang yang dikejar terus juga berjalan ongkang-ongkang bahkan sambil makan pisang ambon! Mengapa sampai terjadi hal yang demikian, lain tidak karena Wiro Sableng telah mengeluarkan ilmu kesaktiannya yang bernama: dinding angin berhembus tindih menindih! "Gila betul!" teriak laki-laki tinggi jangkung yang lari paling depan. Namanya Bergola Wungu. Dialah yang menjadi pemimpin dari tiga orang lainnya dan dialah yang memiliki ilmu paling tinggi! Dengan sangat geram, sambil lari dicabutnya sebilah belati dari pinggangnya dan dilemparkannya ke arah punggung Wiro Sableng. Tapi anehnya pisau itu melesat kembali, berbalik menyerang Bergola Wungu! Kalau saja dia tidak cepat-cepat buang diri ke samping pastilah lehernya akan dimakan ujung pisau! Akhirnya dengan keluarkan keringat dingin, Bergola Wungu dan anak-anak buahnya hentikan pengejaran. Baru hari ini Bergola Wungu serta anak-anak buahnya menghadapi kejadian seperti itu. Kejadian yang mendekam hati tapi juga aneh tak bisa mereka mengerti. Sebagai pemimpin dari tiga orang itu, sebagai orang yang paling tinggi ilmu silat dan kesaktiannya sudah barang tentu Bergola Wungu malunya bukan main! Untuk mencuci mukanya dia berkata menggerendeng: "Kalau bangsat itu bukannya manusia siluman pastilah dia iblis bermuka manusia!" SEBELAS Siapakah keempat manusia berpakaian serba hitam dan sama-sama memelihara berewok itu? Mereka menamakan diri Empat Berewok dari Goa Sanggreng dengan Bergola Wungu sebagai pimpinannya. Mereka tak lain adalah komplotan rampok yang malang melintang sepanjang sungai Cimandilu yang terkenal keganasannya di daerah sekitar situ. Dulunya, Bergola Wungu adalah turunan orang baik-baik yang ayahnya mati ditangan Kalingundil, kepala rampok yang malang melintang dan bersarang di kampung Jatiwalu. Sesudah ayahnya dibunuh, keluarganya ditumpas sedang keganasan Kalingundil dan tiga orang anak buahnya semakin menjadi-jadi melanda Jatiwalu maka Bergola Wungu yang saat itu berumur dua puluh enam tahun meninggalkan kampung kelahirannya dengan satu tekat yaitu mencari guru silat yang dapat mengajarkan ilmu dan kesaktian kepadanya. Dia berhasil menemukan seorang guru dan kemudiannya berhasil pula mendapat tiga orang anak buah, maka malang melintanglah Bergola Wungu di sepanjang sungai Cimandilu, menjadi kepala perampok yang ditakuti. Dan ketika dirasakannya saat untuk melakukan pembalasan sudah tiba maka bersama ketiga orang anak buahnya berangkatlah dia menuju Jatiwalu. Tapi sewaktu sampai di Jatiwalu, Kalingundil dan anak-anak buahnya tak ada di sana, pergi keluar kampung dan tak satu orangpun yang tahu. Rumahnya kosong dan sepi. Bergola Wungu memutuskan untuk menunggu sampai musuh besarnya itu kembali. Dan sampai hari itu Kalingundil masih juga belum muncul. Mereka duduk di dalam kedai di tempat semula. Untuk berapa lamanya tak satupun yang bisa bicara. Bergola Wungu teguk tuaknya sampai habis. "Kurasa manusia itu mungkin salah seorang anak buah Kalingundila.", kata Ketut Ireng, laki-laki yang duduk di hadapan Bergola Wungu. Bergola Wungu letakkan gelas bambunya ke meja. Dia berpikir, kalau yang tadi itu benar-benar anak buah Kalingundil, pastilah maksudnya untuk menuntut balas akan menemui kegagalan. Kalau anak buah Kalingundil sudah demikian hebatnya, apalagi Kalingundil sendiri! Memang waktu lima belas tahun belakangan ini adalah waktu yang cukup lama untuk menambah ilmu kesaktian. Tapi bila kehebatan anak buah Kalingundil seperti kenyataan tadi, ini adalah tiada diduga Bergola Wungu sama sekali! "Tidak mungkina.," desis Bergola Wungu. "Tak mungkin manusia tadi adalah anak buah Kalingundil! Lagi kita belum yakin betul apa dia benar-benar manusia! Dan aku ingat bahwa Kalingundil cuma punya tiga orang kaki tangan! Aku kenal tampang-tampang mereka semua!" "Tapi bukan mustahil selama belasan tahun ini jumlah anak buahnya bertambah," menyela laki-laki yang bernama Seta Inging. "Aku tetap tidak mau percayaa.!", kata Bergola Wungu. Dilambaikannya tangannya pada pemilik kedai. "Sini!", bentaknya. Orang tua pemilik kedai datang dengan ketakutan dan terbungkuk-bungkuk. "Berapa orang anak buah Kalingundil semuanya?" "Cuma tiga, Den. Cuma tigaa." "Masih yang dulu-dulu jugaa.?" Orang tua itu mengangguk. "Dan tak satu manusiapun disini yang tahu kemana mereka pergi?!" "Tidak satupun, Dena." "Selain mereka berempat, siapa lagi yang diam di rumah besar itua.?" "Tidak ada, Dena." "Dulu kudengar dia punya binia." "Sudah meninggal, Dena." "Juga seorang anak perempuana. Apa juga sudah meninggal?!" "Tidak." "Kalau begitu dimana perempuan itu sekarang?" "Bapak tidak tahu, Dena." "Dusta!" "Sungguh tidak tahu, Dena." "Bakar saja kedai ini!", ancam Ketut Ireng. Dan orang tua itupun berlutut minta dikasihani. "Jangan dena. sungguh bapak tidak tahu. Jangan dibakar kedai ini dena. Kasihani bapaka. Tapi mungkin dia ikut bersama Kalingundil. Mungkin jugaa. Mungkin juga menginap di tempat bibinyaa." "Dimana tempat bibinya?" "Tidak tahu, Dena." "Tidak tahu melulu!", bentak Bergola Wungu. "Kalian manusia-manusia yang sudah diinjak-injak kemanusiaannya oleh Kalingundil, yang diperas dan dipreteli harta kekayaannya, yang dibunuh dan disiksa, masih saja melindungi manusia-manusia keparat itu!" "Kami semua benci dan mendendam terhadap Kalingundil serta anak buahnya, Den. Tapi kami ini rakyat lemah. Tak ada daya untuk melawan..........." "Kalian bukan lemah tapi bodoh dan pengecut!" bentak Ketut Ireng. Lalu sambungnya, "jika beberapa hari dimuka ini kami masih belum juga menemui Kalingundil dan cecunguk-cecunguknya itu, akan kubakar rumahnya, juga seluruh kampung inia.!" "Oh jangan, Dena. Jangan, Den. Sekurang-kurangnya Raden musti ingat bahwa kampung ini dulunya adalah kampung raden jugaa." "Dulu!" kata Bergola Wungu, "tapi sesudah bapakku dibunuh dan keluargaku ditumpas, kampung ini bukan kampungku lagi! Orang-orang di kampung ini berdiam diri, tak ambil perduli ketika ibuku dirusak kehormatannya, ketika saudara-saudaraku ditebas lehernya! Patutkah kuakui ini sebagai kampungku? Persetan sama kampung keparat ini!" Bergola Wungu membantingkan gelas bambunya ke meja. Papan meja pecah, gelas bambu mental terbelah dua! "Mereka bukannya takut, den, bukan tak mau menolong, tapi tak punya daya. Kalingundil dan anak buahnya berilmu tinggia." "Diam!", bentak Bergola Wungu. Orang tua pemilik kedai itu diam membungkam. Ketut Ireng ambil bagian kini, "Kau tahu siapa itu manusia rambut gondrong yang tadi makan di sini?!" "Tidak tahu, Den. Sungguh tidak tahu......." "Sudah pergi sana!" bentak Bergola Wungu. Orang tua itu berlalu dengan cepat. Tak lama kemudian Bergola Wungu dan ketiga anak buahnya meninggalkan kedai tanpa membayar satu peser tengikpun atas apa yang telah mereka makan dan mereka minum! DUABELAS Dia masih juga mencabuti rerumputan yang bertumbuhan di makam itu. Dia sama sekali tak mengacuhkan derap kaki kuda yang menggeru di belakangnya karena menyangka bahwa itu adalah kuda-kuda yang biasa lalu lalang di tempat tersebut. Tapi tangannya yang halus itu berhenti mencabuti rerumputan ketika di belakangnya terdengar suara tertawa seseorang. "Haa. haa. inikah manusia yang menjadi anak tunggal keparat Kalingundil?!" Gadis enam belas tahun yang berlutut di muka makam itu putar kepala. Empat orang penunggang kuda dilihatnya berjejer di belakangnya. Penunggang kuda yang paling depanlah yang tadi tertawa dan buka suara. Tubuhnya jangkung, berewoknya lebih lebat dari berewok tiga manusia lainnya, tampangnyapun lebih angker. "Hea. hea. cantik juga parasnya huh?!", kata laki-laki ini yang tak lain dari Bergola Wungu adanya. "Tapi sayang, kepalanya musti kita pisahkan dari badannya. Bukankah demikian, Bergola Wungu?!" "Betul, tapi tak perlu cepat-cepat. Agaknya dia bisa memuaskan seleraku dan kalian semua!" Keempat orang itu tertawa bekakakan. "Kunyuk-kunyuk hitam berewok! Kalian siapa?!", bentak gadis berbaju biru. Dengan enteng dia berdiri. Tangan kanan memegang hulu pedang yang tersisip di pinggang. "Eh, galak juga betina ini!", kata Ketut Ireng. "Tapi kalau kau mau kenal kami, aku tak keberatan untuk memperkenalkan diri. Namaku Ketut Irenga. Ini Bergola Wungu. Yang ini, yang gemuk pendek Seta Inging dan ini yang matanya jereng Pitala Kuning. Nah... nah... sekarang kau tak keberatan kasih tahu namamua.?" Keempat orang itu tertawa lagi. "Manusia edan! Berlalulah dari hadapanku! Kecuali kalau mau rasa tebasan pedangku!" "Ah, besar mulutnya sama saja sama bapaknya!", kata Bergola Wungu sambil usap-usap berewoknya. "Ketahuilah kami datang untuk mengirim bapakmu ke liang kubur. Itupun kalau ada liang kubur yang masih mau menerimanya!" "Mulutmu terlalu besar monyet berewok!", hardik gadis itu. "Aku mau lihat apakah juga cukup besar untuk menerima ujung pedangku ini?!" Diiringi dengan pekik yang membising maka berkiblatlah sebatang pedang ke arah kepala Bergola Wungu! Kejut keempat orang itu, terutama Bergola Wungu sendiri tidak terkirakan. Kalau tidak cepat dia buang diri dari punggung kuda pastilah kepalanya akan terbelah dua. Tapi selagi tubuhnya melayang di udara, maka saat itu pula pedang di tangan si gadis sekali lagi membabat sebat. Bergola Wungu membentak keras dan jungkir balik ke samping kiri. Pedang si gadis yang seharusnya membabat kutung pinggangnya kini menemui sasarannya di leher kuda tunggangan Bergola Wungu. Kuda itu meringkik dahsyat sebelum meregang nyawa. Menggelepar-gelepar dengan leher hampir putus. Kuda-kuda yang lainnya latah meringkik dan menjadi binal melihat muncratan darah. Untung saja tiga penunggangnya sudah melompat lebih dahulu. Kalau tidak pastilah mereka akan dilempar mental! Tiga ekor kuda itu seperti gila kemudian lari menghambur menerjangi batu-batu nisan pekuburan! "Iblis betina!", kertak Bergola Wungu. "Meski kau punya tampang cantik dan tubuh mulus, apa kau sangka aku ragu-ragu untuk menebas kau punya batang leher?!" "Jangan jual bacot kunyuk berewok! Lihat pedang!" pedang di tangan si gadis itu berkelebat lagi lebih cepat dan sebat. "Sreet!" Bergola Wungu cabut golok panjangnya. Dana. "Trang!" Dua senjata beradu keras di udara memercikkan bunga api yang menyilaukan mata. Tangan Bergola Wungu tergetar kesemutan sedang si gadis baju biru terpental beberapa langkah ke belakang. Pedang di tangannya hampir saja terlepas! Meski tahu kalau tenaga dalam dan ilmu silat manusia berewok itu lebih tinggi dari padanya, namun gadis yang keras hati ini tidak menjadi kecut. Dengan lengkingan dahsyat yang keluar dari tenggorokannya maka berubahlah tubuhnya menjadi bayang-bayang. Sinar pedang menggebubu membungkus tubuh Bergola Wungu! Tapi Bergola Wungu bukan manusia hijau dalam dunia persilatan. Bukan anak kemarin. Percuma dia malang melintang belasan tahun menjadi pemimpin dari Empat Berewok dari Goa Sanggreng. Sekali dia enjot kedua kaki maka tubuhnyapun lenyap dari pemandangan. "Breet.... breet.... breet.... breet....!!!" Gadis baju biru terpekik dan keluar dari kalangan pertempuran. Mukanya merah gelap ketika menyadari bagaimana ujung golok Bergola Wungu telah membuat lebih dari sepuluh robekan pada pakaiannya sehingga gadis itu kini hampir berada dalam keadaan setengah telanjang! "Manusia binatang!" rutuk gadis baju biru. "Hari ini aku mengadu nyawa terhadapmu!" Dengan segala kekalapan dia menyerbu ke muka. Pedangnya menderu laksana topan. Bergola Wungu berkelit ke samping. Pedang si gadis hantam batu nisan sehingga terkutung dua! Dia kembali membabat ke arah pinggang. Tapi pada saat itu lengan kiri Bergola Wungu telah menghantam pergelangan tangan kanannya, membuat pedangnya terlepas dan mental jauh. "Ha.... ha.... hari ini tamatlah riwayatmu sebagai anak Kalingundil!" Golok panjang di tangan Bergola Wungu kembali mebabat kian kemari. Kembali terdengar suara: breet.... breet.... breet....! Dan kini celana biru si gadis yang menjadi sasaran ujung golok. Dalam waktu setengah jurus saja boleh dikatakan gadis itu sudah hampir telanjang. Pakaiannya yang robek-robek besar tiada sanggup menutupi keputihan buah dada, perut, punggung serta pahanya! Dengan andalkan kecepatan gerak bahkan dengan gulingkan diri di tanah anak perempuan Kalingundil ini berusaha untuk selamatkan diri. Namun ujung golok Bergola Wungu benar-benar telah mengurungnya dari pelbagai jurusan. Tak mungkin baginya untuk lari, tak mungkin baginya untuk selamatkan nyawa! "Sreeta.!" Ujung rambut gadis itu terbabat putus. "Sreeta.!" Tali celana biru si gadis terkutung putus sehingga celana itu jatuh dari pinggangnya dan auratnya benar-benar tiada tertutup kini! "Bedebah! Bunuh saja aku! Bunuh!" teriak gadis itu. Bergola Wungu tertawa mengakak. "Bunuh soal mudah!", katanya sambil tekankan ujung golok ke tenggorokan gadis itu. "tapi apa kau tahu bahwa dulu sebelum membunuh ibuku, kau punya bapak lebih dulu memperkosanya?! Haa. haa. Hukum karma kini berlaku! Hukum karma!" Tiba-tiba dengan kecepatan yang luar biasa si gadis sorongkan batang lehernya ke muka. Tapi gerakan Bergola Wungu lebih cepat lagi. Ujung golok digesernya ke samping. Begitu si gadis terdorong ke muka maka tangan kirinya dengan sigap menyambar rambut si gadis. Gadis yang hampir tak berdaya itu masih berusaha menendangkan kakinya ke muka. Serangan yang tak berarti itu tidak mengenai sasarannya. Bergola Wungu melemparkan gadis itu ke tanah kemudian menyergapnya dengan ganas. Keduanya bergulung-gulung. Yang satu berusaha untuk mempertahankan kehormatannya, yang satu sengaja untuk menghancurkan kehormatan itu! "Kawan-kawan!", teriak Bergola Wungu. "Jangan diam saja! Gadis ini adalah bagian kita semua! Ayo tunggu apa lagi?!" Serentak dengan itu tiga orang anak buah Bergola Wungu segera menyerbu pula. Seorang gadis, empat laki-laki bergulung-gulung di tanah pekuburan! Menjerit, berteriak, menendang dan menerjang. Seakan-akan mereka semua sudah sinting kemasukan setan-setan kuburan! TIGABELAS Pembalasan dendam kesumat memang dahsyat. Apalagi kini disertai dengan dorongan nafsu hewan yang meluap-luap. Keadaan Nilamsuri benar-benar sudah kepepet. Tenaganya sudah hampir habis. Empat pasang tangan manusia menggerayang di seluruh tubuh yang tertelentang di atas sebuah makam tua. "Haa.ha...ha! Tulang belulang kau punya ibu akan menyaksikan pelaksanaan hokum karma ini!" kata Bergola Wungu. Nilamsuri hantamkan lututnya ke perut laki-laki itu ketika Bergola Wungu hendak mendatanginya dari atas. Tapi hantaman lutut yang tiada bertenaga sama sekali itu tiada terasa oleh manusia berewok itu! "Keparat! Bunuh saja aku! Bunuh!", teriak Nilamsuri. "Kehormatanmu dulu, baru nyawamu!." Bergola Wungu mengekeh. Disaksikan oleh tiga anak buahnya yang juga menggerayangi tubuh gadis enam belas tahun itu, Bergola Wungu mulai melaksanakan niat terkutuknya. Runtuhlah harapan Nilamsuri untuk bisa selamatkan diri. Air mata meleleh di pipinya. Namun nasib Nilamsuri tidak seburuk yang dibayangkannya saat itu. Satu bayangan putih berkelebat dari sebelah timur pekuburan yang tanahnya agak membukit. Dan tahu-tahu keempat orang yang mengerumuni Nilamsuri menjadi kaku tegang laksana patung batu! Nilamsuri yang hanya merasakan sambaran angin serta gerayangan-gerayangan tangan pada tubuhnya berhenti dengan mendadak, membuka kedua matanya yang berkaca-kaca itu. Terkejut sekali dan hampir tak percaya dia melihat bagaimana keempat manusia berewok itu masih berjongkok di sekelilingnya tapi mata mereka semua melotot dan tubuh mereka tegang kaku! Gadis ini bangkit dengan cepat. Apakah yang telah terjadi dengan keempat manusia itu? Dia ingat pada desiran angin tadi. Mungkin ada manusia yang telah menolongnya? Manusia yang mempunyai kesaktian luar biasa? Diperhatikannya keempat laki-laki itu. Ternyata mereka tertotok urat besar di pangkal leher masing-masing. Atau mungkin keempatnya telah dicekik oleh setan kuburan?! Peristiwa yang sangat aneh itu membuat Nilamsuri lupa akan keadaan dirinya sendiri saat itu. Dia memandang berkeliling. Matanya membentur segulung benda putih yang tergeletak di atas batu nisan sebuah kuburan. Benda ini adalah sehelai baju dan celana putih. Dan memandang pakaian itu sekaligus mengingatkan Nilamsuri pada keadaan dirinya. Tanpa perduli lagi siapa pemilik pakaian itu, tanpa ambil pusing lagi bagaimana pakaian itu bisa berada di atas kuburan tersebut si gadis langsung saja melompat, menyambar pakaian itu dan lari ke balik serumpun semak-semak. Dikenakannya pakaian itu cepat-cepat. Meski agak kebesaran sedikit, tapi pakaian itu memberi banyak pertolongan bagi Nilamsuri dan si gadis merasa sangat bersyukur. Dia keluar dari balik semak-semak itu. Dan ketika terpandang olehnya keempat manusia yang masih berjongkok kaku di seberang sana maka meluaplah amarahnya. Mendidih darahnya. Disambarnya pedangnya yang tergeletak di tanah. Sinar pedang berkiblat sekaligus menyambar ke arah kepala Bergola Wungu dan anak-anak buahnya. "Tring!" Sebutir kerikil sebesar ujung jari telunjuk membentur pertengahan pedang yang hendak merenggut nyawa keempat manusia berewok itu. Dan benturan batu kerikil ini membuat pedang di tangan Nilamsuri terdorong setengah tombak ke atas, lewat satu jengkal di atas kepala Bergola Wungu dan tiga orang lainnya itu! Terkejut anak gadis Kalingundil ini bukan kepalang. Serentak dengan itu dia membentak dan memandang berkeliling. "Manusia atau setan yang jadi biang kerok jangan sembunyi! Unjukkan diri!" Tak ada yang menyahut. Tapi rerumpunan semak belukar di dekat pohon kamboja kelihatan bergerak. Dan Nilamsuri hantamkan pukulan tangan kosong ke arah semak belukar itu. Semak belukar tercabut dari akarnya dan berhamburan jauh, tapi tak ada siapapun kelihatan di belakang sana. Dengan gemas Nilamsuri balikkan tubuh. Pedangnya kembali membabat ke arah empat kepala manusia di hadapannya. Namun sekali lagi sebutir kerikil membentur senjata itu! "Kurang ajar betul!", maki Nilamsuri. "Jika berani cari urusan, berani unjukkan diri!!" Terdengar suara tawa bergelak. Suara tertawa itu datangnya dari balik pohon-pohon bambu di tepi pekuburan. Untuk kedua kalinya Nilamsuri lepaskan pukulan tangan kosong. Angin deras melanda pohon-pohon bambu. Batang-batang bambu pecah, yang tercerabut dari akarnya segera tumbang sedang daun-daunnya luruh ke tanah. Tapi seperti tadi kali ini juga tidak kelihatan seorang manusia pun dibalik pohon-pohon bambu itu! Gemas Nilamsuri bukan main. Terdengar lagi suara tertawa bergelak. Kali ini diiringi dengan ucapan, "Hanya manusia pengecut yang membunuh musuh dalam keadaan tak berdaya!" Nilamsuri memandang ke atas pohon kamboja merah. Detik itu juga sesosok tubuh kelihatan lenyap berkelebat ke utara laksana gaib! Nilamsuri kertakkan rahang. Tanpa menunggu lebih lama gadis ini hentakkan kedua kaki dan segera mengejar ke jurusan utara! Sampai beberapa ratus tombak jauhnya ke utara Nilamsuri masih juga belum berhasil mengejar orang tadi. Jangankan mengejar, melihat bayangannyapun tidak bahkan jejak kakinya sama sekali tidak kelihatan di tanah. Gadis itu menghentikan pengejarannya di tepi sebuah lembah. Di samping rasa geram hatinya juga heran dan bertanya-tanya. Siapakah manusia itu tadi dan kemanakah lenyapnya? Apakah manusia itu yang telah menolongnya dari perbuatan terkutuk Bergola Wungu dan kawan-kawannya? Sekiranya betul mengapa lantas kemudiannya orang itu menghalangi ketika dia hendak menebas batang leher keempat manusia berewok itu? Nilamsuri memandang lagi ke dalam lembah. Segala sesuatunya diselimuti kesunyian. Kemudian gadis ini memandang kepada pakaian yang dikenakannya. Pakaian ini ditemuinya di atas sebuah makam. Apakah pakaian ini sengaja pula ditinggalkan untuk dipakainya oleh manusia aneh yang melarikan diri itu? Nilamsuri memutar tubuhnya hendak kembali ke pekuburan. Tapi dengan serta merta tertahan ketika di belakangnya dari balik sebatang pohon waru terdengar suara orang berkata. "Hendak kembali membuat kepengecutan? Membunuh musuh yang tak berdaya? Percuma tahu ilmu silat tapi tidak tahu tata peradatan silat!" Bukan main geramnya Nilamsuri mendengar ejekan itu. Dia melompat ke arah pohon waru. Tapi lebih cepat lagi gerakannya itu orang yang tadi berkata telah berkelebat laksana bayang-bayang dan lari ke dalam lembah. "Manusia atau setan! Jangan lari!" teriak Nilamsuri. Dan segera pula dia mengejar ke dalam lembah. Tapi seperti tadi, begitu dia sampai di dasar lembah maka orang yang dikejarnya lenyap lagi! Dengan hati penasaran gadis ini loncat ke atas sebatang pohon tinggi dan dari sini memandang ke seantero lembah untuk menyelidik kemana larinya orang tadi. Namun ini juga tidak memberikan hasil. Nilamsuri turun kembali. Dijelajahinya sebagian dari lembah. Hatinya belum puas kalau belum berhasil menemui orang yang dikejarnya itu. Di tepi sebuah anak sungai akhirnya gadis ini hentikan langkah. Sejurus kemudian dia termangu di tepi sungai ini. Kemudian hidungnya dilanda oleh bau harum dari sesuatu yang dipanggang. Bau ini dating dari arah hulu sungai, membuat tenggorokannya menerbitkan air liur. Gadis ini langkahkan kaki ke hulu sungai. Belum sampai lima puluh langkah dia berjalan, maka di satu tikungan sungai yang arus airnya lebih cepat mengalir, dilihatnya duduk ditengah sungai, di atas sebuah batu besar yang licin kehitaman, seorang laki-laki. Laki-laki ini duduk membelakanginya dan rambutnya gondrong, berpakain putih-ptuih. Tak tahu Nilamsuri apa yang dibuat orang ini ditengah sungai ini di atas batu itu. Berat kecurigannya bahwa manusia ini adalah orang yang tadi dikejarnya. Tapi anehnya santarnya bau benda yang terpanggang itu datang dari arah laki-laki di tengah sungai ini! Nilamsuri terus melangkah beberapa jauhnya ke hulu sungai, melewati laki-laki itu, untuk dapat melihat apa yang tengah dilakukannya. Nilamsuri masih belum dapat melihat paras laki-laki berambut gondrong itu. Tapi dari tempatnya berdiri saat itu dapat disaksikannya bahwa bau harum yang membuat titik seleranya itu disebabkan oleh seekor ikan besar yang dipanggang oleh laki-laki itu dan kini tengah digerogotinya dengan lahap! Ikan panggang itu masih mengepulkan hawa hangat. Yang tidak dimengerti sama sekali oleh Nilamsuri ialah bahwa di atas batu itu di mana laki-laki itu duduk atau ditepi sungai sama sekali tidak dilihatnya bekas-bekas perapian untuk membakar ikan yang kini tengah dimakan dengan lahap oleh si rambut gondrong! Nilamsuri berpikir sejurus. Kemudian berserulah dia ke tengah sungai. "Saudara! Apa kau melihat seseorang lewat sekitar sini?!" Laki-laki di tengah sungai tidak menjawab. Malah menolehpun tidak dan dengan lahapnya terus saja dia makan ikan panggang itu. "Saudara!", seru Nilamsuri sekali lagi. Kali ini orang itu palingkan kepala. Dan Nilamsuri terkesiap sejenak karena tak menyangka kalau si rambut gondrong ini nyatanya adalah seorang pemuda bertampang keren! Meski keren tapi paras itu membayangkan pula paras anak-anak dan lucu! "Eha. kau bicara sama aku?" tanya pemuda yang asyik menggerogoti ikan panggang itu. "Ya! Aku tanya apa kau lihat seseorang lewat di sini?!" kata Nilamsuri pula. "Laki-laki atau perempuan?" tanya si rambut gondrong. "Laki-lakia." "Orangnya sudah tua apa masih mudaa.?" "Kurang jelas. Cuma dia berpakaian putih-putih...." Si rambut gondrong melemparkan kerangka ikan yang habis dimakannya ke dalam sungai. Kemudian dipandanginya pakaiannya sendiri. "Eh, aku juga berpakaian putih putiha.," katanya. "Kalau begitu pastilah aku yang kau cari!". Pemuda ini garuk rambutnya dan tertawa. Sikap dan ucapan pemuda ini agak mengesalkan Nilamsuri. Hatinya bimbang untuk memastikan bahwa orang yang dikejarnya adalah pemuda itu. Karena tampangnya meski keren tapi seperti kanak-kanak. "Eh, kenapa diam?!" tanya pemuda itu. "Aku tahua. aku tahua.," katanya. "Tahu apa?" "Aku tahu kau sampai ke sini karena mencium harumnya bau ikan panggangku! Lalu kau berpura-pura tanya seseorang! Kenapa musti pura-pura dan malu-malu? Kalau doyan ikan panggang silahkan datang kemari. Aku masih ada seekor lagi!" "Saudara! Jangan bicara seenaknya!" "Seenaknya bagaimana?!" "Aku betul-betul mencari seseorang! Dan aku tidak butuh sama ikan panggangmu!" "Oha. begitua.?". Pemuda itu manggut-manggut. Lalu katanya, "Kalau aku tahu tentang orang yang kau cari itu, kau mau persen aku apa?" "Apa saja yang kau mauia.", jawab Nilamsuri tanpa pikir panjang karena dia betul-betul ingin lekas-lekas dapat mengejar orang yang dicarinya tadi. Si pemuda tertawa mengekeh dan tercekik serta batuk-batuk ketika ikan panggang yang dimakannya menyekat tenggorokannya. "Kalau begitua.," kata pemuda rambut gondrong itu dengan masih tertawa serta batuk-batuk, "aku mau dirimu saja saudari." "Pemuda ceriwis! Kutampar kau punya mulut baru rasa!" "Lhoa," pemuda itu melongo macam orang bodoh. "Kenapa kau jadi marah?!" tanyanya. Benar-benar kesal jadinya Nilamsuri. Dikatupkannya mulutnya rapat-rapat menahan rasa kesal itu. "Eh, sekarang kau tutup mulut. Lucu! Kau toh belum jawab pertanyaanku, saudari. Aku minta dirimu. Boleha.?" Rasa kesal di diri Nilamsuri kini berubah menjadi amarah yang meluap. Parasnya kelihatan merah. Sekali lompat dia sudah berada di hadapan pemuda itu, di atas batu besar. "Pemuda edan, kau mau mampus?!" Si gondrong garuk-garuk kepala. "Aku tidak mengerti saudari, aku benar-benar tidak mengerti. Menapa kau jadi marah-marah begini samaku?!" "Bicaramu terlalu kurang ajar, tahu?!" Pemuda itu goleng kepala dan angkat bahu. Lalu tertawa sambil memandangi paras Nilamsuri. "Kau tahu saudaria," katanya, "kalau kau marah-marah dan membentak macam tadi hema. parasmu tambah cantik!" "Plak!" Tamparan tangan kiri Nilamsuri mendarat di pipi si pemuda. Pemuda itu meringis kesakitan. Penyesalan timbul di hati Nilamsuri melihat bagaimana pipi yang ditamparnya itu kelihatan menjadi sangat merah. "Kau jahat sekali!," kata si pemuda pula. "Aku tanya sama kau, kau mau persen aku apa kalau aku tahu orang yang kau cari itu. Dan kau jawab apa saja mauku! Lantas aku bilang mau dirimu! Apa aku salaha.?!" Nilamsuri menggigit bibirnya. Dia tahu ucapan pemuda itu betul. Dia tahu kalau tadi dia telah ketelepasan bicara. "Saudaraa," kata Nilamsuri. Tapi si pemuda memotong. "Sudahlah. Aku tak sudi bicara sama kau. Orang mau menolong dikasih tamparan. Baru mau menolong. Kalau sudah ditolong aku akan dapat tendangan!" Dan Nilamsuri menggigit bibir lagi. Tanpa berkata apa-apa dia melompat ke tepi sungai kembali. "Hai saudari! Tunggu dulu!", seru si pemuda. Nilamsuri balikkan badan. "Sebenarnya ada apa kau mencari laki-laki itu?!" "Itu urusanku sendiri!", jawab Nilamsuri. "Laki-laki itu kekasihmu agaknya?" "Kau mau tamparan sekali lagi?!" Si pemuda tertawa. "Dunia serba aneh," katanya seakan-akan pada diri sendiri. "Mustinya laki-laki yang cari perempuan. Ini perempuan yang cari laki-lakia.!" Dan digaruknya kepalanya. Dalam pikiran Nilamsuri terbit prasangka bahwa tentunya pemuda itu seorang yang berotak miring. Karenanya tanpa ambil perduli lagi dia segera tinggalkan tempat itu. "Hai saudari! Kau tidak mau ikan panggang ini?!" Nilamsuri terus saja menyusuri sungai menuju ke hulu. Dia hampir keluar dari kelokan sungai ketika didengarnya lagi suara pemuda itu berseru. Jarak antara mereka saat itu sudah puluhan tombak. Kalau saja Nilamsuri mau berpikir sejenak dia akan segera tahu kalau pemuda itu bukan berteriak biasa tapi dengan menggunakan tenaga dalam. Karena dalam jarak sejauh itu bagaimanapun kerasnya seseorang berteriak namun apa yang diucapkannya tak akan terdengar dengan jelas. "Saudari! Jangan pergi ke sana! Saudari, kembalilah!" Nilamsuri melangkah terus. "Saudari! Hai! Disebelah sana banyak buayanya! Kembalilah!" Tapi Nilamsuri jalan terus. Si pemuda goleng-goleng kepala lalu turun ke air. Nyatanya sungai itu dalamnya hanya sebatas lutut. Begitu sampai di seberang si pemuda cepat lari menyusul Nilamsuri. "Saudari kau mau kemana?!", tanya pemuda itu seraya pegang bahu Nilamsuri. "Kau jangan kurang ajar, saudara!" bentak Nilamsuri karena marah sekali bahunya dipegang seenaknya. "Kau mau kemana?" "Perduli apa kau?!" "Jangan kesana saudari. Banyak buaya lagi berjemura.". dan belum habis pemuda ini bicara tahu-tahu dua ekor buaya besar menyeruak dari belakang semak belukar di tepi sungai. "Aku bilang apa! Celakaa.! Saudari larilah!" Pemuda itu melompat ke belakang. Sementar itu kedua ekor buaya dengan cepat meluncur menyerang Nilamsuri. Gadis itu cabut pedangnya. Sekali menebas puntunglah sebagian dari mulut buaya yang hendak menerkamnya. Binatang ini menggelepar-gelepar di pasir. Buaya kedua mengalami nasib yang sama. Bau anyirnya darah yang masuk ke dalam air sungai mengundang munculnya beberapa ekor buaya lagi. Binatang-binatang itu menyelusur ke tepi sungai dan berlomba menyergap Nilamsuri. Tapi si gadis dengan permainan pedangnya yang mengagumkan berhasil menewaskan semua buaya itu! Si pemuda geleng-geleng kepala dan leletkan lidah. "Hebat! Hebat sekali kau saudari!", katanya memuji. "Kau tentu seorang jago silat! Sejak lama aku ingin belajar silat! Bersediakah kau mengambil aku jadi murid?!" "Jangan ngaco!", bentak Nilamsuri. "Aku tidak ngaco. Aku bicara sungguhana.". "Buka lagi mulutmu!", bentak Nilamsuri. Pedangnya masih merah oleh darah buaya-buaya tadi siap ditetakkannya ke kepala pemuda itu. Tentu saja pemuda ini cepat-cepat melompat ke samping. "Saudari, aku betul-betul ingin belajar silat padamua." Nilamsuri pencongkan hidung. "Tidak malu merengek macam anak kecil!", ejeknya. Si pemuda agaknya jadi kesal, lalu menyahuti. "Kau sendiri tidak malu pakai pakaian laki-laki!" Memang saat itu Nilamsuri mengenakan baju dan celana laki-laki berwarna putih yakni pakaian yang tadi ditemuinya di atas sebuah kuburan. Dan parasnya menjadi kemerahan. Cepat-cepat dia berlalu dari situ. "Saudaria. Tunggua.!" "Apalagi?!" "Kalau kau tak mau ambil aku jadi muridmu, tak apa. Tapi ada satu permintaanku yang laina. Boleh aku tahu namamu?" "Manusia macammu tak perlu tahu namaku!" "Ah saudari, kau sombong betul. Beri tahu namamu, nanti kuberi tahu namakua." "Siapa sudi tahu namamu segala?!" "Namaku Wiro Sableng saudaria. Harap kau mau kasih tahu kau punya namaa." "Wiro Sableng?" ujar Nilamsuri. Pemuda itu mengangguk. "Pantas," kata Nilamsuri pula. "Pantas kenapa?" tanya Wiro. "Pantas lagakmu seperti orang edan!" dan habis berkata begitu Nilamsuri segera berlalu. Karena merasa sia-sia untuk meneruskan pencariannya maka Nilamsuri akhirnya memutuskan untuk cepat-cepat kembali ke pekuburan. Sebenarnya, gadis ini telah bertemu dengan orang yang telah menolongnya sewaktu dikeroyok oleh Bergola Wungu dan anak-anak buahnya. Cuma Nilamsuri tidak tahu sama sekali kalau orang yang ditemuinya itulah tuan penolongnya. Dan siapa adanya orang yang menolong Nilamsuri tiada lain dari pada Wiro Sableng itu pemuda yang baru turun gunung yang sikap serta lagaknya begitu lucu sehingga setiap orang akan menduga bahwa dia tentunya seorang yang kurang waras. Ketika Nilamsuri kembali ke pekuburan itu, yang ditemuinya bukanlah Bergola Wungu dan ketiga orang anak buahnya melainkan Wiro Sableng! Pemuda ini tengah berlutut menepekur di hadapan sebuah makam yang tanahnya hampir rata dan penuh ditumbuhi rumptu-rumput liar serta kotor oleh daun-daun kering. "Kemana perginya kunyuk-kunyuk berewok itu?" pikir Nilamsuri. Penasaran sekali dia jadinya. Sudah tak berhasil mengejar manusia yang diburunya kini empat musuh besarnya telah lenyap sepeninggal pengejarannya. Dan apa pula urusan pemuda berotak miring yang mengaku bernama Wiro Sableng itu di pekuburan ini? Makam siapa yang tengah ditepekurinya itu? Kemudian Nilamsuri melilhat Wiro berdiri dari berlututnya. Dan ketika dia memalingkan muka, Nilam melihat pada paras pemuda itu jelas terbayang rasa sedih yang mendalam. Atas banyak kejadian aneh yang tengah dialaminya sampai saat itu diam-diam Nilamsuri ingin sekali tahu siapa adanya pemuda berambut gondrong ini. Dibukanya pembicaraan denga bertanya, "Saudara, waktu mula-mula kau datang kesini apa ada melihat empat orang laki-laki berewok?" Bayangan kesedihan pada paras Wiro Sableng segera sirna. Dan pemuda ini tersenyum. "Kau lucu sekali saudari," kata Wiro. "Pertama kali jumpa, ditepi sungai tadi kau tanya satu orang laki-laki. Kalau jumpa ketiga kali nanti, kira-kira berapa orang laki-laki yang bakal kau tanyai padaku?!" Mau tak mau paras Nilamsuri menjadi merah oleh ucapan Wiro Sableng itu. "Saudara," katanya, "Kau siapakah sebenarnya?" "Siapa aku bukankah aku sudah kasih tahu tadi di hulu sungai? Kenapa tanya lagi? Kau sendiri tidak mau kasih tahu nama." Nilamsuri terdiam. Kemudian diputarnya pembicaraan dengan bertanya, "Makam siapa itu?" "Kau bisa baca sendiri pada batu nisana." jawabnya. Penuh rasa ingin tahu Nilamsuri melangkah dan mendekati nisan makam tua itu. Nisan itu terbuat dari batu. Barisan kalimat yang terukir pada batu yang sudah retak-retak itu tak jelas lagi. Tapi Nilam masih bisa membacanya. Dan pada batu nisan itu tertulis: "DISINI TELAH DIMAKAMKAN SUCI BANTARI" Melihat Wiro yang masih muda, Nilamsuri tahu kalau orang yang bernama Suci Bantari itu bukanlah isteri Wiro Sableng. "Ibumua.?", tanyanya. Pemuda itu mengangguk perlahan. Dia teringat pada keterangan Eyang Sinto Gendeng ketika dia masih digembleng di puncak Gunung Gede dulu. Menurut perempuan sakti itu dia telah dipelihara sejak masih orok. Kini sesudah belasan tahun, sesudah menjadi seorang dewasa, sesudah sekian lama tiada mengenal kasih sayang ayah bunda, maka yang ditemuinya hanyalah dua onggok makam yang tiada terawat sepantasnya. Makam ayah dan makam ibunya. "Kalau begitu kau adalah penduduk sinia.?" Wiro Sableng mengangguk lagi. "Aku tak pernah mengenal mereka." "Maksudmu ayah dan ibumu?" "Yaa Keduanya menemui ajal karena kebiadaban seseoranga." "Dibunuha.?" Wiro Sableng mengangguk. Matanya yang biasanya bersinar lucu itu kini kelihatan kuyu dan kedua matanya itu memandang pada bangkai kuda yang lehernya hampir punting terbabat pedang Nilamsuri sewaktu terjadi pertempuran antara gadis itu dengan Bergola Wungu dan anak-anak buahnya. Wiro menggeram dalam hati. Nasib ayahnya tidak lebih baik dari kuda itu! Nilamsuri sementara itu tenggelam dalam alam pikirannya sendiri. Tadipun Bergola Wungu mengatakan bahwa orang tuanya mati dibunuh, dibunuh ayahnya Kalingundil, ayahnya sendiri. Apakah orang tua pemuda ini ayahnya juga yang telah membunuhnya? Kalau benar maka pastilah pemuda ini datang untuk mencari urusan. Untuk menuntut balas sebagaimana kemunculan Bergola Wungu dan anak buahnya. Jadi manusia ini tak lebih dari seorang musuh pula baginya! Tapi untuk meyakinkan maka bertanyalah Nilamsuri. "Siapakah manusianya yang membunuh kedua orang tuamu, Saudara?" "Ah panjang kisahnya. Kalaupun kuberi tahu kau tak akan kenal mungkin. Dan lagi semua itu bukan urusanmua." "Apakah pembunuh itu bernama Kalingundil?" memancing Nilamsuri dengan hati berdebar. Dadanya lega ketika dilihatnya Wiro Sableng menggeleng. "Kau sendiri perlu apa datang ke pekuburan ini?" bertanya Wiro. "Sama dengan kau. Untuk menyambangi makam ibukua." Dan Nilamsuri menceritakan apa yang telah terjadi dengan dirinya ketika dia tengah mencabuti rumput-rumput di makam ibunya. Tapi tidak diterangkannya mengapa sampai Bergola Wungu hendak merusak kehormatannya dan hendak membunuhnya! "Sungguh aneh cerita tentang manusia yang telah menolongmu itu saudari," kata Wiro Sableng pula dengan menahan rasa gelinya. "Pastilah dia seorang manusia sakti luar biasa. Mungkin juga dia seorang malaikata.!" Nilamsuri hanya termangu. Tapi diam-diam matanya melirik pada Wiro Sableng. Kalau tadi memang dia kagum akan paras pemuda yang keren ini tapi karena bicaranya yang usil serta lucu tapi kurang ajar itu, maka kini bicara secara baik-baik nyatanya pemuda itu bukanlah seorang yang kurang ingatan. "Kalau sekiranya kau menemui pembunuh orang tuamu itu," bertanya Nilamsuri, "apakah kau juga akan membunuhnya?" Wiro Sableng tertawa, "Itu tak perlu musti dijelaskan lagi saudari," sahutnya. Nilamsuri ingat pada nasib buruknya yang tadi hendak menimpanya. Lalu berkatalah perempuan ini, "Dunia ini penuh dengan ketidakadilan!" "Ketidak adilan macam mana maksudmu saudari?" tanya Wiro Sableng pula. Nilamsuri hendak membuka mulutnya. Tapi cepat-cepat mulut itu dikatupkannya kembali. Hampir saja terluncur rahasia mengapa Bergola Wungu hendak membunuhnya. Gadis ini kemudian hanya gelengkan kepala. "Nanti kau bakal mengalami sendiri mungkin," katanya. "Sekurang-kurangnya melihat dengan nyata ketidakadilan berlangsung di depan matamu." Wiro Sableng tertawa. "Kenapa kau tertawa?" tanya Nilamsuri karena merasa diejek. "Berapa umurmu, saudaria.?" Dalam hatinya gadis itu berpikir si pemuda hendak mulai lagi dengan keusilannya. Wiro masih juga tertawa lalu berkata, "Kau masih sangat muda tapi bicaramu sudah seperti orang tuaa." Mau tak mau Nilamsuri tertawa juga. Tapi tertawa cemberut. Diam-diam hatinya yang tadi tertarik kini semakin senang pada pemuda itu. Tiba-tiba kedua orang itu saling pandang. Dikejauhan terdengar derap suara kaki kuda. "Aha. hanya suara kaki-kaki kuda, kenapa terkejut?" tanya Wiro Sableng meskipun hatinya sendiri terasa tidak enak. "Mungkin sekali, itu adalah manusia-manusia laknat yang tadi mengeroyokku!" kata Nilamsuri. "Kalau begitu mari cepat-cepat menyingkir!" Si gadis enam belas tahun gelengkan kepala. "Lebih baik mati daripada laria.!" Wiro Sableng menggerendeng. "Keberanianmu tidak pakai pikiran saudari!", katanya. Wiro Sableng melompat ke muka dan menotok bahu kanan Nilamsuri. Gadis itu rebah dalam keadaan kaku tapi sebelum jatuh ke tanah Wiro sudah membopongnya. Segera gadis itu dilarikannya namun kasip. Empat penunggang kuda sudah mengurungnya. Keempatnya tiada lain daripada Bergola Wungu dan anak-anak buahnya. "Haa.haa, ruapanya ada juga culik kesiangan yang inginkan mangsa kita kawan-kawan!" kata Bergola Wungu. "Tikus busuk!", kata Ketut Ireng. "Turunkan gadis itu!" "Masih ingusan sudah tahu perempuan!" memaki Pitala Kuning, anak buah Bergola Wungu yang bermata jereng. "Ayo turunkan gadis itu cepat!" Perlahan-lahan Wiro Sableng menurunkan tubuh Nilamsuri. Dipandanginya keempat manusia berewok itu seketika. "Saudara-saudara kita tidak saling kenal satu sama lain, mengapa bicara memaki begitu?!" "Bocah geblek! Terima ini!", bentak Ketut Ireng pergunakan kaki kanannya untuk menendang dada pemuda itu. "Buuk"!! Kaki kanan Ketut Ireng mendarat di dada Wiro Sableng. Tidak serambutpun tubuh pendekar dari Gunung Gede ini bergerak. Sebaliknya dari mulut Ketut Ireng terdengar lolong kesakitan setinggi langit! Tendangan yang dilancarkan Ketut Ireng hanya menggunakan tenaga kasar atau tenaga luar karena dia sama sekali tidak menduga siapa adanya pemuda berambut gondrong itu. Dan akibatnya dari tendangan itu menimpa dirinya sendiri. Kaki kanannya sampai ke betis kelihatan menjadi gembung dan kehitaman. Ketut Ireng menelungkup di atas punggung kuda dan melolong kesakitan. Kaget Bergola Wungu dan dua orang lainnya bukan olah-olah. "Sreet"!! Pemimpin Empat Berewok dari Goa Sanggreng ini segera cabut golok panjangnya. Seta Inging cabut senjatanya yang berupa kelewang sedang Pitala Kuning keluarkan ruyung berdurinya! "Bocah haram jadah! Siapa kau!?!", bentak Bergola Wungu seraya melintangkan golok di depan dada. "Aku peringatkan pada kalian," sahut Wiro Sableng dengan suara datar sedang mulutnya menyunggingkan seringai, "aku tidak ada permusuhan dengan kalian. Sebaiknya tinggalkan tempat ini dengan aman!" "Keparat betul, " kertak Pitala Kuning. "Apa kau tidak tahu berhadapan dengan siapa saat ini?!" "Aku tidak perduli siapa kalian! Tinggalkan tempat ini kalau tidak mau susah!" "Sebaiknya kau berlutut dan minta ampun dihadapan kami, bocah gila!" "Aku bilang tinggalkan tempat ini, apa kalian tuli semua masih pentang bacot?!" Mendidihlah darah di kepala Bergola Wungu. LIMABELAS Sebagai pendekar yang baru turun gunung dan cemplungkan diri dalam dunia persilatan tentu saja Wiro Sableng buta pengalaman dalam pertempuran. Tapi selama tujuh belas tahun digembleng oleh Eyang Sinto Gendeng maka serangan-serangan yang dahsyat itu sama sekali tidak membuat pendekar muda ini menjadi gugup. Eyang Sinto Gendeng talah menggemblengnya bukan hanya sekedar member pelajaran ilmu silat luar dalam dan melatihnya belaka, tapi latihan-latihan perempuan sakti itu tak ada bedanya dengan pertempuran dahsyat yang benar-benar bisa mencelakakan Wiro sendiri. Ketika tiga serangan itu datang ke arahnya, Wiro Sableng segera sambar pinggang Nilamsuri. Secepat kilat kemudian dia jatuhkan diri dan sambil berteriak hebat pemuda ini hantamkan tinju kanannya ke kaki seekor kuda lawan yang hampir menendang batok kepala Nilamsuri. Kuda itu meringkik keras dan rubuh karena kakinya itu hancur. Penunggangnya yaitu si mata jereng Pitala Kuning terlempar ke tanah tapi dengan andalkan ilmu mengentengi tubuh berhasil jatuh dengan kedua kaki menginjak tanah. Sementara golok panjang Bergola Wungu dan kelewang Seta Inging beradu keras di udara memercikkan bunga api maka sambil bergulingan di tanah, Wiro Sableng tak lupa hantamkan kaki kiri kanannya pada kaki-kaki kuda kedua manusia berewok itu. Seperti dengan kuda Pitala Kuning tadi maka kedua binatang inipun melemparkan Bergola Wungu dan Seta Inging. Wiro Sableng menyandarkan Nilamsuri pada sebatang pohon dan cepat bersiap-siap ketika dilihatnya tiga manusia berewok itu mendatanginya. Akan Ketut Ireng tak masuk hitungan karena saat itu dia duduk menjelepok di tanah merintih karena kaki kanannya yang hitam gembung dan sakitnya bukan main! "Aku peringatkan pada kalian untuk penghabisan kali!" kata Wiro Sableng, "Tinggalkan tempat ini!" "Jangan omong besar bangsat ingusan!" bentak Bergola Wungu dengan sangat geram. "Sebut kau punya nama agar golokku ini tidak penasaran menebas batang lehermu!" Wiro Sableng mengeluarkan suara bersiul lalu garuk-garuk kepala dan tertawa gelak-gelak. Kemudian menyanyilah murid Eyang Sinto Gendng ini. Anak kecil bodoh namanya biang bodoh, Tua bangka bodoh namanya biang bodoh, Monyet ingin jadi manusia, Kenapa manusia piara berewok, Apa mau jadi monyeta. Tolol, bodoh, bego, geblek! Marahlah Bergola Wungu mendengar tembang yang kata-katanya ditujukan kepadanya sebagai ejekan itu. "Bocah gila!" bentaknya, " terima ujung golokku ini!" Dengan pergunakan jurus "burung bangau mematuk kodok," Bergola Wungu tusukkan golok panjangnya ke arah tenggorokan Wiro Sableng. Pendekar Gunung Gede ini segera meringankan badan. Ujung golok hanya lewat setengah jengkal disamping lehernya. Wiro tertawa mengejek. Panas pemimpin Empat Berewok dari Gua Sanggreng ini tidak terkirakan. Baru hari ini ilmu golok yang sangat dibanggakannya itu dikelit dengan demikian mudah bahkan sambil tertawa mengejek dan menantang! Dengan kertakkan rahang Bergola Wungu balikkan mata pedang dan babatkan senjata itu. Kali ini maksudnya untuk menebas batang leher si pemuda. Kedua kaki Wiro Sableng bergerak sedikit, tangan kirinya menepis lengan yang memegang golok sedang telapak tangan kanan dihantamkan ke dada Bergola Wungu! Kepala rampok Empat Berewok dari Goa Sanggreng itu mengeluarkan jerit tertahan. Tubuhnya terhuyung ke belakang hampir jatuh duduk di tanah. Ketika dia memandang ke dadanya yang dihantam telapak tangan lawan, parasnya dengan serta merta menjadi pucat! Baju hitamnya robek hangus. Pada kulit dada yang tadi kena dihantam terlukis memutih telapak tangan dan jari-jari tangan Wiro Sableng! Pada tengah-tengah lukisan itu tertera angka hitam 212. Dan sakitnya dada yang bertanda telapak tangan kanan berikut angka 212 itu bukan olah-olah. Meski Bergola Wungu sudah alirkan seluruh tenaga dalamnya, rasa sakit itu hanya sedikit saja berhasil dikuranginya! Pitala Kuning dan Seta Inging tidak kurang pula pucat tampang-tampang mereka melihat apa yang terjadi dengan pemimpin mereka. Tidak dinyana pemuda belia berparas macam anak-anak itu lihay sekali. Apa arti angka 212 yang membekas hitam di kulit Bergola Wungu itu? Pukulan "telapak 212" yang dilancarkan oleh Wiro Sableng tadi itu hanya mempergunakan seperlima bagian saja dari tenaga dalamnya! Kalau saja pendekar muda ini pergunakan setengah saja bagian dari seluruh tenaga dalamnya maka pastilah Bergola Wungu akan meregang nyawa dengan dada remuk! Luapan amarah Bergola Wungu membuat pemimpin rampok yang malang melintang di sungai Cimandilu ini lupakan kenyataan bahwa pemuda yang dicapnya sebagai "pemuda gila", "bocah ingusan" itu sesungguhnya bukanlah tandingannya! Bergola Wungu majukan kaki kanan dan surutkan kaki kiri. Golok panjang dipegang lurus ke muka. "Bocah sedeng! Kau telah bikin cacad dadaku! Aku Bergola Wungu akan berbaik hati untuk membalasnya! Kau tahu jurus apa yang bakal aku lancarakan ini?!" Pendekar kapak maut naga geni menjawab dengan tertawa bergelak sambil garuk-garuk kepalanya yang berambut gondrong. "Lucu!" kata Wiro Sableng pula. "Bertempur ya bertempur. Kenapa musti pakai pidato segala!" Bergola Wungu merasa tubuhnya seperti terbakar oleh kobaran amarahnya yang menggelegak. "Kau boleh tertawa dan mengejek sepuas hatimu bocah gila! Bila golokku berkiblat dalam jurus: merobek langit, kau akan tahu rasa nanti!" Adapun jurus ilmu golok yang disebut "merobek langit" itu adalah jurus yang telah dipergunakan oleh Bergola Wungu untuk "menelanjangi" tubuh Nilamsuri yaitu dengan merobek-robek pakaian gadis itu dengan ujung goloknya. "Jurus merobek langit memang hebat kedengarannya!" kata Wiro Sableng. "Tapi coba buktikan. Jangan-jangan cuma jurus kosong belaka!" Tanpa banyak bicara Bergola Wungu segera putar goloknya dengan sebat. Angin menderu dahsyat keluar dari sambaran golok. Demikian hebatnya seakan-akan golok itu berubah menjadi ratusan banyaknya! Dalam sekejapan mata saja tubuh Wiro Sableng sudah terbungkus gulungan golok! Yang anehnya, diserang hebat demikian rupa tidak serambutpun Wiro Sableng bergerak. Dan lebih aneh lagi adalah karena golok Bergola Wungu sama sekali tidak dapat mendekati bagian tubuh manapun dari Wiro Sableng! Manusia berewok ini mencak-mencak sendirian macam monyet terbakar ekor! Seta Inging dan Pitala Kuning yang saksikan kejadian itu mau tak mau jadi leletkan lidah! Demikianlah hebatnya ilmu "benteng topan melanda samudra" yang dikeluarkan Wiro Sableng sehingga setiap sambaran tusukan dan sabetan golok sama sekali tidak dapat mengenai tubuh Wiro Sableng. Tubuh golok dilanda terus-terusan oleh gulungan angin dahsyat yang membungkus tubuh murid Sinto Gendeng itu! Bergola Wungu membentak keras dan percepat permainan goloknya. Tapi sampai dua puluh jurus dimuka tetap saja goloknya tak dapat membentur sasarannya di tubuh Wiro! Pakaian dan tubuhnya sudah mandi keringat. Pegangan pada hulu golok sudah licin. Keletihan membuat gerakannya mulai menjadi lamban! "Seta Inging! Pitala Kuning! Jangan jadi patung! Bantu aku!" teriak Bergola Wungu dengan sangat beringas. Mendengar perintah ini Pitala Kuning dan Seta Inging segera menyerbu dengan senjata di tangan. Sebatang golok panjang, sebuah ruyung berduri dan sebuah kelewang dengan dahsyatnya menyambar-nyambar ke tubuh Wiro Sableng. Tapi ilmu "benteng topan melanda samudera" membuat ketiga senjata itu tak ada arti sama sekali. Wiro Sableng tertawa bergelak. Tawa gelak yang disertai tenaga dalam ini menambah hebat perbawa ilmu "benteng topan melanda samudera!" Sepuluh jurus berlalu. "Ciaatt!!" tiba tiba pendekar kapak maut Naga Geni membentak keras. Tiga manusia berewok keluarkan seruan tertahan dan lompat dari kalangan pertempuran. Mata mereka melotot besar memandang ke tangan Wiro Sableng yang saat itu telah merampas dan menggenggam senjata mereka!! Ketut Ireng yang duduk menjelepok merintih kesakitan, juga tak ketinggalan terbeliak dan terlongong-longong! Nama Empat Berewok dari Goa Sanggreng bukan nama baru dalam dunia persilatan pada masa itu mereka terkenal sebagai komplotan rampok yang berilmu tinggi dan ditakuti di sepanjang sungai Cimandilu. Terutama pemimpin mereka Bergola Wungu diakui kehebatan permainan goloknya oleh kalangan persilatan! Mereka tahu, kalau pemuda itu inginkan nyawa mau mencelakakan mereka maka sudah sejak tadi hal itu bisa dilakukannya! "Kalau hari ini kami diberi sedikit pelajaran," kata Bergola Wungu dengan suara bergetar, "maka ketahuilah bahwa kami tak akan melupakan kejadian ini. Suatu hari kami akan datang untuk meneruskna apa yang terjadi hari ini!" Wiro Sableng tertawa bergelak, "Bagus, bagus! Kau masih bisa pidato huh!! Ini terima kembali senjata kalian!" Sekali tangan kanan Wiro Sableng bergerak maka ketiga senjata lawan yang tadi dirampasnya kini melesat ke arah ketiga orang itu masing-masing pada pemiliknya, Bergola Wungu menangkap hulu golok, Seta Inging menangkap gagang kelewang sedang Pitala Kuning menyambuti tangkai ruyung berdurinya. Tanpa banyak bicara ketiga orang itu dengan membawa kawan mereka yang menderita sakit pada kakinya, segera hendak angkat kaki. Tapi sebelum mereka berlalu Wiro Sableng berkata: "Satu hal kalian harus ingat baik-baik manusia-manusia berewok. Jika kalian berani lagi ganggu ini gadis, berarti kalian ingin cepat-cepat masuk liang kubur!" ENAMBELAS Begitu Empat Berewok dari Goa Sanggreng lenyap dikejauhan maka Wiro Sableng segera lepaskan totokan di leher Nilamsuri. Gadis ini memandang berkeliling dengan terheran-heran. Dia seperti orang yang baru bangun dari mimpi. Tapi jelas dilihatnya bekas-bekas pertempuran di sekelilingnya. "Apa yang terjadi?" bertanya gadis itu. Wiro tertawa. "Tak satupun," jawabnya. "Aku tak percaya. Tadi kudengar suara derap kaki kuda menuju ke sinia." "Ah, kau ini ada-ada saja. Aku tak dengar suara apa-apaa." Nilamsuri berpikir-pikir dan mengingat-ingat. Parasnya mendadak berubah. Matanya memandang lekat-lekat pada Wiro Sableng. "Tadia. kau melompatiku dana," gadis ini raba urat besar di pangkal lehernya. "Yaa. kau menotok urat besar di leherku ini?" Habis berkata demikian Nilamsuri segera cabut pedang! "Apa yang kau telah perbuat terhadap diriku?" tanyanya membentak. Murid Sinto Gendeng memaki dalam hati, "Sialan! Sudah ditolong malah menuduh yang bukan-bukan!" Tapi di hadapan si gadis itu pemuda itu masih sunggingkan senyum. "Kuharap kau jangan punya pikiran yang tidak-tidak terhadapku saudaria." "Lalu perlu apa kau menotok aku?!" Wiro garuk-garuk kepalanya. Dia tak ingin Nilamsuri tahu siapa dia sebenarnya. Karena itu dia menjawab dusta. "Kau ingat bagaimana kau begitu kalap untuk bertempur melawan Empat Berewok dari Goa Sanggreng itu?!" "Ya, lalu?!" "Dengar saudari, aku hanya paham sedikti ilmu totokan. Karena aku tahu kau tak bakal sanggup menghadapi mereka, aku lantas totok kau punya urat besar lalu sembunyi dibalik rumpun bambu. Ketika mereka pergi kubawa kau kembali ke sini dan kulepaskan totokan di lehermu." "Aku tak percayaa.!" kata Nilamsuri. "Aku memang tidak suruh kau percaya untuk mempercayainya," menyahuti Wiro Sableng. "Kai ini siapa sebenarnya?!" "Heha," Wiro Sableng hela nafas panjang. "Bukankah aku sudah kasih tahu nama? Malah kau sendiri masih rahasiakan kau punya nama!" Nilamsuri dalam kesalnya tambah tak percaya. Terlintas dalam pikirannya untuk menjajal si pemuda. "Baik," katanya, "jika kau tidak mau kasih keterangan, biar pedangku ini yang memintanya!" Habis berkata demikian maka gadis ini segera kirimkan satu tusukan hebat ke dada Wiro Sableng! Wiro terkejut dan gerabak gerubuk lompat kesamping. "Saudari! Apa-apaan ini? Kenapa kau serang aku?!" Sebagai jawaban Nilamsuri kirimkan serangan berantai. Pedangnya menderu kian kemari membuat Wiro tak bisa ayal lagi dan terpaksa berlompatan dengan cepat. "Sekarang kau tak bisa sembunyikan diri lagi saudara!" kata Nilamsuri. "Terima jurus elang menyambar burung dara ini!" Pedang di tangan Nilamsuri menderu dari samping kiri ke bahu Wiro. Ketika pemuda ini berkelit, ujung pedang dengan sangat tiba-tiba menusuk ke rusuk laksana patukan burung elang! Wiro lambaikan tangan kiri, angin keras membentur badan pedang, menyimpangkan senjata itu dari sasarannya! "Saudari!" seru Wiro Sableng, "sayang aku ada urusan lain. Sampai jumpa lagi!" Habis berkata demikian pemuda ini melompat ke muka, mencuil dagu si gadis lalu berkelebat. "Pemuda kurang ajar!" maki Nilamsuri. Disabetkannya pedangnya dengan sekuat tenaga. Tapi Wiro Sableng sudah lenyap dari hadapannya. Hanya suara tertawanya yang masih sempat terdengar di kejauhan. Gadis itu berdiri termangu. Parasnya yang cantik kelihatan kemerahan. Pemuda itu benar-benar ceriwis sekali! Tapi kini dia sudah tahu bahwa pemuda itu sama sekali bukan bodoh dan berotak miring. Sama sekali tidak buta dalam ilmu silat! Tadi dia telah menyerang dengan jurus-jurus ilmu pedangnya yang lihay dan si pemuda berhasil mengelakkan bahkan memukul badan pedang dengan pukulan tangan kosong yang menimbulkan angin keras! Meski hatinya marah sekali dengan keceriwisan pemuda itu tapi rasa senang dan kagumnya tak dapat disembunyikannya. Sekelumit senyum memberkas di bibirnya ketika dia mengusap dagunya yang tadi dicuil oleh Wiro Sableng. ***** Kedai itu sepi saja. Angin malam bertiup dingin dari lembah. Wiro Sableng masuk ke dalam seenaknya dan sambil bersiul-siul. Orang tua pemilik kedai menyambuti dengan muka pucat cemas. "Orang muda," katanya, "sebaiknya kau lekas-lekas tinggalkan tempat ini!" "Memang kenapa?" tanyanya. "Sebentar lagi mungkin empat manusia berewok itu akan kembali ke sinia." "Siapa takutkan mereka!" ujar Wiro. "Tapi anak muda, kau mungkin belum tahu siapa mereka itu." "Perduli amat siapa mereka," kata Wiro pula sambil duduk di kursi. Dan pemilik kedai itu berkata lagi, "Mereka adalah rampok-rampok yang ditakuti di sungai Cimandilu! Mereka adalah Empat Berewok dari Goa Sanggreng!" "Biar mereka adalah Empat Setan dari Neraka, aku tetap tak perduli!" Pemilik kedai jadi terdiam. Siang tadi dia memang telah menyaksikan bagaimana pemuda itu menyumpal mulut Empat Berewok dari Goa Sanggreng dengan pisang. Maka bertanyalah dia, "Orang muda, kau ini siapa sebenarnya dan datang dari mana?" Wiro usap-usap dagunya yang licin. Ini mengingatkannya pada dagu Nilamsuri yang dicuilnya dan pemuda ini senyum-senyum sendiri. Si orang tua diam-diam mulai meragukan apakah anak muda ini berotak sehat! "Bapak sudah lama tinggal di sini?" tanya Wiro. "Sejak masih oroka." "Hema. kalau begitu tentu kenal dengna nama Ranawelenga." "Oh tentu... tentu sekali. Beliau adalah Kepala Kampung yang baik. Cuma sayanga." "Sayang kenapaa.?" Orang tua itu tak segera menjawab. Dia memandang keluar kedai seperti mau menembusi kegelapan malam, seperti tengah mengenangkan sesuatu. "Beliau sudah meninggala," katanya kemudian menambahkan. Wiro Sableng menelan ludahnya. "Bapak tahu siapa yang membunuhnyaa.?" Pertanyaan ini membuat si orang tua memandang lekat-lekat pada paras Wiro Sableng. "Semua orang tahua.," katanya. Kemudian dituturkannya peristiwa kematian Ranaweleng dan Suci Bantari sekitar tujuh belas tahun yang lewat. Kisah ini sudah didengar sejelasnya oleh Wiro Sableng dari gurunya Eyang Sinto Gendeng. "Ada satu keanehan dalam peristiwa tujuh belas tahun yang lalu itu," kata si pemilik kedai. "Keanehan bagaimana?" tanya Wiro ingin tahu. "Waktu itu Mahesa Birawa dan anak-anak buahnya membakar rumah mendiang Ranaweleng. Dalam kobaran api yang tiada terkirakan besarnya terdengar suara tangisan orok! Itu adalah oroknya Ranaweleng sendiri! Orang banyak sangat kebingungan. Bagaimana mungkin menyelamatkan bayi dalam kobaran api itu? Pada saat yang sangat tegang itu semua orang melihat berkelebatnya bayangan hitam. Sangat cepat sekali bayangan hitam itu menyerbu ke dalam kobaran api lalu lenyap. Dan suara tangisan oroknya Ranaweleng juga hilang! Sewaktu api padam semua orang mencari. Tapi tak ditemui tulang belulang orok itua." Wiro Sableng termanggu-manggu. Dia tahu betul, orok yang diceritakan orang tua itu adalah dirinya sendiri dan berkelebatnya bayangan hitam adalah kelebat bayangan gurunya Eyang Sinto Gendeng! "Sampai sekarang tidak pernah diketahui dimana anak Ranaweleng itu?" bertanya Wiro . Si orang tua angkat bahu. "Kalau dia masih hidup kira-kira sebesar kaulah, anak muda," katanya. "Mahesa Birawa sendiria. apakah masih hidup?" "Masiha. sampai dua tahun belakangan ini dia masih tinggal di sini. Tapi sekarang entah dimana. Tapi ada atau tidaknya dia di sini, sama saja. Empat orang anak buahnya sama saja jahat dan kejamnya dan keempatnya malang melintang di kampung ini. Kalau makan tak pernah bayar!" "Apakah mereka itu Empat Berewok dari Goa Sanggreng itu?" tanya Wiro. "Bukana. bukan! Justru Empat Berewok dari Goa Sanggreng ini sengaja datang dari jauh bikin perhitungan dengan anak buah Mahesa Birawa yang bercokol di sini! Dan Empat Berewok dari Goa Sanggreng itu bukanlah manusia baik. Mereka rampok-rampok yang tak kalah kejam dan terkutuknya dengan anak-anak buah Mahesa Birawa! Tapi ketika mereka datang anak-anak buah Mahesa Birawa tak ada di sini. Kebetulan keluara. sudah empat hari dengan hari inia." Wiro mengulurkan tangannya memotes sebuah pisang yang tergantung "Eeea. apakah kau punya uang untuk membayar pisang itu, anak muda?" tanya si pemilik kedai. Wiro tertawa, "Hutang dulu toh tak apa-apaa." sahutnya. Si orang tua mengeluh dalam hati. Berarti tambah satu lagi "langganan"nya yang makan tanpa bayar! Sambil mengunyah pisangnya Wiro Sableng bertanya, "Urusan apakah yang dibawa oleh Empat Berewok dari Goa Sanggreng itu ke sini?" Si orang tua memandang lagi ke luar kedai. Lalu katanya, "Perlu kau ketahuia. pemimpin Empat Berewok dari Goa Sanggreng itu, yang kini memakai nama Bergola Wungu, dulunya adalah penduduk kampung Jatiwalu ini! Anak-anak buah Mahesa Birawa yang bercokol di sini kemudian membunuh ayahnya, juga ibunya, merusak kehormatan perempuan itu serta saudara-saudara perempuannya. Bergola Wungu sempat melarikan diri. Ketika dia kembali ke sini ternyata dia sudah jadi seorang yang tak kalah jahatnya dengan anak-anak buah Mahesa Birawa!" Lama Wiro Sableng terdiam. Tiba-tiba dia ingat satu nama yang diucapkan Nilamsuri. "Kenal dengan seorang yang bernama Kalingundil?" Kulit kening pemilik kedai itu mengkerut. "Adalah lucu kalau pertanyaan itu kau ajukan saat ini, anak muda?" katanya. "Kenapaa.?" "Karena Kalingundil adalah anak buah Mahesa Birawa yang bercokol di sini dan yang bertindak sebagai pemimpin dari tiga kawan-kawan lainnya!" Tentu saja Wiro Sableng terkejut mendengar keterangan ini. Tapi rasa terkejutnya disembunyikannya. Dan dia berpikir-pikir, mengapa gadis itu di pekuburan siang tadi menanyakan apakah kedua orang tuanya dibunuh oleh manusia bernama Kalingundil itu? Wiro meletakkan kulit pisang di tepi meja. "Siang tadi, Empat Berewok dari Goa Sanggreng itu telah mengeroyok seorang gadis belia berparas cantik. Bahkan gadis itu hendak mereka perkosa beramai-ramai. Mungkin bapak tahu pangkal sebab sampai hal itu terjadia.? mungkin juga kenal dengan gadis itu?" "Gadis itu berpakaian birua.?" "Betul." Si orang tua hela nafas. "Sebenarnya sudah berkali-kali Bergola Wungu tanya padaku apakah ada seorang lain yang tinggal di rumah Kalingundil. Aku jawab tidak tahu. Aku tak ingin susah anak muda. Kalau kukatakan ada dan Kalingundil mengetahuinya, pastilah leherku akan jadi umpan pedang Kalingundil dan gadis itu adalah anak Kalingundil sendiri!" Kini jelaslah bagi Wiro Sableng mengapa demikian besar tekat Bergola Wungu untuk membunuh si gadis baju biru itu. "Kalingundil yang bikin kejahatan, anaknya yang musti ikut tanggung akibata," desis orang tua pemilik kedai. Wiro manggutkan kepala. "Dendam kesumat laksana besi tua seribu karat kadang kala tidak mengenal pembalasan yang wajara.", katanya. "Kadang kadang itu adalah merupakan hukum karma bagi seseorang yang pernah melakukan perbuatan terkutuk!" "Kata-katamu beul, anak mudaa.", kata orang tua itu pula. Lalu diangsurkannya mukanya dekat-dekat ke muka Wiro Sableng. "Waktu Bergola Wungu tahu bahwa kau telah mendustainya, habis mukaku ini ditempelaknyaa.!" "Itu salahmu sendiri," kata Wiro seenaknya. "Siapa suruh kau yang tua bangka masih mau berdusta!" Orang tua itu jadi menggerendeng dan memaki panjang pendek dalam hatinya. Dan dia memaki lagi untuk kedua kalinya ketika didengarnya Wiro berkata, "Minta tehnya, pak." Sementara si orang tua membuatkan segelas teh manis untuknya, Wiro Sableng tenggelam dalam pikirannya sendiri. Tidak diduganya kalau gadis berbaju biru yang menarik perhatiannya itu adalah anak Kalingundil. Anak buah Mahesa Birawa yang telah membunuh kedua orang tuanya. Ketika si orang tua datang membawakan teh bertanyalah Wiro Sableng, "Bapak tahu nama anak perempuan Kalingundil itu?" "Nilamsuri. Nama bagus, orangnya juga cantik, tapi sayang bapaknya manusia terkutuk!" "Sewaktu Mahesa Birawa melakukan pembunuhan atas diri Ranaweleng, apakah Kalingundil juga ikut-ikutan?" tanya Wiro lagi. "Bukan hanya Kalingundil, tapi semua anak buahnya," menyahuti si orang tua. Wiro hendak bertanya lagi tapi mulutnya terkatup kembali karena di luar terdengar suara gemuruh derap kaki kuda. Empat penunggang kuda lewat di muka kedai dengan cepat. Mereka bukanlah Empat Berewok dari Goa Sanggreng. Dan ketika Wiro Sableng berpaling pada orang tua pemilik kedai, orang tua ini tarik nafas panjang dan berkata, "Kalingundil dan anak-anak buahnyaa. pasti akan segera terjadi bentrokan dengan Bergola Wungua." "Menurutmua. siapa yang bakal menang di antara mereka?" tanya Wiro. Orang tua itu angkat bahu. "Aku tidak mengharapkan siapapun di antara mereka akan menang! Kalau dapat biarlah Gusti Allah membuat mereka mampus semua. Kalingundil dan Bergola Wungu tiada beda bagiku! Sama-sama jahat! Sama-sama tidak bayar kalau makan apa-apa di sini!" Wiro Sableng tertawa. Diteguknya teh manis dalam gelas kaca itu. Lalu dia berdiri. "Meski hari ini aku tidak bayar harga pisang dan teh manis itu, tapi jangan samakan aku dengan Bergola Wungu atau Kalingundila." Habis berkata demikian Wiro segera tinggalkan kedai. Si orang tua mengangkat gelas bekas minuman pemuda itu. Tapi sesuatu menarik perhatian matanya yang sudah agak mengabur itu. Pada kaca gelas dilihatnya sederetan angka. Diperhatikannya lebih dekat. Tidak salah, itu memang deretan angka 212. Tak habis mengerti orang tua ini bagaimana angka ini bisa tertera di sana. Disekanya dengan ujung pakaiannya. Disekanya lagia. lagia. Tapi angka 212 itu tetap saja tidak mau pupus! "Aha. semakin tua umur dunia ini semakin banyak terjadi keanehana." Katanya dalam hati. TUJUHBELAS Dari jauh telah terdengar suara beradunya senjata serta bentakan-bentakan hebat. Wiro Sableng percepat jalannya. Dan bila dia sampai di halaman rumah yang agak kegelapan itu maka dilihatnyalah bagaimana halaman rumah itu kini berubah menjadi sebuah medan pertempuran. Enam manusia, sepasang demi sepasang tangah bertempur hebat dan cepat. Di tangga rumah besar dilihatnya berdiri Nilamsuri. Di bawah tangga, dengan bersedekap tangan berdiri seorang laki-laki berbadan tinggi langsing. Wiro tak pernah melihat orang ini sebelumnya. Tapi dia yakin betul bahwa manusia ini pastilah Kalingundil. Di ujung halaman sebelah kiri berdiri pula Bergola Wungu. Sebagaimana dua orang yang terdahulu sepasang matanya memandang ke tengah halaman, memperhatikan jalannya pertempuran. Tiga orang anak buah Kalingundil yaitu Saksoko, Majineng dan Krocoweti sebenarnya bukan orang-orang yang berilmu rendah. Permainan golok mereka cukup lihay. Tapi menghadapi anak-anak buah Bergola Wungu yaitu Ketut Ireng, Seta Inging, dan Pitala Kuning merak kalah gesit. Dalam sembilan jurus Krocoweti terpaksa pasrahkan nyawa dilanda ruyung berduri Pitala Kuning! Krocoweti menggeletak di tanah dengan dada melesak! Tiga jurus kemudian menyusul Majineng. Lehernya hampir kutung terbabat kelewang Seta Inging. Pertempuran yang agak lama berlangsung ialah antara Ketut Ireng dan Saksoko. Kedua orang ini mempunyai tingkat kepandaian yang sama dan sama-sama bersenjatakan golok. Namun oleh kemenangan kedua kawannya Ketut Ireng mendapat semangat dan nyali besar. Lima jurus di muka sambaran goloknya tiada tertahankan. Akhirnya Saksoko yang berbadan gemuk pendek itu menjerit mengerikan ketika perutnya yang buncit terbabat ujung golok! Ususnya membusai dan menjela-jela di tanah! Rahang-rahang Kalingundil kelihatan mengatup rapat dan bertonjolan. Kedua kakinya terpentang. Saat itu karena gelap tak seorangpun yang melihat bagaimana kedua lengan Kalingundil menjadi hitam samapi ke jari-jari tangannya. Didahului dengan suara bentakan yang bukan saja dahsyatnya menggetarkan dada tapi juga menggetarkan tanah maka melompatlah Kalingundil ke tengah halaman di mana tiga anak buah Bergola Wungu berada. Tujuh belas tahun yang lampau kehebatan pukulan lengan baja itu sudah mengagumkan. Dan kini dapat dibayangkan bagaimana keampuhannya! Tiga pekik kematian merobek kegelapan malam! Ketut Ireng, Seta Inging dan Pitala Kuning terlempar sampai lima-enam tombak dan menggeletak di tanah tanpa nyawa! Bergola Wungu saksikan kematian yang mengenaskan ketiga muridnya itu dengan tubuh bergetar. "Bergola Wungu! Kau tunggu apa lagi! Majulah jika kau benar-benar ingin membalaskan dendam kesumat seribu karat!" Meski bagaimana kobaran amarahnya namun Bergola Wungu menyahuti, "Jangan bicara terlalu keren, keparat! Aku masih berbaik hati untuk membiarkan kau bernafas beberapa jam lagi! Aku Bergola Wungu menunggu kau besok pagi waktu matahari terbit di pekuburan Jatiwalu! Aku ingin nyawamu terbang ke neraka disaksikan makam ayahbundaku!" Habis berkata demikian, Bergola Wungu putar tubuh. Tapi saat itu Kalingundil sudah menyerbunya dengan kedua tangan terpentang! Bergola Wungu yang tahu kehebatan lengan baja itu tak berani menyambuti. Dia berkelit ke samping dan lambaikan tangan kanannya. Serangkum angin menyambar ke dada Kalingundil. Kalingundil melompat ke samping dan hantamkan lengannya kembali. Tapi ini juga dapat dielakkan Bergola Wungu. Dalam sebentar saja kedua orang ini sudah terlibat dalam tiga jurus. Memasuki jurus keempat tiba-tiba dari bagian yang gelap di bawah pohon mempelam terdengar suara memaki. "Kalingundil edan! Orang sudah kasih kesempatan untuk bertempur besok pagi masih saja beringasan! Gelo betul!" Kalingundil keluar dari kalangan pertempuran. Segera dia hantamkan lengannya ke jurusan datangnya suara. "Jangan memaki saja kunyuk! Keluarlah unjukkan diri!" Angin dahsyat melanda ke tempat gelap, menghantam pohon mempelam sampai pohon itu tumbang. Tapi orang yang memaki sudah kabur. Dan ketika menoleh ke samping, Bergola Wungu pun sudah lenyap! Akan Nilamsuri begitu mengenali suara yang memaki tadi tanpa tunggu lebih lama dia segara mengejar ke tempat gelap. Beberapa puluh meter kemudian, di pinggiran kampong dekat pematang sawah, orang yang dikejar tahu kalau dirinya dikuntit. Dengan pergunakan ilmu meringankan tubuh yang sudah sampai ke puncak yang sangat tinggi dia melompat ke satu cabang pohon dan menunggu. Nyatanya yang mengejar adalah si gadis baju biru itu. Segera dia lompat turun kembali. "Kita berjumpa lagi, Nilamsuria." "Eh, dari mana kau tahu namaku?" gadis itu tanya dengan heran. Wiro Sableng tertawa dan menjawab, "Terlalu banyak manusia tempat bertanya. Terlalu banyak mulut yang bisa kasih keterangan! Ada apa kau mengejar aku?!" "Ada apa kau ikut campur urusan ayahku?!" balik menanya Nilamsuri. Wiro Sableng melangkah mendekati gadis itu. Matanya yang memandang tajam membuat hati si gadis menjadi berdebar. Wiro semakin mendekat juga. Nilamsuri menyurut mundur namun badannya tertahan oleh batang pohon. "Ayahmu Kalingundil, bukana.?" desisnya. Gadis itu mengangguk. Wiro menyeringai. Dipegangnya bahu gadis itu. Nilamsuri hendak menyibakkan tangan itu tapi tak jadi karena saat itu Wiro membungkukkan kepalanya. Rasa panas menjalari darah ditubuhnya ketika bibir pemuda itu berani mengecup bibirnya. Kemudian tangan yang lain dari si pemuda mengusap mukanya. Dia diam saja. Juga masih diam ketika tangan itu meluncur turun ke bawah lehernya. "Wiroa. kau ini ceriwis sekalia. ceriwis sekali," bisik gadis itu setengah merintih. Pemuda itu menyeringai. "Kenapa kau ikuti akua.?" "Aa. aku suka padamu Wiroa." Wiro tak banyak tanya lagi. Dipanggulnya tubuh yang montok itu lembut itu dan dilarikannya ke tengah sawah dimana terdapat sebuah dangau. Angin malam terasa sangat dingin di udara yang terbuka itu. Tapi tubuh mereka dilanda keringat panas dalam melakukan apa yang belum pernah mereka alami sebelumnya, dalam merasakan apa yang mereka tak pernah rasakan sebelumnya! ***** Sinar matahari pagi memerak kekuningan. Udara segar sekali. Namun kesegaran itu tiada dirasakan oleh tiga manuisa yang berada di pekuburan Jatiwalu. Yang dua adalah Bergola Wungu dan musuh besarnya Kalingundil. Yang ketiga Nilamsuri. Paras gadis ini agak pucat. Bergola Wungu hentikan langkahnya beberapa tombak di hadapan Kalingundil. "Keluarkan senjatamua Kalingundil!" Kalingundil tertawa bergelak dan meludah ke tanah. "Untuk menghadapi manusia macam kau tak perlu pakai senjata segala! Mulailah!." Mulut Kalingundil komat-kamit dan sebentar kemudian kelihatanlah kedua lengannya menjadi hitam! Tergetar juga hati BergolaWungu melihat dua lengan lawan itu. Tapi tentu saja tak diperlihatkannya. Malahan dia berkata, "Bagus kalau tak mau pakai senjata. Itu mempercepat aku mengirimkan kau ke neraka!" Bergola Wungu mencabut golok panjangnya. Dengan ujung senjata itu dia menunjuk ke arah dua buah makam di bukit pekuburan. "Kau lihat dua makam di lereng sana, Kalingundil?!" Kalingundil tak berani mengalihkan pandangannya karena khawatir ini hanya tipuan belaka. "Itu adalah makam ayah bundaku. Roh-roh penghuni makam itu akan bersorak gembira bila menyaksikan sesaat lagi kepalamu kubabat menggelinding!" "Tak perlu jual bacot manusia hina! Terima lenganku!" Disertai angin yang dahsyat maka kedua lengan Kalaingundil memukul susul menyusul. Bergola Wungu kiblatkan golok memapas salah satu lengan lawan! Betapa terkejutnya dia ketika goloknya tidak mempan membabat lengan lawan malahan mata goloknya menjadi sumplung! Dengan segera Bergola Wungu keluarkan jurus terhebat dari ilmu goloknya yaitu jurus "merobek langit." Sesaat saja terbungkuslah tubuh Kalingundil oleh sinar golok! Dan satu jurus dimuka Kalingundil terdesak hebat. Berkali-kali dia hantamkan lengannya ke arah lawan namun Bergola Wungu berkelit sangat cepat. Dengan penasaran Kalingundil coba menyampoki senjata lawan dengan kedua lengannya. Tapi Bergola Wungu tidak bodoh. Mana dia mau adu senjata dengan lengan yang kerasnya macam baja itu! "Ha... ha... lekaslah minta tobat pada Tuhan atas kesalahan-kesalahanmu, Kalingundil! Sebentar lagi kepalamu akan menggelinding!" ejek Bergola Wungu. Geram Kalingundil bukan alang kepalang. "Kita akan lihat siapa yang bakal meregang nyawa lebih dahulu kunyuk berewok!", balasnya mengejek. Kalingundil berseru keras, "Terima senjata rahasiaku ini, kunyuk!" Ratusan jarum hitam kemudian menggebubu menyerang Bergola Wungu tapi dengan satu kali putaran golok saja senjata rahasia itu gugur semua ke tanah! "Hebat! Hebata. hebat!" terdengar suara dari jurusan barat. Orang yang bicara itu jauhnya masih sekitar seratus tombak. Namun begitu suaranya berakhir serentak itu pula dia sudah berada di tempat pertempuran itu! Dapat dibayangkan hebatnya ilmu lari orang itu. "Hebat memang hebat, Bergola Wungu! Tapi mungkin kau tidak tahu bahwa manusia itu adalah bagianku!" Baik Bergola Wungu maupun Kalingundil sama lompatkan diri dari kalangan pertempuran. Bagi Kalingundil ini adalah satu keuntungan karena saat itu dirinya terdesak. Keduanya memandang pada orang yang berdiri di bawah pohon. Kalingundil kerutkan kening sedang Bergola Wungu katupkan rahang rapat-rapat begitu kenal pendatang baru itu! "Kalingundil! Kau tak perlu pandang aku dengan kerut jidat segala! Dimana manusia bernama Mahesa Birawa?!" "Orang muda bermulut besar, kau siapa?!" bentak Kalingundil. "Ditanya malah menanya! Sialan betul!", gerendeng Wiro Sableng. "Tujuh belas tahun yang silam kau bersama Mahesa Birawa telah membunuh Ranaweleng, bapakku! Juga membunuh ibuku dan Jarot Karsa! Apa kau punya otak masih sanggup mengingatnya?!" Kalingundil merutuk dalam hati. Apakah manusia ini juga hendak membalaskan dendam kesumatnya seperti Bergola Wungu? Melihat kepada tenaga dalam yang menyertai suaranya tadi Kalingundil sudah dapat mengukur kehebatan manusia ini. Hatinya mengeluh! Melayani Bergola Wungu saja dia sudah kepepet, apalagi menghadapi dua lawan sekaligus! "Apa maumu orang muda?!" "Apa maukua.?!" Wiro tertawa bergelak. Nilamsuri yang merasa cemas segera mengetengahi dengan berkata, "Wiroa. Dia adalah ayahku!" "Aku tahu adik manisa," dan si pemuda tertawa lagi. Dalam tertawanya itu masih bisa dia mengingat kemesraan dan kebahagiaan hidup yang dirasakannya bersama gadis itu di dangau di tengah sawah tadi malam. "Karena itulah aku berbaik hati datang ke sini hanya untuk meminta tangan kanannya saja!" "Wiro!" muka Nilamsuri menjadi pucat. Bergola Wungu sendiri tahu bahwa apa yang dikatakan oleh Wiro Sableng bukan omong kosong belaka. Dia telah melihat kehebatan pemuda rambut gondrong ini! Sebaliknya Kalingundil keluarkan tertawa membahak. "Kurasa kau masih pantas untuk menetek sama kau punya ibu!", ejeknya. "Kata-kata itu cukup lucu, Kalingundil! Aku senang pada manusia-manusia yang suka bicara lucu!" Wiro Sableng melangkah mendekati Kalingundil. Nilamsuri melompat ke muka hendak menahan si pemuda tapi pada saat itu pula dari samping Bergola Wungu yang sejak lama menahan kegeramannya terhadap Kalingundil, maka ketika melihat anak musuh bebuyutannya itu melompat ke muka, tanpa tunggu lebih lama segera ditebaskan golok panjangnya! Nilamsuri melengking! Tubuhnya tercampak ke tanah. Dadanya robek besar. Darah menyembur! Bergola Wungu yang melihat tidak adanya kesempatan baginya untuk turun tangan terhadap Kalingundil segera lari ke lereng bukit pekuburan dan berseru: "Manusia bernama Wiro Sableng! Antara kita masih ada sedikit urusan! Kalau kau merasa punya nyali untuk meneruskan, aku tunggu di Gua Sanggreng!" "Setan alas betul!" maki Wiro Sableng. Dipukulkannya tangan kanannya ke arah lereng bukit pekuburan. Angin laksana badai menderu dahsyat. Batu-batu nisan dan tanah pekuburan beterbangan. Pohon-pohon bertumbangan. Semak belukar diterabas gundul! Tapi Bergola Wungu sudah lenyap dibalik bukit! Wiro Sableng putar kepala dan dia memaki lagi ketika melihat Kalingundil melarikan diri. "Boleh saja lari Kalingundil! Tapi tinggalkan lenganmu dahulu!" Sekali pemuda itu melompat ke muka maka dia berhasil menyusul Kalingundil. Tiba-tiba Kalingundil berbalik, cabut keris di pinggang dan tusukkan ke perut Wiro Sableng! Serangan yang dilancarkan dengan kalap serta karena ketakutan itu tidak mengenai sasarannya. Sebaliknya yang diserang cepat gerakkan tangan kanannya. "Kraak"! Kalingundil meolong. Tangan kanannya sebatas bahu tanggal. Tulangnya copot! Daging dan otot seta urat-urat berserabutan mengerikan sekali! Laki-laki itu macam babi celeng seradak seruduk kian kemari. Dia hendak lari lagi. "Eeea. tunggu dulu Kalingundil! Kenapa terburu-buru kabur?! Terima dulu angka kenang-kenangan ini!" Habis berkata begitu Wiro Sableng benturkan tapak tangan kanannya ke jidat Kalingundil! Pada kulit jidat laki-laki ini maka terpampanglah lukisan telapak tangan berikut lima jari dengan angka 212 pada baigan tengahnya! Kalingundil seradak seruduk lagi macam babi celeng! Darah berceceran dari luka di tangannya. Wiro Sableng tertawa mengekeh. Diperhatikannya laki-laki itu berlari macam dikejar setan! Tangan kirinya memutar-mutar lengan Kalingundil yang masih dipegangnya. Tiba-tiba dilemparkannya potongan lengan itu. Laksana anak panah potongan lengen itu melesat dan menghantam punggung Kalingundil, membuat laki-laki itu tergelimpang menelungkup di tanah, tapi segera bangkit lagi dan lari lagi! Wiro Sableng hentikan gelaknya ketika telinganya mendengar suara gerangan Nilamsuri. Cepat didekatinya tubuh gadis itu. Dia berlutut di tanah. Matanya menyipit melihat luka besar di dada si gadis. Nyawa Nilamsuri tak mungkin di tolong lagi. Dibopongnya gadis itu, dibawanya ke tempat teduh dan dibaringkannya. "Wiroa." Nilamsuri membuka kedua matanya yang telah menjadi sayu itu. "Wiroa. peluk akua.," pintanya. Wiro Sabelng merangkul gadis itu. "Cium akua. Wiroa." Si pemuda mencium pipi Nilamsuri. Lalu mengecup bibirnya. Bibir itu kesat dan dingin kini, tidak basah dan hangat seperti malam tadi. Nafas Nilamsuri lambat dan satu-satu. Sinar matanya semakin pudar. "Umurku untuk mengenalmu hanya sampai di sini, Wiroa." bisik Nilamsuri. "Aku akan obati lukamu, Nilam. Kau akan sembuha." kata Wiro pula menghibur. Nilamsuri tersenyum. Bersamaan dengan memberkasnya senyum itu di bibirnya maka saat itu pula rohnya lepas meninggalkan tubuh. Pendekar muda dari Gunung Gede hela nafas panjang. Hatinya beku menyaksikan kematian gadis itu. Semalam Nilamsuri masih dirangkulnya, masih dirabanyaa. tapi kini tubuh itu tiada akan memberikan apa-apa lagi kepadanya. Bahkan kehangatanpun tidak karena saat itu tubuh Nilamsuri berangsur menjadi dingin. Wiro menghela nafas panjang sekali lagi. Disibakkannya bagian pakaian yang robek di dada gadis itu. Pada bagian kulit dada yang masih utuh, tepat di atas buah dada sebelah kiri si gadis, dengan pergunakan ujung telunjuk jari tangan kanannya, Wiro menggurat tiga barisan angka: 212. Disandarkannya tubuh tanpa nyawa itu ke batang pohon dengan hati-hati. Lalu melangkahlah pendekar ini meninggalkan tempat itu. Dan seperti tak pernah terjadi apa-apa, seperti tak satupun yang barusan dialaminya, dari sela bibir pemuda ini terdengarlah suara siulan. Siulan melagukan nyanyi tak menentu. Episode Berikutnya: MAUT BERNYANYI DI PAJAJARAN

19x Baca

Edukasi

Belajar AI & Bisnis Gratis

Thumbnail
AI & Automation
09 Jul 2026

Menurut Anda... AI Membantu atau Mengancam Pekerjaan?

Perkembangan Artificial Intelligence (AI) menjadi salah satu topik yang paling banyak dibicarakan dalam beberapa tahun terakhir. Ada yang melihat AI sebagai peluang besar untuk meningkatkan produktivitas, tetapi ada juga yang khawatir teknologi ini akan mengambil alih pekerjaan manusia. Lalu, bagaimana sebenarnya? Apakah AI membantu atau justru mengancam pekerjaan? Jawabannya bergantung pada bagaimana kita memandang dan memanfaatkan teknologi tersebut. AI Mengubah Cara Bekerja Setiap revolusi teknologi selalu membawa perubahan. Ketika komputer mulai digunakan secara luas, banyak pekerjaan administrasi berubah. Ketika internet berkembang, cara berkomunikasi, berbelanja, dan memasarkan produk ikut berubah. Kini AI menghadirkan perubahan berikutnya: membantu manusia menyelesaikan berbagai tugas dengan lebih cepat dan efisien. Perubahan memang dapat menggeser cara kerja, tetapi juga menciptakan peluang dan jenis pekerjaan baru. AI Membantu Meningkatkan Produktivitas AI mampu membantu berbagai aktivitas sehari-hari, misalnya: Menyusun draf artikel. Membuat ide konten media sosial. Menganalisis data. Membantu layanan pelanggan melalui chatbot. Membuat desain awal. Merangkum dokumen. Membantu proses pemrograman. Dengan bantuan AI, pekerjaan yang sebelumnya memerlukan waktu berjam-jam dapat diselesaikan lebih cepat sehingga manusia dapat lebih fokus pada strategi, kreativitas, dan pengambilan keputusan. Apakah Ada Pekerjaan yang Berubah? Ya, beberapa jenis pekerjaan akan berubah. Tugas-tugas yang bersifat rutin, berulang, dan memiliki pola yang jelas lebih mudah dibantu oleh AI. Namun, banyak pekerjaan tetap membutuhkan kemampuan manusia, seperti: Bernegosiasi. Membangun hubungan dengan pelanggan. Memimpin tim. Berempati. Berpikir kritis. Mengambil keputusan dalam situasi yang kompleks. Berinovasi. AI dapat membantu proses kerja, tetapi belum menggantikan seluruh aspek tersebut. Peluang Bagi Pelaku UMKM Bagi UMKM, AI justru bisa menjadi alat yang sangat bermanfaat. Contohnya: Membuat deskripsi produk lebih cepat. Menulis artikel untuk website. Membuat ide promosi. Menyusun email pemasaran. Membantu menjawab pertanyaan pelanggan. Menganalisis tren pasar. Mengelola jadwal konten media sosial. Dengan memanfaatkan AI secara tepat, usaha kecil dapat bekerja lebih efisien tanpa harus memiliki tim yang besar. Keterampilan yang Semakin Penting Di era AI, kemampuan yang bernilai tinggi bukan hanya menguasai teknologi, tetapi juga: Berpikir kreatif. Memecahkan masalah. Berkomunikasi dengan baik. Belajar hal baru dengan cepat. Memahami kebutuhan pelanggan. Menggunakan AI secara efektif sebagai alat bantu. Orang yang terus belajar akan lebih siap menghadapi perubahan dibanding mereka yang menolak beradaptasi. AI Sebagai Partner, Bukan Pengganti AI sebaiknya dipandang sebagai rekan kerja digital. Teknologi ini dapat membantu menyelesaikan pekerjaan yang memakan waktu sehingga manusia dapat lebih fokus pada hal-hal yang membutuhkan kreativitas, empati, dan penilaian. Pendekatan seperti ini membuat AI menjadi alat untuk memperkuat kemampuan manusia, bukan sekadar menggantikannya. Kesimpulan AI memang membawa perubahan besar pada dunia kerja. Beberapa tugas akan menjadi lebih otomatis, sementara peluang baru juga terus bermunculan. Daripada hanya bertanya apakah AI akan mengambil pekerjaan, mungkin pertanyaan yang lebih bermanfaat adalah: "Bagaimana saya bisa memanfaatkan AI agar bekerja lebih baik?" Karena pada akhirnya, teknologi hanyalah alat. Nilai utamanya tetap berasal dari manusia yang mampu menggunakannya secara bijak, kreatif, dan bertanggung jawab. ? Siap Memanfaatkan AI untuk Mengembangkan Bisnis? Padukan website profesional, strategi digital, dan pemanfaatan AI untuk membantu bisnis bekerja lebih efisien, menjangkau lebih banyak pelanggan, dan berkembang di era digital. KangDadi.my.id "AI bukan sekadar tentang teknologi. AI adalah peluang bagi mereka yang mau belajar, beradaptasi, dan terus berkembang."

Thumbnail
Web Dev
07 Jul 2026

Kalau Bisnis Anda Diberi Modal Rp50 Juta..

Kalau Bisnis Anda Diberi Modal Rp50 Juta... Lebih Pilih: Renovasi Toko atau Bangun Sistem Digital? Bayangkan seseorang memberikan modal Rp50 juta untuk mengembangkan bisnis Anda. Lalu muncul satu pertanyaan sederhana: Anda akan memilih: A. Renovasi toko atau B. Bangun sistem digital? Tidak ada jawaban yang benar untuk semua jenis usaha. Namun, di era digital saat ini, pertanyaan tersebut layak dipikirkan lebih dalam. Renovasi Toko Memberikan Pengalaman di Lokasi Renovasi toko tentu memiliki banyak manfaat. Tampilan yang lebih rapi, nyaman, dan modern dapat meningkatkan pengalaman pelanggan yang datang langsung. Beberapa manfaat renovasi antara lain: Meningkatkan kenyamanan pelanggan. Memperkuat citra merek. Membuat produk lebih menarik saat dipajang. Meningkatkan pengalaman berbelanja di lokasi. Namun, ada satu pertanyaan penting: Berapa banyak pelanggan baru yang mengetahui toko Anda hanya karena renovasi tersebut? Jika tidak disertai strategi pemasaran, toko yang lebih bagus belum tentu otomatis lebih ramai. Sistem Digital Membuka Pintu Pelanggan Baru Sistem digital bukan hanya berarti memiliki website. Sistem digital dapat mencakup: Website profesional. Optimasi SEO agar mudah ditemukan di Google. Integrasi WhatsApp. Katalog produk online. Sistem pemesanan. Database pelanggan. Email marketing. Otomatisasi layanan pelanggan dengan AI. Dashboard laporan penjualan. Dengan sistem digital, bisnis Anda tidak hanya melayani pelanggan yang lewat di depan toko, tetapi juga pelanggan yang mencari solusi melalui internet. Website Bekerja Saat Toko Tutup Toko fisik memiliki jam operasional. Website tidak. Saat toko sudah tutup, website tetap dapat: Menampilkan produk. Menjelaskan layanan. Menerima pertanyaan. Mengumpulkan data calon pelanggan. Menerima permintaan penawaran. Mengarahkan pelanggan ke WhatsApp. Artinya, aset digital tetap bekerja bahkan ketika Anda sedang beristirahat. Pelanggan Sekarang Memulai dari Google Sebelum datang ke toko, banyak pelanggan melakukan langkah yang sama: Mencari informasi di Google. Membandingkan beberapa pilihan. Membaca ulasan. Melihat website atau media sosial. Baru kemudian memutuskan untuk menghubungi atau berkunjung. Jika bisnis Anda tidak hadir secara digital, ada kemungkinan pelanggan memilih kompetitor yang lebih mudah ditemukan. Investasi yang Terus Memberikan Nilai Renovasi toko biasanya memberikan dampak pada pengalaman pelanggan yang sudah datang. Sebaliknya, sistem digital dapat membantu: Menjangkau pasar yang lebih luas. Mendatangkan calon pelanggan baru. Mempermudah komunikasi. Meningkatkan efisiensi operasional. Mendukung pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang. Tentu, hasilnya tetap bergantung pada kualitas produk, pelayanan, dan strategi pemasaran yang dijalankan. Pilihan Terbaik Bisa Jadi Bukan Salah Satunya Dalam banyak kasus, jawabannya bukan harus memilih salah satu secara mutlak. Jika memungkinkan, gunakan modal secara seimbang: Renovasi secukupnya agar toko tetap nyaman. Bangun sistem digital agar bisnis dapat berkembang lebih luas. Kombinasi pengalaman pelanggan di toko fisik dan kehadiran digital yang kuat sering kali memberikan hasil yang lebih baik dibanding hanya berfokus pada salah satunya. Kesimpulan Renovasi toko membuat bisnis Anda lebih menarik bagi pelanggan yang sudah datang. Sistem digital membantu lebih banyak orang menemukan bisnis Anda sejak awal. Di era digital, pertanyaan yang penting bukan hanya: "Seberapa bagus toko saya?" Tetapi juga: "Seberapa mudah pelanggan menemukan dan menghubungi bisnis saya?" Karena pada akhirnya, bisnis yang mampu menggabungkan pelayanan yang baik dengan sistem digital yang efektif memiliki peluang lebih besar untuk terus bertumbuh. ? Saatnya Bangun Sistem Digital untuk Bisnis Anda Website profesional, SEO, integrasi WhatsApp, dan sistem digital yang tepat dapat membantu bisnis Anda menjangkau lebih banyak pelanggan dan bekerja selama 24 jam sehari. KangDadi.my.id "Toko yang bagus melayani pelanggan yang datang. Sistem digital membantu pelanggan menemukan Anda lebih dulu."

Thumbnail
Tutorial
06 Jul 2026

Cara Membuat Bisnis Terlihat Profesional Hanya dalam 5 Menit

Cara Membuat Bisnis Terlihat Profesional Hanya dalam 5 Menit Banyak orang mengira bahwa agar bisnis terlihat profesional, mereka harus memiliki kantor mewah, tim besar, atau anggaran pemasaran yang tinggi. Padahal, kesan pertama pelanggan sering kali terbentuk hanya dalam beberapa menit, bahkan dalam hitungan detik saat mereka mencari bisnis Anda di internet. Kabar baiknya, ada beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan dalam waktu singkat untuk membuat bisnis Anda terlihat lebih profesional dan lebih dipercaya. 1. Gunakan Website Profesional Saat calon pelanggan mencari nama bisnis Anda di Google, apa yang mereka temukan? Website yang rapi, cepat, dan mudah diakses akan memberikan kesan bahwa bisnis Anda serius dan terpercaya. Pastikan website memiliki: Profil bisnis yang jelas. Produk atau layanan yang lengkap. Informasi kontak. Tombol WhatsApp. Testimoni pelanggan. Call To Action yang mudah ditemukan. Website adalah "kantor digital" yang siap melayani pelanggan selama 24 jam. 2. Gunakan Alamat Email Bisnis Masih menggunakan alamat email seperti: namabisnis123@gmail.com Tidak ada yang salah, tetapi email dengan domain sendiri akan terlihat jauh lebih profesional. Contohnya: info@namabisnis.com atau sales@namabisnis.com Email bisnis menunjukkan bahwa usaha Anda memiliki identitas yang lebih kuat. 3. Perbarui Profil Google Bisnis Banyak pelanggan mencari bisnis melalui Google sebelum memutuskan untuk menghubungi. Pastikan profil bisnis Anda memiliki: Foto terbaru. Jam operasional. Nomor telepon. Alamat. Deskripsi bisnis. Website. Ulasan pelanggan. Profil yang lengkap membantu meningkatkan kepercayaan sekaligus memudahkan pelanggan menemukan informasi yang mereka butuhkan. 4. Gunakan Logo dan Identitas Visual yang Konsisten Gunakan logo yang sama di: Website. Media sosial. Kartu nama. Brosur. Foto profil. Konsistensi membuat bisnis lebih mudah dikenali dan terlihat lebih profesional. Pilih warna, jenis huruf, dan gaya visual yang seragam agar identitas merek semakin kuat. 5. Tampilkan Testimoni Pelanggan Tidak ada promosi yang lebih kuat daripada pengalaman pelanggan. Mintalah ulasan dari pelanggan yang puas, lalu tampilkan di website atau media sosial. Testimoni membantu calon pelanggan merasa lebih yakin sebelum membeli. Semakin banyak bukti nyata, semakin tinggi tingkat kepercayaan terhadap bisnis Anda. 6. Mudahkan Pelanggan Menghubungi Anda Jangan biarkan pelanggan kesulitan mencari informasi kontak. Sediakan: Tombol WhatsApp. Nomor telepon. Email. Formulir kontak. Alamat jika memiliki lokasi fisik. Semakin mudah dihubungi, semakin besar peluang terjadinya penjualan. 7. Tampilkan Portofolio atau Hasil Pekerjaan Jika Anda menjual jasa, tunjukkan hasil pekerjaan terbaik. Jika Anda menjual produk, tampilkan foto berkualitas tinggi dengan deskripsi yang jelas. Portofolio menjadi bukti bahwa bisnis Anda benar-benar memiliki pengalaman dan kualitas. Profesional Bukan Berarti Harus Mahal Membuat bisnis terlihat profesional bukan tentang menghabiskan banyak uang. Yang terpenting adalah memberikan kesan bahwa bisnis Anda: Mudah ditemukan. Mudah dipercaya. Mudah dihubungi. Memberikan informasi yang jelas. Memiliki identitas yang konsisten. Hal-hal sederhana inilah yang sering kali menjadi pembeda antara bisnis yang dipilih pelanggan dan yang diabaikan. Kesimpulan Dalam dunia digital, kesan pertama sangat menentukan. Dengan website profesional, email bisnis, profil Google yang lengkap, identitas visual yang konsisten, testimoni pelanggan, dan akses komunikasi yang mudah, Anda dapat meningkatkan citra bisnis hanya dalam beberapa langkah sederhana. Tidak perlu menunggu bisnis menjadi besar untuk terlihat profesional. Justru dengan tampil profesional sejak awal, peluang mendapatkan pelanggan baru akan semakin besar. ? Saatnya Tingkatkan Citra Bisnis Anda Bangun website profesional yang cepat, mobile-friendly, SEO-friendly, dan siap membantu bisnis Anda berkembang. KangDadi.my.id "Bisnis yang terlihat profesional lebih mudah dipercaya. Bisnis yang dipercaya lebih mudah mendapatkan pelanggan."

Testimoni

Apa Kata Klien & Member?

"Sangat membantu saya membuat website bisnis. Template instannya benar-benar menyelamatkan waktu saya, nggak perlu pusing mikir kode."

A
Andi
Owner UMKM

"Ebook AI-nya sangat mudah dipahami. Bahasanya santai tapi daging semua. Sekarang bikin konten sosmed jadi lebih cepat dan rapi."

S
Siti
Content Creator

"Beli prompt ChatGPT di Kang Dadi itu investasi terbaik bulan ini. Jualan saya meningkat karena angle promosinya jadi lebih bervariasi."

R
Rizky
Affiliate Marketer
Kang Dadi
Kang Dadi
Digital Creator & Web Developer

Personal Branding

Kenalan Sama Kang Dadi

Halo, saya Kang Dadi. Berangkat dari pengalaman bertahun-tahun di dunia digital marketing dan web development, saya menyadari banyak UMKM dan kreator kesulitan untuk "Go Digital" karena kendala teknis dan biaya.

Misi saya di sini adalah membantu Anda memanfaatkan teknologi digital melalui produk siap pakai, jasa pembuatan website, dan edukasi AI yang praktis agar bisnis Anda lebih berkembang secara efisien.

Jasa yang Saya Tawarkan:

  • Pembuatan Website Company Profile
  • Landing Page Konversi Tinggi
  • Setup Website RT/RW & Yayasan

Pertanyaan Umum (FAQ)

Jawaban dari pertanyaan yang sering ditanyakan seputar produk dan layanan Kang Dadi.

Apakah produk digital langsung dikirim?

Ya, sistem kami otomatis. Setelah pembayaran terkonfirmasi (via Midtrans/Tripay), Anda akan langsung diarahkan ke halaman download atau Member Area untuk mengakses file dan panduannya secara instan.

Apakah ada support jika saya bingung cara pakainya?

Tentu saja. Kami menyediakan grup support khusus dan bantuan via tiket/WhatsApp. Setiap produk juga sudah dilengkapi dengan dokumentasi dan video panduan step-by-step berbahasa Indonesia.

Apakah saya bisa request pembuatan website custom?

Tentu bisa! Silakan masuk ke menu 'Jasa' atau langsung hubungi via WhatsApp untuk konsultasi gratis. Ceritakan kebutuhan bisnis Anda, dan kita akan carikan solusi website yang paling efisien.

Metode pembayaran apa saja yang diterima?

Kami menerima hampir semua metode pembayaran melalui Payment Gateway terpercaya: Transfer Bank (BCA, Mandiri, BNI, BRI), E-Wallet (GoPay, OVO, Dana, ShopeePay), dan QRIS.
Aksi berhasil!